KEPADA HATI ITU

Lulu Anjarsari
Karya Lulu Anjarsari  Kategori Puisi
dipublikasikan 04 Februari 2016
KEPADA HATI ITU

?

#1

Hai, ini aku. Lagi.

Apa kabarmu setelah ratusan hari kau dan aku terpisah jarak tanpa jejak?

Senja petang tadi, rindu menyelusup di antara rongga hati yang kupikir telah terkunci rapat.

Di antara rinai hujan langkahku terhenti, ada bayangmu kutangkap di kejauhan. Tapi aku beku. Segala pikirku sirna melihat sosokmu; jiwa yang ratusan hari kucoba matikan di dalam pusara hati. Bahkan enggan kuziarahi.

Dan, kau datang, lagi.

Kata-kata musnah ketika kau dan aku berhadapan.

Senyap memang kawan terbaik kau dan aku.

Tak adakah lara tertoreh di hatimu ketika kita sama-sama terbungkam seperti saat ini?

?

?

Dengan cinta,

?

Aku


?

1 tahun berlalu

Rindu...

Kata yang tak mungkin kuingkari dalam hatiku untukmu, meski sudah ratusan hari kita tak saling bicara. Saling melupakan tepatnya.

Sungguh, dunia kita memang sudah berbeda. Ratusan mil dan jutaan jam membuat jurang pemisah yang dalam. Meski dalam mimpiku kau masih seperti dulu tapi tak dapat kupungkiri jiwamu sudah berbaur dengan jiwa yang lain. Tak kukenali lagi. Dunia membuat kita semakin paham mana arti bersama sesungguhnya. Dengan siapa dan kapan? Terlalu kebas buatku.

Masih ingat senja terakhir kita? Kau masih tertawa riang dan dengan lugas berkata "Senja adalah milik Tuhan yang diberikan kepada aku dan kamu, kita!. Hanya sekedip mata jaraknya." Aku hanya tersenyum setelah ucapanmu. Ah.., senja adalah rindu yang akan selalu terbungkus olehmu, oleh kita, oleh jarak yang akhirnya tak dapat disatukan. Senja buatku adalah sapuan kuas yang kau goreskan teratur namun berduri. Ah, sudahlah aku tak ingin mengingatnya.

Hai...
Sapaku yang tak perlu kau jawab juga. Aku tak berani meski rindu membumbung mengisi senja sore tepat setahun lalu kita saling tersenyum.

Dengan rindu aku menyapamu...

Aku dan Senja milikmu

Tertanda,

R. Barasta
Mungkin saja kau lupa...


?

#2

Bara.

Aku masih ingat betul panggilanku untukmu. Seumpama namamu, ternyata begitulah kamu di hatiku. Kau tetap hidup seberusaha apapun aku mematikanmu.

Mataku tak bisa lepas darimu. Kenapa kau sama terdiamnya denganku? Apa kau merasa hatimu bergetar sehebat yang kurasa hingga untuk melangkahpun kakiku tak berdaya? Atau apa kau tak ingin memastikan adanya lara di mataku lagi tersebab karenamu.

Bara, selamat datang kembali.

Tolong panggil namaku sekali lagi. Aku rindu suaramu.

Panggil aku lagi sebagai Rinai-mu.

?

Masih dengan cinta,

?

Rinai-mu


?

Senja memang selalu menyunggingkan senyum diantara kita, sama seperti hujan rinai berjatuhan memupuk segala asa yang tidak pernah kita sangkal bahwa, aku, kamu selalu punya rindu.

Berkatalah kita dengan bersamaan, "Hujan adalah rindu, senja adalah kita! Maka hidup adalah rasa kebersamaan!". Lalu bersama pula kita tersenyum dan memejamkan mata. "Kamu adalah cahayaku." Lirihku dalam hati seraya menyatukan jemari kita seolah tak ingin terlepas.

"Inikah cinta ?".

Sampai saat ini aku belum dapat menjawabnya, untuk apa dan mengapa? Namun kata itu menuntunku untuk lebih memaknai arti rasa didalamnya meski tidak pernah tersampaikan. Kelu.

Satu hal yang membuatku mengerti bahwa sebanyak apapun seseorang menerima tak akan sebahagianya ketika dia memberi. Sebaliknya rasa diantara kita, mesti kita saling memberi tapi entah mengapa satu diantaranya belum ada yang menerima.

Aku tak mampu mengalihkan cerita dalam satu hujan dan senja secara bersamaan karena aku tidak mau mereka menghilangkan keindahan mereka dalam sekejap.

Walau begitu kau tetap Rinaiku dalam lukisan senja disana.

Aku yang masih merindu


#3

Kembalilah jika memang saatnya aku dan kamu, kita akan kembali, membangun rasa dan asa yang dulu ada. Aku tak pernah menganggapmu pergi, kau hanya singgah ke ranah yang lain saja, hanya untuk membuang rasa jenuhmu. Aku paham, berbeda itu tidak akan pernah menyelaraskan warna yang kita suka tapi menyatukan dari perbedaan itu sendiri. Aku dengan warnaku dan kamu dengan warnamu.

Rinai,

Surat ini aku tulis dengan jiwa menggebu dan rasa yang merindu, hanya untuk melepas dahagaku. 378 hari telah menciptakan kabut yang menggelayut di senja penglihatanku. Selalu membuat genangan yang tak terhindarkan di ujung mata. Kita begitu berbeda dalam semua kecuali cinta. Iya cinta! Yang diagungkan banyak orang.

Aku selalu belajar dari setiap perbedaan untuk memahamimu. Aku belajar dari senja setiap sore, belajar dari hujan yang turun dan aku belajar memahami rasa cinta hanya pada satu orang saja, tidak akan kubagi pada siapapun kecuali kamu, sampai aku kembali pada-Nya, tetap kamu.

Aku cinta rinai Tuhan di suatu senja..

Dan...

Aku, masih dengan rasa yang sama.


Kau ingat dulu kau selalu bilang, "Kita selalu berbeda dalam semua hal kecuali cinta"? Dan, aku menebak-nebak apakah kata-kata itu masih kau genggam erat?


Bara,

Dengan satu kesamaan itu, aku bertahan menunggumu 378 hari lamanya. Menunggumu kembali mengatakan 'cinta' itu. Tapi tak jua, kau hadir. Lalu, perlahan segala harapan musnah. Tanya menyelimutiku melahirkan ragu yang bahkan tak pernah kurasa sedikitpun padamu. Apakah kau tahu aku menunggumu? Atau kita sama-sama saling menunggu?

Bara,

Apa arti saling menunggu bagimu dan aku? Apa itu artinya kemanapun langkahmu menjejak, muaramu kembali padaku dan begitu sebaliknya? Atau sebenarnya, kau dan aku hanya menunggu waktu siapa yang akan lebih dulu merelakan? Semua menjadi ambigu.


Bara,

Aku tak ingin meminta hatimu. Kudengar satu hati mencoba mengetuk hatimu. Tergetarkah engkau? Akankah kau membuka pintu hatimu untuknya?


