MERDEKA ADALAH...

Lulu Anjarsari
Karya Lulu Anjarsari  Kategori Agama
dipublikasikan 18 Agustus 2016
MERDEKA ADALAH...

Tertarik dengan postingan Bang Arham Kendari yang meminta friends di efbinya memaknai kata 'merdeka' dengan hadiah komiknya. Saya pun tertarik memaknai 'merdeka'. Dan dalam berbagai hal, saya sadari saya belum merdeka; sebagai manusia, sebagai hamba, dan sebagainya yang lain.

Akhirat; Tempat Kemerdekaan yang Abadi

Akhir-akhir ini saya sedang berpikir kalau kematian lebih dekat dalam hidup dibanding apapun di dunia ini. Tapi tak ada bekal apapun yang saya rasa miliki untuk nantinya bersiap menghadapi Malaikat Izrail. Lantas, apa hubungannya kematian dengan kemerdekaan? Banyak.

Bahwasanya kehidupan di dunia ini sebenarnya bukanlah suatu kemerdekaan karena pada akhirnya semua berujung; kematian. Kekekalan akhiratlah yang menjadi sesungguhnya kemerdekaan. Tempat akhir yang sebenar-benarnya mau ngapain aja kita bebas sesuai apa yang kita berbuat di dunia. Bebas dihukum separah apapun jikalau kita bergelimang dosa di neraka, dan bebas berleha-leha dengan segala nikmat di surga atas kebaikan yang kita perbuat. Ini pikiran saya lho…

Itulah kenapa merdeka di dunia kalau menurut saya tidak ada. Semerdeka-merdekanya dan sebebas-bebasnya kita jadi manusia tak ada yang benar-benar merdeka tetap saja ada norma atau aturan yang mengatur hidup kita. Katakan seorang atheis sekalipun, meski hidupnya dikatakan 'bebas' dari aturan agama, pasti tidak dengan sisi hidupnya yang lain. Pekerjaan misalnya, ia akan tetap harus patuh dengan aturan kantor. Jikalau dia tidak bekerja? Norma sosial di masyarakatlah yang melingkupi hidupnya. Jadi tak ada yang sebenar-benarnya 'merdeka'.

Pun sebenarnya ???? sudah menegaskan kalau penciptaan manusia mempunyai tujuan. Tidak untuk hidup sebebasnya.

  ????? ???????? ???????? ??????????? ?????? ???????????

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)

Dan seperti saya katakan di atas; akhiratlah yang menawarkan kemerdekaan yang kekal. Untuk mencapai kemerdekaan yang kekal dengan segala kenikmatannya, kunci satu; ibadah. Kembali pada tujuan penciptaan. Ah bahasa saya terlalu sok tahu ya.

Bagi saya, beribadah itu seharusnya merdeka. Merdeka untuk mengikuti sesuai apa yang kita pilih dan tentu saja itu semua mengikuti pedoman yang benar. Tak perlulah merepoti atau merecoki urusan ibadah orang lain, membenarkan atau menyalahkan orang lain, karena seharusnya dan yang terpenting adalah urusan ibadah kita sendiri. Toh, ketika kita mati, semua akan kita jalani sendiri. Segala kebaikan pun keburukan yang kita lakukan, ???? takkan mempertanyakannya dan meminta pertanggungjawabannya pada orang lain, tapi pada kita sendiri. Pada akhirnya, itu berarti kita juga telah menghormati kemerdekaan orang lain karena kita tidak merecoki hak orang lain dalam beribadah.

Catatan ini sekaligus pengingat untuk saya, tak perlu merasa benar sehingga berani merecoki urusan ibadah orang lain, karena banyaknya kekurangan pada diri sendiri. Sudah baikkah diri kita sampai berani menilai dan menghakimi orang lain?

Wallahu'alam.

LA/180816

 

  • view 562