Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Proses Kreatif 31 Januari 2018   19:26 WIB
Mengajar, Abdi Karya Mahasiswa Untuk Pendidikan Indonesia

Mengajar, Sebuah Abdi Karya Mahasiswa untuk Pendidikan

Oleh : Lulu Nailufaaz

 

                Menjadi seorang mahasiswa berarti sepakat untuk memposisikan diri sebagai insan dewasa yang memiliki kesadaran sendiri dalam mengembangkan potensi diri di Perguruan Tinggi untuk menjadi intelektual, ilmuwan, praktisi, dan profesional. Dan berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, standar nasional pendidikan tinggi yang ditetapkan oleh setiap Perguruan Tinggi meliputi standar nasional pendidikan, ditambah dengan standar penelitian, dan standar pengabdian kepada masyarakat. Dari pernyataan tersebut, pendidikan dan penelitian merupakan satu kesatuan utuh yang secara logika akan dilakukan oleh mahasiswa seiring dengan tingkat keilmuan yang semakin bertambah. Namun, menjadi seorang mahasiswa adalah sebuah pilihan status yang diambil dengan atau tanpa pertimbangan akan sebuah niat untuk mengabdi. Pengabdian ini akan dilakukan hanya jika naluri diajak untuk membuat keputusan melakukan tindakan disamping penggunaan logika sehari-hari.

Pengabdian dapat dimaknai sebagai sebuah refleksi diri terhadap kebermanfaatan ketika seorang manusia menempatkan dirinya untuk dapat memberi dengan sekecil apapun yang ia miliki. Bagi perguruan tinggi, pengabdian yang dilakukan berobjek langsung kepada masyarakat. Pengabdian ini dapat dilakukan oleh seluruh sivitas akademika, termasuk didalamnya adalah mahasiswa sebagai subjek yang juga dapat ikut aktif bergerak. Lalu, bagaimana seorang mahasiswa dapat melakukan pengabdian masyarakat?

                Pernah ada seorang memberikan ungkapan pertanyaan, “Pelajar dan Mahasiswa dipisahkan dari persoalan masyarakat yang sebenarnya. Mereka hanya belajar, belajar, dan belajar. Padahal ketidakadilan terus berlangsung. Mereka mengejar ijazah sementara rakyat megap-megap cari sesuap nasi. Apa sekolah macam itu masih ada?”. Sayangnya, mungkin bagi banyak orang dapat dengan yakin menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban “Iya”. Namun, kembali lagi bahwa mahasiswa bukanlah seorang Tuhan yang dapat mengabulkan semua keinginan dan menjawab semua permasalahan. Sebagai seorang yang sudah terdidik, sudah seharusnya mahasiswa mengamalkan hasil pendidikan yang diperoleh selama hampir 20 tahun. Pengamalan nyata yang dapat dilakukan salah satunya adalah membagikan kembali ilmu yang diperoleh dengan mengajar. Siapa yang harus menjadi objek pengajaran? Ada banyak diluar sana anak-anak yang memandang bahwa cukuplah perut terisi untuk dapat terus melanjutkan hidup. Ketika pemerintah terus berkutat bagaimana sistem pendidikan (yang terus berubah seiring dengan pergantian menteri pendidikan), bagaimana kontroversi Ujian Nasional, bagaimana kebijakan guru honorer, dan bagaimana bagaimana yang lain dengan urusan makronya,  mahasiswalah yang dapat bergerak menyentuh urusan mikro pendidikan Indonesia dengan banyak akses yang dimilikinya dari berbagai kemudahan yang diperoleh tanpa harus banyak pertimbangan kenegaraan, termasuk menyentuh sudut pandang anak-anak agar dapat mempunyai motivasi untuk terus memiliki harapan.

                Melihat lebih dekat kondisi masyarakat kini, kadang kita selalu bertanya, kemanakah pemerintah yang katanya akan mencerdaskan kehidupan bangsa tapi masih banyak anak-anak yang tidak memahami betapa pentingnya pendidikan untuk masa depan mereka. Apa makna pendidikan ketika bahkan banyak anak-anak tidak ingin mempunyai harapan untuk masa depannya. Lalu mengapa pendidikan masih ada ketika tidak bisa dimiliki oleh semua orang? Mahasiswa sebagai orang terdidik perlu menyadari bahwa ilmu yang diperolehnya adalah sebuah titipan. Titipan untuk dapat terus mengembangkan dirinya sehingga dapat memberikan karya bagi Indonesia.  Karena jika setiap tempat adalah sekolah, maka setiap orang adalah gurunya. Dengan berbagai keilmuan yang berbeda pada mahasiswa, mengajar adalah wujud sinergisasi bersatunya mahasiswa dari berbagai keilmuan untuk berkarya bersama dalam memajukan bangsa Indonesia. Karya sebagai wujud protes kepada pemerintah bahwa sekolah tidak baik-baik saja. Walaupun hanya bergerak secara mikro di titik-titik tertentu di Indonesia, karya ini akan menjadi investasi bangsa Indonesia. Investasi hebat ketika akhirnya terlahir harapan anak-anak yang pernah terkubur, lahir keinginan untuk melihat masa depan, dan terlahir semangat berjuang untuk akhirnya kembali mengabdi untuk bangsa. Karena sejatinya, tidak pernah ada anak yang terlahir bodoh di dunia ini. Tapi dia hanya belum menemukan guru yang hebat.

                Tulisan ini ingin saya akhiri dengan sebuah ajakan. Bahwa kita mungkin tidak pernah memilih untuk menjadi guru. Tapi dengan ilmu yang kita miliki, kita bisa memberi. Memberi untuk dapat berbagi. Memberi untuk dapat kembali menghadirkan mimpi. Melakukan sekecil apapun yang bisa kita lakukan untuk dapat memberikan manfaat bagi sesama.

Mengajar adalah bagian dari mendidik. Mendidik untuk menjadi baik. Mengajar bukanlah profesi. Mengajar adalah sebuah tindakan mengabdi. Abdi karya seorang mahasiswa.

Karya : Lulu Nailufaaz