378 hari memahami, mungkin suatu saat aku akan memandangmu berdiri di hadapanmu, bukan di sampingku karena kau telah menghadirkan ia di sampingku. Jika masa itu tiba, kuminta Tuhan membaik-baikkan hatiku. Tetap menatapmu dan mampu mengucap,

"Segala doa baikku untukmu bermuara pada satu; kebahagiaanmu."

Dengan cinta yang masih menyeluruh padamu,

?

Aku


?

#4

Maka berjalanlah aku menyusuri lengangnya kota dengan sebutan negeri arloji ini, kiri dan kanan bangunan tua tersusun rapi. Tepat di pojok ujung sebelah kanan setelah taman terdapat kedai kopi favoritku. Dengan view taman dapat melihat secara aktivitas para seniman sore yang terkadang membuatku tersenyum, sendiri !.

Ah, mengingatkanku pada warung kopi di ujung jalan Malioboro, saat kita masih sering bersama menikmati senja dan hujan di kota kelahiranmu.

"Mr. Barra, this your order, black coffee South Sumatra..!". Sapa Broody sang waiter yang sudah hafal pesananku. "Terima kasih Brood." Ucapku dengan bahasa. "Sama-sama ", jawabnya. Kemudian berlalu pergi.

Aku menyesap kopiku, oh..., andai saja kamu duduk semeja denganku akan kubelai lembut jemarimu, bersama kita mendengarkan gesekan dawai biola, menyaksikan sapuan kuas diatas kanvas pelukis jalanan dan apapun itu yang membuat hati bahagia. Terngiang ditelingaku, "Selera kopi kita sama!"

Namun, saat ini aku mengenangmu dengan nelangsa, menyaksikan para seniman di taman yang? berhamburan karena hujan. 8 tahun yang lalu kejadian sama didepan mataku, bedanya hanya kau tidak ada disampingku dengan khas tawamu tapi menyulutkan luka dihatiku. Rinai..., kau membuatku rindu, rindu sebanyak airnya membasahi tanah di senja ini.

Entah surat keberapa yang kutulis hari ini, selalu saja menyisakan cerita, aku dan kamu. Di sisi jendela sebelah kiri tepat di depan taman. Melihat rinai hujan gemericik membasahi dunia reda, dengan secangkir kopi rasa yang sama. Membuat mesra sekaligus tanda tanya. Masihkah ada rasa diantara kita? Sendiri saja.

Aku dan segelas kopi dengan rasa yang sama denganmu.

Barasta.

Dan di negara yang berbeda..

"Permisi nona, ini pesananmu. Caf? noir de Sumatra du Sud !". Suara khas Orien sang waitress. Aku tersenyum, "D'accord!", jawabku. Lalu kembali aku memandangi rinai hujan di balik kaca jendela pojok kiri di sebuah kedai kopi kota Paris.


?

Kau tahu apa yang paling kusuka dari kisah kita; hujan dan kopi. Keduanya selalu berpadu dan saling melengkapi seperti namamu dan namaku; Barasta dan Rinai. Keduanya pun membawaku dalam memori yang jauh ketika kaki menjejak kembali di kota ini. Kota budaya yang kau cintai sama seperti aku mencintainya karena di sanalah nafas pertama kuhirup; Yogyakarta.


"Rinai, Barasta dan Yogyakarta adalah mimpi sempurna," katamu suatu waktu yang membuatku muram. Aku tak suka kata yang kau pilih, Bara; mimpi. Meski mimpi adalah kata favoritmu yang berhasil menjejakkanmu pada negeri romantisme yang kau selalu tuju; Perancis. Lalu, di sanalah mimpiku tentang kita hilang. Kau bak menghilang di telan bumi. Dan kini ketika aku kembali di kota kelahiranku ini, hujan menyambutku tanpa kamu.

Langkahku tanpa ragu memasuki kedai favorit kita. Memesan secangkir kopi. Dan masa lalu pun kembali.

Barasta, andai kau bisa kembali seperti memori.

Kutepis semua andai itu usai kuingat beberapa hari lalu, teman kita yang menjumpaimu sekali waktu di Paris berujar,

"Lupakanlah, Barasta. Ia menemukan cinta di sana".

Aku, hujan, kopi dan Yogyakarta, mengulas kembali memori tentangmu. Mungkin untuk perlahan keberadaanmu.

Menerima takdir bahwa kita hanyalah mimpi.


?

#5

Dengarkan saja dendangnya niscaya kau akan selalu mengingatku. Betul saja, setiap air tumpahan dari langit yang jatuh ke bumi membuatku menyelaraskan senandung suaraku. Kemudian memaksaku bertanya pada jarak, "Apakah aku cinta? Atau aku benci?".

Hatiku seketika kelu, meski sudah diujung bibirku untuk menjawabnya. Aku tak punya daya mengurai kalimat bahwa aku masih cinta. Benciku hanya pada sikapmu yang tak pernah membalas suratku. Rinai.

Surat berjarak, mungkin dua kata itu yang paling tepat untuk suratku kali ini. Entahlah aku terpaksa bilang, aku benci kamu! Agar aku tak terlalu terluka nantinya. Apalagi yang harus aku perjuangkan jika aku, kamu sama-sama ego. Aku tak ingin luka ini semakin membuat jarak, aku bukan petualang untuk mencari penggantimu. Aku juga bukan tidak berani untuk mengatakan aku masih mencintaimu, tapi aku hanya ingin memenangkan hatimu kembali dengan cara yang tulus, dengan caraku sehingga jarak yang terbentang semakin mendekat. Aku dan kamu untuk sebuah rindu.

Aku tidak peduli dengan yang lain. Aku sebagai senja dan kamu Rinai sebagai penghiasnya.

Tertanda,

?

?

Aku


?

Surat ke-33 dan tak ada satu pun yang kukirimkan padamu nun jauh di sana.

Aku lelah, Bara. Tidakkah kau juga begitu?

Jarak ini hanya membuatku takut. Takut kau tak kembali. Takut kau tak sama seperti dulu. Takut engkau bukanlah Bara yang kukenal.

Bara, bantu aku memadamkanmu dari segala sendi tubuhku. Aku benci bahkan setiap namamu kudengar, hatiku masih berdegup untukmu. Aku benci berada pada rindu yang tak jua purna. Rindu yang sesukanya hadir pada memoar tertentu. Aku benci itu semua muaranya satu; kamu.

Siapa perempuan itu? Siapa yang mereka sebut si cantik memanja yang menemanimu suatu senja di sepanjang Champs-?lys?es, Paris?

Hatiku berkeping usai membayangkan hal itu. Kau dan dia tersenyum, sementara aku, tak berdaya. Hanya bisa bercerita lewat airmata.

Bara, bisakah kita bertemu sekali lagi untuk tuntaskan apa yang seharusnya berakhir di antara kita?

Biar hati tahu, Barasta hanya milik senja, bukanlah diperuntukkan bagi Rinai.

Ya, mungkin takdir menuliskannya begitu.

?

Aku yang entah mengapa sangat lelah


?#6

?

Berkali terngiang ucapanmu,

?Rinai adalah rindu.?

?

Dan, kini setelah engkau lenyap, bagiku terngiang,

?Bara adalah lara.?

?

Tertanda,

?

?

Aku


?

