#1 PERFEKSIONIS BERKACAMATA

Lulu Anjar
Karya Lulu Anjar  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 November 2016
#1 PERFEKSIONIS BERKACAMATA

BAGIAN #1

PERFEKSIONIS BERKACAMATA

Adakah yang lebih bodoh daripada menunggu orang yang kau cintai untuk datang padamu? Itu kataku pada sahabatku suatu waktu di kala kami masih usia belasan. Ia bisa menahan diri hanya menatap sendu penuh rindu sosok kakak kelas yang bagiku terlihat biasa saja itu.

"Itu seninya mencintai. Lagipula kita perempuan. Apalah kata dunia, jika seorang perempuan maju duluan menyatakan perasaan kepada lelaki yang dicintainya? Satu kata; gila," ucapnya menjawab pertanyaanku.

Aku termangu. Masih tak mengerti. Melewati tahunan untuk menunggu seseorang yang tak pasti adalah bodoh. Ya, itu hanya ada dalam kamusku.

Di hari ini, aku mengetahui bahwa menunggu adalah jalan paling berani yang pernah dipilih oleh seorang perempuan. Ia berani menghabiskan waktunya menunggu seseorang yang tak pasti. Berani membangun harapan; suatu saat lelaki yang ia tunggu itu akan datang padanya. Datang membawa cinta yang sama seperti yang ia rasa. 

Aku merasakan itu padanya; lelaki perfeksionis berkacamata itu. Gilanya, kulakukan bukan pada usia ketika sahabatku menunggu cinta pertamanya; belasan tahun, tapi usia yang seharusnya aku menyandang status sebagai seorang istri.  Si perfeksionis berkacamata itu jauh dari tipe idealku. Ia tampak sekali layaknya perantau baru di kota megapolitan tempatku dilahirkan; Jakarta. Dialek daerahnya masih terdengar lekat dalam setiap bicaranya. Membuatku jengah ketika kami berbicara pada awalnya.

Pertemuanku dengannya mungkin salah satu yang paling kubenci. Aku yang terbilang santai, tak pernah suka berdampingan dengan mereka yang ingin serba sempurna. Aku merasa mereka yang mencari sempurna adalah orang yang lelah dan membosankan dalam hidupnya. Begitupula, Si Perfeksionis Berkacamata. Bertemu dengannya dalam suatu komunitas yang sebenarnya kuhindari adalah hal sial dalam hidupku. Sial kedua kali karena pertama, aku terpaksa masuk komunitas yag dipilihkan ibuku dan kedua, bertemu dengan Si Perfeksionis Berkacamata.

Komunitas sosial itu fokus pada memberikan bantuan bagi anak-anak kurang mampu untuk bersekolah. Ibuku memang berjiwa sosial berbeda denganku yang lebih memilih hidup secara individualis. Ibuku bilang ini salah satu cara menajamkan kepekaanku. Belum apa-apa Si Perfeksionis Berkacamata itu menunjukku untuk menangani bagian kehumasan guna memikat banyak relawan lain. Aku benci. 

Aku menatapnya sinis suatu waktu dia bilang aku paling pantas untuk tugas itu karena kemampuanku mendesain. Aku benci. Lagi, perkataan Ibu melintas di pikirku, "Berlembut hatilah. Kau butuh itu sebagai perempuan". Dan, aku belajar patuh.

Kepatuhan itu berbuah benci yang menyengat kepada Si Perfeksionis Berkacamata itu. Tak ada satu pun desain yang kuajukan untuk poster proyek disetujuinya. Padahal aku sudah bersusah payah mengeluarkan 'isi otak'-ku. Entah warna, gambar sampai bentuk tulisannya berkali salah. Aku emosi.

"Mau kamu yang seperti apa, Mas? Jelaskanlah sedetailnya. Kenapa tidak kamu saja yang mendesain?" marahku tak mampu kutahan lagi. Si Perfeksionis Berkacamata itu menyeringai. 

"Serigala!" pekikku dalam hati kesal.

"Apa saya minta hal yang aneh? Saya hanya ingin desain yang simpel. Tidak terlalu banyak warna. Tidak sulit 'kan? Kamu sebagai desainer harusnya lebih paham."

"Paham dari Hongkong! Absurd!" masih jeritku dalam hati.

Aku benci dia. Sungguh.

Selama ini aku menjadi layouter dan desainer, tak pernah ada orang seabsurd Si Perfeksionis Berkacamata itu. Bahkan setiap ide klien-klienku mampu kutangkap baik. Aku yang salah atau dia yang gila, umpatku.

Dia terlalu cerewet. Tak pernah ada yang sempurna dan memuaskan di matanya. Maka seperti neraka, hari-hari kujalani di komunitas itu. Aku bertahan demi Ibu. Demi memuaskan kehendak Ibu agar aku menambah kenalan dengan maksud bertemu si jodoh. 

***

Di pagi itu, aku harus membawa beberapa boks buku untuk menambah koleksi di perpustakaan. Koleksi pribadiku; beberapa komik dan novel. Turun dari ojek online sambil membawa dua boks, tiba-tiba seseorang mengambil satu boks dari tangan kananku. Aku yang kaget dan tak seimbang akhirnya hampir jatuh ke kiri dan brak!

Sempurnalah aku tersungkur. Aku langsung menatap si pelaku yang datang tiba-tiba itu.

"Lemah sekali. Bangun," ucap lelaki jangkung berkulit sawo matang cuek. Aku menatapnya sinis dan dia di hadapanku; Si Perfeksionis Berkacamata. Tak ada tangan yang terulur darinya seperti dalam drama-drama korea atau novel-novel picisan. ia berjalan mengambil boks satu lagi dekat tangan kiriku dan berjalan meninggalkanku menuju basecamp kami.

"Dasar lelaki aneh!"

Si Perfeksionis Berkacamata itu menengok seketika. Aku menutup mulutku berharap semoga aku hanya mengumpatnya dalam hati seperti biasa. Dan mulutku terbuka. Kata itu terucap dan mata itu untuk pertama kalinya kutatap. Mata tajam nan teduh bersembunyi di balik kacamata itu."

 

 

berlanjut...

 

  • view 365