Jalan Menuju Ridho-Nya

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Maret 2016
Jalan Menuju Ridho-Nya

Manhattan, 29 Agustus 1961

?ASTAGHFIRULLAH?!? Aleesha yang mengintip keributan dari celah pintu kamar berbalik menatapku. ?Aku lupa, Cathy, hari ini ada keramaian di depan National Memorial Book Store. Sekarang saudara-saudaraku sedang menuju ke sana.?

?Maksudmu aku tak bisa pulang?? tanyaku cemas.

Aleesha terdiam. Alis tebalnya nyaris bertaut, tanda sedang berpikir keras. Bagaimana aku bisa melewati keramaian dengan selamat, sementara dalam kondisi normal saja kami harus ekstra hati-hati?

Aku menggigit bibir. Ketegangan rasial yang semakin memanas menjadi momok bagi kami. Masalahnya, aku berkulit putih dan Kristen. Sementara Aleesha negro dan muslim. Kami bagai dua kutub yang diharamkan bertemu. Padahal, kami bersahabat, sangat dekat. Dan kami merasa cocok satu sama lain, kecuali dalam hal perbedaan yang benar-benar tidak bisa kami hindari.

Aleesha pernah menolongku dari sasaran kejahatan preman negro? saat tersesat di kawasan Harlem. Dia menyembunyikanku di kamar sampai kondisi aman dan mengantarkanku keluar dari daerah rawan.

Namun, aku tidak jera ke sana, sebaliknya secara sembunyi-sembunyi sering mengunjungi Aleesha. Aku betah ngobrol dan bertukar cerita dengannya. Hal yang tak pernah kurasakan dari kawan-kawanku yang lain. Bahkan dengan saudaraku sekalipun. Aku tak bisa bayangkan bila keluargaku tahu, aku berteman dengan orang negro, entah bagaimana reaksi mereka. Pasti mereka memarahiku habis-habisan seraya membeberkan setumpuk daftar kejahatan yang dilakukan orang negro, seolah semua orang berkulit hitam itu jahat. Padahal, ada yang begitu baik seperti Aleesha ?

?Cathy, kamu mendengarkanku tidak?? Aleesha mengguncang bahuku. ?Kamu harus pulang sekarang, kan??

?Tentu. Bila tidak, Dad akan melaporkan penculikanku ke polisi.?

?Jadi tak ada jalan lain, kamu harus mengenakan ini.? Aleesha menyodorkan setumpuk kain berwarna gelap dan memasangnya di kepalaku.

?Apa-apaan ini, Aleesha?? ujarku berusaha protes.

?Diam! Ini pakaian wanita muslim. Bila dikenakan, tak ada yang tahu kamu berkulit putih. Kita bisa melewati keramaian dengan aman.?

Aleesha mematutku di depan cermin. Kain itu menutup seluruh tubuhku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Hanya sebagian wajah yang terlihat. Tentu saja pakaian seperti itu bisa menyembunyikan identitasku. Apalagi, mataku juga berwarna coklat, tidak biru atau kelabu seperti bule kebanyakan.

?Sekarang kamu aman untuk keluar!? Aleesha menggandengku.

Kami berjalan menyusuri lorong bersama beberapa saudara Aleesha. Para wanitanya mengenakan penutup kepala. Aleesha sendiri memakai bandana.

Tak berapa lama, kami berbaur dalam keramaian di depan National Memorial Book Store Manhattan. Ada ratusan orang negro berkumpul, pria?wanita, dari orang tua sampai bocah-bocah, bersemangat mendengarkan seorang pria berorasi.

?Malcolm X!? Aku menggumam.

Aleesha menoleh. Dia tampak surprise. ?Kamu mengenalnya??

Jadi benar, lelaki negro berwajah ganteng penuh kharisma itu Malcolm. Padahal aku menduga-duga saja, karena hanya mengenalnya lewat media.