Dearest,

Aku menyebutmu Rinai..
Dan kamu menyebutku Barasta...
Aku menyukai senja...
Dan kamu menyukai hujan...

Kita memang berbeda dalam semua hal,
kecuali cinta...

Kala rindu menggebu maka aku akan berdiam lalu menunggu hujan. Sedangkan kamu duduk di tepi jendela dengan secangkir kopi menunggu pelangi.

Aku rindu kamu Rinai...
Sangat rindu.

?

Swiss, 2004

?

Barasta


?

#7

To: [email?protected]
Subject: Maaf

Lelaki pembawa mimpiku, Barasta,

Maaf jika kemarin aku tak datang melepas kepergianmu ke negeri yang asing, Swiss. Semata bukan karena ku tak cinta, tapi karena jika aku sungguh datang, aku justru akan menghentikan langkahmu. Kau paham siapa aku 'kan? Jika keinginanku kuat, apapun akan kutempuh. Karena inginku memilikimu terlalu kuat, maka aku memilih untuk tak melihatmu. Aku tak mau kita mengenal kata 'perpisahan'.

Aku bertaruh pada takdir; akankah kau kembali padaku bertahun usai kau tuntaskan mimpimu nanti? Atau takdir mengambilmu untuk hati yang lain? Aku tak tahu. Aku pun tak tahu akan seperti hari-hariku tanpamu. Tapi pagi ini, aku masih bisa melihat langit yang biru, hanya hatiku saja yang kelabu.

Barasta,
jangan jadikan aku pilihan jika kelak kau jatuh pada hati yang lain. Aku tak mau. Jika kau benar cinta, hatimu akan menuntunmu kembali padaku sejauh apapun ia pergi. Aku percaya itu.

Malam ini Yogyakarta sedang hujan, Bara. Aku dan kopi juga di atas tuts keyboard menuliskan kata yang tak sempat kuucapkan pada pertemuan terakhir kita.

Jagalah dirimu. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu, lelaki pembawa mimpiku. Cuma itu caraku melindungimu di saat ragaku tak berada di sampingmu. Aku punya Tuhan yang kupercaya jauh lebih baik menjagamu daripadaku. Pun dengan hatimu. Kembalilah jika memang pada akhirnya kau temukan kita punya mimpi yang sama. Pergilah jika kau temukan sebaliknya. Pergilah.

Yogyakarta, 2004
Perempuanmu,

Rinai

SENT.

?


?

To : [email?protected]
Subject : Terlambat

Rinai sang pemilik rindu,

Selepas wisudamu, selepas kau diumumkan sebagai yang terbaik, aku tersenyum jumawa. Bangga. Meski aku tetap berdiri dibelakangmu dengan menggunakan seragam yang sama.

Ah, Ri... Kamu akan pergi jauh..., cita-citamu sudah kau gapai, aku bangga padamu. Detik kepergianmu aku menitipkan sebuah kotak yang aku memintamu untuk dibaca setelah kau sampai. Tapi tak ada balasan darimu Rinai. Aku menunggu sejauh rinduku yang kititipkan kepada burung besi yang terbang kesana.

Buatku, kalimat yang kususun untukmu adalah cerita tentang aku dan kamu. Tak ada rindu yang kubuat, tak ada senja yang tak indah untuk kusaksikan dan kuceritakan, tak ada kopi senikmat yang kau buat dan tidak Rinai yang menghujam milyaran rindu; sesak.

Aku tidak ingin genangan diujung mata ini tumpah hanya untuk melihatmu pergi menjemput impianmu-mungkin impian kita. Yang harus kamu tau, aku pergi menyusulmu karena aku ingin rindu yang membuncah ini bersatu dengan pelukan hangat. Hanya aku dan kamu.

Barasta..

SENT

Failed

?


?

#8

Barasta,

Ia sungguh mirip sepertimu. Namanya Rinan. Dalam Bahasa Anglo itu memiliki arti yang sama dengan namaku; ?hujan?.

Ia tak banyak bicara dan selalu tersenyum melihatku. Katanya, aku lucu dan aneh. Persis seperti kata-katamu dulu padaku.

Ia selalu ada ketika aku butuh seseorang persis yang kau lakukan dulu sebelum kau hilang, Bara. Bahkan lebih. Ia ada ketika aku bahkan titik terendah dalam hidupku. Tangannyalah yang mengulur padaku, bukan tanganmu seperti yang kuharap.

Rinan seorang pejuang, Bara. Berkali ia tahu hatiku tak mudah ia gempur, maka ia hampiri Ayah dan Ibu. Meminta izin mereka untuk membawaku mendampingi jalan juang hidupnya.

Aku masih bisa bertahan, Bara. Meyakini kau pasti kembali suatu saat nanti.

Ya, kembalilah, Bara. Sebelum ia menggempur hatiku sekali lagi. Barangkali ketika itu, aku takkan bisa lagi bertahan.

Tak bisakah kau menemuiku sekali lagi, Barasta?

Kembalilah.

Jakarta, 2014
Tertanda,

?

Rinai


?

Dearest,

Seperti surat-suratku yang terdahulu, sesungguhnya untuk apa kita saling mencari lagi Ri, kau sudah tau bagaimana aku sangat menaruh rasa padamu. Caraku perlakuanku dan rasa rinduku? tak bisa ngurai apapun kecuali berjumpa denganmu, saling menceritakan, berbagi bersama lalu melepas tawa memandang senja atau hujan dengan secangkir kopi dengan rasa yang sama.

Namun, akhirnya aku sadar. Sejauh apapun aku merengkuh tak kudapati jiwamu. Aku tahu hatimu kau jaga untukku meski kayuhanmu masih jauh, jarak pandangmupun masih berpendar. Kayuhlah terus hingga kau bisa menemukan pelabuhanmu.

Pesanku, jika ada yang memilihmu jadilah sebagai pilihan terbaiknya. Karena aku tau pikiranmu bisa memilih siapapun kau mau, tapi tidak hatimu.

?

Tertanda,

?

Aku.


?

#9

To: [email?protected]
Subject: Dimana kamu?

Emailku ke-10 yang entah sampai atau tidak padamu.

Bara, kamu dimana?

Aku takkan lagi bertanya apa kau baik-baik saja di sana. Karena banyak yang memberitahukanku kau baik-baik saja dan kini London menjadi kota persinggahanmu.

Mereka yang bercerita bertanya padaku, "Tidakkah Barasta memberi kabar padamu?". Dan seringkali kujawab hanya dengan gelengan kepalaku. Aku tak punya jawaban, Bara.

Semula aku tak peduli kata mereka, tapi kini 380 hari kau tak mengabariku aku jadi meragu. Apa aku masih ada di hidupmu, Bara?

Entah berapa surat elektronik lagi yang akan kutulis padamu dengan harapan semu. Bara, kau dimana?

?

Yogyakarta, 2005
Dengan ragu,

?

?

Rinai

SENT


?

Lelah sudah hati ini bercerita tentang kamu, namun selelah apapun itu tak kuasa aku melepasmu terutama rindu.

