“MUTLULUK (HAPPINESS)”: Berbagi kisah mencari kebahagiaan dari film Turki

Lisa Noor Humaidah
Karya Lisa Noor Humaidah Kategori Lainnya
dipublikasikan 14 Februari 2016
“MUTLULUK (HAPPINESS)”: Berbagi kisah mencari kebahagiaan dari film Turki

Adalah Meryem, seorang perempuan muda, berusia 17 tahun, tinggal di desa sederhana jauh dari kota Istanbul, diperkosa oleh seorang laki-laki. Ia tak bisa, bisu untuk mengatakan siapa. Dan demi kehormatan, adat yang telah ditentukan oleh laki-laki, ia harus dilenyapkan alias dibunuh. Sebelum itu dilaksanakan, dan untuk menutup malu, ia dikurung dalam kandang, tidur di atas jerami dan tak pernah mengharapkan datangnya pagi sejak ia tak pernah mendengar kokok ayam jantan di desa dimana ayam berkeliaran dimana-mana. Ia juga pernah berusaha menggantung dirinya?dengan tali tambang yang diberikan oleh ibu tiri yang mendesak dan memberi cara bagaimana tali itu bisa membunuhnya. Tali itu berhasil ia gantungkan sendiri di langit-langit kandang, dikalungkan dan siap menjerat lehernya yang kecil dengan sekali sentak. Berbait-bait doa telah ia panjatkan. Namun, usahanya ia batalkan setelah tahu ibu tiri menyaksikannya dari jendela kecil kandang tempat ia tinggal. Seperti ia tak mau kalah dengan desakan. Ia tetap mau hidup dan bertahan.

Perintah itu akhirnya harus dilaksanakan dengan membawanya pergi ke Istanbul -- kota terpenting dan terbesar di Turki -- ?oleh seorang sepupunya, anak dari pamannya yang turut mendesak tegaknya kehormatan itu. Rencananya, dalam perjalanan, nyawanya akan dihabisi. Namanya Cemal, baru saja menyelesaikan tugas militer.? Kepada Meryem ayahnya mengatakan Cemal akan membawanya ke Istanbul dan akan menikahinya. Kepada Cemal ia berpesan, ? Dia tak pernah tahu tentang Ibu kandungnya. Ibu Tirinya sering menyakitinya. Aku minta jangan sakiti dia.??

Kisah perjalanan sepasang anak?manusia di salah satu belahan negara Eropa dimulai. Dengan berbagai cara, Cemal berusaha membunuh Meryem, walaupun selalu dengan rasa gentar. Salah satunya pada saat Cemal meminta Meryem meloncat dari sebuah jembatan penyebrangan modern tinggi dengan ancaman pistolnya karena ia tak mau berlumuran darahnya. Namun Cemal meraihnya dengan cepat ketika Meryem tinggal melepaskan pegangan tangan dari bibir jeruji jembatan. Cemal membawa Meryem berpindah tempat, seperti mengulur waktu sampai tiba saat yang tepat untuk mengakhiri hidup Meryem atau berusaha berdamai dengan segala keraguan yang masih menggelayutinya. ?

Sebuah perjalanan mempertahankan kehidupan dan menentang sebuah mitos bernama kesucian, adalah inti berikutnya, disaksikan laut Marmara Turki yang luar biasa indahnya: biru tenang dengan dikelilingi perbukitan yang sama sekali tak menunjukkan kegarangan, rimbun hijau penuh ketenangan.

Setting laut Marmara juga berhasil menghadirkan sebuah sensasi luasnya dimensi kehidupan yang kontras. Kehidupan yang bersetia dengan mitos atas kesucian dan kehormatan, sedang di sisi yang lain adalah kehidupan yang gersang, kering, dan membosankan. Itulah yang digambarkan melalui sosok Irfan, seorang professor, pintar, sibuk, terkenal, sampai ia tak bisa menghadiri pemakaman ayahnya dan juga perkawinannya yang tak dihadiri orang tuanya. Istrinya, perempuan terhormat, memiliki penghasilan lebih tinggi darinya. Mereka hidup mapan, mewah dan berkelas di tengah kota metropolitan, simbol kemodernan Turki. Tapi makin hari ia semakin gelisah, bosan terutama dengan segala riuh di koran dan televisi, segala bentuk kecurangan, kebohongan, kepicikan untuk meraih segala bentuk kemewahan itu. Ia merasa seperti ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya. Sesak nafas dialaminya setiap pagi yang membuatnya tergantung pada beberapa butir pil penenang. Ia terasing di rumah dan kehidupannya sendiri. Untuk itu, ia hanya ingin beristirahat dari kehidupannya. Berlayar dengan kapal mewahnya adalah pilihannya. Laut Marmara mempertemukannya dengan Cemal dan Meryam di salah satu dermaga. Mereka pun berlayar bersama.

