BATU KUYUNG

Marisa E. Kastera
Karya Marisa E. Kastera Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 Februari 2018
BATU KUYUNG

BATU   KUYUNG

 

Pada zaman dahulu hiduplah sepasang suami istri di dusun tanjung meranti. Dan mata pencaharian keduanya adalah petani dan juga mencari ikan. dan suami istri itu telah di karunia kerekaan dua orang anak. Anak sulung mereka laki-laki bernama dimun dan anak bungsu mereka perempuan bernama meterei. Kedua Suami istri itu mereka sibuk bekerja , pagi –pagi mereka pergi telah menuju sungai untuk mengambil bubuh yang telah mereka pasang malam sebelumnya.

Ikan yang mereka dapatkan akan di masak sang ibu sementara sang ayah masih bekerja dengan di bantu istrinya, dan sang ayah akan membantu aneka kerajinan dari bambu. keduanya membuat bubuh beronang [sejenis kesanjang yang di bawah di belakang tubuh dimana talinya di ikatkan di kepala], dan juga bakul hasil kerajinan mereka akan di jual di pasar .

Begitu sibuknya suami istri itu berkerja hingga kedua anak mereka menjadi terbengkali. Dimun dan meterei tidak mendapat pendidikan dan pengajaran yang baik ,keduanya tubuh menjadi anak-anak yang nakal ,budi pekerti. Dan pada suatu hari suami istri sibuk bekerja membuat berbagai barang kerajinan tangan dan bambu yang hendak mereka jual di pasar dan begitu sibuknya mereka, dimun dan meterei menjadi lapar karena ibu mereka tidak masak makanan untuk mereka, Dan setelah mereka berulang-ulang meminta makan namun tidak juga di penuhi dimun dan meterei menjadi marah.

Dan keduanya merusak barang –barang yang telah di buat ayah dan ibunya. kata dimun sambil menendang bubuh dan beronang buatan orang tua mereka. karna keduanya tidak bisa membuat perut mereka kenyang. meterei tidak kalah buruk kelakuannya di banding kalaknya. ia mengajak-ajak dan membanting barang buatan orang tuanya ,bahkan menangis karena sudah sangat lapar. meski sangat jengkel karena perlakuan buruk kedua anaknya ,si ayah dan ibunya kemudian memperbaiki barang –barang buatan mereka yang rusak dimun dan meterei .Dan mereka tidak memperbaiki maka barang-barang tidak bisa laku untuk di jual .

Namun dimun dan meterei mendekati ibu mereka ‘BU’sambung meterei sambil memegangi perutnya yang di rasanya sangat melilit ‘AKU sudah lapar .Lapar sekali sulit tidak ku tahan lagi rasa laparku ini.Dan ibu mereka yang jenkel langsung menghardik ,mintalah makanan pada ayah kalian itu ,dan kedua anaknya mendekati ayah mereka ,sama seperti mereka lakukan terhadap ibu mereka ,keduanya merengek meminta makan kepada ayah mereka .begitu terus berulang –ulang hingga dimun dan meterei menjadi sangat jengkel serta marah.Dan keduanya lantas menuju kebun di belakang rumah mereka .dan mereka duduk di batu besar yang biasanya di sebut batu kuyung .setelah mereka duduk di atas batu kuyung mereka pun memdendangkan lagu kesedihan .Dalam dendanganya ,mereka meminta batu kuyung untuk terbang tinggi membawa mereka karena kedua orang tua mereka tidak memberi makan kepada mereka .

 

 

Seketika dimun dan meterei setelah berdendang,batu kuyung itu mendadak meninggi batu kuyung. dan setelah dimun dan meterei kembali selesai berdengang .dan begitu seterusnya yang terjadi hingga batu kuyung itu telah sangat tinggi keberadaannya jauh melebihi aneka pepohonan tinggi di dusun tanjung meranti itu .

Kemudian orang tua dari dimun dan meterei seperti baru tersandarkan setelah mereka tidak mengendar suara kedua anaknya setelah ia selesai masak, dimun dan meterei dimana kalian berada? Lalu ayah mereka pulang kita makan bersama. Kemudian dimun dan meterei tidak menyahut panggilan ibu mereka itu. Mereka itu pun sibuk lantas meminta makan dari ibunya untuk mencari kedua anaknya. Dan si ayah tidak menemukan kedua anaknya, suaminya dan istri itu lantas mencari kedua anak mereka.

Keduanya sangat terperanjat ketika mendapati batu kuyung di kebun mereka telah meninggi melebihi tingginya pepohonan. Mereka mendengar kedua suara anak mereka di puncak batu kuyung. Dimun dan meterei lekas kalian turun panggil ayah dua anak itu dengan keras suaranya turun dari batu kuyung. Namun dinmun dan meterei tidak juga turun bahkan keduanya tidak berusaha menengok kearah bawah ke tempat kedua orangtuanya mereka, lalu keduanya malah bernyanyi hingga batu kuyung yang mereka duduki kian meninggi.

Ayah dimun dan meterei sangat khawatir melihat kedua anaknya itu. Ia pun bergegas kembali kedalam rumah dan keluar seraya menggenggam kapak. ditembangnya batu kuyung itu. Namun, meski ayah dimun dan meterei telah menggerahkan tenaga sekuatnya batu itu tidak juga roboh terkena hantaman kapak besarnya. bahkan batu kuyung itu terus meninggi karena dimun dan meterei terus juga bernyanyi, kedua anak itu benar-benar gembira mendapati diri mereka berada di ketinggian yang membuat keduanya dapat memandang daerah-daerah yang luas. Lapar yag mereka rasakan sebelumnya tidak lagi mereka rasakan.

Tidak ada lagi yang bisa dilakukan ayah dan ibu dimun dan meterei untuk menghentikan meningginya batu kuyung. Keduanya terus berteriak-teriak memanggil. Namun, dimun dan meterei tidak menjawab panggilan kedanya. Suami istri itu akhirnya hanya bisa berlutut dan menyesal karena tidak memenuhi permintaan makan anak mereka sebelumnya. Batu kuyung itu terus meninggi hingga akhirnya sampai di langit seketika tubuh kedua anak itu menyentuh langit menghilangkan tubuh keduanya. Setelah tubuh dimun dan meterei menghilang, mendadak batu kuyung itu roboh dengan menimpa rumah ayah dan ibu dimun dan meterei. Tidak hanya rumah mereka yang roboh tertimpa batu kuyung, melainkan juga tubuh kedua orangtuanya dimun dan meterei keduanya tewas seketika.

 

Pesan Moral: kisah batu kuyung adalah orangtua hendak mengusahakan agar anak-anaknya mendapatkan pendidikan setinggi mungkin, selain itu berikan perhatian dan kasih sayang kepada anak-anak dengan secara maksimal, penuhi juga kebutuhan anak dengan sebaik-baiknya. Selaku anak, hendaknya kita belajar dan menuntut ilmu untuk bekal kehidupan kita dimasa mendatang.

 

 

 

 

 OLEH : MARISA E.S KASTERA

 

  • view 103