Ri, sejauh aku berjalan, sejauh itu pula kau memberi jarak, lalu arahku hanya mendekati saja. Berjalan terus berjalan, walau raga tak bertemu namun emosi kita yang bicara. Tuhan tau apa yang aku rasakan maka kutitipkan saja doaku untumu padaNya. Seperti senja yang selalu menemani sore, meski sejatinya akan tenggelam.

Ri, aku ingin menggenggam jemarimu, lalu berjalan menapaki hidup, penuh riang. Biarkan duka menyesap diantara kisi-kisi harapan untuk kita urai menjadi kebahagiaan.

Aku, jika suratku ini terbaca olehmu, kirimkan tempat keberadaanmu. Aku ingin menatapmu sekali lagi.

Aku...

Barasta


?

#10

Kubiarkan kembali rindu ini menggantung di cakrawala luas sana. Lelah memang tiada terkira namun semangat juangku untuk bertemu denganmu selalu menyeruak. Aku rindu Rinai; SANGAT.

Pernah suatu hari, aku menemukan titik terang keberadaanmu, tanpa pikir panjang aku bergegas mencari tempat itu. Hanya beda satu blok dengan sahabat penaku Canting (orang Indonesia asli dengan kewarganegaraan Perancis). Aku tiba di flat yang kau tempati. Rinduku begitu membuncah, lalu aku bertanya pada salah satu penghuni yang ada disana ; seketika aku kecewa. Kau baru pergi satu jam yang lalu, kembali ke Yogya. Lima menit aku terpaku, rasa hangat masih terasa di depan pintu kamarmu, parfum menyisakan aroma dan aku menciumnya. Aku melangkah gontai, pergi dengan asa bias.

Malamnya; "Barr.., seberapa besar cintamu pada Rinai? Tanya Canting". Aku tak menjawab, kuhirup dalam kopi yang ada dihadapanku. Canting tau semua tentang Rinai, bahkan dialah yang membantuku mencari tempat Rinai berada. "Barr, sampai kapan kamu akan seperti ini? Perjuangkan kalau memang perlu diperjuangkan! Namun, jika kau lelah berhentilah masih ada orang lain yang bisa mencintai apa adanya". Lanjutnya lagi. Kutarik nafas dalam lalu kehembuskan pelan sebelum menjawab kalimat Canting. "Jujur aku lelah, mencari yang tak pernah pasti. Aku dipermainkan oleh perasaanku sendiri." "Aku sudah berada dititik dimana aku harus memutuskan, melanjutkan atau berhenti." Ucapku tertahan. Canting tersenyum, sangat manis ada desir yang menyentuh ragaku. Aku membalas senyumnya dan berkata dalam hati diakah penggantimu Rinai?. Berdua kami menikmati malam, saling mendalami satu sama lain dengan secangkir kopi rasa yang sama black coffee South Sumatra. Di luar sana gerimis menyempurnakannya.

"Meski kau tak ada disini, kau selalu saja menemani.", ucapku dalam hati.

Aku,
Barasta.


Malam ini aku menyuguhkan kopi ketika di luar sana hujan jatuh begitu derasnya. Kopi yang kupikir istimewa karena menyimpan kenangan kau dan aku. Malam ini kopi dan hujan tiba-tiba jadi biasa. Malam ini kenangan itu terpaksa kubagi dengan lelaki yang hatiku pilih mengisi segala hampa yang kau sebabkan. Purnama dua bulan lagi, akan kubaktikan hidupku untuknya. Kupilih ia untuk kudampingi lalui jalan juang hidupnya.

Dia Rinan, Bara. Maaf.

Kupikir aku bisa menyetiakan hatiku padamu. Kupikir aku bisa bertahan. Tapi tidak, Bara.

Kupikir kalian sama karena itu aku nyaman bersamanya. Kupikir cara berpikir kalian serupa. Namun dua tahun, ia buktikan bahwa ia adalah Rinan, bukan Barasta.

Keyakinanku satu padanya; ia tak pernah bilang cinta padaku, tak pernah menjanjikan bahagia, namun ia memastikan akan selalu ada. Dan tak membiarkanku menunggu.
Ia buktikan itu bukan lewat kata, tapi dengan hadirnya selama purna dua tahun lamanya.

Hatiku luluh.

Aku kalah, Bara. Aku menyerah.

Dan malam ini, ia meminta kopi hitam Sumatera favoritmu. Lagi, kamu hadir di antara aku dan dia. Dulu mungkin aku pernah memintamu kembali. Kini, jangan pernah kembali, Bara. Agar aku tak merasa bersalah meninggalkanmu. Agar tak merasa dosa, telah menggantikanmu.

Malam ini aku mengaduk kopi bukan lagi untuk Bara yang mengajariku tentang lara. Semoga aku tak menorehkan lara yang sama di hatimu, Bara.

?

Tertanda,

?

Rinai Amaya

?


?

#11

Barasta,
Lagu ini mengingatkanku pada pertemuan kita yang tak sengaja di kota hujan kemarin.

Kau dan aku; kita ternyata bisa seasing itu satu sama lain. Entah kata-kata yang hilang atau terlalu banyak yang ingin kita ucap hingga pertemuan itu nyaris tanpa kata selain; apa kabar?

Mungkin karena ketika itu kau bersama perempuan cantik itu dan Rinan bersamaku. Matamu menatapku seolah aku yang mengkhianatimu, padahal pagi itu, Rinan melamarku untuk kedua kalinya dan lagi, kutolak dengan alasan yang sama; tunggulah aku sampai Bara memberiku kata. Dan siapa perempuan cantik itu? Kau menghilang bertahun lamanya dariku untuk bertemu dengannya? Apa susahnya mencariku Bara? Aku tak pernah pergi.

Kau tahu lagu ini, Bara? Rasanya ingin kuperdengarkan padamu kemarin. Aku-kah yang terlalu menggunakan hatiku menunggu selama 10 tahun lamanya seseorang yang tiba-tiba lenyap?

Bagiku, menunggu adalah cara paling berani untuk menyayangimu. Menunggu adalah caraku mengungkapkan cinta.

Barasta, kau dan aku seharusnya saling berbincang tentang kita. Apakah cinta itu masih sama setelah bertahun lamanya terbentangkan jarak dan waktu tanpa saling bicara? Apakah sesungguhnya kau dan aku masih tetaplah kita?

Barasta, aku lelah. Beranjaklah dari titik tunggumu dan berjalanlah, tidak, berlarilah padaku. Karena mungkin saja hatiku tak padamu lagi setelah kulihat ada jiwa yang mampu membuatmu tersenyum lagi.

Barasta, rasanya aku ingin menyerah.

?


?

Rinai, lagu ini mengingatkanku pada pertemuan kita kemarin. Kota Hujan.

Matamu sungguh meneduhkan Rinai, pertemuan tanpa sengaja di Kota yang sama dengan namamu. Seketika membuatku bisu. Kau bersama pria lain, pria lebih wibawa yang tidak kukenal. Sudah tidak ada lagikah aku di dalam hatimu? Jarak yang membentang memang jauh, aku terpacu menyusulmu ke benua biru itu hanya untuk bertemu denganmu. Meski kita tak satu negara, tapi harapku suatu saat kita akan berlabuh pada satu dermaga yang Tuhan rencanakan. Ah, tapi hatimu telah kau isi dengan pria lain.

