Batubua, Desa 1001 Cerita

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 08 Maret 2016
Batubua, Desa 1001 Cerita

Senin, 7 Februari 2011

SEBENARNYA rencana mudik ke Batubua, sudah lama diniatkan. Perlu saya jelaskan di sini, Batubua adalah kampung halaman abah saya. Beliau lahir dan menghabiskan masa kecilnya di desa yang terletak di provinsi Kalimantan Tengah ini. Tapi hanya sampai kelas 5 SD, karena sejak itu beliau dikirim nenek saya untuk bersekolah di Banjarmasin. Sampai sekarang, bisa dihitung hanya beberapa kali Abah pulang mudik ke kampungnya ini. Pasalnya, nenek dan kakek saya pun kemudian menyusulnya untuk menetap di Banjarmasin, sampai akhirnya meninggal dan dikuburkan di Banjarmasin juga.

Meski demikian, masih banyak keluarga dan kerabat kami yang tinggal di sana. Itulah sebabnya ketika Ka Juli, sepupu saya yang mengajak saya mudik ke Batubua, saya pikir, ajakan tersebut ide yang bagus. Mengingat, saya baru 2 kali berkunjung ke Batubua. Pertama, ketika masih kecil, waktu saya berumur 5 tahunan, sehingga praktis hampir tak ingat apa-apa lagi, selain saya sempat sakit karena digigitin nyamuk, sehingga harus dibawa ke puskesmas? dengan jukung. Itu saja. Yang lainnya, sama sekali lupa. Kedua kalinya saya mudik ke Batubua ketika masih SMA, berarti sekitar tahun 1990-an. Jadi, sudah 20 tahunan. Sudah sangat lama.

Dulu akses jalan darat belum seperti sekarang. Untuk ke Batubua, kami harus naik kapal yang biasa disebut taksi, jurusan Banjarmasin ? Purukcahu. Tiga hari tiga malam berada dalam kapal tersebut, baru sampai ke Kota Kecamatan, Muara Lawung. Dari sana perjalanan dilanjutkan dengan naik kelotok yang memakan waktu seharian, baru sampai di Desa Batubua.

Perlu waktu yang lama memang, paling tidak untuk pulang-pergi, minimal seminggu. Tidak seperti sekarang, sudah banyak jalan darat dibangun pemerintah untuk membuka akses ke daerah-daerah yang dulu hanya bisa dicapai melalui perjalanan sungai. Sekarang, dalam waktu kurang dari 24 jam, dari Banjarmasin sudah bisa sampai ke Batubua, demikian juga sebaliknya.

Tapi bila soal kenyamanan dan menikmati perjalanan, sebenarnya saya lebih suka naik kapal. Karena selama perjalanan kita bisa menikmati pemandangan sepanjang sungai yang tidak setiap hari bisa kita lihat. Begitu beraneka kampung yang dilalui sepanjang pinggiran sungai. Ada perkampungan suku dayak. Ada juga kerimbunan hutan. Macam-macam pokoknya. Bila kapal singgah di kota kecamatan, missal seperti Muara Tuhup, biasanya banyak juga pedagang asongan yang menjajakan jualannya. Ya seperti terminal atau stasiun yang ada di daratan. Untuk makan sehari-hari selama perjalanan, penumpang bisa memaksa sendiri dengan membawa kompor dan peralatan masak lainnya. Atau membeli di warung kapal. Bagi orang mungkin perjalanan panjang seperti ini membosankan, tapi tidak bagi saya yang suka melihat pemandangan yang tidak biasa saya saksikan. Tapi yang jelas, saya tak mungkin naik kapal sekarang ini. Soalnya, waktu cuti yang diberikan terbatas. Jadi, nikmati saja perjalanan darat, apapun adanya.

Semula, Ka Juli mengajak saya mudik rencananya ketika musim buah. Karena pada saat musim buah, kami bisa berpesta buah sepuas-puasnya. Pasalnya, sebagaimana namanya, Desa Batubua kayak akan bermacam buah. Dinamakan Desa Batubua, karena ada bebatuan di sungai, yang bila sudah timbul berarti musim buah akan segara tiba. Itu menurut Rusdi, sepupu saya yang lain. Katanya, cerita ini didapatkan dari abahnya.

Tapi rencana mudik pada musim buah ini berubah ketika Kamarul, salah seorang kemenakan saya, akan menikah. Jadi rencana mudik dipercepat supaya bisa sekalian bisa menghadiri pesta perkawinannya. Lagipula, karena pemanasan global dan berubahan musim, agaknya musim buah yang biasanya datang sekitar bulan Desember, juga bergeser. Karena meski sudah Bulan Februari, pohon-pohon buah baru terlihat berbunga. Tidak bisa diramalkan, kapan akan panen buahnya.

