Karena Bapak adalah 'MUSE' Bagi Saya

Lisma Sulastri
Karya Lisma Sulastri Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 Agustus 2016
Karena Bapak adalah 'MUSE' Bagi Saya

Saya seorang guru honorer di salah satu SMP negeri di Cicurug, Sukabumi. Tepatnya pengajar matematika sejak tahun 2013 yang lalu. Saya seorang anak bungsu 3 bersaudara dari keluarga sederhana yang satu-satunya lagi yang tinggal di rumah (belum menikah).

Menjadi pengajar bukanlah cita-cita saya (pada awalnya). Kenapa? Seorang anak SMA kala itu wajarlah bila berpikir materialistis. “Aku harus bekerja di tempat yang bisa membayarku dengan gaji besar!” Saat itu saya selalu berpikir bahwa saya anak satu-satunya lagi yang harus menjadi tulang punggung keluarga karena Bapak sudah harus istirahat.

Saya seorang ambisius, apapun yang saya ingini, saya harus dapatkan itu. Selama apapun waktunya, saya tidak pernah peduli. Yang penting saya bisa capai. Dasar anak SMA. Pada saat itu cita-cita besar saya ingin menjadi arsitek, kalau anak kecil lain sering berubah-ubah ingin menjadi apa nantinya. Ingin saya tetap, dari semenjak kelas satu SD sampai tepatnya sekarangpun saya ingin menjadi seorang arsitek. Karena buat saya arsitek itu keren, gajinya besar, bisa buat rumah yang mencampurnakan matematika, cinta, dan seni di dalamnya. Great!

Tapi sayang, Bapak menolak kelas semua ambisi saya. Alasan paling sering saya dengar adalah karena “kuliahnya mahal, nduk”. Okelah kalau masalahnya materi saya bisa cari sendiri, Pak. Pikirku pada saat itu. Coba tes sana sini, nyari beasiswa sana sini, dan nihil. Saya tidak dapat apapun, hasil saya nol. Mungkin karena Bapak tidak ridho.

“Ingin Bapak sederhana, kamu jadi guru aja. Mulia di mata Allah, berguna bagi umat, kamu bisa angkat derajat orang tua di akhirat nanti.”

“Ah, Bapak.. gimana kita mau jadi orang kaya kalo aku cuma jadi guru, gajinya kecil.” Tapi saya tidak pernah berani melawan Bapak, saya turuti keinginanya. Masih beruntung karena Bapak mau biayai saya kuliah di keguruan.

Singkat cerita, saya diterima menjadi pengajar matematika di SMP sewaktu saya masih semester 4 (Januari 2013). What the... Tidak mengertilah keberuntungan jenis apa yang menghampiri saya pada saat itu padahal peraturannya tidak boleh ada pengajar yang belum S1. Tapi alhamdulillah aman sampai sekarang. Saya yakin, segala kemudahan ini datangnya dari do’a Bapak.

Tahun 2015 saya lulus dengan tambahan S.Pd dibelakang nama saya. Bapak berulang kali bilang, “Bapak bangga”. Satu yang saya pikirkan pada saat itu, saya bahagia sekaligus bingung. Bagaimana saya bisa mengembalikan biaya kuliah yang tidak murah ini pada Bapak. Walaupun Bapak tidak pernah meminta tapi saya harus bisa menggantikan posisi Bapak sebagai tulang punggung. Bapak harus istirahat.

Ternyata setelah sarjanapun gaji saya masih sama, masih di bawah 500 ribu. Sampai saat ini. Saya selalu minder dengan teman-teman yang bisa memberi apapun untuk orangtuanya, saya tidak bisa. Sakit hati saya. Terkadang berpikir, kenapa waktu itu saya tidak melewan Bapak, kenapa saya harus kuliah di keguruan yang sekarang dibayar segini. (maafkan Allah, saya tidak beryukur). Saya sedih, saya tidak bisa beri apa-apa untuk keluarga, gaji saya hanya cukup untuk dimakan sendiri. Tidak, kadang tidak cukup 500 ribu untuk satu bulan.