Rinai,
Ketahuilah hati ini, rasa ini, cinta ini masih untukmu. Meski disampingku ada sosok jelita lain. Dialah Rr. Canting Prameswari. Gadis yang telah mengisi hariku dalam pencarianmu. Tidakkah kau baca suratku Ri ? Semua sudah kujelaskan disana.

Jiwaku rapuh melihatmu bersamanya. Jika memang sudah tak ada rasa ada lagi, aku ikhlas kau bersama pilihanmu. Aku anggap pencarianku selama ini sebagai pahala kesetiaanku sehingga nafsu duniaku masih terjaga.

Berjalanlah kedepan, jemputlah impianmu bersama kekasih pilihanmu. Kuhatap juga pilihan yang Maha Kuasa. Doaku selalu terselip namamu dan namamu dihatiku pun masih belum tergantikan.

Aku masih punya hati Ri. Utuh padamu...

Tertanda,


Barasta


?

#12

Pont des Arts, di sepanjang Sungai Seine. Di sinilah aku; mencarimu. Agar semua orang tahu, aku berjuang demi dirimu, Barasta.

Mereka punya arti mencintai yang berbeda denganku. Menunggu, bagi mereka, adalah sebuah kesia-siaan dalam mencintai seseorang. Bagiku, butuh banyak keberanian untuk menunggu seseorang; kamu. Aku berani mempertaruhkan ratusan hari yang mungkin bisa kutemui jiwa lain yang dapat membahagiakanku selainmu. Aku berani mengambil risiko untuk disebut bodoh ataupun pemilih demi menunggumu. Aku berani sebagai perempuan. Itu yang tidak mereka tahu, namun mereka lihat sebagai lemahku. Untuk apa mencari yang lain, sementara diriku merasa sempurna setiap engkau ada. Separuh aku; dirimu.

Maka, di hari ini, aku mengikuti kata mereka; membuktikan cintaku dengan mencarimu. Setidaknya aku terlihat berusaha di mata mereka untuk meperjuangkanmu dengan caraku. Kau ingat kita pernah berjanji akan memasang gembok cinta bersama di Pont des Arts? Kenapa kau tidak ada di sini, Bara? Mengapa aku hanya sendirian memandang kilauan percik air memantulkan jingga senja di Sungai Seine ini? Dan mengapa aku merasa tak mau kembali lagi ke sini?

Apa benar separuh aku adalah kamu? Kenapa kau tak jua beranjak mencariku? Barangkali kau tak sama kehilangannya denganku. Ratusan hari ini mungkin aku bodoh. Mungkin?

Pada akhirnya, cintaku mungkin akan kalah dengan keadaan. Cintaku takkan bermakna apa-apa karena yang menemaniku bukanlah kamu, tapi hampa. Cintaku mungkin hanya akan sampai pada doa seperti dalam doa petang ini;?

?Meski ia tak lagi terlihat dalam pandanganku, aku yakin Engkau selalu menjaganya, Tuhan. Engkau yang paling tahu seberapa besar aku merindukannya karena kutitipkan rinduku untuknya pada-Mu. Jikalau rindu itu takkan pernah ia rasa, maka baik-baikanlah aku. Bahagiakanlah ia selalu.?

Aku sungguh ingin memelukmu senja ini, Barasta.

Tertanda,

Aku


?

Dan yakinlah ketika kamu sudah memutuskan mana pilihanmu, jangan pernah setengah hati memilihnya, yakin saja. Selama kau masih percaya Tuhan, ikhlas dan syukuri.

Aku akan membiasakan diri tanpamu, tanpa tulisanku? lagi padamu. Mungkin saja pertemuan tanpa sengaja kemarin itu sama-sama membuka pikiran kita, bahwa cinta adalah tanda yang tidak pernah kita rasa namun selalu menimbulkan rindu, kasih juga sayang. Namun tak terungkap.

Rinai,
Kutitipkan segala kesah dan gelisahku pada sang pemilik bumi, sesungguhnya kalimat yang kuuntai dalam balutan suratku untukmu ini adalah caraku mencintaimu dengan segala keterbatasan.

Terima kasih kau telah membuatku mengerti arti dari kesetiaan dan kepercayaan. Meski, menunggu dan mencari adalah satu dan itu untuk kamu. Rinai.

Belajarlah untuk mengingat apa yang kamu sukai agar kau tau bagaimana lelahnya kita saling mencari. Waktu akan selalu sama tapi mungkin cara dan rasa yang sudah berbeda.

Ketahuilah seujung kuku pun rasa ini tak pernah melebur. Sejatinya namamu telah mengukir hati dan hariku.

Tertanda,

Barasta


?

#13

Barasta, kau berubah. Aku seperti tak mengenalimu, meski kutatap dalam mata teduh di sebalik kacamata itu. Dalam ingatanku, meski bibirmu tak pernah berucap cinta, mata teduh itu tak pernah berdusta tentang rasa. Ia memantulkan bayanganku dengan hidup dan sempurna. Tapi petang tadi, tak ada aku di matamu. Tak kutemukan kamu yang dulu.?

Pertemuan singkat kita tadi di Cafe de Flore ternyata tak menyelesaikan apapun. Kenapa harus menyisakan tanya pada apa yang seharusnya terselesaikan? Dan mengapa harus ada Rinan dan Canting di antara pembicaraan kita? Emosikah kita karena masing-masing nama itu ternyata saling mengisi kekosongan hati??

Aku iya, Bara.?

Hilangku dalam hidupmu ratusan hari diisi oleh perempuan berkulit putih itu dengan sempurna. Ia dampingi engkau kemana pun; meski dalam pencarianmu terhadap diriku. Aku penyebab kalian bersama. Amarahku pun membuncah terhadap diriku sendiri. Kupikir hatiku akan memahami bagaimanapun kau nanti, aku akan menerima. Tapi ternyata tidak. Bagaimana aku bisa memutuskan melangkah bersama Rinan jika aku masih menyimpan marah padamu? Itu arti aku masih merasakan kamu, Bara.?

Banyak yang perlu kita bicarakan, namun kenapa kau tiba-tiba membisu ketika kau sama terkejutnya denganku menemukan Rinan menghampiri kita? Aku berharap kau beranjak dari dudukmu dan berkata,??Ada satu masa yang harus aku dan dia perjelas. Kami sedang tak butuh kau?. Nyatanya, kau malah mempersilakan Rinan membawaku pergi.

Aku harus apa jika aku semarah ini??

Ketika memahami justru menyulitkan dan menerima justru memastikan. Dan aku sangat tak ingin kembali ke Paris.

Barasta, baru kali ini, dalam doaku kupinta kamu musnah dalam hidupku.?

?

Aku


Sudah kubulatkan untuk sendiri dulu, merenung akan kegundahan jiwa agar kelak aku tidak salah langkah lagi. Maafkan aku Rinai jika lakuku tak memberikan kepastian untuk kita sejalan. Aku tau, selama kita hanya saling berguru pada jarak, melihat angin tanpa merasakannya percuma, hampa dan kelu.

Rinai,
Kita masih belum bisa mengisi sisi kosong diantara kita, meski kita sama mencari dan sama menunggu hasilnya sama-sama saling bisu. Aku menatapmu, kau menatapku. Kita diantara tatapan mereka. Rinan dan Canting.