Ketika Ka Idah, sepupu saya juga, mengabarkan rencana mudik ini, saya pun segera mengajukan permohonan cuti. Untungnya, permohonan ini dikabulkan, karena selama saya bekerja lebih dari 5 tahun lalu, saya belum pernah cuti secara resmi. (Paling sesekali bolos, hehehe?). Lima hari saja, karena saya berangkat dengan para sepupu saya, Ka Kun, Ka Idah, dan Ka Juli --- mereka ini bersaudara kandung. Selain itu ikut juga 2 keponakan saya, anak Ka Idah, Rahma yang baru 9 tahun dan adiknya Edo yang baru 4 tahun.

Pagi Senin saya sudah bersiap karena sudah cuti, meskipun kami berangkatnya sore. Sekitar pukul 15:00 Wita saya ke Kuripan, karena kami janji berkumpul di Rumah Ka Kun yang berlokasi di Kuripan.? Di sana sudah ada Rahma dan Edo. Sementara Ka Idah, Ibunya, sibuk menyiapkan dan mengepak barang bawaan mereka. Sementara Ka Juli akan disinggahi bis di Rantau, karena Ka Juli memang tinggal di sana. Dan ternyata, bukan hanya kami yang berangkat, karena juga Ma Mui dan keluarganya akan bergabung dengan kami. Ma Mui adalah keluarga? kami yang juga orang Batubua yang punya usaha jual-beli karet sehingga sering berada di Banjarmasin, bahkan punya rumah juga untuk menetap selama berurusan dagang di sini.

Hampir pukul 17:00 wita, rombongan Ma Mui menjemput kami untuk menuju ke Terminal Km. 6. Kami segera berangkat. Saat itu bis ?Hayak Tamara? bertujuan ke Muara Teweh yang tiketnya sudah kami pesan memang sudah siap berangkat sesuai jadwal pukul 17:00 Wita. Setelah mengatur tempat duduk dan barang, kami berangkat. Saya duduk di kursi no. 1, paling depan dan sendirian. Sementara di samping saya, dipisahkan lorong, Ka Idah dan anak-anaknya. Rombongan lain di bangku belakang.

Sangat membosankan perjalanan ini. Pasalnya, bis berjalan lebih lambat dari kendaraan umum lain yang biasa saya naiki. Supirnya tampak terlalu berhati-hati. Hampir Isya, kami baru sampai ke Rantau, singgah untuk menjemput Ka Juli di terminal. Saat itu bis sudah dipenuhi penumpang. Lorong untuk berlalu-lalang juga diisi kursi untuk duduk penumpang. Meski dapat bangku sendiri, saya tetap tidak leluasa, jadinya kesulitan untuk tidur.

Bis 2 kali singgah untuk memberi kesempatan penumpang makan atau buang air. Pertama di Pangkal Pinang saat makan malam. Kedua di Ampah, ketika tengah malam. Tapi sesungguhnya, bis kami sering sekali berhenti untuk memberikan kesempatan supir beristirahat. Akibatnya, perjalanan kami memakan waktu lebih lama dari yang seharusnya. Meski tidak merasa mabuk, karena tidak menderita sakit kepala, tapi saya muntah juga. Benar-benar bukan perjalanan menyenangkan.

Selasa, 8 Februari 2011

SUNGGUH perjalanan yang melelahkan dan membosankan! Bis masih berhenti meski tujuan sudah dekat. Mungkin, supirnya sengaja menunggu terang. Belakangan saya ketahui, supir yang membawa kami masih baru sehingga terlalu berhati-hati bahkan cenderung takut. Pasalnya, selalu berada di belakang truk karena tidak berani menyalip.

Pagi sekitar pukul 07;00 WIB (karena Kalteng masuk Waktu Indonesia Barat), kami sampai juga di Terminal Muara Teweh. Ternyata sudah ada yang menunggu untuk menjemput kami. Menurut informasi Ka Idah, mereka adalah keluarga juga. Mobil yang membawa rombongan kami secara bergantian ke pelabuhan speedboat, disetir Imai, saudara Ipar Rusdi, sepupuku yang merupakan adik bungsu Ka Idah. ?Setelah membeli tiket speedboat yang tarifnya Rp.110.000 per orang, kami naik. Penumpang lain sangat banyak, sehingga kami harus berjejal-jejalan di dalam speedboat yang bisa memuat sekitar 30 orang, tapi dimaksimalkan sampai lebih. Saya sempat juga was-was dan deg-degan. Ingat kecelakaan transportasi sungai atau laut yang biasanya disebabkan kelebihan beban. Diam-diam saya berdoa supaya perjalanan kami lancar dan selamat sampai tujuan.

