The Dream Team

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Maret 2016
The Dream Team

?MENYIAPKAN tim basket putrid kelas II-2??

? Ibu mimpi?? cetus Mel.

??Benar, ibu mimpi menciptakan ?the dream team? ?basket putri kelas kita untuk ikut bertanding dalam class meeting mendatang. Kamu yang ibu tugaskan membentuknya.? Bu Fitri tersenyum? tenang.

Mel tercengang, setengah tak percaya dengan pendengarannya. Untuk situasi dan kondisi berbeda, tugas itu mudah. Tapi dalam situasi dan kondisinya, sangat sukar, bahkan nyaris mustahil.

Bu Fitri keterlaluan! Mentang-mentang walikelas,? seenaknya memberikan tugas! Tapi dia wajib menjalankan. Demi tanggungjawab, dan harga diri. Pasalnya, ini bukan tugas biasa, melainkan tugas? sekaligus hukuman. Hukuman? akibat kesalahannya kalah taruhan.

Mel menghela nafas. Tiba-tiba dia merasa sangat menyesal. Dia menyesali kesombongan yang menyebabkannya melakukan kesalahan fatal. Akibatnya, dia harus menerima hukuman.

Kepindahan Bu Anita, wali kelas kesayangan, hanya itu asal mulanya. Kepindahan yang disesali Mel. Pasalnya, Bu Anita sangat pengertian pada murid-muridnya. Bu Anita tergolong guru yang moderat dan lebih banyak memberikan kebebasan pada murid-muridnya untuk mengekspresikan diri.

Bu Anita sendiri tergolong guru yang trendi dan funky dalam berpenampilan. Mel suka sekali melihat gaya dan penampilan Bu Anita, persis selebriti yang kebetulan memerankan guru di sinetron remaja. Sikapnya? tidak kaku atau sok jaim.

Pengganti Bu Anita datang? sebagai pengajar Bahasa Inggris, sekaligus? wali kelas II-3. Dialah Bu Fitri Fauziah. Mendengar namanya saja, Mel sudah meragukan, karena terkesan kampungan banget. Saat berkenalan, kekecewaannya bertambah. Dia sama sekali tidak mirip Bu Anita, bahkan seujung kukupun. Kesamaannya hanya sama-sama guru Bahasa Inggris,? dengan latar belakang pendidikan berbeda. Bu Anita lulusan Fakultas Sastra Inggris, Bu Fitri lulusan IAIN Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris.

Dalam penampilan, Bu Anita modis, trendi dan funky, Bu Fitri sebaliknya. Namanya juga lulusan IAIN, penampilannya konservatif, berpakaian serba tertutup plus kerudung, meski bervariasi. Sikapnya membosankan, terlalu berhati-hati, cenderung terlalu jaim--- alias jaga image. Persis guru-guru di jaman bahuela,? tidak modern.

Namun yang paling tidak Mel suka cara mengajarnya. Sebelum memulai pelajaran, dia selalu bercerita dalam Bahasa Inggris. Murid-murid diminta memahami. Kemudian dia menerjemahkan juga ceritanya dalam Bahasa Indonesia, untuk mencocokkan dengan hasil pemahaman murid-muridnya.

Kisah pertamanya membuat Mel tersinggung. Saat itu tema ceritanya tentang kesombongan dan akibat negatifnya. Entah mengapa, Mel merasa Bu Fitri sengaja menyindirnya. Mel curiga. Jangan-jangan Bu Fitri mengetahui dia pernah meragukan dan merendahkannya serta membandingkannya dengan Bu Anita. Akibatnya, Bu Fitri berusaha membalas dengan menyindirnya.

Mel merasa, tidak ada yang salah pada dirinya. Dia tidak pernah sombong. Kalaupun dia mengucapkan kalimat membanggakan diri, itu karena dia pantas mengatakannya. Memang begitu kenyataannya, bukan sombong. Misalnya, dia membanggakan kehebatannya bermain basket, karena dia memang piawai mengolah bola orange tersebut di lapangan sampai menjaringkannya ke dalam ring. Tak ada yang bisa membantahnya, termasuk Pak Trisno, guru olahraga.

Sejak itu, Mel merasa Bu Fitri makin sering menyindirnya lewat cerita maupun nasihat-nasihatnya. Hal ini membuat Mel semakin membencinya, meski kebencian itu tidak pernah diperlihatkannya.

Suatu ketika kebencian itu? terlontar juga. Waktu itu? pelajaran olahraga, Pak Trisno absen. Sebagai wali kelas bertanggungjawab, Bu Fitri menggantikan dengan menyuruh mereka pemanasan dan berlatih basket. Dia mengawasi di tepi lapangan.

Seperti biasa, saat berada di lapangan basket, Mel terlihat dominan, bahkan di tengah pemain putra. Hal ini yang secara sadar atau tidak memicu kepercayaan diri yang berlebihan. Bagi yang mendengar, cenderung terdengar sombong dan meremehkan orang lain. Tidak mengherankan, bila teman-temannya merasa tersinggung, sehingga hampir terjadi perselisihan di antara mereka.

Bu Fitri kemudian maju melerai.

?Mel, padi semakin berisi semakin merunduk, bukan sebaliknya,? ujar Bu Fitri.

Hanya satu kalimat, namun karena merasa dia dipojokkan, Mel naik pitam. Mungkin, karena dasarnya dia memang tidak menyukai Bu Fitri.