Pergilah Rinai, aku sudah mulai terbiasa; kuat.

Melangkahlah Rinai, ada seseorang yang bisa berdiri bersisian denganmu menyongsong masa depan; kebahagiaan.

Aku, sudah menyiapkan ruang dihatiku dua kalimat : memahami arti kehilangan dan menerima dengan ikhlas.

Barasta


?

#14

Dear Rinai,

Dan biarkan kita dalam pikiran dan cinta kita masing-masing. Kita bisa mengubah apa yang kita inginkan tapi kita tidak bisa apa yang kita butuhkan satu sama lain.

Selamat tinggal kenangan, selamat tinggal Rinai, semoga langkah yang aku dan kamu pilih merupakan jalan terbaik.

Tertanda,

?

Barasta

Salam rindu tiada terbatas...


?Everybody?s changing and I don?t know why??

Kenapa engkau berubah, Barasta?
Kenapa engkau berbeda, Barasta?
Kenapa engkau asing, Barasta?
Kenapa engkau tak kukenali, Barasta?
Kenapa engkau bukan Barasta yang dulu?

Kenapa?

Aku yang tertatih dalam kebingungan


?

#15

Selamat bertambah usia Rinai, semoga langkah yang telah dan akan dilalui selalu diberkahi dan dilindungi Sang Maha Pencipta. Doa-doa terbaik yang kau tasbihkan pada hari ini, esok dan seterusnya kutitipkan aamiinku untuk selalu bersamanya.

Rinai, 15 tahun yang lalu, dihari yang sama, hanya selang satu jam dari hari ini, kita duduk memandang gemericik dengan siluet senja, disudut jendela warung kopi favorit kita. Dengan sinar lampu temaram dan sinar lilin membuat wajahmu tambah bercahaya dan anggun. Hari jadimu Rinai. Kau sunggingkan senyum khasmu, " terima kasih ya, doa yang sama untukmu dan kita" ucapmu.

Dan hari ini, berkurang lagi satu tahun usiamu. Jadilah perempuan penerang hati untuk dirimu, keluargamu dan terutama Yang Memilikimu. Tiada kalimat selain doa yang tulus kuuntai untuk hari bahagiamu.

"Le prix d'amour, c'est seulement amour, il faut aimer si l'on veut ?tre aim?"

Tertanda,


Barasta


Aku terhenyak di depan lilin yang menyala. Aku sekilas tersenyum sebelum kusadari sosok yang di hadapanku bukan kamu, Bara.

Dia doakan aku dengan raut wajah tulusnya. Ia juga berterima kasih aku hadir dalam hidupnya karena hidupnya terlengkapi dengan adaku. Ia tetap tersenyum, meski ia tahu hatiku belum penuh akannya.

Barasta, sebulan lagi lelaki ini akan membawaku selamanya pergi. Ketika waktu itu tiba, segala mimpi dan asa yang pernah kita rajut akan menjadi abu. Kau sungguh menginginkan ini?

Aku takkan bisa terus menunggumu. Suatu waktu aku akan seperti lilin yang padam jika masanya tiba. Kala itulah barangkali, langkah kita akan sama terhenti.

Sudahkah saatnya kita saling berucap selamat tinggal?


?

#16

Dearest,

Bulan sudah berganti, tahun pun terus berlanjut seperti hidup kita, masing-masing.

Aku dengan ceritaku
Kamu dengan ceritamu
Cerita dengan prosa beraturan mengikat dalam susunan yang membentuk pola atas nama kerinduan. Tak banyak yang bisa kuuntai untuk menemani setiap abjad aku dan kamu, juga mereka.

Hujan dengan jutaan rinai membumi seolah mengatakan akan merindukan kamu, menganak sungai, selembut awan menyahdukan arti dari rasa jiwaku, meski kelabu.

Rinai,
Sejatinya cinta adalah lukisan kebijaksanaan, pemahat kesetiaan, pendendang kepercayaan dan penggenggam hari esok, lusa dan selamanya ; berdua.

Kini,
Kalimat dalam bukuku jarang menyebut namamu, mungkin saja jemariku lelah menggoreskan namamu.

Satu hal Rinai, yang tak mungkin aku lupakan. Cara kau membuatkan kopi untukku. Adukan searah jarum jam sebanyak tiga kali, pada detik ke 12 kau berhenti mengaduknya lalu satu adukan lagi. Kenangan.

Tertanda,


Barasta


Satu masa, aku menyebutmu cahaya. Cahaya karena kau datang pada masa gelapku. Tak pernah banyak bicara, namun lakumu mengajarkan banyak hal, termasuk tentang cinta.

Satu masa, kusebut kamu, pagi. Karena kamu hadir membawa harapan baru untuk memulai. Tak banyak kata, kau tunjukan dunia punya banyak celah untuk berbahagia.

Dan di satu masa, kau kudefinisikan sebagai bahagia. Segala tawa akan tercipta bersamamu meski dalam sedih sekalipun.

Namun kini, aku bias mendefinisikanmu. Kau bukan lagi cahaya, pagi ataupun bahagia.

Kau ambigu.

Dan aku tak suka itu, Barasta.


Rinai


?

#17

...
Hinakah bila ku memohonmu
Kembali padaku di sini
Ku tunggu jawabanmu untukku
Kuharap jawaban terbaik
...

Sayup terdengar namun memecah keheninganku, di sisi jendela kedai kopi favoritku.

Ah,
Merindumu itu memang menguras hati, membentuk jelaga yang tak akan pernah kering. Mata airnya selalu menganak memenuhi setiap relung belum terisi. Membuatku selalu ambigu. Bukan berarti aku tak berpendirian, mendengar namamu saja aku sudah bergetar. RINAI.

Aku sudah berhenti untuk melajukan perahu menuju dermaga atas namamu, namun arah angin selalu membawaku menuju kesana Rinai. Tak pelak lagi hatiku untuk menolaknya, menolakmu.

Jika saatnya tiba aku, kamu dan seisi dunia akan tau bahwa, sejauh apapun aku bahkan kamu pergi akan kembali ke satu pangkuan, yang bernama hati. Milikku adalah untukmu, milikmu adalah untukku. Milik kita, untuk kita, satu Rinai dan satu Barasta. Apakah terjadi?

Jika lagu yang kudengar ini, mungkin juga sedang kau dengar adalah nyata. Bilakah aku kembali padamu, untukmu Rinai, untuk kita.

Barasta.

?


?

?

Bila kau memang milikku
Cepatlah kau kembali

?

Ya, kalau kau memang milikku, cepatlah kembali, Bara.

Kembalilah?

Ah, tidak, jangan kembali

?.

***

?Ri, ini email lamamu sudah terbuka. Sepertinya ada beberapa email dari Barasta. Aku rasa kau perlu baca,? ujar Rinan menyelaku. Tanganku berhenti menulis.

?Bacalah.?

Aku terdiam.

?Aku mengizinkanmu,? lanjut Rinan.

?Kau tak takut aku pergi begitu membaca semua email Barasta itu?? Tanyaku heran demgan laku Rinan.

