SAYA SELALU MERASA KECIL, YANG BESAR YA DOA DAN OPTIMIS SAYA

Lisma Sulastri
Karya Lisma Sulastri Kategori Motivasi
dipublikasikan 09 Oktober 2017
SAYA SELALU MERASA KECIL, YANG BESAR YA DOA DAN OPTIMIS SAYA

Teringat saat interview tempo hari, saya duduk di depan tiga orang interviewer, sebagai salah satu rangkaian #pencaribeasiswa, ada pertanyaan seperti ini.

“Kenapa rencana studi-mu ‘Social Science Education’, gak ambil Matematika lagi?”

Ku awali dengan satu tariakan nafas terlebih dahului, lalu ku jawab: “InsyaAllah, rencana jangka panjang saya adalah terus menjadi seorang guru bukan menjadi ilmuwan. Sebab saya senang bertemu orang baru, saya senang punya banyak anak, saya bahagia ketika mengajar. Saya rasa ilmu matematika yang saya dapat ketika mengejar S1 saya sudah cukup untuk kembali diajarkan ke anak SMP dan SMA, kalaupun saya lupa dan butuh, semua ada dalam buku yang tinggal saya buka dan pelajari ulang, tidak harus jauh-jauh ke Inggris kan? Karena aljabar ataupun algoritma tak selalu mereka temui di kehidupan sesungguhnya. Lain halnya dengan fitrah pendidikan itu sendiri akan berkembang secara global seiring berkembangnya jaman. Maka dari itu saya ingin belajar di tempat yang baru dan belajar hal baru. Saya harap nantinya melalui ilmu Social Science Education saya bisa belajar bagaimana mengembalikan fitrah pendidikan yang semakin hari semakin ditinggalkan. Fitrah pendidikan itu luas maknanya. Negara lain sedang mengembangkan, negara kita sedang meninggalkan. Contoh sederhananya, semakin banyak anak yang jauh dari orangtuanya, dirusaknya para ibu dengan uang dan jabatan. Korban pertamanya jelas anak. Tersangka utama, jelas guru. Saya tidak ingin menjadi tersangka mengapa siswa saya gagal.”

Pentingnya menjawab pertanyaan dengan ekstra hati-hati saat interview karena bisa jadi serangan balik buat kita sendiri. Seperti pertanyaan berikut ini:

“Tadi kamu sebutkan bahwa salah satu kemunduran fitah pendidikan adalah jauh dari orangtuanya. Nah, kalau mau terus jadi guru dan someday jadi orang tua, kan harus jauh dari anak dong? Terus fitrah education yang dimaksud kamu tadi terletak dimana?”

Saya jawab : “Begini, ‘jauh’ disini maksudnya dalam ‘tanda kutip’. Tadi saya tidak bilang bahwa ibu dirusak oleh profesi. Tapi seorang ibu dirusak oleh uang dan jabatan. Kalau mau cari uang dan jabatan bukan guru tempatnya. Menjadi guru berarti diberi amanah. Anak adalah titipan. Jika orangtua diberi 1-3 titipan. Guru itu spesial, selain titipan anak dari benih suami yang tumbuh dalam rahim dan keluar dari sobekan bagian tubuhnya, guru juga harus menjadi orangtua bagi anak orang lain. Ya terlepas dari itu, mau berprofesi apapun seorang ibu yang penting dia menyadari fitrahnya, tetap mendahulukan anak dari pada profesinya. Fitrah pendidikan jelas ada di rumah. Mau si ibu itu seorang direktur pun kalau dia hebat dan kuat, pemahaman fitrahnya memikat, ya saya yakin itu semua di dapat dari proses mencari ilmu yang tidak instan. Guru tidak sepenuhnya bisa berperan sebagai pengganti orangtua. Sekalipun seorang ibu ada di rumah 24 jam, tapi tidak mengerti tentang fitrah dirinya dan fitrah pendidikan anak, ya itu sama buruknya dengan ibu yang dirusak oleh uang dan jabatan. Kacau. Karena kadangkala kualitas itu mengalahkan kuantitas.”

Lalu, seorang interviewer bertanya lagi. Kebetulan beliau adalah seorang psikolog.

“Kamu sudah menikah? Pemahaman rumah tangganya lumayan ya?”

“Belum ditakdirkan Allah, Bu.” Hehe senyum dikit biar gak tegang. Tiba-tiba merasa de javu keingat waktu sidang skripsi. Dosen penguji ngebolak-balik skripsi saya dan akhirnya ditanya, “Kamu udah punya pacar belum? Tak jodohin sama anak saya ya...” dalam hati bilang.. What the..... Dosen killer yang teman-teman lain ditanya tentang turunan rumus. Saya malah ditanya begituan. Asli ini serius. Oke skip aja ya bahasan yang ini.

Lanjut ke wawancara yang tadi.

“Kalau nanti semisal kamu diterima, kamu tau kan ada kontrak buat Indonesia. Nah tiba-tiba misalnya kamu menikah dan suamimu menyuruh kamu untuk berhenti menjadi guru. Siap?”

Ku jawab : “Saya dibesarkan Alhamdulillah oleh Ibu yang sangat menghormati Bapak. Selama 24 tahun, saya melihat bagaimana segannya Ibu kepada Bapak. Dan kata Ibu, itu adalah kunci menuju surga. Saya harus siap. Dengan syarat, suami saya mengerti dan mau membantu saya menyelesaikan apa yang harus saya selesaikan. Misalnya membantu menyelesaikan kontrak saya apapun resikonya, juga yang terpenting adalah membantu saya meyakinkan Bapak saya bahwa anaknya akan baik-baik saja kalaupun harus berhenti pergi ke sekolah. Karena bagaimanapun juga saya seperti saat ini berkat keringat dan do’a Bapak saya. Dan beliau lah yang selalu menginginkan saya menjadi guru hehe.”

(Dalam hati, Duh ini interview kok bikin emosi gue naik. Pengen nangis)

Belum selesai saya bicara, saya lanjutkan “Ya tapi Bu, saya masih punya harapan dan do’a agar suami saya nanti mendukung saya. Percaya dengan segala resiko dan solusi yang sudah saya siapkan untuk menjadi seorang ibu sekaligus seorang guru.”

“Wah, badanmu kurus tapi optimismu gendut ya?” kata si Ibunya sambil sedikit ketawa.

“Saya selalu merasa kecil Bu, yang besar ya do’a dan optimis saya.”

“Oke-oke agak merinding sih. Coba saya mau tahu dua hal kelemahan yang ada dalam dirimu?

“Emm (sedikit mikir), saya sulit percaya sama orang lain dan saya terlalu to the point Bu, dalam artian malas berbasa-basi.”

(Nah, ini tips ya. Kalau saat interview ditanya hal-hal tentang kelemahan diri. Cari kelemahan diri yang justru bisa jadi kekuatan. Jangan kasih jawaban misalnya, saya pemalas Bu. Wah, itu sih bisa langsung di blacklist, haha)

Terus si Ibunya senyum-senyum dan bilang, “Saya puas dengan jawabannya, tinggal berdoa aja yang lebih besar dari kemarin-kemarin ya.”

“wah, (air mata saya netes). Terimakasih banyak Bu, mohon do’anya.”

 

SUKABUMI, 08 OKTOBER 2017

Oleh : Lisma Sulastri

  • view 79