Irfan membuka pintu kedua insan Cemal dan Meryem bahwa ada dunia lain di luar sana.

Walaupun mitos tak bisa hilang begitu saja, Cemal tetap meyakini Meryem ternoda dan telah merusak kehidupan keluarga dan desanya. Cemal jatuh cinta walaupun ia sering menyangkalnya. Pernah ia bermimpi didatangi Meryem yang berpakaian sexy dan menggodanya. Ia marah ke Meryem karena tak pernah mengakui ia sesungguhnya perempuan penggoda dan ternoda. Sungguh mitos kesucian perempuan itu terus menghantuinya. Padahal mungkin itu hasrat biologis laki-laki yang sungguh manusiawi. Akhirnya satu kali Irfan, yang telah Meryem anggap sebagai bapaknya, berhasil meyakinkan Cemal: Meryem itu suci. Irfan mengatakan ia terlalu sering membaca di koran, kisah anak perempuan di desa yang dibunuh demi kehormatan dan itu harus ditentang.

Kekuatan film ini adalah caranya jujur bertutur tentang sebuah kesucian seorang perempuan yang secara terang benderang dipertaruhkan untuk menghancurkan sebuah masa depan atau untuk kehormatan siapa sebenarnya? ?Meryem perempuan muda, dengan caranya ia menentang dan mendobrak ini. Ia protes satu kali dalam kondisi terdesak ketika Cemal dibakar cemburu buta ke Irfan, mengapa suaranya tidak pernah didengar? Mengapa selalu ia dilarang ini itu tapi tidak pernah diberi pilihan-pilihan? Hidupnya telah dipenuhi trauma dan kecemasan, tapi mengapa ia yang terus disalahkan?

Akting artis pemeran Meryem memang luar biasa, tanpa bicara tatapan matanya telah bercerita banyak, tentang harapan, trauma, dan juga ketakutannya. Persis yang disampaikan Irfan dalam salah satu dialog dalam film ini, ? Meryem perempuan pintar, hanya dengan menatap matanya aku telah tahu segalanya yang terjadi.?

Film ini tidak banyak mengambil setting tempat, tapi gambar tentang suasana kota Istanbul yang rumahnya padat cukup mewakili betapa hiruk pikuk, dan kerasnya kehidupan salah satu kota besar di Turki itu. Suasana ramai penjualan ikan di sepanjang teluk dan dermaga Laut Marmara juga membawa gambaran lain tentang Turki yang selama ini kita kenal dengan gedung-gedung tinggi dan indah bekas masa kejayaan Turki Utsmani bergaya Mediteranian. Dan laut Marmara semakin sempurna pesonanya pada adegan ketika Irfan menunjukkan Meryem ikan-ikan melalui ember yang ditenggelamkan dengan sorotan cahaya matahari. Air begitu bening, terasa menyejukkan jika kaki kita jejakkan.

Sampailah akhirnya kebenaran itu tiba. Ketika Cemal menyelamatkan Meryem yang dibawa paksa oleh beberapa laki-laki yang datang dari desanya, ia dihadapkan kenyataan atas jawaban sebenarnya tentang kehormatan dan kesucian itu. Yang melakukan pemerkosaan Ami Reza, paman Meryem, ayah Cemal. Ayahnya akhirnya meregang nyawa, tertembus peluru yang ditembakkan saudara kandungnya sendiri, Ayah Meryem.

Kebahagiaan kemudian mulai dirajut bersama Meryem dan Cemal di salah satu dermaga pada suatu sore ketika melepas Irfan melanjutkan misi berlayarnya singgah ke lain teluk dan dermaga, pastinya untuk menemukan kebahagiaan lainnya.

?

  • view 226