Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 4 Februari 2018   13:29 WIB
Tuntutan Zaman, Orang Tua Harus Semakin Cerdas

Meski belum jadi orangtua tapi aku bersyukur dikasih kakak-kakak kece yang menghasilkan ponakan-ponakan lucu, cantik, santun, pinter, tapi kadang nyebelin kalau ketemu suka nguras dompet banget. Haha. Malah ponakanku yang nomor 1 entah kenapa simpan kontak ku di hp nya: "Bi Ima (pake emoticon hantu)." Oke bahasan ini skip aja.

Kali ini aku mau cerita tentang dua ponakanku dulu (satu lagi ntar). Namanya Syahda (8 yo) dan kakaknya Syalsa (14 yo).

Teteh sama Aa (Kaka dan Iparku) sering kewalahan akibat ocehan mereka. Contohnya ini yang diceritain semalam sama mereka. Syahda bilang gini, "Mimi (panggilan ke ibunya), tadi aku belajar Agama Islam di sekolah, trus sama gurunya dibagi kelompok. Nama kelompoknya nama-nama Nabi. Nama kelompokku 'Nabi Yusuf'. Padahal anggota kelompokku perempuan semuanya. Aku bilang aku ga mau nama kelompoknya Nabi Yusuf. Aku pengen Nabi yang perempuan."

Lalu djelaskanlah sama Abinya bahwa tidak ada Nabi perempuan. Jawaban ponakanku malah begini, "Wah kenapa gak ada Nabi perempuan? Allah sukanya sama laki-laki aja bukan Bi?"

Kaka ipar ku cuma senyum dan bilang gini, "Mi jawab Mi (ke istrinya)."

Pernah beberapa tahun yang lalu pun waktu dia masih TK pernah bilang gini, "Mi besok lebaran ya? Aku pengen buat pohon natal ya Mi." Masalah ini akan sangat mudah dijelaskan ke orang lain yg sudah dewasa. Tapi apa jadinya kalau dijelaskan ke anak usia 4 tahun? Harus betul-betul pakai bahasa cerdas agar dia paham.

Dan misalnya dia akan selalu bertanya, "Abi, kenapa Abi ga pakai kerudung lebar kayak Mimi? Curang. Kenapa cuma perempuan yang auratnya banyak?"

Terus ini yang bikin aku gemes pula. Waktu belajar matematika sama aku, dia nanya. "Aku bingung deh, kenapa angka satu harus kayak pagar. Kenapa angka dua harus kayak bebek?"

Asli, aku Googling pun gak ada jawabannya. Haha.

Aku jadi mikir, waktu seusia dia aku belum kepikiran itu, paling-paling cuma nanya 'apa Bahasa Inggrisnya' yang ngebuat Ibuku kalau kemana-mana bawa kamus. Karena dulu kalau diajak jalan-jalan, tiap aku lihat sesuatu aku akan bertanya apa bahasa Inggrisnya. Atau yang parahnya waktu kelas 4 SD aku hampir meninggal kali ya karena kesetrum. Jadi waktu itu di sekolah lagi belajar IPA tentang Konduktor dan Isolator, dikatakan bahwa besi adalah konduktor yang baik untuk mengalirkan arus listrik. And then apa yang aku lakukan? Di rumah aku nyari paku besar ke gudang dan dicolokin lah paku tersebut ke kontakan listrik. Haha untung waktu itu sempet ketauan dan efeknya juga 'kejengkang' aja. Sampai dimarahin. Padahal kalau secara ilmu parenting, anak yang begitu jangan dimarahin, karena si anak sebetulnya sedang mencari tahu.

Oke, tapi tetap aja separah-parahnya eksperimenku dahulu, belum pernah aku bertanya hal-hal yang sangat kritis seperti anak zaman now.

Seperti misalnya nih aku ceritakan ponakanku yang lain, Syalsa (14 thn) kelas 9 SMP. Dia orangnya benci matematika, beda sama adiknya. Tapi passionnya ada di pelajaran sosial dan sastra. Dia diusia 14 tahun udah baca buku-buku terbitan Tempo yang notabenenya buku yang isinya beda banget dari buku pelajaran sejarah yg dia pelajari di sekolah. Diusia 14 tahun dia sudah tau Tan Malaka (aku yang ngenalin sih) haha. Aku tau Tan Malaka aja diusia 21 tahun. Dia sekarang sudah tau siapa Opa Pram. Kalau Andrea Hirata dan Ahmad Fuadi udah jelas, hampir semua bukunya sudah dia baca. Aku sih seusia segitu baru bacain komik Doraemon sama Detektif Conan. Haha.

Semalam banget, pas kita ngobrol-ngobrol trus dia ambil buku di kamarku, dia ambil buku tentang sunnah-sunnah. Random dia baca satu halaman. Disana yang dia baca: berenang, berkuda, dan memanah adalah Sunnah. Terus dia bertanya, "Kalau Nabi lahir di zaman sekarang apakah mengendarai motor, menembak pakai pistol, paralayang, selancar, akan jadi Sunnah juga?"

Dan kami semua hening. Bingung jawab apa.

Dari ponakan-ponakanku, aku banyak belajar bahwa di zaman yang semakin canggih ini mereka akan terpancing bertanya banyak hal tentang apa yang ingin mereka ketahui.

Akan banyak orangtua yang malas melayani pertanyaan anak yang terlampau susah dijawab, atau malah kebanyakan orang tua juga akan marah, "Apa-apaan sih kamu nanya-nanya begitu?". Itu akan membuat anak malas bertanya lagi. You know what? Ketika anak bertanya justru itulah bibit-bibit generasi bangsa yang mumpuni. Kita sebagai orangtuanya mau menyiram bibit tersebut, apa malah sebaliknya, membuat rasa ingin tahu mereka mejadi 'mati'. Akhirnya mereka akan menjadi manusia-manusia malas berpikir. Kalau udah malas berpikir, jangan harap deh dia bisa belajar dan bekerja keras. Kalau sudah gitu ya bahaya.

Aku jadi teringat lagi satu hal, saat bagaimana sabarnya Kakakku menjelaskan ke Syahda saat Syahda ga sengaja lihat Miminya dicium kening oleh Abinya. "Abi jangan cium Mimi, nanti Mimi hamil. Aku gak mau punya adik." Asli ini kalimat dari anak umur 8 tahun loh.

Well, aku jadi mikir (lagi). Entah pertanyaan apa yang nanti diajukan oleh anakku kelak. Aku jangan sampai jadi ibu yang 'gawat'. So girls, jangan malu belajar parenting dari sekarang. Karena katanya, kebanyakan keluarga gagal sebab manusia hanya berpikir bagaimana menjadi pasangan yang baik, tapi lupa mempersiapkan dirinya untuk menjadi ibu dan ayah yang keren.

Selamat Hari Minggu.

SUKABUMI, 04 Januari 2018

Oleh : Lisma S.

Karya : Lisma Sulastri