Di wilayah yang dinamakan------------ (maaf, saya lupa! Nanti kalo ingat, insyaallah, saya tambahkan) speedboat singgah di warung lanting. Memberi kesempatan pada penumpang untuk makan atau buang air. Tapi kebetulan rombongan kami punya bekal nasi bungkus, sehingga tidak perlu beli di warung ini yang harganya konon lebih mahal. Selain kami tampak rombongan lain dengan menumpang speedboat yang lebih kecil. Mereka berseragam dan memakai jaket keselamatan. Ternyata mereka rombongan karyawan perusahaan tambang batubara yang memang mulai marak di kawasan Kalimantan Tengah. Dulu perusahaan kayu yang banyak, sekarang justru batubara.

Tidak terlalu lama kami singgah, kurang dari se-jam. Perjalanan menyusuri sungai dengan speedboat dilanjutkan. Beberapa penumpang mulai turun karena sudah sampai tujuan. Sekitar 3 jam kami dalam speedboat, kami pun sampai di Belange, wilayah tujuan kami. Ka Idah sudah melihat Rusdi --- sepupu saya, yang menjemput kami, di lanting yang akan kami singgahi. Ada juga Syamsin dan Riduan. Keduanya keponakan saya. Ketika sudah sampai dan naik ke lanting, ternyata rombongan penjemput kami beranggota 6 orang dengan motor masing-masing.

Semula, mereka merencanakan kami naik truk Volvo yang biasa digunakan perusahaan batubara untuk mengangkut barang-barang. Pasalnya, truk-truk jenis ini memang banyak melintas. Biasanya, mereka mau saja mengangkut penumpang sampai ke kampung, asal tidak ditambah barang-barang. Beberapa orang sudah sempat naik truk Volvo. Yang paling belakangan saya dan Ka Juli. Tapi sekian lama menunggu, tidak ada truk yang lewat. Karena sudah menjelang tengah hari, kami pikir pasti mereka lagi istirahat. Akhirnya saya ajak saja Ka Juli untuk naik motor saja sampai ke kampung.

Jalan yang kami lewati sebenarnya lumayan bagus, dikeraskan dengan batu bara. Tapi juga agak berbahaya, karena kondisinya naik turun. Apalagi bila sampai ke bagian jalan yang ditutupi batubara berupa kerikil. Rawan untuk tergelincir. Untuk kemampuan naik motor saya yang pas-pasan, mungkin akan berjalan lambat karena terlalu berhati-hati. Tapi untuk mereka yang sudah menjadi penduduk kampung ini, sudah biasa. Saya yang membonceng Syamsin, dibawa dengan kecepatan yang menurut saya lumayan kencang sehingga terkadang harus menahan nafas.

Di tengah jalan, kami berpapasan dengan Ka Idah yang dibonceng Ali. Ban motornya gembos. Weallah?! Bila di Banjar, banyak tukang tambal ban. Tapi di sini, dengan cuaca panas menyengat, gembos ban adalah musibah yang sangat tidak diinginkan. Kami melanjutkan perjalanan. Setelah melewati jarak sekitar 45 km, akhirnya kami mulai memasuki kampung, Desa Batubua, Kecamatan Laung Tuhup, Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah.

Memasuki kampung, saya sedikit terkejut. Sangat jauh dengan kondisi kampung yang pernah terekam dalam ingatan saya ketika saya berkunjung 20 tahun lalu. Jalan-jalannya sudah disemen sehingga banyak motor bisa berseliweran. Rumah-rumah penduduknya juga sudah bagus-bagus.? Menurut cerita, kehidupan warga di sini berubah sejak perusahaan tambang batubara masuk, dan membebaskan tanah-tanah mereka yang terkena eksploitasi tambang. Banyak yang jadi kaya mendadak.

Syamsin singgah di rumahnya yang bersebelahan dengan rumah ayahnya, Ka Sutai, sepupu ipar saya. Di sinilah akan diadakan pesta perkawinan, pasalnya yang menikah, Kamarul, adalah adik Syamsin, anak Ka Sutai. Tapi tidak di sini saya menginap. Ka Juli mengajak saya menginap di rumah Rusdi, sepupu saya yang jadi PNS guru SMP di sini. Pasalnya, bila menginap di rumah pengantin, takut kami tidak bisa beristirahat. Jadi, saya dan Ka Juli dibawa Rusdi ke rumahnya, yang berlokasi sekitar 200 meter ke hulu.