?Jika kau memang milikku, kau pasti akan kembali padaku.?

Aku terhenyak. Kata itu baru saja kutuliskan untuk Barasta.

?


#18

?

Bertanya padamu kapan kita bertemu, sama saja bertanya pada angin yang hanya dapat dirasakan hembusannya.

Bertanya padamu kapan aku bisa melihat senyummu, sama saja aku bertanya pada cahaya hanya bisa merasakan terang pada saat gelap.

Lalu aku bertanya pada siapa? Jika surat atau emailku tak pernah kau balas. Katamu hanya singkat, "aku lupa kata kuncinya Bara!".

Sudah ratusan bahkan jutaan hujan turun membumi, rinainya tak terkita berlimpah. Satu hal yang musti kau ingat, "akhirnya aku tidak menyukai hujan tapi tidak membencinya."

Satu yang kudamba, setitik Rinai yang jatuh di telapak tanganku, kemudian bertambah semakin banyak. sehingga aku dan kamu berwudhu untuk mencari surga Sang Maha Pengasih selamanya bersamamu.

Barasta.

?


?

?

Kala rindu menggebu maka aku akan berdiam lalu menunggu hujan. Sedangkan kamu duduk di tepi jendela dengan secangkir kopi menunggu pelangi.

Aku rindu kamu Rinai?
Sangat rindu.

Swiss, 2004

Barasta

?

Barasta yang entah harus kusebut dirimu dengan apa,


Butuh berjam-jam membuka satu email lama darimu setelah bertahun tak kuingat apa kata kunci emailku itu. Aku takut. Takut membaca kata rindumu yang bertahun tersimpan dalam kotak surat email yang entah mengapa kulupa kata kuncinya. Pikiran bawah sadarku menyengaja lupa bertahun lamanya. Kata kunci itu: hujankopi2008. Mungkin perlahan seperti itulah aku padamu. Nanti.

Dan, hatiku bergetar membaca kata rindumu yang kupikir tak pernah kau rasa untukku, Barasta. Aku kelu.

Sebegitunya Barasta yang kupikir tak punya hati ternyata menyimpan selangit rindu padaku. Aku haru.

Tapi aku harus apa, Bara? Aku tak berani membaca suratmu yang lain. Hanya mampu kupandangi setiap judul email itu di kotak emailku. Semua tentang rindu.

Barasta ternyata rindu. Lalu, aku harus apa?

Aku tak mungkin lari mencari karena aku sudah dinanti. Aku tak mau menyesali. Ada lelaki penyuka kopi dan pecinta Sapardi di sampingku. Ia penggemar buku dan siap mengantarkanku menjelajahi dunia di masa nanti.

Kuizinkan ia di sampingku; karena ia selalu mendampingi di saat kau hilang, Barasta. Lebih dari itu kulihat jalan menuju surga bersamanya. Ia tak pernah menjanjikan bahagia, tapi ia yakin; kami akan bersama hingga ke surga.

Ia tak hanya menginginkanku di dunia, tapi hingga ke surga.
Aku tak mungkin mengkhianatinya, Bara.

Aku mungkin belum mencintainya, tapi aku menghormatinya.

Maafkan aku, Bara. Hujan ini rasanya bukan milik kita lagi.


Tertanda,

Rinai

***

?Hujan.?

?Mau kubuatkan kopi?? Tanyaku.

?Tidak. Teh manis hangat saja. Kopi adalah milikmu dan masa lalumu. Biarkan aku, hujan dan teh manis hangat memilikimu dan masa depanmu. Dan sesungguhnya aku tak begitu suka kopi,? ujar Rinan.

Aku membisu.

?Barasta, semoga kau tak luka,? doaku dalam hati dan menutup catatan surat cintaku yang entah untuk keberapa kali.


?

#19

?

Dear Rinai,

Aku semakin terbiasa tanpamu, banyak pelajaran yang aku dapatkan ketika aku menunggu sekaligus mencarimu.

Dalam hidup ini, prinsipku adalah mencintai sepenuh hati dengan satu orang yang tujuannya tidak hanya dunia tapi juga akhirat.

Yogjakarta, Swiss, Perancis, Bogor, ke kota mana lagi kita akan saling bercerita ?

Barasta...


Habis sudah kata cintaku padamu, Barasta. Kau akan bagaimana?

Aku perlahan mulai membuang satu per satu kenangan kita. Dan mungkin juga semua surat cinta ini.

Mari kita berbahagia di jalan kita masing-masing yang tertakdir tak pernah sama.

Lupakanlah aku.

?

Rinai


#20

Barasta,

Maukah kau mendoakanku di hari bahagiaku nanti? Hatiku masih berat menyampaikan kabar ini padamu.

Rasanya tak ingin kau hadir. Membiarkan saja kau dan keegoisanmu tak tahu. Kadang menjadi tak tahu itu lebih menenangkan. Ya, mungkin lebih baik kau tak tahu.

Akhirnya aku pun harus memilih. Memilih antara bertahan dengan Barasta atau maju bersama Rinan. Satu memberikan luka dan satu menjanjikan bahagia.

Kalau kau jadi aku, pasti kan kau pilih bahagia, bukan?


Rinai


?

Rinai, dengan segala kerendahan hati dan ketulusan jiwa aku ikhlas melepasmu. Bahagiakanlah dia yang bisa membuatmu selalu tersenyum setiap saat.

Rinai, mungkin aku dan kamu dipertemukan bukan sebagai jodoh dunia-akhirat melainkan hanya sebagai sahabat. Aku Barasta sudah menata setiap serpihan atas cerita kita untuk kubawa bersama angin lalu kutitipkan pada hujan yang senantiasa membasahi semesta. Sehingga rinduku sudah tak kupendam sendiri, akan selalu terbagi.

Rinai, aku selalu memaknai pertemuan dengan senang hati dan disanalah semua pintu terbuka. Namun aku pula harus tahu bahwa akan ada perpisahan dibelakangnya. Jadi aku pun memilih kata perpisahan untuk semua bagian cerita aku dan kamu.

Aku tak ingin terluka dan melukai, lebih baik aku berpisah dan menyampaikan terima kasih padamu dan Tuhanmu. Yang mana telah memberikan kesempatan kita saling bersisian untuk masa depan yang akhirnya tertunda.

Barasta...


#21

?

Dear Rinai,

Kata terindah adalah terima kasih, perbuatan paling mulia adalah tersenyum, maka aku Barasta menyampaikan terima kasih padamu atas segala senyum yang terurai darimu.

Aku sudah memaafkanmu, jemputlah bahagiamu, jemputlah cahaya hidupmu untuk esok dan selamanya, tinggalkan semua kenangan, tutup semua lembaran cerita aku dan kamu.

Ikhlasku adalah kekuatan yang aku pertanggung jawabkan pada Pemilik Semesta, andilnya sangat besar mempertemukanku padamu. Cintaku hanya lapisan tertipis yang ada di bumi, percayakan semua pada-Nya.

Selamat tinggal Rinai, selamat berbahagia...

Barasta...


Di dalam hidup ini, ada kalanya kita harus meminta maaf. Bukan hanya karena ketika kita merasa bersalah, namun merasa diri tak mampu memberikan yang terbaik atau belum memperjuangkan apa-apa bagi yang kita sebut cinta.