?Bu, saya bicara apa adanya, bukan sekedar tong kosong yang nyaring bunyinya,? tandasnya keras. ?Bila ibu tak percaya, bisa membuktikan sendiri.?

?Apa maksudmu dengan membuktikan sendiri??

Mel mengangkat bahu, cuek. ?Mungkin dengan bertanding melawan saya.?

Bu Fitri mengerutkan kening. Dia menatap Mel yang tampak tidak peduli. Kemudian menghela nafas panjang. ?Baiklah!?

Ganti Mel? terkejut mendengar jawaban tersebut. ?Ba? baik apanya, Bu??

?Kita bertanding. Bukankah kamu yang? menyarankannya??

Mel mati kutu.

?Sekarang kita mulai.?

?Dengan pakaian seperti itu?? Mel menatap pakaian semi formal Bu Fitri.

?Kenapa? Ibu merasa tidak terganggu. Kita hanya bertanding menjaringkan bola ke ring. Lima kali dari garis three point dan lima kali lay up.?

Bu Fitri ke pinggir, membuka blazer sehingga hanya mengenakan kaos lengan panjang, plus kulot. Kemudian mengaitkan ujung jilbab ke belakang. Terakhir, membuka sepatu berhak sedang yang dipakainya sehingga tinggal mengenakan kaos kaki sebelum kembali ke tengah lapangan.

?Siapa yang mulai? Sebaiknya diundi saja. Aturannya, bila Ibu kalah, kamu berhak mengajukan permintaan apapun pada Ibu sebagai hukuman, demikian juga sebaliknya.?

Koin dilempar. Bu Fitri memulai lebih dulu. Tiga bola diletakkan mengelilingi garis three point. Bu Fitri memegang bola pertama, berkonsentrasi dan mengucap ?Bismillah?, bola pun dilempar. Masuk! Lemparan yang sempurna. Bola kedua menyusul, demikian juga bola ketiga, kemudian keempat dan kelima yang telah diletakkan ke batas garis sudut berlawanan. Tepuk tangan membahana.

Nilai penuh untuk Bu Fitri. Mel kaget. Tidak menyangka Bu Fitri punya kemampuan sehebat itu. Dia gugup sekaligus tegang. Kepercayaan diri dan kesombongannya luruh seketika. Bisa ditebak, hanya dua bola three points-nya yang bersarang sempurna di ring, tiga lainnya meleset.

Lima kali lay up, kembali Bu Fitri merebut nilai penuh. Mel yang terpuruk,? hanya berhasil menjaringkan tiga bola, dua kali gagal. Bu Fitri menang telak. Mel bagai mendapat tamparan keras di muka. Terlebih saat mendapati wajah sinis bernada mengejek yang diperlihatkan teman-temannya.

?Maaf, Mel, Ibu menang! Berarti, kamu harus menyelesaikan tugas yang ibu minta sebagai hukuman!? ujar Bu Fitri dengan tenang.

Inilah hukuman itu. Seandainya boleh memilih, Mel lebih suka membayar sejumlah uang daripada hukuman yang baginya mustahil itu. Bagaimana mungkin membentuk tim basket kelas, sementara dia tahu pasti kemampuan bermain basket teman-teman sekelasnya? Mereka benar-benar tidak bisa diharapkan. Payah!

?Bagaimana, Mel? Mengapa diam?? Bu Fitri menyentak lamunannya. ?Diammu bukan berarti keraguanmu untuk bisa mewujudkan mimpi ini, kan? Soalnya, Ibu yakin, kamu bisa membuat mimpi ibu menjadi nyata.?

Mel menggigit bibir, menahan perasaan. Meski nadanya terdengar datar, namun kalimat itu terasa bagai ejekan.

?Ajaklah Dina, Sarah, Adelia, dan Jie sebagai tim inti. Sementara sebagai cadangan latih juga Yuniar, Indri, dan Radiah!?

Mereka? Mel membelalak.

Dina? Bagaimana mungkin si kutu buku gempal itu bisa main basket? Kacamatanya saja setebal pantat botol, bagaimana bisa melihat ring? Lalu Sarah? Tidak bisa dibayangkan bila cewek kemayu seperti dia mendrible bola. Dia memang jangkung dan cantik, karena keturunan Indo-Eropa. Tapi genitnya minta ampun. Jarang mau ke lapangan basket, dengan alasan jaga penampilan

Adelia? Sama parahnya. Dia anak tunggal pengusaha kaya. Boleh dibilang, paling kaya di kelas. Tapi, manjanya tidak ketulungan. Tidak mau capek sedikit. Jie? Lumayan. Dia tomboy, dan suka olahraga. Tapi favoritnya olahraga bela diri, dan dia selalu merasa diri jagoan. Bila disuruh main basket, bisa-bisa dia menendang lawan.

Kemudian Yuniar, Indri dan Radiah, semua sama tidak menjanjikan. Mereka semua tidak akan membuat tim yang dibentuk merupakan tim impian. Lebih memungkinkan bila mereka menjadi tim mimpi buruk alias the nightmare team.

?Bu, saya??

?Pulang sekolah nanti, tolong bilang mereka untuk bertahan sebentar. Ibu mau bicara dengan mereka,? ucap Bu Fitri, tegas dan mantap.

Konfliknya berlanjut ke sini ...

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/7357/betis-indah-ken-diah

  • view 93