WANITA, ILMU, dan PERADABAN

Lisma Sulastri
Karya Lisma Sulastri Kategori Motivasi
dipublikasikan 18 Agustus 2017
WANITA, ILMU, dan PERADABAN

“Jika perempunnya baik, baiklah negara, dan jika mereka bobrok, bobrok pulalah negara. Mereka adalah tiang; dan biasanya tiang rumah tidak begitu kelihatan. Namun jika rumah sudah condong, periksalah tiangnya. Tandanya tiangnyalah yang lapuk.” Buya Hamka dalam bukunya Berbicara Tentang Perempuan.
 
Meski tak harus selalu tampak, wanita ibarat benteng yang kekokohannya menjadi tiang untuk peradaban. Bagaimana tidak? Wanita adalah al-madrasatu al-ula, madrasah pertama  yang menanamkan akhlak dan kepribadian kepada anak-anak mereka (kelak Insya Allah). Wanita yang mengenalkan kepada mereka hakikat tugas manusia di muka bumi ini, yakni menjadi khalifatullah.
 
Namun, tetap sadarilah qodratmu, wahai wanita...  menyamakan wanita dengan lelaki, jelas kedzaliman. Karena dua makhluk ini memang Allah ciptakan berbeda. Allah menegaskan, "Laki-laki tidak sama seperti wanita." (QS. Ali Imran: 36).
 
Lalu bagaimanakah agar benteng itu tetap kokoh? Cintailah ilmu, kembangkanlah ilmu, dan amalkanlah ilmu.
 
Allah sangat mencintai orang-orang yang berilmu, sehingga orang yang berilmu yang didasarkan atas iman akan diangkat derajatnya oleh Allah, sebagaimana firman-Nya:
 
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرُُ
 
Artinya :
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat . (Q.s. al-Mujadalah : 11)
 
Keutamaan lainnya dari ilmu adalah dapat mencapai kebahagiaan baik di dunia ataupun di akhirat. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi SAW :
 
مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ وَ مَنْ أَرَادَ ْالآخِرَةِ فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ وَ مَنْ أَرَادَ هُمَا فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ (رواه الطبراني)
 
Artinya :
Barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia, mak ia harus memiliki ilmu, dan barang siapa yang menginginkan kehidupan akhirat maka itupun harus dengan ilmu, dan barang siapa yang menginginkan keduanya maka itupun harus dengan ilmu. (HR. Thabrani)
 
Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang kedatangan ajal, sedang ia masih menuntut ilmu, maka ia akan bertemu dengan Allah di mana tidak ada jarak antara dia dan antara para nabi kecuali satu derajat kenabian.” (HR. Thabrani).
Kewajiban menuntut ilmu dijelaskan dalam hadist Nabi SAW, “Mencari ilmu itu hukumnya wajib bagi muslimin dan muslimat.”
 
Sayidah Aisyah, istri Nabi dan putri Sahabat Abu Bakar As-Sidiq adalah salah satu sosok ideal seorang perempuan muslimah yang optimis, pekerja keras, cerdas, berakhlak, dan berilmu tinggi. Mengutip ucapan Imam Zuhri yang mengatakan, “Seandainya ilmu Aisyah dibandingkan dengan ilmu seluruh ilmu orang alim dan semua wanita muslimah, niscaya ilmu Aisyah lebih utama.”
 
Sayidah Aisyah adalah bukti bahwa wanita berilmu bukan untuk menyaingi kaum lelaki, tetapi untuk membangun peradaban. Di manapun akan bermuara nanti, entah berkarier atau berumah tangga, wanita tetaplah calon ibu, guru pertama untuk anak-anaknya.
 
Lalu munculah beberapa pertanyaan, jadi lebih mulia mana Ibu di rumah atau Ibu bekerja? Jawabannya, wallahu’alam. Karena melabelkan manusia mulia bukanlah wewenang sesamanya. Bisa jadi kita menilai orang lain buruk, padahal kita jauh lebih buruk.
 
Entah memilih diam di rumah atau berkarier, semoga wanita Indonesia adalah wanita kokoh yang senantiasa mencintai ilmu dan mengamalkannya. Baik untuk anak-anaknya kelak atau untuk lingkungan yang lebih luas dengan memperhatikan batasan-batasan syar’i dalam mengsyiarkan ilmu.
 
Ada satu tulisan yang menarik dari Mbak Karina Hakman yang sangat memotivasi saya untuk terus semangat menjadi guru dan Insya Allah calon istri dan ibu dalam mengsyiarkan ilmu , “Perempuan bekerja bukanlah selalu tentang mencari nafkah. Ada urgensi kebutuhan peran muslimah di luar sana. Mengajar sebagi seorang dosen adalah tentang jihad dalam ilmu, mujahaddahnya seorang guru, seorang murrabbi, dalam mengajarkan ilmu.”
 
Ibu bagaikan sekolah, bila anda mempersiapkannya secara baik, berarti anda telah mempersiapkan generasi bangsa dengan integritas kepribadian yang baik.
 
Ilmu akan kekal dan akan bermanfaat bagi pemiliknya walaupun dia telah matiSeperti sabda Nabi berikut, “Jika seorang manusia meninggal, terputuslah amalnya, kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang berdoa untuknya.” (HR. Muslim).
 
Dalam hadits berikut Rasulullah SAW bersabda:
 
لَا تَزُوْلُ قَدَمَا ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ.
 
Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi Rabb-Nya, hingga dia ditanya tentang lima perkara (yaitu): tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan, dan dalam hal apa (hartanya tersebut) ia belanjakan serta apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu yang dimilikinya.” (HR. at-Tirmidzi).
 
Demikianlah, pentingnya ilmu dan kewajiban menuntut ilmu bagi kita, kaum wanita. Dengan ilmu, kita mengetahui apa saja yang diwajibkan oleh Allah SWT kepada kita dan kita dapat melaksanakannya dengan baik. Semoga kita diberi kemudahan oleh Allah SWT dalam hal ini. Aamiin.


Ditulis oleh : Lisma Sulastri
Sukabumi, 18 Agustus 2017

Gambar : http://banyuasinonline.com/wp-content/uploads/2016/04/original-450x270.jpg


  • view 89