Hingga pada suatu hari terjadi percakapan ini.

S : “Pak, maafin kalo saya belum bisa gantikan posisi Bapak sebagai tulang punggung. Saya kasihan lihat Bapak, sudah tua tapi masih harus biayai keluarga, Bapak sudah harus istirahat.”

B : “Ga apa-apa. Bapak masih sehat.”

S : “Pak, saya malu sama Bapak. Biaya kuliahnya mahal, tapi saya dibayar 500 ribu. Hari gini, buruh juga dibayarnya jutaan.”

B : “Ga apa-apa yang penting manfaat untuk umat.”

S : “Pak, saya mau kerja di bank ya. Banyak terima Sarjana Pendidikan kok, gajinya lumayan besar. Jadi saya bisa biayain keluarga, bisa cepat betulin rumah.”

B : “Jangan. Ga usah. Bapak ga minta dibetulin rumah, apalagi dibelikan rumah baru. Bapak cuma mau kamu bermanfaat untuk umat.”

S : “Pak, tapi kita butuh biaya banyak untuk ke depannya. Gimana saya bisa bantu kalau penghasilan saya cuma segini?”

B : “Bersyukur. Bapak sudah cukup bangga sama kamu. Letaknya bukan seberapa penghasilan kamu. Tapi Bapak bangga, karena Bapak punya anak yang manfaat untuk umat. InsyaAllah ladang pahala buat kita semua di akhirat nanti. Asal kamu ikhlas dan niat mengajar di jalan Allah. Itu aja buat Bapak. Kalau kamu mau punya uang banyak, cari kerjaan di bidang lain. Misalnya berjualan ataun apapun, asalkan itu halal, ari berkah disana. Amanat Bapak semoga kamu tidak pernah meninggalkan profesi guru ini. Bapak ingin lihat kamu jadi manusia sebaik-baiknya manusia, yaitu yang bermanfaat untuk umat. Udah itu aja. Kecuali kalau nanti suamimu melarang kamu, kamu harus patuh. Tidak usah dengar lagi kata-kata Bapak, karena baktimu berpindah. Tapi InsyaAllah semoga suamimu nanti tidak melarang kamu untuk bermanfaat bagi umat, itu doa Bapak.”

(Saya hanya bisa memangis, terharu. Bapak saya luar biasa)

Lalu Bapak melanjutkan.

B : “Sebaik-baiknya tabungan adalah anak yang shalih dan shaliha, bukan seberapa banyak harta benda. Punya anak bukan untuk dijadikan mesin uang nantinya, Bapak ga minta apa-apa. Niatkan semuanya dijalan Allah, dan jangan lpa selalu doakan Bapak. Udah itu aja mau Bapak.”

 ~~~~~~

That is the reason why I love Bapak so much. Semoga Allah menjadikan saya shaliha sepert keinginan Bapak. Semoga saya tidak membawamu ke dalam neraka ya Pak. Semoga saya bisa terus bermanfaat untuk umat. Allah, haramkanlah siksa neraka bagi Bapak.

Noted: tulisan ini bukan bertujuan merendahkan profesi lain. Ini hanya pandangan seorang Bapak yang menurutkanya perkerjaan terbaik dalah menjadi seorang guru. Katanya, menjadi mulia tanpa atribut apapun.

LISMA SULASTRI 

SUKABUMI

  • view 498

  • Anik Cahyanik
    Anik Cahyanik
    2 tahun yang lalu.
    Tulisan ini sukses membuatku menangis. Kak, andai saja aku menjadi dirimu. Betapa bahagianya aku. Andai saja aku menjadi dirimu, mungkin saat aku duduk di semester 5 di jurusan pendidikan ini tidak akan terlalu memusingkan tuntutan orang tua. Berbagai pernyataan orang tua yang malah membuatku bingung akan masa depan. "Nduk, nanti kamu kalo lulus daftar PNS, ya." "Nduk, nanti kamu jadi pegawai kantoran atau pegawai bank, gimana?" "Nduk, kamu nanti buka les privat, ya."

    • Lihat 1 Respon