Yah, begitulah bila tinggal di pinggiran sungai. Sebagai penunjuk arah memakai kata ?hulu? dan ?hilir?.? Maksudnya ke hulu, berarti memasuki sungai lebih ke pedalaman. Sementara ke hilir, maksudnya menuju kea rah muara sungai. Selain itu juga memakai istilah ?mudik? dan ?labuh?. Mudik bila perjalanan menuju hulu sungai yang berarti harus melawan arus. Sementara ?labuh? adalah perjalanan mengikuti arus sungai menuju muara.

Waktu zhuhur, saya sampai di rumah Rusdi. Istrinya, Irau, menyuruh kami mandi dan segera beristirahat. Selain dia, ada juga putri ke-2 Rusdi, Habibah yang berusia 4 tahunan. Saya pun segera mandi. Untunglah, rumah keluarga Rusdi yang berlantai 2 ini punya WC dan kamar mandi, sehingga saya tidak perlu ke batang untuk mandi. Bahkan, mereka juga fasilitas ledeng. Menurut informasi, ledeng ini dibangun dengan membendung sungai di bagian hulu, dan airnya kemudian dialirkan ke rumah-rumah warga. Setiap bulan, warga hanya ditarik biaya sebesar Rp.5.000,-.? Tapi meski demikian, masih banyak juga warga yang lebih suka mandi dan mencuci di sungai. Biasanya sih anak-anak dan kaum lelaki.

Terus terang, tinggal di rumah Rusdi membuat saya agak iri. Pasalnya, rumah ini mirip rumah impian saya. Terbuat dari kayu (karena di sini kayu memang masih bebas digunakan warga, beda dengan di Banjarmasin yang harganya sudah mahal sehingga orang lebih suka membangun rumah beton), dan mempunyai loteng. Yang membuat saya tertarik, watun atau batas setiap ruangan, dibuat lebih tinggi sekitar 25 cm. Dalam makalah saya tentang rumah Banjar, saya tahu rumah tradisional masyarakat Kalimantan biasanya mempunyai watun yang berundak-undak. Tapi saya tidak menyangka, bila sampai setinggi itu. Saya pikir paling sekitar 10 cm. Menurut Rusdi, hal itu sengaja untuk mengantisipasi bila air sungai naik. Jadi ruangan yang penting, misalnya; kamar tidur yang dibuat lebih tinggi, tidak cepat terendam air.

Setelah beristirahat sebentar, kami mengunjungi Julak --- kakak tertua abah saya yang menghabiskan masa tuanya di kampung ini. Meski juga memiliki anak yang tinggal di Banjarmasin, tapi Julak lebih suka tinggal di rumahnya sendiri. Kebetulan, di sekitar rumahnya juga ada rumah-rumah anaknya yang lain. Rumah Rusdi dekat dengan rumah Julak. Turun dari rumah, kami bisa ke rumah Julak lewat pintu dapurnya. Syukurlah, Julak kelihatan sehat, meski hanya bisa menemui kami sambil duduk di kasur yang digelar di lantai. Di samping rumah Julak, ada rumah Ka Wati, anaknya, dan dibelakang juga ada rumah Ka Aluh, anaknya yang lain. Mereka dan cucu-cucu yang bergantian merawat Julak.

Malamnya, hanya saya dan Ka Juli yang menginap di Rumah Rusdi. Ka Idah dan anak-anaknya --- Rahma dan Edo, serta Ka Kun menginap di Rumah Ka Sutai. Saya dan Ka Juli tidur di kamar sendiri, di atas kasur yang digelar di lantai, dan dilindungi kelambu bergambar Upin-Ipin. Menarik, karena saya lama tidak tidur dalam kelambu. Di sebelah kami, ada kamar Afifah, anak Rusdi yang pertama berusia 10 tahun. Sementara Rusdi dan istrinya, serta anak bungsunya, Habibah,? tidur di loteng. Selain untuk tidur, loteng tersebut punya balkon yang biasa digunakan untuk bersantai. Ada juga tali untuk menjemur pakaian.

Malam pertama di Batubua, kami tidur dengan nyenyak karena kecapekan. Bagi saya, perjalanan cukup jauh dan melelahkan.

Rabu, 9 Februari 2011

HARI ke-2 di Batubua, saya terbangun mendengar suara Rusdi Shalat Subuh dan berdzikir dari loteng. Saya bangun, dan hanya mencuci muka serta berwudhu untuk Shalat Subuh. Pasalnya, udara pagi di Batubua ternyata sangat dingin. Meski begitu, Ka Juli tetap mandi dan mencuci. Kalo saya sih, tidak kuat dingin. Setelah sarapan, baru saya mandi. Hehehe?

