Suksesi

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Maret 2016
Suksesi

MATAHARI menyengat garang. Bahkan gumpalan awan pun enggan mendekat, sehingga sang bagaskara semakin leluasa menebarkan kemurkaan ke muka bumi. Sementara hembusan angin yang terasa garing, sama sekali tidak menyuguhkan kesejukan. Sebaliknya, justru mengirim debu-debu beterbangan, membuat alam kian kerontang.

Hampir tengah hari ketika Miranti sampai di depan gerbang sekolah. Sudah hampir dua tahun dia membagi waktunya, untuk pekerjaannya di kantor, dan mengajar di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan swasta yang dikelola sebuah yayasan di kota ini. Tidak tetap memang, hanya berstatus honorer. Namun Ranti menikmati kerja sambilannya ini. Menularkan ilmu kepada murid ternyata perlu seni tersendiri. Apalagi sebagian besar muridnya masih berstatus remaja labil dengan bermacam-macam tingkah lakunya, merangkai suka duka yang semakin memberi warna hidupnya.

Setelah mematikan mesin, Ranti menuntun motornya memasuki pintu gerbang. Bu Yayah --- salah seorang guru yang bertugas mengawas, membukakan pintu. Ranti menyemai sekuntum senyum disertai desahan terima kasih.

Beberapa guru tampak berkumpul di bangku taman yang dinaungi payung. Tampaknya mereka sedang terlibat diskusi serius. Terbukti, wajah-wajah mereka menggambarkan ketegangan.

Seketika itu juga, hawa panas kembali menyergap. Ranti mendesah. Padahal dia baru saja terpanggang sinar mentari sepanjang jalan. Namun rasanya tidak lebih menyiksa daripada sekarang, saat dia memasuki lingkungan sekolah yang sebenarnya cukup rindang.

Ternyata panas matahari tidak berarti apa-apa dibanding tingginya suhu ?perpolitikan? di sekolah, batin Ranti geli. Meski dia hanya seorang guru honor, namun waktu beberapa jam yang dia habiskan untuk mengajar cukup untuk mendeteksi meningkatnya temperature hubungan struktural ?pejabat teras? sekolah. Padahal pemilihan Kepala Sekolah baru saja berlalu, dan berlangsung tertib nyaris tanpa kendala. Hasil pemungutan suara para guru --- baik yang berstatus PNS, Guru Tetap Yayasan, ataupun guru honor memutuskan Pak Darmawan kembali terpilih untuk menjabat Kepala Sekolah periode berikutnya, setelah tiga tahun periode lalu juga dipercaya yayasan untuk memimpin sekolah ini. Tak ada protes dengan hasil tersebut. Apalagi demo atau unjuk rasa.

Tapi baru beberapa bulan, suasana adem ayem berubah seratus delapan puluh derajat. Pemicunya? apalagi kalau bukan duit ? uang ? fulus ? money --- atau yang bahasa halusnya disebut ?dana?. Beberapa program dan proyek yang diadakan sekolah dananya terus membeku alias tidak cair-cair. Hal ini yang kemudian memicu kasak-kusuk, kabar burung, gosip dan isu yang bersumberkan pada prasangka buruk.

?Kami malu! Masak, saya dan Bu Rita sampai ditanyain pihak dunia usaha karena honor mereka membantu ujian produktif kita tidak dibayar-bayar?? cetus Bu Hafsyah --- Ketua Jurusan Akuntansi.

?Iya. Dikira, kami yang tidak ngasih,? sambung Bu Rita --- Ketua Jurusan Pariwisata.

Benar, kan? Pasti masalah itu-itu juga. Ranti membatin sambil mencari tempat parkir yang cukup terlindung. Suara diskusi mereka terlalu nyaring untuk tidak tertangkap gendang telinganya. Bukti emosi mereka mulai meninggi sehingga volume suara nyaris tak terkontrol.

Ujian produktif atau terkadang disebut juga ujian kompetensi adalah sebuah evaluasi untuk murid-murid SMK kelas 3 guna mengukur tingkat keahlian mereka sesuai jurusan yang dipilih. Supaya hasilnya lebih diakui, ujian ini melibatkan pihak dunia usaha sebagai penilai. Mereka yang berhasil lulus akan mendapatkan sertifikat keahlian sebagai nilai tambah para alumnus saat berniat melamar pekerjaan.