?Siapa yang kenal? Malcolm X aslinya bernama Malcolm Litle, kelahiran Omaha, 19 Mei 1925. Ibunya, Louise Norton Little. Ayahnya Earl Little. Pendeta yang dikenal sebagai Black Nationalist, aktivis anti rasialis. Dia meninggal akibat kecelakaan, yang kabarnya direkayasa kelompok anti kulit hitam. Kenyataan ini menumbuhkan sentimen terhadap orang kulit putih di hati Malcolm semakin subur,? tuturku menjawab keheranan Aleesha. ?Malcolm dipenjara karena terlibat kejahatan. Di sana dia diperkenalkan oleh Reginald, saudaranya, dengan Islam, sekaligus Elijah Muhammad, pimpinan Nation of Islam atau NoI. Malcolm kemudian menganut Islam dan bergabung dengan NoI.?

Mata Aleesha makin melebar. Dia tidak menyangka aku mengetahui riwayat Malcolm sedetail itu.

?Sejak Malcolm bergabung, anggota NoI berkembang dari 500 menjadi 30.000 orang, hanya dalam sepuluh tahun. Bukan main! Kharismanya sebagai orator ulung mampu membius banyak orang, termasuk Cassius Clay alias Muhammad Ali --- petinju bermulut besar!?

Aku menatap nanar sosok yang berbicara di depan massa itu. Kharismanya benar-benar bagai magnet yang menyedot perhatian. Entah di mana letak kharisma itu. Padahal, secara fisik, dia tak berbeda dengan lelaki negro kebanyakan. Berkulit kelam dan berambut keriting.

Mungkinkah kharisma itu terpancar melalui pandangan penuh percaya diri di balik kacamatanya? Atau justru mengalir melalui suaranya yang mengandung kekuatan magis? Atau mungkin malah terletak pada luka dendam yang terpendam dan kemudian terlontar melalui kata-kata yang diam-diam membangkitkan kepedihan yang sama?

?The hate that hate produced?? Aku kembali menggumam.

Kebencian yang menciptakan kebencian. Kebencian sekelompok orang kulit putih kepada orang-orang negro, yang akhirnya menumbuhkan kebencian yang sama di hati sekelompok orang negro kepada orang-orang kulit putih. Lalu sampai kapan api kebencian ini akan padam?

Aku bergegas, mempercepat langkah berkali-kali lipat. Tak kupedulikan Aleesha yang memanggil karena tertinggal jauh. Aku ingin meninggalkan tempat itu secepatnya, meninggalkan suara-suara kebencian yang lahir dari benih kebencian.

***

?CATHY, kamu serius?? Belum pernah kulihat Aleesha sekaget itu. Matanya menatapku? tak percaya.

Aku mengangguk mantap. ?Aku serius. Ajari aku tentang Islam!?

Aleesha masih terpana. Dia belum menyatakan persetujuannya.

?Kenapa? Bukankah kita bersahabat sejak beberapa tahun lalu? Kenapa baru sekarang hatimu terbuka??

Aku mengangkat bahu. ?Entahlah?! Mungkin ??

Kening Aleesha berkerut, menunggu kalimatku.

?Kamu dengar orasi-orasi Malcolm belakangan ini??

?Masya Allah?!? Aleesha menepuk dahinya. ?Jadi hal itukah yang membawa seberkas cahaya hidayah di hatimu? Subhanallah?!?

Aku tersenyum dan mengangguk. Aleesha bisa menyimpulkan dengan benar. Setahun belakangan, aku mulai merasakan ada yang berbeda dalam orasi Malcolm yang disiarkan melalui media. Yah, aku tak lagi menemukan ?the hate that hate produced? yang terkenal itu di dalamnya. Sebaliknya, aku menemukan cinta, ketulusan, dan perdamaian.

