Tragedi Pringgadi

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Maret 2016
Tragedi Pringgadi

SEMUA mata membelalak memandang sosok tubuh yang sedang berlari-lari kecil menghampiri mereka. Jeans hitam membungkus kakinya yang bergerak gesit. Oblong putih bergambar Donal Bebek menyembul di antara jaket jeans yang juga hitam dengan kancing dibiarkan terbuka. Topi kulit hitam nyantel seadanya di atas kepala yang rambutnya dikuncir dua.

?Hai, udah mau berangkat, ya?? tanya cewek itu cuek sambil memandang mobil yang siap terparkir dan barang-barang yang teronggok di sampingnya.

?Dri, katanya kamu nggak ikut??

Indri melirik Anto yang bertanya mewakili keheranan teman-temannya. Kemudian tertawa. Kuncirnya bergoyang-goyang mengikuti gerakan kepalanya.

?Kejutan,? sahutnya seenaknya.

?Alah, paling juga kamu minggal dari rumah,? Handi menimpali.

?Tahu aja, lu.?

Jaka maju, mendekati Indri.

?Kalo gitu kamu pulang aja, deh! Kami nggak nerima anak pelarian. Bisa kualat.?

Indri meletakkan ranselnya. Lalu bertolak pinggang di hadapan Jaka.

?Enak aja! Saya pergi dengan restu, tahu? Mau lihat surat izinnya?? Indri merogoh saku jaketnya. ?Nih, duit! Tanda saya direstuin. Kalo nggak, mana dikasih dulit??

?Iya, nih! Yang penting kan dia bayar.?

Huuhhh!

Iyan yang baru saja angkat bicara kena timpuk.

?Makan tu duit!? Indri memasukkan limaribuan ke genggaman Iyan. ?Sekarang, ayo berangkat!?

Semua kemudian kembali sibuk, mengatur barang-barang. Sedang ceweknya semua sesekali membantu.

?Asyik, akhirnya kamu ikut juga, in,? ujar Riri yang berdiri di samping Indri.

?Kenapa??

?Kalo ada kamu, cowok-cowok itu nggak bakalan berkutik.?

?Kok, gitu??

?Tapi bukan berarti mereka nggak suka kamu ikut, In,? Jean angkat bicara. ?Saya tahu, mereka mengharapkannya. Kemarin, ketika kami bilang nggak ikut, mereka ngomel-ngomel.?

?Iya??

?He-eh!?

Pembicaraan mereka terpecah. Anto berteriak, menyuruh mereka semua bersiap.

Satu-satu, duabelas remaja itu berloncatan ke dalam mobil. Indri memilih tempat paling belakang, dekat jendela. Supaya tenang buat tidur. Buat membayar hutangnya tadi malam, karena terlalu sibuk mempersiapkan yang akan dibawanya. Sedang paginya buru-buru kabur, sebelum penghuni rumah bangun.

Indri menguap. Dia berancang-ancang untuk tidur. Topinya ditutupkan ke wajah.

?Kalian tahu nggak, yang paling bahagia dengan keikutsertaan Indri yang mendadak ini?? celetuk Handi dengan tiba-tiba.

Anak-anak berebut ingin tahu.

Handi dan anak-anak cowok lainnya tertawa.

?Rudy.?

Rudy cuma bisa nyengir karena semua mata beralih kepadanya. Kecuali Indri tampaknya cuek saja.

?Dia kan punya rencana kemping ini akan dibuat ajang romantis-romantisan.?

Semua berteriak kegirangan. Anak muda, kalo sudah nemu gossip, persis semut nemu gula. Rakus.

Kin menyodok pinggan Indri. Topi yang menutupi wajah indri terjatuh. Dia melotot.

?Kamu dengar, nggak??

?Nggak,? Indri menutupi kembali mukanya. ?Saya tuli.?

Kin cuma bisa menggeleng kepala. Apalagi ketika suara dengkur Indri mulai bergema.

GELAP baru saja turun. Namun keheningan sudah terasa menyergap di mana-mana. Nyanyian jangkrik mulai menggigit telinga. Burung-burung malam pun mulai ke luar dari sarangnya.

Indri menghela napas. Dipandanginya tubuh-tubuh yang tergeletak tanpa daya di keremangan lampu petromak. Letak mereka tidak beraturan. Simpang siur tidak karuan.

Indri mengulum senyum. Kasihan, desisnya, mereka kelelahan. Hampir seharian melakukan perjalanan panjang. Sampai di tempat tujuan menjelang petang. Lalu disambung kerja keras mendirikan kemah dan mempersiapkan tempat bermalam mereka.

Pelan-pelan, Indri melangkah ke luar. Tadi niatnya juga ingin tidur, tapi matanya nggak bisa terpejam. Siang tadi, sepanjang perjalanan dia tidur banyak. Jadi sekarang belum ngantuk.

Indri menghampiri teman-teman cowoknya yang berkumpul. Kalo cowoknya emang lain, udah bakatnya untuk begadang. Lain dengan cewek yang gampang kecapekan.

?Belum tidur, In?? tanya Bobby yang sedang memeluk gitarnya.

?Belum ngantuk.? Indri menghempaskan pantatnya di samping Bobby. ?Ayo, nyanyi lagi!?

Suara mereka yang tadi sempat terhenti bergema lagi. Walau nggak terlalu merdu, lumayanlah! Daripada mendengar nyanyian jangkrik.

?Kamu yang nyanyi, In!?

Indri mengulum senyum.

?Ah, jangan!? sergah Handi. ?Entar disangka orang suara kuntilanak.?

Indri melotot. Dia berdiri dan melangkah pergi.

?Yee? merajuk, tuh!?

?Nuduh sembarangan! Mau bikin kopi, tahu!?

?Sip. Saya segelas, In!?

?Enak aja. Emang warung??

Indri melangkah ke belakang tenda. Tan urung, disiapkannya juga beberapa gelas. Lalu diraihnya plastik berisi kopi dan gula.

Dahi Indri berkerut ketika tanyannya mengangkat termos kecil tempat menyimpan air panas. Terasa ringan.

Wuah, dasar rakus! Baru sekejap, udah habis.

Indri melongok ember penyimpanan air bersih. Kosong melompong. Sial benar!

Ember kosong itu disambarnya, kemudian kembali ke tempat teman-temannya berkumpul.

?Eh, temenin, dong! Saya mau ke sungai, nih.?

Semua melongok. Acara main gitar, nyanyi-nyanyi dan ngerumpi tertunda lagi.

?Ngapain, In? Buang air? Biar saya aja yang nemanin,? Handi berdiri.

Bobby menarik tangannya. ?Jangan, In! Handi belum mandi. Sama saya saja, ya??

Indri melotot. ?Kalian ini, pikiran nggak waras semuanya. Saya mau cari air, tahu? Kalian entar mau minum apa kalo air habis.?

?Mereka duduk lagi. Cuek.

?Mau nemenin, nggak?? tanya Indri mulai sewot.

?Ah, biar Rudy aja yang menemani!?

Indri membelalak. Mereka mulai lagi.

?Ya, udah. Saya juga bisa pergi sendiri.?

Indri bergegas. Dalam hati dia memaki. Kadang dia sebel juga sama teman-temannya itu. Suka seenaknya sendiri. Apalagi kalo soal ledek-meledek. Jodoh-jodohin teman seenak perutnya. Iya kalo benar, kalo nggak? Apa nggak payah? Lebih parah lagi kalo yang bersangkutan udah punya pacar. Apa nggak bakal mengobarkan perang dunia, tuh?

Perang dunia berlanjut ke sini ...

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/7805/kinanti

  • view 139