Bapak, Sedang Ku Usahakan Surga Untukmu

Lisma Sulastri
Karya Lisma Sulastri Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 Januari 2018
Bapak, Sedang Ku Usahakan Surga Untukmu

Bapak... Sedang ku usahakan surga untukmu. Sehatlah selalu sampai nanti, nanti, dan nanti.

Bapak.... Satu kata mengandung banyak arti. Bagiku, Bapak adalah cinta pertama. Bapak adalah semestaku. Dan Bapak adalah orang yang paling tidak bisa aku terjemahkan, karena kata-kata terlalu sederhana untuk mengartikannya.

Akan selalu aku ingat pesanmu, "Manusia itu hanya diberi dua pilihan, menjadi baik atau buruk. Wanita pun hanya diberi dua pilihan, menjadi sebesar-besarnya fitnah, atau sebaik-baiknya perhiasan. Jadilah wanita yang mampu menarik tangan Bapakmu ke surga, hingga kelak kamupun bisa menjadi partner yang baik dengan suamimu menuju surga, menjadi ibu dari manusia-manusia calon penghuni surga (pula)."

Sayangnya jalan yang harus ditempuh tidaklah mudah, katamu lagi. Pak, keras kepalaku adalah warisanmu, karena itulah aku bisa bertahan untuk tetap menjadi diriku sendiri. Jika ada kata yang lebih baik dari sekedar 'terimakasih' pasti akan ku carikan untuk Bapak. Banyak kata magis dari Bapak yang menjadi penguat ku ketika aku terlampau melihat ke atas. Sering aku ngeluh, "Pak enak ya jadi si A, udah kebeli ini kebeli itu," - "Harta ga dibawa mati, banyakin bekal, akhirat yang utama, Allah ngasih waktu ke kamu bukan cuma untuk nyari uang, tapi untuk bermanfaat buat orang lain. Yang penting bisa terus sehat buat sebarin ilmu."

Bapak juga yang selalu bilang bahwa kesuksesan orangtua bukan diukur dari harta kekayaan anaknya, tapi diukur dari keimanan anaknya, ke-shaliha-annya anak-anaknya. Semoga kelak, aku bisa benar-benar menjadi anak yang menarik tangan Bapak ke surga seperti kayuhan doaku selama ini agar Bapak diharamkan dari neraka.

Beliau-lah yang dengan segenap keyakinannya penuh rasa bangga menginginkanku menjadi seorang guru. Entah kenapa, aku tidak pernah paham menjadi seorang guru dimatanya adalah sebuah profesi yang dia yakini paling berpengaruh (menurut pandangan Bapak). Meski berkali-kali aku mengatakan hal yang terlampau naif kepadanya, "Pak, jadi guru gajinya kecil. Gak sebanding sama biaya kuliah yang udah Bapak keluarin. Nanti aku susah mau ngasih apa-apa ke Bapak."

Pak, kesederhanaanmu justru menjadi oase buatku. Ooh Allah, takkan bosan aku meminta agar surga menjadi akhir cerita kedua orangtuaku nanti ijinkan aku berkumpul dengan mereka kembali di taman surga-Mu.

Ah Pak, semoga kelak aku bertemu dengan orang yang setangguh Bapak untuk menjagaku. Ku harap kamu (suamiku) jangan pernah mencemburui aku dengan Bapak, karena beliau adalah oaseku sampai kapanpun. Kamu suamiku (kelak) tidak akan pernah bisa menggeser posisi Bapak di hatiku. Karena Bapak sudah membentuk hatiku dari awal untuk mengosongkan satu ruang, untukmu. Seperti apa yang selalu dia bilang, "baktimu terkotak-kotak, muliakan ibumu, hormati bapakmu, dan nanti taatlah pada suamimu." Bapaklah yang selalu mengajarkan bahwa suatu saat ada yang harus aku sayangi melebihi rasa sayangku pada Bapak, tapi katanya Bapak tidak akan cemburu, karena dengan begitu pula-lah cara aku mentaati Bapak. Aku memang manja di rumah, tapi berkat Bapak aku bisa mandiri di luaran.

Akan ku tutup cerita ini dengan kalimat darimu lagi, "Lisma, anak bungsu Bapak yang manja. Teruslah bersinar, tapi jangan terlampau terang. Nanti bisa membuat pandangan orang lain terganggu. Pandai-pandailah menempatkan diri."

Allah, aku titip Bapak agar ia selalu tangguh dan sehat. Sekali lagi jika boleh, aku memesan satu rumah di surga untuk Bapak.

Dan malam ini aku menangis sedih. Bagaimana jika Allah mengambil Bapak padahal aku belum benar-benar bisa membahagiakannya?

Sukabumi, 27 Januari 2018

Anak bungsumu,

Lisma S

  • view 117