Setelah rapi, kami segera di rumah Ka Sutai. Di sana sudah mulai terjadi kesibukan persiapan pesta perkawinan. Sudah banyak keluarga dan warga desa yang datang. Banyak bertanya tentang saya. Saya diperkenalkan para sepupu saya sebagai anak Amang Bainie? hehehe?. Soalnya, yang ngetop di sini kan abah, bukan saya. Mereka ?bericau? pake Bahasa Bakumpai. Rame benar!

Ada yang bertanya, apakah saya mengerti, saya cuma tersenyum sambil menjawab, ?Sedikit?. Tidak mengertinya banyak.? Mereka pun tertawa. Saya kan hidup di Banjarmasin, darimana bisa belajar Bahasa Bakumpai. Andai saya tinggal di sini berbulan-bulan, mungkin lama-lama bisa mengerti juga. Contohnya adalah istri Syamsin, Rahma, yang orang Banjar asli. Dia pindah ke sini mengikuti suaminya yang diterima bekerja di perusahaan tambang batubara sekitar 2 tahun lalu. Sekarang, dia sudah mengerti bahasa yang dipakai di sini, meski dia menyahut masih dengan Bahasa Banjar. Komunikasi dengan 2 bahasa berbeda, tapi tetap nyambung.

Ada yang pernah bertemu saya ketika saya berkunjung sekitar 20 tahun yang lalu, mengatakan saya dulu ?basepot?. Nah, kalo kata yang satu ini saya ngerti. Basepot artinya lamak dalam Bahasa Banjar atau gemuk, atau gendut, atau lemu atau bapuk dalam Bahasa Jawa. Hehehe?! Wah, ternyata saya diingat karena ?gendut?nya. Baru tahu, sebegitu gendutnya kah saya dulu? Kalo sekarang sudah tidak gendut lagi, apa saya masih akan diingat?

Sebenarnya, saya pengen bantuin orang kerja. Tapi saking banyaknya orang yang membantu bekerja, lama-lama saya bingung juga harus ngerjain apa. Akhirnya, saya lebih banyak membantu menjagai anak-anak bermain. Maklum, Rahma dan Edo yang banyak bertemu anak-anak sebaya jadi mabuk bermain dengan mereka. Ada 2 anak Rusdi, Afifah dan Habibah yang juga merupakan keponakan saya. Tapi selebihnya adalah cucu-cucu saya. Haaahhh? cucu??

Ketika diperkenalkan dengan cucu-cucu ini, saya hanya bisa nyengir. Ternyata saya sudah banyak punya cucu. Mereka anak-anak para keponakan saya. Apa boleh buat! Kebiasaan di desa menikah muda, jadi hampir semua keponakan saya sudah menikah meski usianya masih muda. Bila dihitung-hitung, anak Riduan 2 perempuan, anak Syamsin 2 laki-laki, anak Halis 1 perempuan 1 laki-laki, dan anak Nisa 1 perempuan. Itu baru keponakan yang anak Ka Sutai. Belum lagi dari keponakan yang lain. Saya sampai tidak hapal berapa cucu saya sebenarnya. Untuk menghapal nama mereka semua, pasti saya lebih kesulitan lagi. Padahal, saya sekian lama berusaha mengawasi mereka bermain.

Makan siang kami lebih awal, karena untuk menjamu para tetangga yang membantu persiapan pernikahan. Menunya sangat sederhana, yakni; sayur umbut dan udang papai (jenis udang paling kecil --- mirip udang rebon ?kali), serta ikan asin. Meski sederhana, menurut saya cukup enak.? Mungkin karena saya jarang makan menu ini, hampir tidak pernah malah. Udang papai dulu saya sempat tidak suka, tapi kok sekarang rasanya jadi enak, ya? Mungkin karena makannya bareng orang banyak. Atau mungkin karena saya berubah jadi rakus? Hehehe?. !

Karena di rumah Ka Sutai makin banyak yang datang dan menginap, akhirnya Ka Idah dan 2 anaknya, Rahma dan Edo, malamnya menginap di rumah Rusdi juga. Mereka rame-rame tidur di loteng.

Kamis, 10 Februari 2011

HARI ke-3 di Batubua adalah hari yang dinanti karena hari inilah pesta pernikahan dilangsungkan. Perlu saya jelaskan, Desa Batubua terbagi 2, Desa Batubua 1 dan Batubua 2 yang letaknya berseberangan. Sungai yang memisahkan ke-2 desa ini sekarang sudah dihubungkan oleh jembatan gantung. Jadi, untuk menyeberang tidak perlu pake jukung lagi. Naik motor pun bisa, karena sudah ada jembatan. Tapi bagi yang tidak ahli, cukup menyulitkan menyeberang dengan naik motor, karena kondisi jembatan cukup curam.