?Kabarnya, ada seseorang yang mengkritik Malcolm setelah mendengar orasi ?the hate that hate produced?. Seseorang yang mengingatkan, bahwa Islam memandang derajat manusia itu sama di mata Allah --- entah berkulit putih, kuning, merah, coklat, atau negro. Bahwa Islam tak pernah memandang orang negro lebih hina dari orang kulit putih, namun tidak juga menganggap orang negro lebih mulia dari orang kulit putih. Semua tergantung ketakwaannya,? tutur Aleesha.

?Yah, aku juga mendengarnya. Teguran itulah yang menyadarkan Malcolm akan kekhilafannya, sehingga orasinya tidak lagi mengecam orang kulit putih secara membabi-buta, berganti dengan kritikan proporsional terhadap diskriminasi yang masih dilakukan beberapa pihak. Kesadaran Malcolm membuat mataku terbuka akan keindahan Islam. Meski sejak mula aku sudah tertarik, namun selalu terbendung anggapan bahwa Islam bukan untuk orang kulit putih,? akuku panjang lebar.

Aleesha tersenyum.

?Kesadaran Malcolm makin mantap setelah dia berhaji ke tanah suci. Menurutnya, di rumah Allah, ribuan manusia dari berbagai suku bangsa dengan beraneka warna kulit, benar-benar mendapat perlakuan sama sebagai hamba yang menyembah hanya pada-Nya. Kesadaran yang memberikannya keberanian untuk mengkritik penyelewengan-penyelewengan ajaran Islam yang dilakukan anggota NoI, termasuk Elijah Muhammad. Akibatnya, dia dikucilkan bahkan dikeluarkan dari NoI.?

?Namun, itu tidak membuat kharisma Malcolm memudar,? potongku. ?Sebaliknya, dia mendapat simpati dari pihak yang semula antipati. Aku salah satunya. Semula aku mengaguminya, sekaligus membencinya. Mengagumi kharismanya, tapi membenci isi orasinya yang memojokkan orang kulit putih. Sekarang, aku justru mendapat hidayah untuk mempelajari Islam karena orasinya.?

Senyum Aleesha melebar. Dia merentangkan tangannya, menyambutku dalam pelukannya.

?Alhamdulillah ?, aku berharap hidayah itu benar-benar menghampirimu, Cat. Karena aku selalu berharap, kau tidak hanya menjadi sahabatku, tapi juga saudaraku dalam Islam.?

***

21 Pebruari 1965

PIRING-PIRING kotor itu belum sampai ke bak cuci, baru setengah jalan namun sudah meluncur ke lantai. Hancur berantakan.

?Cathy!? Mom berteriak. Langkahnya tergopoh menuju dapur.

Melihatku terkulai di antara piring yang berantakan, Mom kembali menjerit histeris, mengundang kedatangan Dad dan kedua kakak lelakiku. Bersama mereka memindahkanku ke tempat tidur dan berusaha menyadarkanku dari ketertegunan.

Aku mendengar suara mereka. Tapi aku seolah tak berada di sana. Aku merasa berada di Manhattan Auditorium Ballroom. Melihat ratusan orang mengelukan Malcolm. Menyaksikannya melangkah menuju podium.

Namun belum sempat suaranya yang membius itu melafalkan kalimat-kalimat bijak, menggugat ketidakadilan, menuntut persamaan hak dalam perdamaian dan persaudaraan, tiga pria maju dengan senjata terkokang. Kemudian tanpa sempat dicegah memuntahkan peluru yang merobek-robek sosok yang amat kukagumi itu.

Jerit histerisku tertahan dalam keterpakuan. Bukan hanya satu, dua, atau tiga, tapi lima belas peluru yang merajam tubuh idolaku. Betapa aku tak rela! Tapi apa hendak dikata. Itulah kenyataan yang dikabarkan reporter melalui radio yang diputar Dad tadi. Kenyataan yang benar-benar tidak bisa kuterima.

Kesedihan berlanjut ke sini ...

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/7359/sayap-sayap-terluka

  • view 83