Aku, Kakakku, dan Sahabatku

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Maret 2016
Aku, Kakakku, dan Sahabatku

RAIHAN, kakakku membatalkan pertunangannya. Mama yang kebingungan langsung menelponku. Dengan mengajak Nadia --- bidadari kecilku yang kebetulan baru bangun tidur siang, aku pergi ke rumah setelah meninggalkan pesan pada Mas Bima --- suamiku melalui operator kantornya.

?Apa sebenarnya yang terjadi, La?? todong Mama setelah aku menyerahkan Nadia pada Bi Imah.

?Lho, bukannya Naila yang mestinya tanya!?

?Raihan memutuskan pembatalan setelah ngobrol denganmu.? Mama ngotot.

Aku tercenung. Apa, ya? Rasanya tidak ada apa-apa. Kami malah membicarakan kelanjutan rencana pesta pertunangannya. Aku meminta beberapa lembar undangan untuk diberikan kepada teman-temanku. Itu saja. Kami tidak membicarakan apa-apa lagi.

Aku menggeleng bingung. ?Memangnya Raihan tidak bilang apa-apa??

?Kalau bilang, kami tidak akan seperti ini!? Mama menggerutu. Semakin panik.

?Kamu tahu sendiri kakakmu kan, La?? ujar Papa. Terlihat lebih tenang. Tapi tetap saja menyimpan kecemasan.

Aku bisa memahami perasaan mereka. Tak mudah membujuk Raihan untuk bertunangan. Sebagai adik, aku merasa tidak benar-benar mengenal kakakku itu. Dia sangat tertutup. Terlebih masalah hubungan dengan lawan jenis. Kami bahkan sempat mengira dia gay. Sampai usianya menjelang empatpuluh, baru dia menyatakan persetujuannya untuk bertunangan dengan calon yang diajukan Mama. Putri teman lama Papa. Dia bahkan tidak terlalu berminat melihat atau mengenal calonnya. Langsung setuju begitu saja.

?Entah bagaimana cara kita mengatakan hal ini kepada Keluarga Suryanata,? desah Papa.

Aku berpikir keras. Berusaha memutar kembali percakapan terakhirku dengan Raihan. Berusaha mengingat setiap detail yang mungkin mencurigakan.

Dara! Sebuah nama langsung terlintas. Aku memang meminta beberapa lembar undangan pertunangannya untuk teman-temanku. Salah satunya untuk Dara. Teman masa kecilku. Ketika menjadi murid baru di kelas empat SD, Dara menjadi teman pertamaku, dan kemudian menjadi sahabat kecilku. Hanya saja tidak lama. Beberapa bulan saja. Dara tiba-tiba menghilang. Katanya, pindah ikut neneknya. Aku lupa ke kota mana.

Saat mendengar nama Dara --- rasanya reaksi Raihan berubah. Tapi berubah bagaimana, aku tak bisa mengingatnya. Dan kenapa? Aku pun tak mungkin menjawabnya. Mungkinkah Dara mengetahuinya?

?

?

?

?

UNTUNGLAH, Dara juga kebagian jatah lembur. Jadi kami bisa ngobrol saat karyawan lain sudah pulang. Baru sekitar setahun lalu, aku menyadari bekerja satu gedung dengan teman kecilku itu, meski perusahaanya berbeda.

Eh, kenapa aku baru menyadari, Dara punya kemiripan sifat dengan Raihan? Sama-sama tertutup. Ketika mengenali Dara setahun lalu, sebenarnya aku ingin menyambung kembali tali persahabatan kami. Tapi entah kenapa, kupikir Dara sengaja menghindar. Setiap aku bertandang ke kantornya, pasti tidak bertemu. Selisipan terus. Tadinya kukira kebetulan saja, tapi lama-lama kupastikan Dara sengaja.

Tapi Dara memang tertutup. Begitu kata Ani --- teman sekantornya ketika kucoba mengorek keterangan tentang Dara. Dia dingin, bahkan cenderung menghindar dari orang lain. Terlebih dengan kaum pria. Wah, mirip benar dengan Raihan, kan? Baru beberapa bulan lalu, Dara mulai bisa kudekati.

Langkahku terhenti mendengar suara percakapan. Apakah masih ada orang lain di kantor ini selain Dara yang berjanji menungguku sambil lembur? Tapi tunggu, rasanya aku mengenal suara itu. Suara seorang laki-laki.

?Kau???

?Yah, aku, Ra. Raihan, kakak Naila.?

?Bagaimana aku bisa melupakanmu, orang memadamkan pelita dalam hidupku, yang membuat hidupku gulita selamanya?? Dingin sekali suara Dara. Aku sampai merinding mendengarnya. Ada getaran dendam terkandung di dalamnya.

Jadi, Raihan menemui Dara? Untuk apa? Aku berusaha mengintip dari balik lemari arsip. Dan aku ternganga. Kulihat Raihan tiba-tiba berlutut di hadapan Dara.

?Maafkan aku, Ra! Ampuni aku! Aku memang bersalah. Aku berdosa padamu. Namun jangan kamu kira aku bahagia karenanya.? Suara Raihan serak menghiba. ?Sepanjang hidupku, dosa itu menghantuiku. Penyesalan yang kutanggung semakin lama semakin berat. Hampir setiap malam, mimpi buruk mengganggu tidurku --- seolah menuntut pertanggungjawabanku.?

?Dan aku setiap malam berharap bermimpi untuk menuntut balas. Pembalasan seorang bocah yang keindahan masa kecilnya direnggut oleh kakak sahabatnya sendiri.?

?Ampuni aku, Ra! Aku masih remaja ingusan waktu itu! Aku belum mengerti benar apa yang kulakukan.?

?Dan aku gadis kecil yang tak berdaya. Yang kutahu hanya kesakitan yang tiada tara. Aku tak pernah tahu, luka yang tak bisa sembuh justru telah tergores di jiwaku.?

?Ra, ampuni aku! Hukumlah, aku! Aku ingin menebus kesalahanku. Apapun, Ra!?

Tubuhku menggigil. Dialog-dialog sarat emosi itu sedikit demi sedikit membuatku mengerti apa yang terjadi. Terjawablah pertanyaan yang selama ini membuatku penasaran. Mengapa Dara tiba-tiba menghilang? Mengapa Dara yang muncul kemudian tampil dengan kepribadian yang sangat bertolakbelakang dengan kelincahannya di masa kanak-kanak.

Tersingkap juga misteri mengapa Raihan yang semula kukenal sebagai remaja yang penuh percaya diri tiba-tiba menutup diri. Sampai hampir empatpuluh tahun, bujukan untuk segera menikah tidak membuatnya bergeming, sampai setengah tahun lalu. Dan mengapa dia membatalkan rencana pesta pertunangan hanya sebulan sebelum berlangsung hanya karena aku menyebutkan nama Dara. Ternyata, kedua memang punya hubungan di masa lalu. Hubungan mengerikan yang semula tak pernah kubayangkan.

Misteri bersambung ke sini ...

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/8022/suatu-siang-di-warung-pojok-terminal

  • view 200