#2 PRIA KE-50

#2 PRIA KE-50

Lulu Anjarsari
Karya Lulu Anjarsari  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Januari 2016
#2 PRIA KE-50

Bagiku tak ada waktu untuk patah hati. Cinta tak selamanya abadi, maka sesering kau jatuh cinta, kau akan lupa apa namanya patah hati.

"Hatimu kebas barangkali," ujar Renjana suatu kali. Ini ke-47 kalinya hubunganku berakhir dengan seorang lelaki. Aku memelototi Renjana.

Kebas? Hatiku? Kurasa bukan itu. Dua bulan lagi usiaku menginjak 30 tahun. Sikapku yang selalu memutus hubungan di tengah jalan itu semata karena kupikir lelaki itu tak pasti. Ibu sudah berkali mengingatkanku tentang pernikahan. Betapa beliau menginginkan cucu dari putri semata wayangnya ini.

"Sudah lelaki ke-47. Mau sampai berapa lelaki kau jajaki?" Renjana masih memrotes sambil menyeruput caffe latte favoritnya.

"Setidaknya aku lebih berusaha darimu. Buat apa kau menyetiakan hatimu pada lelaki tidak jelas entah dimana macam Bumi?"

Renjana melirik sekilas, kemudian menunduk.

"Maaf, Re," ucapku menyesal.

Berbeda denganku, perempuan yang menjadi sahabatku selama hampir 20 tahun itu cuma punya satu nama di hatinya. Sewindu ia habiskan waktu untuk lelaki bernama Bumi itu. Aku tahu bagaimana ia mencintai Bumi. Selain Ibu, Renjana sebenarnya mengajarkanku kesetiaan. Tapi dalam kamusku, setia pada lelaki itu masih ambigu.

"Kenapa kita begini ya?"

***

Hari ini pertemuanku dengan lelaki yang dijanjikan seniorku di kantor. Dari penjelasan seniorku, lelaki itu nyaris sempurna; baru menyelesaikan gelar masternya di negeri kangguru, baru mendirikan konsultan IT, dan dari foto yang diberikan, ia terlihat sempurna.

"Ini lelaki ke-49. Hentikan pencarianmu. Pangeran berkuda putih itu cuma ada di dongeng. Ingat kata-kataku.

Pengirim: Re?

Aku mendengus membaca pesan teks itu. Renjana benar menghitung lelaki yang datang dan pergi silih berganti dalam hidupku sejak kami bersahabat pada awal SMU dulu. Aku sejenak berpikir sebanyak itukah lelaki dalam hidupku? Tak adakah satupun yang benar-benar sesungguhnya ada di hatiku.

?Edelweiss?? sapa sebuah suara membuyarkan lamunanku. Aku mendongak dan menatap wajah itu. Lelaki si pemilik suara berat itu tersenyum.

?Edelweiss Kirana Anindya ?kan??

Aku masih tak berkedip.

?Edel, ini aku, Langit, Langit Biru.?

Hatiku mendesir. Langit Biru, hatiku merona tiba-tiba.

Ya, ia?lelaki pertama dalam hatiku. Langit Biru pertama dalam hidupku. Hatiku membiru. Ia datang lagi. Ya, datang lagi.

***

LA/28012016

  • view 191