Ujian ini sudah diselenggarakan sekitar satu bulan lalu. Miranti juga terlibat, karena mata pelajaran yang dia berikan termasuk yang diujikan. Tugasnya membuat soal bekerjasama dengan pihak dunia usaha, dan memberikan penilaian sebagai pembanding hasil penilaian dunia usaha. Selain itu, dia juga ikut mengawas saat ujian. Biasanya setelah ujian selesai, honor jerih payah itu sudah diterimanya. Namun untuk tahun ini --- sampai sekarang dia belum menerima apa-apa.

?Itu dua bulan lalu. Apalagi dana PSG. Dua bulan juga tidak dibayarkan. Padahal, itu kan dana buat transport. Seharusnya dibayar duluan, bukannya diutang,? tandas Pak Ridwan.

Tanpa sadar, Ranti tersenyum miris. Dia juga terlibat di program ini. PSG adalah program magang kerja untuk murid-murid kelas II.? Mereka dikirim ke berbagai perusahaan sesuai jurusannya untuk praktek kerja secara langsung sekaligus membandingkannya dengan teori yang pernah mereka dapat di bangku sekolah. Untuk mengawasi para murid yang sedang magang ini, ditunjuk guru pembimbing. Setiap bulan, guru pembimbing wajib mengunjungi perusahaan untuk mengontrol perkembangan siswa yang magang di sana. Untuk itu, mereka diberikan dana transportasi seadanya.

?Jangan ditanya dana UAS dan UAN, apalagi dana PSB! Itu kan lebih belakangan lagi,? sambung yang lain tak kalah bersemangat.

?Kata Pak Darmawan, emang dananya dari yayasan belum cair,? kata Bu Gita --- guru matematika yang baru saja wisuda. ?Soalnya, dana itu terpakai untuk membuka jurusan baru.?

?Ah, kata Andre --- bendahara yayasan, dananya sudah cair, kok,? tegas Bu Indah --- guru PPKn yang berstatus PNS? paling senior sekaligus Ketua Jurusan Penjualan. ?Berarti, macetnya di sini, bukan di yayasan.?

?Kalau kita laporkan ke yayasan, posisi Pak Darmawan bakal terancam. Berarti, tragedi berulang lagi. Kepala sekolah sebelum Pak Darmawan, juga terguling karena masalah seperti ini,? ucap Bu Sumiati --- wakil kepala sekolah bidang kesiswaan yang juga berstatus PNS.

Ranti beringsut menjauh. Lebih baik ke kantor, pikirnya. Dia enggan ikut terbelit dalam kemelut itu. Toh, dia hanya guru honor. Meski dia termasuk guru yang dirugikan, namun baginya bukan masalah besar. Bagi Ranti, menjadi guru hanya untuk menunaikan kewajiban mengajar ilmu bermanfaat, bukan untuk menutupi kebutuhan ekonomi. Gajinya di kantor sudah lebih dari cukup sehingga dia tidak merasa keberatan dengan dana yang tersendat.

Namun, dia juga maklum bila sebagian guru protes. Tidak semua guru punya penghasilan lain seperti dirinya. Beberapa rekan sesama guru honor, benar-benar bergantung pada penghasilan mereka di sekolah. Bila hasil jerih payah mereka diutang, apa mereka juga harus puasa?

?Assalamualaikum!? ucapnya melihat sepasang sepatu teronggok di depan pintu kantor.

?Waalaikum salam!? Bu Tantri yang sedang asyik menekuri catatan mengangkat wajah.

?Uh, panas sekali!? Ranti segera mendekati kipas angin.

?Pasti panasnya bukan hanya karena sengatan matahari.? Bu Tantri tersenyum penuh arti.

Ranti balas tersenyum. ?Yah, suasananya yang jauh lebih panas. Terutama di depan. Mereka saling mengipas, tapi justru membuat suasana makin panas.?