Setelah makan di rumah Ka Sutai, rumah pengantin Pria dengan menu soto ayam suwir, saya dan Ka Idah menghadiri undangan pihak pengantin wanita. Selain Ka Idah, ada Rahma dan Irau yang menemani kami. Kami berjalan kaki menuju rumah pengantin wanita yang berlokasi di desa seberang, Desa Batubua 2. Menyeberang lewat jembatan gantung. Bagi kami yang jarang berjalan kaki, dari Desa Batubua 1, menyeberang ke Desa Batubua 2 dan terus berjalan ke hulu? sekitar 500 meter cukup melelahkan. ?Setelah makan dengan menu sama, yakni soto ayam dengan daging utuh, kami kembali ke Desa Batubua 1. Sebelumnya, kami menyempatkan diri menonton hiburan, organ tunggal yang mengundang rombongan artis dari Muara Teweh. Ternyata, pimpinan rombongan masih sepupu saya. Yang jadi MC adalah sepupu saya yang tinggal di Muara Teweh, Ila. Dia juga ikut bernyanyi dan bergoyang bersama 5 artis yang dibawanya. Selain itu, kami juga sempat berkunjung ke rumah Ka Abil, sepupuku yang lain.

Menjelang siang, saya diajak ke rumah pengantin wanita lagi. Kali ini dalam rangka mengantar Kamarul, sang pengantin pria. Katanya sih, menurut tradisi sambil diarak. Itulah sebabnya, sebelumnya Kamarul didandani. Saya membantu memasang dasi. Kebetulan, orang perhotelan seperti saya cukup piawai memasang dasi. Tapi untuk yang lainnya, tidak bisa. ?Hehehe?!

Setelah siap pengantin pria turun dari rumah dengan rombongan pengarak di sekitarnya. Yang ?menggapit?, maksudnya mendampingi pengantin ada Rahma, istri Syamsin dan Halis, di kiri dan kanannya. Sementara di bagian belakang ada Irau, istri Rusdi, siap dengan kipas dan saputangan, menjaga pengantin dari keringat yang mengganggu. Selain itu, ada juga Ka Idah dan Edo. Sementara anak-anak lain juga berada di sekitarnya.

Di belakang rombongan, ada jejeran para lelaki, tua dan muda, sebanyak 4 orang. Di belakang mereka, berbaris para lelaki lain sampai puluhan orang. Mereka menari berselang-seling, mengikuti alunan shawalat yang dilantunkan penyanyi yang berdiri di hadapan pengantin. Mereka para lelaki yang sudah berumur, berdendang lengkap dengan catatannya. Mungkin, takut lupa.

Cukup panjang juga lagu yang harus diselesaikan sebelum rombongan berjalan menuju rumah pengantin wanita. Rombongan berjalan cepat,menghindari udara panas yang menyengat. Menyeberang jembatan gantung. Sampai di kawasan yang agak teduh, kembali berhenti dan melantunkan lagu. Lagi-lagi diiringi tarian selang-seling barisan panjang para lelaki.

Terakhir, rombongan berhenti di dekat rumah pengantin wanita. Ada acara penyambutan berupa adu kuntao atau silat. Ada 2 pria dari rombongan pengantin laki-laki berhadapan dengan 2 pria dari pihak pengantin wanita. Mereka beradu jurus. Cukup seru kelihatannya. Jadi tontonan yang cukup menarik. Setelah pihak pengantin perempuan menyerah, rombongan pengantin laki-laki dipersilakan masuk. Acara dilanjutkan dengan foto-foto. Hanya saja, Edo sedang rewel sehingga saya hanya bisa menemani Ka Idah yang sibuk membujuknya, menunggu di luar.

Rombongan kembali ke rumah pengantin pria. Kali ini membawa pengantin wanita. Tapi rombongan terpisah. Pasalnya, pasangan pengantin bersama para pengiringnya akan diantar naik speedboat. Karena speed-nya cuma satu, berarti harus bergantian. Bagi rombongan yang tidak sabar menunggu, memilih berjalan kaki untuk kembali. Edo yang sedang rewel tidak mau diajak naik speed karena dia mengira akan dibawa pulang ke Banjar. Akhirnya, Ka Idah berjalan sendiri menggendongnya untuk kembali.

Sementara saya dan rombongan anak-anak menunggu giliran dijemput speed. Pasangan pengantin dan sebagian pengiringnya diantar pertama. Speed kembali menjemput rombongan pengiring lainnya. Terakhir, saya yang naik speed bersama Syamsin, Rusdi, dan beberapa anak-anak. Senangnya bisa menyusuri sungai naik speed. Saat melintas jembatan, kami melihat Ka Idah dan Edo masih berada di atas jembatan. Kami singgah di lanting rumah Ka Sutai.

