Murid Kesayangan

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Maret 2016
Murid Kesayangan

?KAYAKNYA, aku kenal orang itu!?

Tertarik dengan gumaman Bu Husna, Mutia mengangkat wajahnya. Dia mengalihkan pandangan dari tumpukan kertas di hadapannya ke wajah Bu Husna yang nanar menatap jendela.

?Bu Tia, dia kan ?anak kesayanganmu? dulu?!? cetusnya dengan wajah berubah cerah. ?Dia??

Sebelum Bu Husna meneruskan kalimatnya, Mutia buru-buru berdiri, ikut memandang ke luar jendela. Seorang pemuda berpenampilan rapi, dengan kemeja biru bergaris putih dan celana pantolan berwarna senada berjalan menyusuri koridor, melewati jejeran pintu kelas yang sebagian tertutup, sebagian lagi terbuka.

Pemuda itu cukup tampan. Berperawakan sedang, dengan bentuk tubuh proporsional. Kulitnya coklat terang. Rambutnya yang tersisir rapi terlihat agak berombak dan tebal. Wajahnya cakep, tampak sumringah dengan seutas senyum di bibirnya. Senyum itu? yah? Mutia mengenal senyum itu.

?Fikri Fadillah! Itu dia kan Bu Tia??

Mutia mengangguk. ?Benar, itu Fikri. Memang dia!?

Dia memang Fikri. Dia tidak terlalu banyak berubah, sehingga mudah dikenali. Dia hanya terlihat lebih dewasa dan matang dibanding lima tahun lalu, saat dia masih berstatus siswa sekolah ini. Dia tidak tampak culun lagi. Pastinya dia juga tidak bengal dan suka usil lagi.

?Assalamualaikum?? ucapnya saat berada di ambang pintu.

Serentak Mutia dan Husna yang tinggal berdua di kantor menjawab salamnya.

?Bu, masih ingat saya?? ujarnya sambil lebih lebar mengembangkan senyum.

?Wah, tentu saja ibu ingat, Fik! Entah kalau Bu Mutia,? sahut Bu Husna sambil mengerling ke arah Mutia.

Mutia tersenyum. ?Sempat pangling memang iya, karena kamu sudah berubah. Tapi kami takkan lupa. Ibu masih ingat? sangat ingat??

?

?

LIMA tahun lalu, Fikri adalah murid kesayangannya. Ketika itu, dia ditunjuk sebagai wali kelas III IPS-2, kelasnya Fikri. Kelas yang merupakan kumpulan murid-murid bukan unggulan, dengan kecerdasan dan prestasi pas-pasan, namun kebengalan dan kenakalan yang cukup mengkhawatirkan.

Semula Mutia sempat ragu menerima tugas sebagai wali kelas. Soalnya, sudah dua tahun dia mengajar mereka. Bahkan setahun sebelumnya, dia juga sudah menjadi wali kelas mereka. Boleh dibilang, dia hapal dengan kebiasaan mereka. Namun, justru dengan alasan itu juga, Pak Darman --- Wakasek bidang Kurikulum dan Pengajaran menunjuknya sebagai wali kelas. Karena dia sangat mengenal pribadi setiap penghuni kelas III IPS-2.

Akhirnya, Mutia menerima. Dia tahu, tugasnya tidak seringan saat dia menjabat wali kelas II, karena harus mempersiapkan mereka menghadapi ujian akhir. Dan dia memutuskan untuk bersikap lebih keras dan ketat demi kebaikan mereka, tak ada lagi kelonggaran sebagaimana di kelas II.

Mutia memilih sendiri ketua kelas yang bertugas membantunya. Pasalnya, dia tahu benar, bila melibatkan kelas, mereka pasti akan memilih orang yang mendukung dan melindungi kebandelan mereka. Pilihannya satu --- Fikri Fadillah. Karena menurutnya, hanya Fikri seorang yang pantas menduduki jabatan tersebut, terutama keteladanannya.

Selanjutnya, Mutia sangat mengandalkan Fikri. Saat Bu Linda --- guru Bahasa Inggris, menanyakan muridnya yang layak dilatih untuk mengikuti Lomba Debat Bahasa Inggris, dia kembali menyodorkan Fikri. Demikian juga ketika memilih peserta cerdas-cermat, dan beberapa lomba lainnya.

Sebelumnya Mutia sempat berpikir, apakah dia bersikap tidak adil terhadap murid-muridnya? Kenyataannya, meski Fikri tergolong pintar, namun dia bukan pemegang rangking tertinggi kelas. Dewi yang selalu memegang gelar rangking pertama sejak kelas satu. Namun, untuk tampil di depan umum, Dewi tak bisa diandalkan. Dia pandai --- tapi teks book, tak pandai mengembangkan ide, tidak aktif, kreatif dan imajinatif. Beda dengan Fikri.

Bagaimana selanjutnya...? Langsung ke sini ...

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/8106/usai-ijab-kabul

  • view 116