Hidupkan Kembali Lonceng Keadilan yang Sudah Mati untuk Pak Buni Yani

Lisma Sulastri
Karya Lisma Sulastri Kategori Inspiratif
dipublikasikan 26 November 2016
Hidupkan Kembali Lonceng Keadilan yang Sudah Mati untuk Pak Buni Yani

Saya hampir kehabisan kata-kata menyaksikan bagaimana hukum bekerja di negeri tercinta. Bagaimana mungkin hukum tajam pada mereka yang “tidak memiliki kekuatan” dan tumpul terhadap “pemegang modal”. Padahal Indonesia sebagai negara hukum telah menjamin asas persamaan di hadapan hukum, yaitu dalam Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 yang berbunyi: “Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”.

Saya Indonesia dan saya muslim. Ini bukan karena saya membela Si B yang muslim lantas menyalahkan Si A yang non muslim. Saya hanya ingin melawan kebatilan apalagi mengenai keadilan hukum. Sudah jelas itu terlalu mengada-ngada. Status yang sama antara keduanya yaitu sebagai ‘tersangka’ tapi si B ditahan tak bisa pulang, sedangkan satu lagi bebas berkampanye diluaran.

Sekali lagi, bukan tentang SARA. Bukan tentang agama atau ras. Ini murni karena ingin tahu dimana letak sebuah keadilan? Tak usah ditanya tentang si koruptor yang korupsi miliaran dengan si pencuri sendal jepit, rakyat Indonesia sudah pada hapal bagaimana hukum bekerja saat menangani kedua kasus tersebut.

Saya tidak sedang menebar kebencian, saya sedang menuliskan isi hati dan pikiran saya. Saya tidak bisa melakukan apa-apa selain mendoakan semoga orang-orang yang mendapatkan amanah sebagai penegak keadilan, benar-benar bisa bekerja adil. Benar-benar bisa bekerja menggunakan iman dan menggunakan sifat ke-Tuhanannya. Karena perkara hidup bukanlah hanya di dunia. Setiap apa yang dilakukan akan diminta pertanggungjawabannya. Semoga para pemimpin negeri ini bukanlah orang-orang yang dzalim.

Saudariku,
Tanyakanlah lagi pada hati kecil kita, benarkah kita ini mukmin, sudah benarkah cara kita beriman, kemudian tanyakan lagi, apakah keimanan kita itu sudah seperti apa yang diinginkan Allah. Karena jika hati kita masih merasa tidak cocok/’sreg’ dengan syari’at yang kita terima (terasa ada penolakan dan keraguan dalam hati kita), maka kita harus berhati-hati jangan sampai kita menjadi orang yang munafik yang disebutkan dalam firman Allah.

“Bagi orang-orang yang memenuhi seruan Tuhannya, (disediakan) pembalasan yang baik. Dan orang-orang yang tak memenuhi seruan Tuhan, sekiranya mereka mempunyai semua (kekayaan) yang ada di bumi & (ditambah) sebanyak isi bumi itu lagi besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan kekayaan itu. Orang-orang itu disediakan baginya hisab yang buruk & tempat kediaman mereka ialah Jahanam & itulah seburuk-buruk tempat kediaman.” (QS. Ar-Ra’d :18).

Satu lagi doaku untuk negeri tercinta ini. Selamatkan negeri ini dari pemimpin-pemimpin yang dzalim. Selamatkanlah negeri tercinta ini dengan perliundungan dari Rabb Yang Maha Tinggi dari orang-orang yang mengambil kepuasan terhadap dirinya dan mengorbankan kedaulatan negeri tercinta ini.

Izinkan saya tersenyum dulu. Hehehe... 

Anggap aja kita sedang terombang-ambing di atas kapal yang sudah jelas-jelas oleng. Namun nahkodanya malah sedang asik bermain manequin challenge. Kita dayung saja secara perlahan. Jika bersama-sama dan searah, niscaya akan sampai pada tujuan.

Untuk Pak Buni Yani, keep strong  ya. You'll never walk alone. Ada Allah yang Maha Adil.

SUKABUMI, 26 NOPEMBER 2016

LISMA SULASTRI

Gambar diambil dari sini

 

  • view 171