AKULAH RUMAHMU

Lisma Sulastri
Karya Lisma Sulastri Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 30 September 2017
AKULAH RUMAHMU

Apa definisi rumah menurutmu?

Menurutku sebagai seorang anak, rumah adalah tempat dimana Ibu dan Bapak berada. Menurutku sebagai orang yang mencintai ilmu, rumah adalah tempat buku-buku berada, tempat belajar paling nyaman. Menurutku sebagai perempuan, rumah adalah pernikahan.

Jika laki-laki adalah kepala keluarga, maka perempuan adalah rumah. Jika laki-laki adalah tulang punggung yang tangguh, maka perempuan adalah lengan yang hangat untuk memeluk. Jika banyak pertanyaan mengapa sampai hari ini aku belum menikah. Pertama jawabannya adalah memang belum ditakdirkan Allah. Simple. Hehe.

Akan ada saatnya. Hati ini mantap bekata ‘iya’ pada laki-laki yang akan menjadi sahabatku menuju syurga, yang saling membuka pintu menuju jalan keberkahan dunia dan akhirat, yang satu visi membangun generasi yang kaffah. Laki-laki yang menjadi jawaban atas kayuhan doa yang selalu ku ulang. Tentunya atas hasil diskusiku bersama Allah Sang Pemilik Hati-ku yang mudah terbolak-balik. Saat ini, aku lebih memilih untuk membangun pondasiku agar nanti aku menjadi rumah yang kuat untuk memeluk sebuah keluarga. InsyaAllah.

Tapi bisa jadi aku yang belum baik dan belum pantas, maka Allah beri aku ketidakyakinan sehingga menyuruhku untuk mencari ilmu yang lebih banyak. Allah is the best planner kan? Pernikahan bukan pelajaran matematika yang jika gagal bisa remidial. Pernikahan adalah belajar dan beribadah sepanjang hidup, yang buahnya akan kita tuai di kehidupan yang abadi. Semoga Allah menjaga diriku saat ini dari hal-hal yang mampu buatku goyah, pun semoga Allah menjaga dirimu agar selalu di jalan-Nya. Yakini saja, yang menjaga hanya untuk yang terjaga. Meski masalalu tidak selalu baik, tapi masa depan kita masih putih, setiap manusia selalu punya kesempatan untuk berubah. Benar bukan?

Pegang janji Allah saja, yang ini:

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُوْلَئِكَ مُبَرَّؤُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ ﴿٢٦﴾

Artinya: “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).”

Karena pada saatnya nanti, akan ku ucap “Berbaliklah jika kau lelah dan ingin mengeluh. Ceritakan saja segala gundah dan resah, aku mampu mendengarmu sampai waktu yang tak terhingga. Karena aku rumahmu.” Aku boleh gagal dalam banyak hal. Tapi harus aku pastikan, aku tidak boleh gagal menjadi seorang istri dan seorang ibu.

Ditulis oleh : Lisma Sulastri
30 September 2017

  • view 55