DENGAN BUKU, AKU BEBAS

Lisma Sulastri
Karya Lisma Sulastri Kategori Inspiratif
dipublikasikan 07 September 2016
DENGAN BUKU, AKU BEBAS

Ada sebuah pertanyaan. “Kenapa ya Kak, para bapak bangsa kita ini begitu pintar? Idenya tinggi mengangkasa? Gagasannya besar, mengisi nusantara?”

Lantas ku jawab, “Bung Hatta memiliki 6 peti besar berisi buku-buku yang beliau kumpulkan selama study nya di Eropa. Jelas bukan hanya dikumpulkan, tapi beliau baca. Adik pernah mendengar kata-kata dari Bung Hatta yang terkenal ini, ‘Aku rela di penjara, asal bersama buku. Karena dengan buku, aku bebas'?"

Ujarku lagi, ”Bung Karno, di usia belasan tahun melahap narasi besar milik Marx, Engles, dan Hegel tanpa minta jeda. Dan selama di penjara di Sukamiskin, bermodal bacaan tadi beliau menyusun pledoi yang terkenal itu: ‘Indonesia Menggugat’. Bahkan setelah itu, beliau menyusun ‘Marhaenisme’ dengan perpaduan tiga nama besar di atas.”

Belum puas, ku tambahkan lagi. “Tan Malaka, Dik. Menyusun ‘Madilog’ selama berbulan-bulan mengandalkan ingatannya terhadap buku-buku yang pernah beliau baca selama pelariannya di Hanoi, Shanghai, hingga Rusia. Bahkan, yang ia lakukan untuk menggenapkan Madilog adalah dengan bolak-balik perpusatakaan.”

Terakhir, aku kuatkan, “Natsir dan Buya Hamka adalah contoh ‘manusia ide’ yang pengetahuannya sejajar dengan jebolan Eropa sekalipun. Karena mereka otodidak. Ototdidak dalam belajar melalui bacaan yang sistematis mengenai kenegaraan.”

“Baiklah, mungkin Adik hanya mengenal nama-nama yang ku sebutkan tadi. Biarlah ku sebutkan sosok yang masih nyata adanya. Adik kenal putra pertama dari Mantan Presiden RI Bapak Susilo Bambang Yudhoyono? Ya, siapa lagi kalau bukan Agus Harimurti Yudhoyono. Biar ku sebutkan nama lengkap dengan gelarnya ya, Dik. Letkol. Inf. Agus Harimurti Yudhoyono, M.SC., MPA, MA (Iya! Tiga gelar master!). Letkol Agus ini patut menjadi teladan semua prajurit.

Track recordnya sangat bagus. Dari sejak kecil dia selalu nomor satu. Dia nomor satu di SMA Taruna Nusantara. Nomor satu di Akmil (pemegang Adi Makayasa, sama seperti bapaknya yang di Akmil ketika kakeknya jadi Gubernur Akmil). Nomor satu dalam kursus-kursus dasar militer. IPK 4.0 (sempurna) ketika di War College dan Webster University. WOW!

Selalu nomor satu. Dan, entah kenapa, saya jadi gatel mengutip Donald J. Trump, kandidat presiden AS sekarang ini. Kalau saya jadi presiden, demikian kata Trump, “you will be tired of winning!” Anda akan capek menang terus. Nah Letkol Agus ini hidupnya tidak pernah capek dari menang dan nomor satu. Terus dan terus ...

Kembali ke buku. Letkol Agus mengatakan bahwa membaca buku bukanlah hobinya. Baginya, membaca adalah suatu keharusan. Ia juga mengatakan, “membaca dan menulis itu ibarat 2 sisi mata koin yang tidak dapat dipisahkan dan harus dijadikan sebagai kebutuhan bagi setiap prajurit.”

“Membaca merupakan kunci untuk membuka jendela dunia, sehingga siapapun yang ingin mengetahuinya maka harus rajin membaca. Membaca dan menulis harus dijadikan sebagai kebutuhan bagi setiap prajurit karena akan semakin bertambah ilmu dan khasanah pengetahuan mengenai hal yang mungkin belum diketahui.” Kata Mas Agus. Mungkin Mas Agus ini akan jadi the next Bapak Bangsa dengan pemikiran dan bekal ilmu yang luar biasa.

Hmm... semoga Kamu gak ngantuk ya, Dik. Mau lagi dengar yang lain.? Ini tak kalah hebat.

Adik pasti tahu wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad saw? Surat Al-‘Alaq 1-5 beginilah isi wahyu tersebut.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari 'alaq. Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling Pemurah, Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya.” (QS Al-'Alaq [96]: 1-5).

Mengapa iqra, merupakan perintah pertama yang ditujukan kepada Nabi, padahal beliau seorang ummi (yang tidak pandai membaca dan menulis)? Mengapa demikian?

Iqra' terambil dari akar kata yang berarti ‘menghimpun’, sehingga tidak selalu harus diartikan ‘membaca teks tertulis dengan aksara tertentu.’ Dari ‘menghimpun’ lahir aneka ragam makna, seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti mengetahui ciri sesuatu dan membaca, baik teks tertulis maupun tidak.

Iqra' (Bacalah)! Tetapi apa yang harus dibaca? "Ma aqra'?" tanya Nabi (dalam suatu riwayat) setelah beliau kepayahan dirangkul dan diperintah membaca oleh malaikat Jibril a.s. Pertanyaan itu tidak dijawab, karena Allah menghendaki agar beliau dan umatnya membaca apa saja, selama bacaan tersebut Bismi Rabbik; dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan. Iqra' berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu, bacalah alam, bacalah tanda-tanda zaman, sejarah, diri sendiri, yang tertulis dan tidak tertulis. Wallahu'alam.

Jadi, masih mau malas membaca? Please, think again and again.

 

07 November 2015

-LISMA SULASTRI-

 

Referensi tulisan:

http://www.mypesantren.com - Jejaring Sosial Indonesia.

Facebook Made Supriatna

Gambar:

https://scontent-frt3-1.cdninstagram.com/t51.2885-15/s640x640/sh0.08/e35/13687093_1017720901674164_688079675_n.jpg?ig_cache_key=MTI5NTIyMjc5ODA3MTg2NjA5MA%3D%3D.2