Mendadak Nyasar di Makassar

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 16 Maret 2016
Mendadak Nyasar di Makassar

Kenapa dikatakan demikian? Karena mendapat pemberitahuan untuk berangkatnya mendadak. Sabtu, 12 Desember 2015, tiba-tiba dapat telepon dari kantor. Katanya, dapat tugas studi banding oleh kantor bersama beberapa rekan lainnya. Berangkatnya, Minggu, 13 Desember. Kemudian harus sudah kembali, Selasa, 15 Desember, Berarti cuma 3 hari. Sudah itu, dari semua anggota yang berangkat, belum ada yang pernah ke Makassar. Makanya, dibilang nyasar.

Meski mesan tiketnya mepet, akhirnya kami berangkat juga. Ada 7 orang, semuanya wanita. Berangkat dari Bandara Syamsuddin Noor sekitar pukul 15.28 Wita, naik pesawat Sriwijaya. Sampai di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar sore hampir senja. Di sana kami kebingungan, karena langsung dikerubuti calo taksi yang menawarkan mengantar kami ke tempar tujuan. Mana gaya bicara orang mana sebagaimana layaknya orang Timur, keras. Sampai terkaget-kaget dibuatnya, karena tidak biasa.

Tapi meski bicaranya keras, Orang Makassar baik. Buktinya, kami diantar dengan selamat ke hotel tujuan, Grand Imawan. Setelah istirahat sebentar, kami jalan untuk cari makan malam. Ternyata tidak mudah menemukan warung makan di sekitar hotel. Akhirnya ketemu warung kaki lima yang menawarkan banyak lauk, terutama ikan termasuk baronang. Sayangnya, ikan baronang tinggal 2. Terpaksa yang lain pesan ayam dan ikan lele. Di dekat warung juga ada pedagang martabak. Kami juga pesan martabak jamur untuk di makan dan dibawa ke hotel.

Sebelum kembali, kami singgah dulu ke Mall Panakukang yang ternyata terletak di seberang warung tempat kami makan. Sayang, sudah malam. Banyak pedagang yang sudah bersiap-siap untuk tutup. Makanya, kami cuma sempat sebentar jalan-jalan. Setelah itu, kembali ke hotel, dan beristirahat di kamar masing-masing.

Esok paginya, setelah sarapan, kami berkunjung ke kantor LPMP Sulawesi Selatan. Berbekal informasi dari karyawan hotel, kami naik angkot. Uih, ternyata lalu lintas di Makassar luar biasa padat dan macet. Melebihi Banjarmasin dan Banjarbaru. Mungkin, sudah hampir sama dengan kota-kota besar di Jawa ?kali.

Sudah itu ruwet dan semrawut. Bingung melihat di perempatan, kenapa kok kendaraan jalan semua dari segala penjuru. Apa lampu merahnya mati? Ternyata tidak juga. Cuma dicueki aja. Bahkan kita yang jalan di tritoar saja tetap diklakson. Ealah... Jadi takut nyeberang jalan di Makassar ni. Mana sakit kaki karena keseleo belum sembuh benar lagi.

Untungnya, kantor LPMPnya cepat ketemu. Kami disambut kepala Bagian kerumahtanggaan LPMP Makassar, Pak Asad dengan ramah. Kami lalu berkeliling dan ngobrol dengan karyawan lainnya. Bertukar informasi dan berbagi. Bahkan kami dijamu makan siang di ruang makan.

Pulang dari LPMP, kami pindah dari hotel Grand Imawan ke Hotel Pasific yang letaknya lebih dekat dengan Pantai Losari. Kami makan siang lagi. Diajak makan Coto Makassar. Makanya bisa pake ketupat, nasi yang dibukus daun kelapa atau buras yang dibungkus daun pisang. Menjelang agak sore, kami singgah di Trans Studio Makassar. Jalan-jalan,? foto-foto, dan main-main di Trans Studio Makassar. Bahkan, mencoba masuk Dunia Lain.

Setelah puas, kami singgah dulu ke toko oleh-oleh, baru istirahat di hotel. Waktu makan malam, kami jalan ke Lae-lae, restoran yang khusus menyediakan makanan laut yang lokasinya tak jauh dari hotel. Sayang, hujan turun ketika kami hampir selesai makan. Karenanya, rencana singgah ke Pantai Losari gagal. Kami langsung kembali ke hotel dengan menumpang becak.

Esok paginya, baru kami jalan ke Pantai Losari. Pantai yang tanpa pasir. Kalo di Banjarmasin, mirip siring. Tapi di Banjarmasin yang disiring adalah pinggiran sungai, di sini pinggiran laut. Fungsinya hampir serupa tapi tak sama, banyak spot-spot untuk berfoto-ria. Maka itulah yang kami lakukan, menikmati matahari terbit sambil berfoto-foto. Sampai ke Mesjid Amirul Mukminin atau Mesjid Apung karena dibangun dipinggiran laut pantai Losari. Sayang, gerbangnya dikunci sehingga kami tidak bisa melihat-lihat interior mesjid.

Sebelum lalulintas ramai, kami bergegas kembali ke hotel. Sarapan, lalu bersiap kembali ke LPMP Sulsel untuk pamit. Karena siang ini juga kami harus kembali. Tapi sebelum ke bandara, lagi-lagi kami ditraktir makan Coto Makassar oleh Pak Asad dari LPMP Sulsel. Sudah itu dititip oleh-oleh lagi untuk orang kantor. Benar-benar pelayanan maksimal. Terimakasih semuanya...

  • view 106