?Itu sebabnya kamu langsung masuk??

?Salah satunya.? Ranti menunjuk meja tulisnya yang hampir tertutup tumpukan buku tugas murid-muridnya. ?Yang lain karena banyak tugas dan ulangan yang belum diperiksa.?

Bu Tantri mengerling. Dia mengangkat bahu, kemudian melanjutkan pekerjaannya.

?

?

?SEBELUMNYA, saya minta maaf kepada Bapak-bapak dan ibu-ibu guru --- terutama yang terlibat dalam kegiatan PSG, Ujian Produktif, UAS, UAN, dan beberapa kegiatan lainnya. Dana untuk kegiatan-kegiatan tersebut belum dicairkan yayasan, berhubung yayasan memerlukan dana itu untuk membuka jurusan pasca sarjana di STIA,? tutur Pak Darmawan.

Melalui sudut matanya, Ranti menatap wajah para guru. Dalam hati dia bertanya-tanya, apakah mereka juga ?bermain? dengan praduga dalam benak masing-masing seperti dirinya. Terlebih, saat mendengar kalimat pembuka yang diucapkan Kepala Sekolah.

Yayan yang mengelola mereka memang tidak hanya mengurusi SMK ini, melainkan juga sebuah Sekolah Tinggi swasta. Letak gedungnya bersebelahan, sehingga meski dikelola secara terpisah, perkembangannya tetap saling mempengaruhi.

Tiba-tiba saja Ranti merasa hatinya tidak enak. Firasatnya mengatakan, ada peristiwa besar yang akan terjadi. Undangan rapat diterimanya kemarin, tergeletak di atas mejanya. Selembar lagi undangan ditempel di papan pengumuman. Dalam undangan tersebut, dikatakan agenda rapat adalah membicarakan rencana diselenggarakannya ulangan umum untuk anak kelas I dan II. Namun mengingat suasana sekolah yang tidak menentu, tidaklah mengejutkan bila forum rapat digunakan untuk mengklarifikasi kesimpang-siuran gosip dan isu yang terlanjur menyebar.

MATAHARI menyengat garang. Bahkan gumpalan awan pun enggan mendekat, sehingga sang bagaskara semakin leluasa menebarkan kemurkaan ke muka bumi. Sementara hembusan angin yang terasa garing, sama sekali tidak menyuguhkan kesejukan. Sebaliknya, justru mengirim debu-debu beterbangan, membuat alam kian kerontang.

Hampir tengah hari ketika Miranti sampai di depan gerbang sekolah. Sudah hampir dua tahun dia membagi waktunya, untuk pekerjaannya di kantor, dan mengajar di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan swasta yang dikelola sebuah yayasan di kota ini. Tidak tetap memang, hanya berstatus honorer. Namun Ranti menikmati kerja sambilannya ini. Menularkan ilmu kepada murid ternyata perlu seni tersendiri. Apalagi sebagian besar muridnya masih berstatus remaja labil dengan bermacam-macam tingkah lakunya, merangkai suka duka yang semakin memberi warna hidupnya.

Setelah mematikan mesin, Ranti menuntun motornya memasuki pintu gerbang. Bu Yayah --- salah seorang guru yang bertugas mengawas, membukakan pintu. Ranti menyemai sekuntum senyum disertai desahan terima kasih.

Beberapa guru tampak berkumpul di bangku taman yang dinaungi payung. Tampaknya mereka sedang terlibat diskusi serius. Terbukti, wajah-wajah mereka menggambarkan ketegangan.

Seketika itu juga, hawa panas kembali menyergap. Ranti mendesah. Padahal dia baru saja terpanggang sinar mentari sepanjang jalan. Namun rasanya tidak lebih menyiksa daripada sekarang, saat dia memasuki lingkungan sekolah yang sebenarnya cukup rindang.

