Kala Guntur Menyentak Hening

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 Maret 2016
Kala Guntur Menyentak Hening

MENDUNG? sisa hujan semalam belum sepenuhnya berlalu. Ketenangan belum lama melingkupi setelah badai dahsyat memprorak-porandakan segalanya. Namun Guntur itu tiba-tiba datang, menyentak Hening. Guntur yang datang berwujud sesosok lelaki muda dan gagah, lengkap dengan senyum manis dan sorot mata lembutnya.

?Saya Guntur!? ujarnya memperkenalkan diri dengan nada tenang, datar, dan sangat wajar, namun tetap terdengar ramah dan bersahabat.

Hening hanya mengangguk kecil. Rupanya, inilah penguji dari luar yang dikatakan Bu Ati. Hampir setahun lalu, ketika dia menerima tawaran mengajar di SMK khusus untuk Jurusan Usaha Jasa Pariwisata (UJP) ini, dia sudah diberitahu, untuk ujian akhir yang akan memberikan nilai adalah penguji dari luar sekolah, yakni mereka yang benar-benar berkecimpung di dunia industri pariwisata, khususnya travel agent.

Ketika dia kemudian diserahi mata pelajaran ?Teknik Pemanduan Wisata? atau ?Tour Guiding? untuk kelas III, dia merekam jelas setiap kata, nasihat, dan saran Bu Ati selaku Ketua Jurusan UJP untuk dicamkannya dalam hati. Karena bagaimanapun, Hening menyadari kelemahannya. Latar belakang pendidikannya, bukanlah dari FKIP atau IKIP. Jadi pengetahuannya tentang belajar-mengajar, masih nol besar.

Dia memang lulusan Akademi Pariwisata, namun jurusannya adalah Perhotelan. Dia tidak pernah mendapatkan mata kuliah ?Teknik Pemanduan Wisata? di kampusnya. Jadi, dia tidak pernah benar-benar tahu tentang bagaimana cara menjadi guide. Terpaksa dia berusaha mencari bahan dengan cara bertanya, mendatangi Dinas Pariwisata untuk mendapatkan brosur, diktat atau buletin tentang pemanduan wisata, serta bertanya kepada teman yang kebetulan pernah ikut kursus pemanduan wisata.

?Maaf, guru yang mengajar mereka Tour Guiding, siapa?? tanya Guntur, masih dengan gaya khasnya.

Hening sempat tergagap. ?Saya.?

?Maaf, nama Ibu??

Hening mengutuk dirinya dalam hati. Ternyata, dia sampai lupa mengenalkan diri. ?Hening,? jawabnya pendek.

Guntur tertegun sejenak. Mungkin agak heran dengan nama mereka yang punya arti yang sangat bertolak belakang.

?Mereka sudah tahu teknis pelaksanaannya??

?Seharusnya sih sudah, karena soalnya sudah dibagikan dari tadi, dan mereka diminta mempelajari.? Hening tiba-tiba ingat keluhan, kekhawatiran, dan permintaan sebagian besar muridnya yang menjadi peserta ujian. ?Tapi, mereka minta obyek wisatanya pilihan mereka sendiri.?

??Begitu, ya? Tapi saya boleh bertanya, kan??

Hening menatap lurus wajah di hadapannya. Matanya disambut senyum manis dan sepasang mata yang memandang penuh binar.

?Tentu saja boleh,? jawab Hening sambil mengalihkan pandangan. Berusaha menyembunyikan ketersipuannya karena terkesan terlalu melindungi murid-muridnya. Juga berusaha memutus daya magnet yang menarik-narik perasaannya. ?Mereka sudah diberitahu konsekuensinya bila memilih sendiri obyek wisata, berarti harus mendalami seluk beluk tentang obyek tersebut sampai sedetail-detailnya.?

?Baiklah! Tapi saya pikir, akan lebih baik bila mereka diberi pengarahan dulu saja, agar tidak bingung lagi.?

?Baik, mereka akan saya suruh masuk dulu!? katanya.

