#2 SEMPURNA YANG BERCELA

Lulu Anjar
Karya Lulu Anjar  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 November 2016
#2 SEMPURNA YANG BERCELA

BAGIAN #2

SEMPURNA YANG BERCELA

Dalam setiap hidup seorang perempuan, ada satu orang lelaki di luar keluarganya yang menyayanginya dan menjaganya. Entah dengan ataupun tanpa sepengetahuannya. Lelaki itu bisa menjadi ksatria yang maju menggandeng tangannya, tapi terkadang ada pula ia hanya bersembunyi di balik perisainya. 

Aku punya lelaki itu; ksatria yang bersembunyi di balik perisainya. Ia sempurna sebagai seorang lelaki. Tinggi semampai dengan tubuh atletis dan tampang yang rupawan. Ia tahu cara memuliakan perempuan. Ia paham menyentuh hati perempuan, meski sebenarnya ia tak bermaksud. Seluruh sikapnya adalah kebaikan.

Seluruh sikapnya akan membuat jatuh hati setiap perempuan manapun, tapi tidak denganku. Aku mendewasa bersamanya. Mengetahui perih dan lukanya menjadi seorang lelaki yang harus berjuang menghidupi keluarganya bahkan semenjak kami terbilang masih remaja. Ia mencintai ibu dan adiknya melebihi hidupnya sendiri. 

"Aku benci ayahku," ucapnya suatu kali padaku di sela kegiatan ngopi kami usai meeting. Aku melirik ke arahnya, kemudian kembali menyeruput capuccinoku kembali.

Aku tahu seberapa benci ia pada ayahnya. Ayah yang seharusnya mendampinginya, meninggalkan ia beserta ibunya dan adiknya. Kehidupan mereka goyah. Aku ingat betapa sering ia dan adiknya datang ke rumah kami. Ibuku yang mengajak mereka makan bersama di rumah karena Ibunya tidak memiliki beras di hari itu. Itulah mengapa ia sangat menjagaku hingga saat ini. Balas budi, istilahku. 

Kini ayah yang dibencinya kembali dalam keadaan sakit. Genap 10 tahun lamanya ia pergi dan kembali dalam keadaan tak berdaya. Ibunya memintanya memaafkan ayahnya. Ibunya tetap ingin berbakti sebagai seorang istri. 

"Aku tak suka sikap Mami," ucapnya dengan nada suara tercekat. Ia paling cinta ibunya di dunia ini. Berkali selama bersamanya, aku kerap mendengar; "Aku hidup untuk ibuku". Karena itu pula, ia memutuskan untuk tak kunjung menikah hingga menginjak usia 30 tahun. 

Lama mengenalnya, aku paling paham ia paling tak suka dinasihati ketika ia sebenarnya hendak bercerita. Aku cukup hanya mendengarkannya. 

"Kalau aku berdoa agar lelaki tua itu meninggal, apa aku dosa?" ujar si sempurna yang hari ini kulihat bercela. 

"Tak perlu bahas tentang dosa. Tak bisakah kau memaafkan? Kau makhluk yang paling mudah memaafkan yang kukenal sepanjang hidupku."

Ia terdiam. Aku pun sama membisunya dengannya.

"Mungkin ia pernah gagal menjadi ayah. Tapi jangan sampai kau gagal menjadi seorang anak. Aku ke atas duluan."

Aku beranjak pergi meninggalkannya termenung. Ia butuh waktu dan aku tak memaksa. Luka yang ditorehkan ayahnya mungkin lebih dalam dari apa yang kutahu.

***

"Mami memintaku menikah," ujarnya tiba-tiba usai menghabiskan bubur ayam yang menjadi sarapan favorit kami di kanton kantor. Seperti biasa, aku hanya meliriknya sebentar sebelum meneguk teh hangat di hadapanku.

"Menikahlah," jawabku.

"Kamu mau menikah denganku?" tanyanya yang membuatku melirik sambil mengerutkan dahiku. Aku berusaha menangkap adakah candaan dalam katanya. Wajahnya serius.

"Gila."

Ia tiba-tiba tertawa. Aku dan dia sama-sama tahu bahwa hubungan kami tidak berada pada zona yang disebut hubungan antara pria dan wanita. Hampir belasan tahun bersahabat, tak pernah terpikir olehku, kami bisa bersama sebagai pasangan baik kekasih maupun suami istri. 

"Apa karena si perfeksionis berkacamata?" tanyanya. Aku langsung mengangguk. Ia tersenyum nyinyir.

"Jangan bercanda. Cari perempuan lain sana. Ada Dara yang sudah menunggumu tiga tahun lamanya. Nikahilah dia," cerocosku.

Selama mengenalnya, hanya Dara, perempuan lain yang kukenal dalam hidupnya selain Ibu dan adiknya. Dara, perempuan muda usia 20-an yang memesona itu tak mungkin gagal membuat setiap lelaki jatuh hati padanya. Kurasa si sempurna pun tak luput. Mereka sepadan: si ganteng dan si cantik. 

"Aku tak suka perempuan itu."

"Lalu, kau suka padaku?"

"Kau sahabatku. Bukan perempuan dalam pikiranku. Lagipula Mami suka padamu. Jadi kurasa aku bisa hidup denganmu."

"Sial. Kau suka perempuan yang bagaimana ? Akan kukenalkan."

"Aku tak suka perempuan."

"Maksudmu?" aku bingung. Akhirnya kutatap mata lelaki yang banyak orang bilang seperti mata elang itu.

"Aku tak suka perempuan," matanya menatap dalam mataku.

Aku mencari kebohongan di mata elang itu. Tak ada. Ia tak bohong. Mata yang sama ketika dulu ia bercerita ingin hidup untuk ibunya; jujur dan serius.

Aku membisu. 

Aku harus apa menghadapi kejujurannya?

 

 

berlanjut...

  • view 376