Ternyata panas matahari tidak berarti apa-apa dibanding tingginya suhu ?perpolitikan? di sekolah, batin Ranti geli. Meski dia hanya seorang guru honor, namun waktu beberapa jam yang dia habiskan untuk mengajar cukup untuk mendeteksi meningkatnya temperature hubungan struktural ?pejabat teras? sekolah. Padahal pemilihan Kepala Sekolah baru saja berlalu, dan berlangsung tertib nyaris tanpa kendala. Hasil pemungutan suara para guru --- baik yang berstatus PNS, Guru Tetap Yayasan, ataupun guru honor memutuskan Pak Darmawan kembali terpilih untuk menjabat Kepala Sekolah periode berikutnya, setelah tiga tahun periode lalu juga dipercaya yayasan untuk memimpin sekolah ini. Tak ada protes dengan hasil tersebut. Apalagi demo atau unjuk rasa.

Tapi baru beberapa bulan, suasana adem ayem berubah seratus delapan puluh derajat. Pemicunya? apalagi kalau bukan duit ? uang ? fulus ? money --- atau yang bahasa halusnya disebut ?dana?. Beberapa program dan proyek yang diadakan sekolah dananya terus membeku alias tidak cair-cair. Hal ini yang kemudian memicu kasak-kusuk, kabar burung, gosip dan isu yang bersumberkan pada prasangka buruk.

?Kami malu! Masak, saya dan Bu Rita sampai ditanyain pihak dunia usaha karena honor mereka membantu ujian produktif kita tidak dibayar-bayar?? cetus Bu Hafsyah --- Ketua Jurusan Akuntansi.

?Iya. Dikira, kami yang tidak ngasih,? sambung Bu Rita --- Ketua Jurusan Pariwisata.

Benar, kan? Pasti masalah itu-itu juga. Ranti membatin sambil mencari tempat parkir yang cukup terlindung. Suara diskusi mereka terlalu nyaring untuk tidak tertangkap gendang telinganya. Bukti emosi mereka mulai meninggi sehingga volume suara nyaris tak terkontrol.

Ujian produktif atau terkadang disebut juga ujian kompetensi adalah sebuah evaluasi untuk murid-murid SMK kelas 3 guna mengukur tingkat keahlian mereka sesuai jurusan yang dipilih. Supaya hasilnya lebih diakui, ujian ini melibatkan pihak dunia usaha sebagai penilai. Mereka yang berhasil lulus akan mendapatkan sertifikat keahlian sebagai nilai tambah para alumnus saat berniat melamar pekerjaan.

Ujian ini sudah diselenggarakan sekitar satu bulan lalu. Miranti juga terlibat, karena mata pelajaran yang dia berikan termasuk yang diujikan. Tugasnya membuat soal bekerjasama dengan pihak dunia usaha, dan memberikan penilaian sebagai pembanding hasil penilaian dunia usaha. Selain itu, dia juga ikut mengawas saat ujian. Biasanya setelah ujian selesai, honor jerih payah itu sudah diterimanya. Namun untuk tahun ini --- sampai sekarang dia belum menerima apa-apa.

?Itu dua bulan lalu. Apalagi dana PSG. Dua bulan juga tidak dibayarkan. Padahal, itu kan dana buat transport. Seharusnya dibayar duluan, bukannya diutang,? tandas Pak Ridwan.

Tanpa sadar, Ranti tersenyum miris. Dia juga terlibat di program ini. PSG adalah program magang kerja untuk murid-murid kelas II.? Mereka dikirim ke berbagai perusahaan sesuai jurusannya untuk praktek kerja secara langsung sekaligus membandingkannya dengan teori yang pernah mereka dapat di bangku sekolah. Untuk mengawasi para murid yang sedang magang ini, ditunjuk guru pembimbing. Setiap bulan, guru pembimbing wajib mengunjungi perusahaan untuk mengontrol perkembangan siswa yang magang di sana. Untuk itu, mereka diberikan dana transportasi seadanya.

?Jangan ditanya dana UAS dan UAN, apalagi dana PSB! Itu kan lebih belakangan lagi,? sambung yang lain tak kalah bersemangat.

?Kata Pak Darmawan, emang dananya dari yayasan belum cair,? kata Bu Gita --- guru matematika yang baru saja wisuda. ?Soalnya, dana itu terpakai untuk membuka jurusan baru.?

