Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 12 Agustus 2018   21:45 WIB
MEMBERSAMAI ORANG BAIK

"Berharap dipersatukan dengan orang baik ibarat mendambakan hujan, kita tak bisa memintanya untuk jatuh di halaman rumah kita saja." (Urfa Qurotta Ainy)

"Dia orang baik."

Entah keberapa kalinya aku mendengar kalimat serupa dari orang yang berbeda-beda. Kalimat itu untuknya; lelaki jangkung berkacamata. Setiap kali kukenalkan pada seseorang, maka setiap kali itu pula komentar yang sama akan kudengar; "Dia orang baik".

Suatu kali, aku bertanya balik kepada orang yang bertanya, atas dasar apa ia menyebut seseorang yang baru dikenalnya baik. Jawaban kala itu membuatku berkali meneliti wajah si jangkung. 

"Wajahnya adalah wajah orang baik."

Ah, lalu aku berpikir, manusia tentu saja akan menilai penampilan seseorang ketika pertama kali mereka bertemu. Penampilan si jangkung tidak "wah". Rupanya, biasa saja. Tubuhnya apalagi, dia hanya lebih tinggi dari orang kebanyakan. Ia hanya orang biasa. Aku lebih suka menyebutnya sederhana. 

Lalu, aku berpikir karena si jangkung terlalu biasa, maka orang-orang yang kukenalkan padanya hanya bisa berkata, "Ia orang baik". Seandainya wajahnya rupawan, pasti mereka akan berkomentar, "Wah, ganteng atau tampan". 

Entah sudah keberapa kali komentar yang sama kudengar. Berkali itu pula aku selalu kembali mengaguminya diam-diam dan menyetujui setiap komentar itu, "Ya, aku tahu ia baik".

***
Kebaikannya itu mungkin berasal dari aplikasi ilmu agama yang ia pelajari.  Si jangkung tak pernah menggurui ataupun merasa lebih pintar. Aku selalu merasa akhlaknya adalah refleksi paling baik  dari ilmu yang ia pelajari.  Aku tak pernah meragukannya sebagai orang baik.

"Jika kau tahu ia sebaik itu padamu, kenapa kau tidak memintanya menikahimu?"
Pertanyaan itu mengejutkan dan berhasil menghantuiku hingga detik ini. Tak pernah kuinginkan memiliki ia dengan segala kebaikannya hanya untukku sendiri. Aku tahu betapa banyak perempuan di luar sana ingin bersanding di sampingnya. Ia pantas dipuja seperti itu karena kebaikannya. Tentu saja bukan kebaikan tebar pesona pada setiap perempuan, karena pada dasarnya, ia orang baik.

Lalu, pertanyaan itu kembali menyeruak, "Mengapa kau tidak menginginkan lelaki sebaik itu mendampingi hidupmu?". 

Rabb, andai aku mampu mengajukan diri untuk memintanya menikahiku, pasti akan sudah kulakukan bertahun lalu.

Bukan aku tak mau, tapi kualifikasi diri ini tidak sebaik dirinya. Bukankah untuk menjadi jodoh maka sekufu atau kesetaraan itu penting? Dan aku siapa berani menyetarakan dirinya yang penuh kebaikan itu?

Ah, aku bukan siapa-siapa.

Membersamai orang baik itu tidak mudah. Kau tidak bisa memilikinya untuk dirimu sendiri. Kebaikannya dibutuhkan bukan hanya untuk dirimu. Dunia membutuhkan banyak orang baik. Untuk membersamai orang baik, maka kau harus memperbaiki dirimu dan menjadi baik itu tidak mudah. 

Pada akhirnya, aku berhenti untuk mencoba membersamai orang baik itu. Bukan karena aku tidak ingin memilikinya, tapi justru karena aku teramat menyayanginya. Karena bisa saja, ketika aku mengajukan diri untuk membersamainya, ia justru tak ingin.  Satu hal yang pasti, ketakutanku ketika ia tak menginginkan, kebaikan yang ia berikan padaku akan menghilang selamanya dari hidupku. Aku rasa diriku belum sesanggup itu kehilangan kebaikannya.

Ya, aku masih ingin dihujani kebaikannya.

***

Sesungguhnya, aku tak mampu membersamai gadis itu. Kehidupanku tidak setara dengannya. Biarlah begini. Aku sudah cukup bahagia. 




LA/12082018

Karya : Lulu Anjarsari