Acara di rumah pengantin pria adalah menggelar kue pengantin. Acara foto-foto terus berlanjut. Lalu acara bersalaman atau sujud. Menjelang sore, pasangan pengantin kembali ke rumah pengantin wanita. Rencananya, inilah malam pertama pengantin pria menginap di rumah istrinya. Jadi, pengantin pria membawa barang-barang pribadinya untuk keperluan di sana dengan sebuah tas ransel.

Lucu juga melihat pasangan pengantin dengan seorang pengiringnya, menuruni tebing yang curam karena air sungai masih surut. Pengantin wanita terpaksa melepas sandal tingginya dan pengantin pria menuntunnya. Melihat pengantin naik speed, Edo menangis minta ikut. Meski sudah dibujuk, dia tetap rewel. Akhirnya Rusdi meminta supir speed untuk kembali guna membawa kami jalan-jalan, menikmati Desa Batubua lewat sungai.

Inilah pengalaman yang paling mengesankan. Saya, Ka Idah, Ka Juli, Rusdi, Edo, Rahma, Habibah, dan Isra, anak sulung Syamsin, naik speed menyusuri sungai yang membelah Desa Batubua menjadi Batubua 1 dan Batubua 2. Sensasinya tak terperikan. Mulanya kami ke hulu dulu sampai ujung desa, lalu belok, dan menuju hilir. Maksudnya sih mau melihat riam yang ada di sana. Ternyata, meski tidak terlalu dalam, tapi riam masih tidak terlihat. Akhirnya kami berbalik lagi, kembali menuju lanting Ka Sutai. Tapi sepanjang sungai, saya melihat lanting toko yang menjual rak piring. Kata Ka Juli, yang berjualan itu orang Negara.

Rasanya puas setelah sampai kembali ke darat. Untung, saya sempat mendokumentasikan pengalaman ini lewat fasilitas video hp saya yang pas-pasan. Paling tidak, ada bukti oleh-oleh cerita yang akan saya bawa sampai ke Banjarmasin. Tentunya, khusus diperuntukkan bagi Abah dan Iwan, adik saya yang tidak ikut mudik.

Jumat, 11 Februari 2011

HARI ke-4 di Batubua sebenarnya banyak rencana yang akan dilakukan, tapi berantakan gara-gara seharian hujan. Mulanya kami ingin berkunjung ke perusahaan tambang batubara di mana banyak warga Batubua bekerja. Juga berencana hendak menjelajah hutan, menuju air terjun kecil di desa ini. Tapi hujan tidak berhenti dan tetap deras dari pagi, sampai siang. Bahkan warga yang ingin Shalat Jumat pun agak kesulitan ke mesjid. Akhirnya, kami hanya tinggal di rumah seharian. Untung, Ka De, anak tertua julak berkunjung. Selain itu ada Robi, anak bungsu julak dan istrinya yang tinggal di Muara Lawung juga mengunjungi kami di rumah Rusdi. Jadi, kami menghabiskan waktu dengan ngobrol dan tidur. Hehehe?

Setelah Ashar baru hujan benar-benar berhenti. Kami hanya sempat jalan-jalan menyusuri jalan desa. Kami juga melihat air sungai naik dan arusnya menjadi deras. Kami berkunjung ke rumah Halis yang berlokasi di hilir desa. Dia membuka warung pancarekanan. Di desa Batubua yang membuka usaha warung serupa memang banyak, paling selang dua tiga rumah. Akses ke desa ini memang tidak sesulit dulu lagi. Oya, kalau dulu belum ada listrik, sekarang sudah ada, meski menyala dari pukul 05:00 ? 22:00 Wita saja. Kalau ingin ada listrik 24 jam, terpaksa disambung pake genset.

Setelah singgah di rumah Halis, kami juga ke rumah Riduan. Sempat juga berjalan ke ujung desa, melihat bis yang mengantar jemput warga desa yang jadi karyawan perusahaan batubara. Menjelang Magrib, kami sampai lagi ke rumah Rusdi. Besok pagi-pagi, kami harus bersiap untuk ?labuh?, kembali ke Banjarmasin.

Sabtu, 12 Februari 2011

HARI terakhir di Batubua, saya bangun pagi-pagi, dan mandi pagi-pagi juga, meski harus menggigil menahan dingin. Takut ketinggalan. Sebagian barang sudah saya kemas. Tinggal sebagian yang menyusul. Saya, Ka Juli, Ka Idah, dan Rahma masih menginap di Rumah Rusdi. Hanya Ka Kun dan Edo yang menginap di Rumah Syamsin dan Ka Sutai yang bersebelahan dan nyambung bagian dapurnya.

