#3 PEREMPUAN YANG MENCARI

Lulu Anjarsari
Karya Lulu Anjarsari  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Februari 2016
#3 PEREMPUAN YANG MENCARI

Jodoh. Bagiku, istilah itu menjadi musuh di awal usia 30 ini. Sebagai perempuan, rasanya orang akan menilai hanya sebatas status sebagai istri ketika di usia ini. Kau seorang perempuan di usia 30 dan memilih melajang, maka dunia akan menganggapmu aneh. Mencibirmu sebagai seorang pemilih. Tekanan datang menyerbu. Belum lagi, panggilan yang bagi mereka seperti meludah ketika mengucapnya, namun bagiku, itu terasa seperti paku yang tertancap dalam sebuah pohon.

?Kamu mencari yang seperti apa, Re?? tanya Bunda suatu pagi. Aku yang baru saja duduk ingin menyantap nasi uduk sebagai sarapan pagi itu tiba-tiba jadi hilang selera. Aku diam dan menghela nafas panjang.

?Bumi tidak akan datang, Re.?

Aku melirik Bunda. ?Kayanya kita nggak usah omongin ini deh, Bun,? pintaku.

?Perempuan itu ada batasnya, Re. Usia. Lelaki seperti Bumi, semakin tua, maka semakin matang. Mau cari yang lebih muda pun mereka bisa, karena mereka laki-laki. Kamu perempuan, Re. Kamu harus pikirkan bagaimana kamu akan menjadi ibu di usia 30 ini,? Bunda terus berceramah sambil mengaduk teh manis favoritku. Aku masih terdiam. Aku paham arah pembicaraan ini.

?Kamu boleh menunggu, tapi yang pasti. Di mata Bunda, Bumi tidak menjanjikan apa-apa padamu. Buat apa kamu menunggu orang yang batang hidungnya saja sudah tak terlihat sejak lima tahun lalu itu? Jangan-jangan dia sudah mati.?

Aku terkejut. Bunda membaca keterkejutanku sambil membawakan teh ke meja makan.

?Kamu perempuan, Nak. Setiap perempuan punya batas menunggu; usia. Berkenalanlah dengan Rakha, anak Tante Rika.?
Aku beranjak dari dudukku.

?Aku berangkat, Bun,? ujarku sambil memeluk Bunda. Lagi, Bunda cemberut sambil menggeleng. Ia paham benar jika begini, berarti aku tak mau.

***

?Kenalanlah, Re. Barangkali ia jodohmu,? ujar Edel, sahabatku. Ia kemudian memperlihatkan ponselnya kepadaku. Aku melihat foto yang ada di ponselnya; Edel dan seorang pria maskulin dengan tampilan rapi ada di sampingnya. Pria ini jelas tipe Edel; metroseksual yang tampan dan gagah.

?Ini Langit?? tanyaku. Edel tersenyum lebar. Iya mengangguk dengan ceria.

?Pria pertama dan pria ke-50!? ucapnya seolah bahagia. Aku tersenyum sinis.

Pantas saja aku mengenal betul wajahnya meski samar. Langit Biru, teman SMU kami. Lelaki popular karena kecerdasan dan kepintarannya sejak dulu. Keduanya merupakan cinta pertama satu dengan yang lainnya. Edel pun sama populernya dengan Langit. Mereka pasangan kekasih yang aktif di OSIS, satu sebagai ketua dan satunya sebagai sekretaris. Seingatku mereka berpacaran cukup lama sebelum terpisah ketika kuliah. Langit memutuskan mengambil beasiswa di Barcelona, sementara Edel, mengejar cita-citanya sebagai seorang pengacara di salah satu perguruan tinggi nomor satu di Indonesia. Kisah mereka terhenti di situ.

Setelah itu, Edel yang popular seperti tidak lagi percaya cinta. Lelaki yang datang silih berganti dalam hidupnya hanya seperti mampir. Ada satu rahasia yang sepertinya ia rahasiakan dariku tentang perpisahannya dengan Langit dan aku tak pernah memaksanya untuk bercerita.

?Menurutmu, apa aku bisa berjodoh dengan Langit??

Aku menatapnya aneh.

?Hebat! Baru dua hari bertemu sejak 17 tahun kalian berpisah dan tiba-tiba kamu ngomongin jodoh, Del??

Edel cemberut.

?Sorry. Abis kamu aneh. Udah periksa apa dia masih lajang??

?Nggak ada cincin di tangannya sih, Re.?

?Semoga kalian berjodoh. Aku balik ya. Mau menyiapkan buat acara besok,? ujarku memberitahu Edel soal rencana baksos dua bulanan yang biasa kulakukan satu organisasi yang selama empat bulan ini kuikuti. Edel mengangguk sambil melambaikan tangannya.

?Semoga bertemu yang kau cari, Re,? tandas Edel. Aku tersenyum sambil memeluknya.

Aku beranjak dari dudukku sambil mengambil ransel kanvas favoritku pemberian Bumi. Organisasi sosial ini adalah yang kesepuluh kuikuti sejak Bumi pergi. Aku berharap bisa menemukannya karena aku tahu betapa ia lebih memilih membaktikan dirinya untuk bermanfaat bagi hidup orang lain disbanding hidup untuk dirinya sendiri. Orang berpikir Bumi mungkin bodoh, tapi bagiku, prinsip hidupnyalah yang justru telah menyeret hatiku untuk setia pada janjinya. Aku belajar meyakini kepergiannya karena orang-orang di luar sana lebih butuh dia dibanding aku. Kepergiannya yang tanpa jejak itu mengajarkan bahwa mencintai orang baik itu, bukan berarti kau utuh memilikinya. Jiwa sebaik itu harus diketahui dan dimiliki oleh semua orang, bukan untuk digenggam sendiri.

Salahkah aku menyetiakan hatiku untuk jiwa sehebat itu?

***

LA/30012016

  • view 254