Hening meminta murid-muridnya masuk ruangan dan duduk di tempat yang tersedia. Dia mempersilakan sang penguji untuk memberikan pengarahan. Dikatakan Guntur, pemanduan harus dilakukan dalam bahasa Inggris. Kunci utama dalam ujian praktek ini adalah jangan gugup, karena bila seorang guide gugup, turisnya tentu akan gugup pula.

?Jangan khawatir, saya tahu standar kemampuan anak SMU. Tentunya tidak bisa disamakan dengan mereka yang sudah bekerja,? ujar Guntur sebelum memulai ujian, seolah mengerti, sebagai guru, sebenarnya Hening tak kalah cemas dari murid-muridnya.

Hening tersenyum. Kalimat itu cukup manjur untuk menenangkannya.

Ujian dimulai. Achmad giliran pertama. Dia tampak tak bisa menyembunyikan ketegangannya.

?Gitu aja kok gugup!? ujar Hening berusaha mencairkan ketegangan muridnya sambil memasangkan tanda pengenal di bajunya. ?Ini gugupnya karena mau maju atau karena dekat dengan ibu??

Mereka yang mendengar tertawa. Dia memang sudah terbiasa bercanda dengan murid-muridnya. Makanya, dia cukup dekat dengan mereka.

Hening menoleh Guntur. Dia ikut tersenyum mendengar gurauannya. Hening cepat-cepat membuang pandangannya ketika pesona itu kembali memancar. Duh, Tuhan?! Mengapa daya tarik itu sangat kuat?

Itu godaan, Ning! Makanya, jaga pandanganmu! Kamu kan bukan Hening yang dulu lagi. Katanya sudah hijrah? Nasihat hati kecilnya berkali-kali.

Hening bertekat menguatkan hati.

???????????????????????????????????????????????

?

MALAM sudah semakin larut. Suara televisi dari ruang tengah yang tadinya masih terdengar sayup-sayup karena ditonton Danang, adiknya, sudah berhenti. Berarti, Danang pun sudah masuk ke kamar tidurnya. Hanya tertinggal suara detak jarum jam yang meniti detik demi detik di tengah kesunyian.

Hening melirik jam dinding yang tergantung di kamarnya. Sudah lewat tengah malam. Itu berarti sudah hampir empat jam dia terbaring, tanpa sedikitpun sempat terlena ke alam mimpi. Dia masih? terjaga, dengan pikiran mengembara ke negeri antah berantah.

Hening menghela nafas. Penyakit insomnianya kambuh lagi. Padahal, besok dia harus bangun pagi-pagi lagi, untuk menemani Guntur menguji ?Tour Guiding? hari terakhir. Soalnya, jumlah murid peserta ujian yang lumayan banyak, membuat panitia menjadwalkan ujian praktek ini selama 3 hari.

Guntur! Diam-diam Hening mengeja nama itu. Ada nada lain yang mengalun dalam hatinya saat menyebut nama itu. Dia kemudian memaki diri sendiri.

Ada apa denganmu, Ning? Baru dua hari mengenalnya, dia sudah mampu membuatmu ?serusak? ini? Apakah bilur-bilur luka yang tertinggal karena mimpi yang sama setahun lalu tidak memberikanmu pelajaran berharga?

Hening menggigit bibirnya. Keras-keras sampai sakit. Namun tak mampu menutupi nyeri yang menusuk-nusuk hatinya.

Hening benar-benar tak berdaya. Dia tak mampu melawan godaan iblis yang membisiki hatinya melalui pesona yang ditaburkan seseorang yang bernama Guntur, guide yang membantu menguji murid-muridnya. Setengah mati Hening berusaha membendung perasaannya. Berusaha menepis pesona yang ditebarkan melalui senyum manis yang senantiasa menghiasi bibirnya. Berusaha mengusir daya magis yang terpancar dari tatapan bola mata kelamnya. Berusaha menangkis aura yang melingkup dalam setiap nada suaranya. Namun ternyata dia tak cukup kuat untuk mengusir daya tarik itu sehingga terus membawanya hingga membuyarkan rasa kantuknya.

Daya tariknya berlanjut ke sini, ya...!

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/8197/cowok-rumah-sebelah

  • view 116