LANGIT BIRU RINJANI

Lulu Anjarsari
Karya Lulu Anjarsari  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Januari 2016
LANGIT BIRU RINJANI

"Cause you?re a sky, you?re a sky full of stars. Such a heavenly view. You?re such a heavenly view." (A Sky Full of Stars, Coldplay)

Dia gagah. Meski tak berdasi. Meski rambutnya tak kelimis.

Dia gagah di mataku ketika membantu seorang nenek tua menaiki KRL. Seorang manula yang lusuh, dan mungkin banyak orang memalingkan muka darinya. Tapi ia tidak. Ketika aku hendak menuju nenek itu, ia telah menggandengnya. Suara bassnya lembut bertanya hendak kemana si nenek. Ia pun sibuk mencarikan tempat duduk kosong untuk si nenek.

Usai itu ia berdiri sambil menyandarkan punggungnya. Sebuah mushaf kecil dikeluarkan dari kantong jaket model armynya. Dan ia lagi, gagah di mataku.

"He?s such a heavenly view..."

***

"I'll always be waiting for you, so you know how much I need you, but you never even see me, do you?" (Shiver, Coldplay)

7.15 WIB. Begitu waktu yang ditunjukkan jam di stasiun. Aku menunggunya; Si Gagah. Hari ke-28 dan aku belum tahu siapa namanya.

KRL menuju Jakarta Kota itu di hadapanku dan begitu pintu terbuka, semua mendorongku masuk.

"Aaaaaah!"? Teriakku.

Dan aku tetap berdiri. Sebuah tangan kekar menggenggam lenganku. Aku tersadar. Dan menoleh ke arah si empunya tangan yang buru-buru melepaskan genggamannya.

"Maaf...,"ujar suara bass itu. Kemudian melangkah memasuki KRL. Dalam sekejapan mata, ia menghilang. Aku lupa berterima kasih.

Kuubah jam berangkatku demi Si Gagah. Langkahku kupatri di gerbong ke tiga karena Si Gagah.

"But you never even see me, do you?"

***

?"What if you should decide that you don?t want me there by your side? That you don?t want me there in your life?" (What If Coldplay)

Hari ke 44; aku masih tak bisa menyapanya.

Menyapa; Langit Biru.

Itu namanya ketika suatu kali ia tak sengaja menjatuhkan e-ticket yang disatukan dengan kartu persnya. Kuambil kartu itu dan menyerahkan padanya. Ia hanya mengangguk dan kemudian pergi.
Aku kenapa? Kenapa dia tidak melihatku sekejap saja? Kenapa ia tidak pernah berkata apa-apa?

"You don?t want me there in your life?"

***

"When you love someone but it goes to waste. Could it be worse? Lights will guide you home and ignite your bones. I will try to fix you."? (Fix You, Coldplay)

"Silakan duduk, Mba Rinjani," suara khas Langit menggelitik telingaku. Hatiku berdebar.

"Terima kasih," ucapku. Eh, dia memanggil namaku barusan? Eh, eh!

Aku menatapnya. Jantungku semakin berdebar. Akhirnya di hari ke-60 dia mengenalku. Rasanya aku ingin bersorak. Wajahku rasanya bibirku tersungging sampai setinggi tulang pipi.

"ID mbak jatuh,"? sodornya.

Aku seketika diam. Ah, kegeeran akut, pikirku. Dan tiba-tiba...

"Mau menikah dengan saya, Mba Rinjani?"

Aku melongo. Rahangku rasanya mau copot.

"Saya tahu Mba dari Ustadz Rahman. Beliau merekomendasikan Mba. Saya bilang saya ingin tahu orangnya dulu. Saya sudah mengamati Mba Rinjani. Ini hari ke-61. Saya pikir cukup."

Aku melongo. Aku bingung. Tiba-tiba terlintas perkataan Ustadz Rahman 3 bulan lalu, "Hati-hati bersikap Rinjani"?. Aku tak hirau perkataannya.

Aku... aku... aku...



LA/210715@PanduD403

  • view 108