Aku sedang begitu padamu.

Dengan tulisan ini, aku meminta maaf jika aku tak terlihat sungguh mencintaimu. Meski sesungguhnya, di balik aku yang kaupikir tak cinta itu; ada ribuan rindu berkecamuk setiap sosokmu terlintas di pikiran.

Aku minta maaf jika aku tak terlihat berjuang seperti perempuan lain. Bukan aku tak mampu menghujanimu perhatian, memberikanmu kata cinta setiap waktu, berada di sampingmu kala kau ingin berbagi tawa maupun lara. Kupikir aku harus menjaga hati pada ia yang belum tertakdir akan menempuh jalan hidup yang sama. Aku cuma punya doa sebagai cara memperjuangkanmu. Kalau memang bahagiamu bukan padaku, kudoakan jiwa lain jauh lebih membahagiakanmu daripadaku.

Aku minta maaf karena selalu tak bisa berkata pada setiap pertemuan kita. Lidah kelu setiap tatap kita menyatu di suatu waktu. Aku bisu setiap kali merindumu.

Dalam hidup ini, ada masa ketika kita akan lebih bahagia jika melepaskan seseorang. Bukan karena cinta telah pupus, tapi karena terlalu cinta dia. Takut dengan menggenggamnya erat, kau akan menariknya semakin dalam ke neraka. Padahal cinta yang sejati seharusnya mengantarkanmu menuju surga.

Dan aku minta maaf karena aku melepasmu. Ternyata aku tak setangguh itu mencintaimu.

Maaf.


Tertanda,


Aku


?

#22

Kau tahu makna cinta sejati? Tak selalu bermakna cinta yang harus termiliki. Tak juga berarti cinta yang bertepuk di kedua sisi.

Bagiku, mencintai secara sejati bukan bermakna harus membersamai, karena terkadang bisa jadi membersamai justru akan saling menyakiti. Mencintai secara sejati tak selalu berarti harus memiliki, karena terkadang memiliki justru membuat kita takut kehilangan yang pada akhirnya bermuara melukai.

Dan bagiku mencintaimu adalah cara cinta paling sejati dengan melepaskan. Begitu aku padamu.

Cinta itu akan diuji seberapa mampu menahan nafsu membersamai ataupun ingin memiliki. Belajar menghentikan nafsu dan menitipkan rindu kepada Sang Pemilik Hati.

Dalam rentangan waktu, kau tak pernah bersamaku, disitu pula aku belajar bahwa menunggu adalah perjuangan paling berani dan mendewasakan.

Dalam masa itu, aku tanpa sadar belajar menghargai; tentang waktu yang pernah teretas bersama. Tentang jalan yang pernah kupikir akan kita arungi bersama. Tentang perasaan yang tak pernah dengan baik tersampaikan, hanya mampu kutitipkan dengan doa. Tentang semua yang pada akhirnya tanpa kusadari menjadi bekal jika semesta tak menakdirkan kita bersama.

Jika kau harus pergi, maka aku sudah membekali diri untuk memutar haluan menuju tujuan baru. Tujuan yang meski bukan denganmu; aku yakin pasti bisa berbahagia.

Aku ingin seperti bayu, seperti hembusan angin di pelataran Monas senja ini. Aku mengingat cinta sejatiku dengan mendalam bukan di Eiffel ataupun Seine. Tapi di sini, Jakarta; tempat kita bertemu dan membagi waktu.

Dan hari ini kau pergi. Terima kasih untuk pernah peduli. Untuk pernah melindungi dengan cara sederhana. Untuk pernah saling menanti bersabar pada masing-masing mimpi. Untuk pernah memberikan bahagia meski tak abadi. Dan untuk menjadikan aku seperti saat ini.

Terima kasih.

Berbahagialah, Barasta.


Tertanda,

Aku


Dear Rinai,

Mungkin hari bahagiamu sudah dekat, kau akan mengarungi bahtera hidup baru bersama pilihanmu dan tentunya pilihan Sang Pemilik Semesta. Lajukan perahumu bersama-sama, dayunglah dengan keseimbangan tidak semata dunia saja, akhiratlah abadinya.

Rinai walaupun aku duduk disini, sendiri. Nelangsa memandang namamu dan namanya pada kertas berwarna jingga. Nafasku tersengal meski berkali-kali kuhembuskan perlahan. Dadaku sesak Rinai, dan genangan disudut mataku terurai. Bahagiamu, bahagiaku juga. Aku percaya cinta sejati itu ada dan kau adalah sejatinya.

Jika nanti kau kembali dan aku masih tetap sendiri maka aku masih mencintaimu. Aku akan tetap menerimamu, tapi jika aku telah berdua dengan yang lain maka bertahanlah sebentar. Mungkin saja Tuhan mengubah skenario-Nya dan mempertemukan kita kembali di singgasana terindah yang pernah aku dan kamu impikan.

Jika sebaliknya, aku dan kamu tetap dipersatukan sebagai sahabat maka lebih baik aku sendiri. Sampai suatu saat aku menemukan rahasia terbaik dari-Nya.

Barasta...


#23

....
Rasa sesal didasar hati diam tak mau pergi
Haruskah aku lari dari kenyataan ini
Pernah ku mencoba tuk sembunyi
Namun senyummu tetap mengikuti
...

Rinai,
Tak ada cara lain yang dapat membuatku mencintaimu sekaligus melupakanmu selain terus berjalan meninggalkan jejak cerita ibukota ini. Aku akan kembali ke kotaku untuk menjemput impian lain.

Jika arah tidak melintang, jika jalan tidak berbelok dan jika hati sudah melepaskan namun masih bertahan maka rasa bahagiaku bukan lagi pada Sang Pemilik Hati. Aku tidak ingin bahagia ini sirna, senja tidak lagi indah dan rinai yang selalu kutunggu tidak lagi merindu. Aku tetap ingin pelangi selalu menyertai aku dan kamu.

Cinta memang selalu akan terurai Rinai, seperti katamu "Dan bagiku mencintaimu adalah cara cinta paling sejati dengan melepasmu. Begitu aku padamu", usai Rinai.

Gapailah indahnya kebahagiaan dengan selalu mengingat-Nya karena itulah cara terbaik dalam lautan kehidupanmu bersamanya. Aku melepaskanmu, melepaskannya dengan doa. Sungguh hal yang paling menyakitkan adalah memberi namun tidak mengikhlaskan.

Berbahagialah atas cinta karena-Nya, karena aku tahu kamu, surga-Nyalah yang kau tuju.

Terima kasih Rinai. Dengan langkah mantap aku memulai yang sudah tertunda. Aku akan kembali ke kotaku, membangun cinta dengan Ridha-Nya. Sendiri.

Barasta..


?

Barasta,

sudah terlupakankah aku?

Kau, sama sekali belum lekang dari kenanganku.

?

?

Rinai


?

*) "Kepada Hati Itu" diambil dari judul lagu Letto

**) "Kepada Hati Itu" merupakan kolaborasi menulis surat cinta selama 30 hari Lulu Anjarsari sebagai Rinai dan Leza Arlan sebagai Barasta. Selamat membaca!