?Ah, kata Andre --- bendahara yayasan, dananya sudah cair, kok,? tegas Bu Indah --- guru PPKn yang berstatus PNS? paling senior sekaligus Ketua Jurusan Penjualan. ?Berarti, macetnya di sini, bukan di yayasan.?

?Kalau kita laporkan ke yayasan, posisi Pak Darmawan bakal terancam. Berarti, tragedi berulang lagi. Kepala sekolah sebelum Pak Darmawan, juga terguling karena masalah seperti ini,? ucap Bu Sumiati --- wakil kepala sekolah bidang kesiswaan yang juga berstatus PNS.

Ranti beringsut menjauh. Lebih baik ke kantor, pikirnya. Dia enggan ikut terbelit dalam kemelut itu. Toh, dia hanya guru honor. Meski dia termasuk guru yang dirugikan, namun baginya bukan masalah besar. Bagi Ranti, menjadi guru hanya untuk menunaikan kewajiban mengajar ilmu bermanfaat, bukan untuk menutupi kebutuhan ekonomi. Gajinya di kantor sudah lebih dari cukup sehingga dia tidak merasa keberatan dengan dana yang tersendat.

Namun, dia juga maklum bila sebagian guru protes. Tidak semua guru punya penghasilan lain seperti dirinya. Beberapa rekan sesama guru honor, benar-benar bergantung pada penghasilan mereka di sekolah. Bila hasil jerih payah mereka diutang, apa mereka juga harus puasa?

?Assalamualaikum!? ucapnya melihat sepasang sepatu teronggok di depan pintu kantor.

?Waalaikum salam!? Bu Tantri yang sedang asyik menekuri catatan mengangkat wajah.

?Uh, panas sekali!? Ranti segera mendekati kipas angin.

?Pasti panasnya bukan hanya karena sengatan matahari.? Bu Tantri tersenyum penuh arti.

Ranti balas tersenyum. ?Yah, suasananya yang jauh lebih panas. Terutama di depan. Mereka saling mengipas, tapi justru membuat suasana makin panas.?

?Itu sebabnya kamu langsung masuk??

?Salah satunya.? Ranti menunjuk meja tulisnya yang hampir tertutup tumpukan buku tugas murid-muridnya. ?Yang lain karena banyak tugas dan ulangan yang belum diperiksa.?

Bu Tantri mengerling. Dia mengangkat bahu, kemudian melanjutkan pekerjaannya.

?

?

?SEBELUMNYA, saya minta maaf kepada Bapak-bapak dan ibu-ibu guru --- terutama yang terlibat dalam kegiatan PSG, Ujian Produktif, UAS, UAN, dan beberapa kegiatan lainnya. Dana untuk kegiatan-kegiatan tersebut belum dicairkan yayasan, berhubung yayasan memerlukan dana itu untuk membuka jurusan pasca sarjana di STIA,? tutur Pak Darmawan.

Melalui sudut matanya, Ranti menatap wajah para guru. Dalam hati dia bertanya-tanya, apakah mereka juga ?bermain? dengan praduga dalam benak masing-masing seperti dirinya. Terlebih, saat mendengar kalimat pembuka yang diucapkan Kepala Sekolah.

Yayan yang mengelola mereka memang tidak hanya mengurusi SMK ini, melainkan juga sebuah Sekolah Tinggi swasta. Letak gedungnya bersebelahan, sehingga meski dikelola secara terpisah, perkembangannya tetap saling mempengaruhi.

Tiba-tiba saja Ranti merasa hatinya tidak enak. Firasatnya mengatakan, ada peristiwa besar yang akan terjadi. Undangan rapat diterimanya kemarin, tergeletak di atas mejanya. Selembar lagi undangan ditempel di papan pengumuman. Dalam undangan tersebut, dikatakan agenda rapat adalah membicarakan rencana diselenggarakannya ulangan umum untuk anak kelas I dan II. Namun mengingat suasana sekolah yang tidak menentu, tidaklah mengejutkan bila forum rapat digunakan untuk mengklarifikasi kesimpang-siuran gosip dan isu yang terlanjur menyebar.

Kehebohan berlanjut ke sini ...

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/8022/suatu-siang-di-warung-pojok-terminal