Beberapa motor kembali bersiap untuk mengantar kami. Setelah berpamitan, kami banyak dapat ?sangu? makanan guna di perjalanan. Saya kebagian membawa sebundaran roti gambung. Saya ikut motor yang dikendarai Anang, salah seorang keponakan sepupu. Kami dibawa ke terminal? perusahaan tambang. Pasalnya, perusahaan menyediakan bis setiap pagi yang akan berangkat ke Belange, wilayah pelabuhan sungai yang dimiliki perusahaan. Selain karyawan perusahaan, warga sekitar juga boleh ikut menumpang. Semuanya, gratis!

Jadi, tidak mengherankan bila penumpang bis berjubel kayak ikan sarden. Berdesak-desakan. Ini karena Hari Sabtu, banyak warga yang memang ingin keluar Batubua. Tujuannya, beragam. Kata mereka, hanya hari Sabtu-Minggu yang begini. Kalo hari lain, penumpang biasanya sepi. Selain kami yang akan labuh ke Banjar, Rusdi, Syamsin dan Istrinya Rahma serta Isra dan Neja, 2 anaknya ikut naik bis. Ada juga Ali, suami Nisa. Mereka ingin mengantar kami sampai Belange.

Hampir 2 jam lebih kami dalam bis yang penuhnya minta ampun. Jalan yang dilalui, sama dengan ketika saya naik motor pas berangkat. Kami melewati kawasan perusahaan. Juga sempat singgah di pengisian bbm perusahaan sebelum melanjutkan perjalanan. Akhirnya, sampai kami ke Belange. Kayaknya sih, pelabuhan sungai ini dibangun oleh pihak perusahaan tambang juga. Pasalnya, selain angkutan umum berupa kelotok dan speed, juga ada beberapa kapal tongkang pengangkut batubara yang bersandar.

Rombongan kami naik kelotok sebagaimana yang direncanakan. Tidak lagi naik speedboat seperti berangkat. Selain tarifnya lebih murah, hanya Rp70.000,- per orang, kami juga tidak perlu takut terlambat. Pasalnya, berjalanan kami kali ini ?menghilir? alias mengikuti arus sungai, jadi biarpun kelotok, jalannya tetap akan laju.

Kami pun harus mengucapkan selamat tinggal kepada para pengantar kami. Edo tidak ingin pulang, melihat banyak yang tidak naik kelotok. Untung, dia tidak menangis. Kami naik kelotok dengan santai karena penumpangnya tidak berdesak-desakan seperti di speedboat. Kami bisa tidur-tiduran. Kelotok juga singgah di warung untuk memberi kesempatan pada penumpang mengisi perut.

Pas Zhuhur, kami sampai di pelabuhan kelotok Muara Teweh. Kami naik ojek untuk ke terminal Muara Teweh. Untungnya, sebelumnya sudah memesan tiket, jadi tidak khawatir kehabisan. Tapi bis baru berangkat pukul 15:00 WIB. Akhirnya kami menunggu jam keberangkatan di Langgar terminal. Ka Idah menelpon beberapa sepupu yang tinggal di Muara Teweh. Maksudnya, agar mereka mendatangi kami di terminal, soalnya kami sendiri tak mungkin singgah ke rumah mereka. Asih dan seorang sepupu benar datang. Cukup lama waktu bercerita sampai jam keberangkatan bis tiba.

Saya sempat khawatir akan mabuk lagi seperti berangkat. Makanya, saya sempatkan beli tissue dan membawa banyak kantong plastic. Tapi ternyata tidak seburuk yang saya duga. Lagipula jalannya bis tidak selambat ketika berangkat. Magrib kami singgah di Ampah, dan sempat makan bakso. Tengah malam singgah lagi di warung ketupat Kandangan, di Kandangan.? Saya tidak makan karena sakit perut tapi sulit buang air. Sekitar pukul 03:00 Wita, kami sampai di terminal Km 6 Banjarmasin. Ka Wahyu, suami Ka Idah menjemput. Karena saya tidak mau membangunkan Iwan untuk menjemput, saya memilih naik ojek dan menginap di Kuripan. Jadi, ojek kami bisa jalan se arah.

Kesalnya, tukang ojek yang sudah kami sepakati tariff Rp15.000,- per motor untuk ke Kuripan, sampai di tujuan minta tambah Rp.5.000,-. Katanya, karena bawaannya banyak. Padahal, tukang ojeknya sendiri yang menawarkan diri untuk membawakan tas kami. Padahal di motor lain juga masih bisa. Tapi tak apalah. Yang penting, kami semua sudah sampai di Banjarmasin dengan selamat, dan membawa kenangan selama berkunjung ke Batubua. Yang paling berkesan adalah suasana keakraban dan kekeluargaan khas masyarakat desa yang sudah jarang ditemui.

?

  • view 144