#1 ENAM PULUH BULAN PURNAMA

Lulu Anjarsari
Karya Lulu Anjarsari  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 Januari 2016
#1 ENAM PULUH BULAN PURNAMA

?Kau dan aku tidak akan berhasil jika terus begini. Bagaimana kalau kita berhenti sampai di sini??

Aku berhenti menyeruput caffe latte di tanganku. Kutatap matamu. Lelaki berewok berkacamata itu menatapku dalam. Mata kami bertemu setelah lama kuhindari selama hampir sejam kami duduk di teras kedai kopi favorit kami.

Ia paling tahu; matanya bisa memberitahukan hatinya dan aku bisa membaca itu. Itulah alasan matanya merupakan favoritku. Mata teduh dan selalu menjadi tempat pelipur rindu itu kini tiba-tiba asing. Sudah tiga tahun aku mengenalnya tak pernah merasa seasing ini. Aku mengalihkan pandanganku. Hatiku berat mendengar semua perkataannya.

?Mungkin seharusnya kita menyudahi ini tiga tahun lalu saat sebenarnya kita paham jika kita tidak bisa bersama.?

Aku beranjak dari dudukku. Aku harus pergi. Aku tak ingin ia melihatku menangis. Aku ingin ia mengingatku sebagai perempuan yang kuat dan mandiri. Perempuan yang berbeda dari perempuan kebanyakan.

Ya, sejak hari itu, ia menghilang. Tanpa kabar. Tanpa jejak. Sudah 59 bulan purnama sejak hari itu. Dan aku, masih di sini. Menandai kalenderku ketika purnama tiba. Menghitung berapa bulan purnama dia sudah pergi. Ia pergi dan aku tenggelam dalam janji.

***

Dalam hidupmu, ada?orang-orang yang menunggu. Menunggu kau lekas lahir ketika kau masih dalam kandungan, menunggu kau bisa berjalan ketika kau masih merangkak, menunggu kau beranjak dewasa, bahkan menunggu kau hadir untuk menggenapinya.

Itulah aku kepadamu. Menunggu kau datang untuk menggenapiku.

Di usia yang menginjak 30 tahun ini, aku masih memegang janji lima tahun lalu itu. Ketika kita sedang di mabuk cinta, berjanji akan saling melengkapi dan menggenapi. Namun tiba-tiba kau memutuskan pergi tanpa pamit. Aku yang besar kepala merasa menjadi pilihan nomor satumu seketika runtuh. Semua hilang. Mimpi dan asa yang kau dan aku bangun bersama hilang. Amarahku terlalu meluap. Untuk apa kuhabiskan tiga tahun hidupku bersama jika pada akhirnya kau menyerah?

Amarah itu menutup sayangku. Betapa aku menyayangimu hingga sampai hari ini, entah berapa hati yang kutepis. Entah berapa jiwa baik yang hadir telah kukecewakan, padahal mereka berusaha untuk memberikanku bahagia. Aku harus apa? Hatiku sekeras batu, kau yang mampu meluluhkannya. Tapi entah engkau dimana.

?Kalau suatu hari kau bertemu jiwa yang lebih baik dariku, aku rela melepaskanmu,? katamu di suatu senja. Di sampingmu, aku menatapmu sambil mendongak. Kau tak menatapku seperti biasa.

?Yakin??

?Kalau kau bahagia, kenapa tidak??

?Tapi aku tak mau,? jawabku masih sambil menatapmu yang tak jua menatapku dan membuang pandangan ke depan.

?Kepala batu. Nanti orang-orang akan menyebutmu perawan tua. Kau mau??

Aku nyengir. Dan ikut membuang pandanganku jauh ke lautan di hadapan kami. Senja jingga itu entah mengapa terasa lebih kelam. Aku sekali lagi menatapnya.

?Berapa lama waktu yang bisa kau berikan untuk menungguku??

Ia menatapku. Mata teduh itu menatapku dalam. Ia mencari jawaban yang jujur. Dalam pikiranku berkecamuk bermacam pertanyaan. Tapi yang ia butuh bukan pertanyaan. Ia butuh jawaban dariku. Lama kami terdiam

?Semampuku.?

Aku cuma bisa menjanjikan itu padanya.

?Jika begitu, tunggulah aku??

Ya, itu senja jingga terkelam. Semilir anginnya lebih dingin dari hari-hari sebelumnya kami datang ke tempat itu untuk menikmati senja. Aku tak pernah tahu; hatiku terpaut pada janji senja itu dan ini sudah bulan purnama ke-enam puluh.

***

?

LA/27012016

  • view 179