Tipe Wanita

Lisma Sulastri
Karya Lisma Sulastri Kategori Inspiratif
dipublikasikan 13 Juni 2016
Tipe Wanita

Dear kamu, Lelaki...

Kamu terlahir dari rahim seorang wanita dan kelak kamu membutuhkan wanita untuk menyempurnakan hidupmu. Kamu tidak bisa memilih dari rahim wanita manakah ingin dilahirkan. Tapi untuk penyempurna hidupmu tentulah pilihan ada di tanganmu. Jangan salah memilih penyempurnamu.

Ada 2 tipe wanita, yang pertama dia yang hanya menunggumu di puncak, atau dia yang mau bersama-sama berjuang mendaki melewati terjalnya kehidupan.

Mau tipe yang mana?

Mari kita bahas.

Yang pertama adalah wanita yang hanya menunggumu di puncak. Wanita ini tidak tahu arti perjuanganmu, wanita ini tak pernah mengulurkan tangannya ketika kamu butuh gapaian untuk bangkit, wanita ini belum pernah berbisik untuk sekedar memberi semangat bahwa kamu harus terus berjalan menuju puncak, wanita ini mungkin tidak pernah mengucap namamu dalam sajadahnya. Wanita ini menunggu, instan dirimu yang sudah hebat.

Yang kedua adalah wanita yang mau bersama-sama berjuang mendaki melewati terjalnya kehidupan. Wanita ini yang tak pernah beranjak pergi. Ia adalah pendukungmu paling setia. Apapun langkahmu, selama itu bermanfaat, ia tak pernah lelah mendukungmu. Dan sudah pasti, dukungannya ini yang membuatmu selalu ingin lebih keras berusaha. Tak peduli berapa kali kamu terjatuh dan menghadapi kegagalan, ia akan terus menopangmu dari belakang. Agar ketika kamu terjatuh, dia yang selalu mengulurkan tangan agar kamu bisa bangkit lagi. Ada doa dari wanita ini yang tak pernah putus. Meski tangisnya seringkali luruh. Jika kamu mampu bertanya pada sajadahnya, mungkin kamu akan tau sedalam apa namamu disebut. Apalagi yang diragukan darinya ketika kebanyakan wanita hanya menunggu mapannya dirimu, tapi yang ini jelas menemanimu dati titik minus sampai akhirnya kamu berada di puncak.

Tapi, sayangnya.... justru wanita yang sudah setia menemanimu berlelah-lelah, yang tabah mendorongmu, justru kamu lupakan begitu saja. Sadarilah, wanita yang sudah menemanimu berlelah-lelah dan tabah akan perjuanganmu, bukan berarti ia kuat sempurna, tentu diapun wanita biasa yang mempunyai kekurangan. Diapun sama, sedang memacu dirinya untuk sampai di puncak. Ada dua puncak dalam dirinya, dia harus menjadi wanita mandiri sekaligus menjadi penyempurna yang kuat untuk hidupmu. Pantaskah, ketika wanita tersebut melakukan salah lalu tiada ampun darimu untuk memberi kesempatan untuknya berubah? Padahal, kamu tidak betul-betul tahu seberapa lelahnya dia, hingga lupa caranya bersikap sempurna untuk sekedar membahagiakanmu. Tapi dengan mudahnya kamu meninggalkan ia sendirian tertatih-tatih dengan sisa tenaganya yang ringkih tertinggal di belakangmu. Satu langkah, lalu lebih jauh. Hingga pada akhirnya kau memutuskan mencari teman lain untuk menikmati matahari terbenam di puncakum? Adilkah?

Banyak sekali cerita yang seperti ini, banyak...

Satu hal, ha wanita...  La Tahzaan. Katakan dalam hati "Aku bisa jauh lebih kuat mendaki sendirian." Jangan sampai berhenti disini. 

Beginilah sekiranya curahan para wanita yang sudah berlelah-lelah tapi pada akhirnya ditinggalkan.

Bila yang selama ini ditemani mendaki malah memutuskan untuk ditunggu oleh orang lain di puncak. Aku bisa apa? (Hehehe).

Aku hampir lupa. Kalau aku masih bisa berjalan lalu melupakan.

Keep husnudzon. Mungkin "kamu"-ku sedang mendaki di sebelah gunung yang lain. Sedangkan aku sedang mendaki di sini. Ga apa-apa, aku kuat mendaki sendiri, ku harap "kamu" pun sama kuatnya. Kita survive sendiri-sendiri dulu. Sampai tiba waktunya, kita berdua bertemu di puncak. 

Sabar ya, aku pun berjuang dan siap tunggu "kamu". Kita bangun cinta, sehidup sesurga.

Salam, your future.

Pesanku, jadilah wanita baik, wanita mandiri yang kuat.

referensi: https://www.facebook.com/hijabalilaku/photos/a.730764267019647.1073741828.730014243761316/972775622818509/?type=3&theater

  • view 216