Rival

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 Maret 2016
Rival

"ASSALAMUALAIKUM! Isti di sini. Ada yang bisa saya bantu?" Suara itu merdu mengalun. Lembut dan sopan.

Aku mendengus kesal.

"Aku ingin ketemu. Malam ini, datang ke Kafe Biru di Jalan Keramaian. Kutunggu pukul delapan!" tegasku.

"Boleh saya tahu, saya bicara dengan siapa?" tanyanya.

"Nanti kau akan tahu sendiri. Pokoknya, kamu harus datang, kalau tidak awas!" ujarku disertai ancaman.

?Iya, tapi...?

?Harus! Saya tunggu!? tandasku tanpa memberi kesempatan dia membantah. Kututup telepon dengan kasar.

Kucoba mengendalikan emosiku yang kian terbakar. Suara itu... huh! Rasanya seperti bensin yang menyiram bara dalam hatiku. Suaranya merdu. Nadanya lembut. Tutur katanya santun. Mungkin, itu juga menjadi salah satu penyebab yang membuat Ray berpaling.

Isti! Istiqomah! Aku menggeramkan nama itu dalam hati. Kemarahanku berkobar. Ingin rasanya kulumat cewek bernama Istiqomah itu. Cewek yang membuat Ray memalingkan hatinya dariku.

Bagaimana tidak, selama ini tidak pernah ada cowok yang mampu berpaling dariku. Semuanya tunduk dan luruh di hadapanku. Biasanya justru aku yang mencampakkan mereka bila aku bosan dan sudah mendapatkan yang lain. Mereka tak bisa protes, apalagi membantah.

Masih terbayang pertemuan dengan Rayhan sore tadi. Dia berhasil kucegat setelah beberapa kali sukses menghindar. Penjelasannya meskipun terdengar pelan, namun mampu membuatku tercengang.

?Maafkan aku, Vi! Aku tidak bisa meneruskan hubungan kita!? ujarnya.?????? Aku kaget bagai tersengat listrik.

?Ayahku menginginkanku menikah dengan gadis lain.?

Aku tersedak mendengar alasan itu. Begitu sepelenya? Alasan tersebut seharusnya hanya ada di zaman Siti Nurbaya, bukan zaman komputerisasi seperti saat ini. Bagaimana mungkin, cowok semodern Rayhan mau begitu saja menerima perjodohan bak zaman majapahit tanpa membantah sedikipun?

?Aku sudah coba menolaknya, Vi. Tapi Ayah berkeras agar aku bertemu dulu orangnya. Aku setuju bertemu, sekedar memenuhi persyaratan. Aku bertemu Isti, dan bicara panjang lebar. Ternyata, dia tidak sejelek yang kubayangkan. Diskusi dengannya membuat pikiranku terbuka, betapa selama ini aku telah menyia-nyiakan hidupku. Aku mengagumi Isti. Setelah berpikir ulang, akhirnya kuputuskan untuk menerima perjodohan yang ditawarkan Ayahku.?

Kalimat yang diucapkan Ray, meski bernada datar, namun terdengar tajam di telingaku, seakan mencabik-cabik harga diriku, keakuanku. Meski diucapkannya dengan lembut, tetap saja isinya sama, Ray mencampakkanku? demi gadis lain bernama Isti.

Darah siapa yang tidak akan mendidih mendengar pacarnya memutuskannya demi cewek lain? Apalagi aku, Novia, yang selama ini justru terbiasa mencampakkan.

Patah hati? Sama sekali tidak! Rasa sakit di dada ini bukan karena hati patah, namun harga diri yang terkoyak dan kesombongan yang diruntuhkan.

Bagiku, Rayhan sama saja dengan cowok-cowokku terdahulu. Aku tak pernah benar-benar mencintainya.? Dia memang tampan. Tubuhnya tinggi, tegap, dan atletis. Kulit putih bersih. Wajah menarik, dengan rahang kokoh, khas lelaki sejati. Tapi cowokku terdahulu, banyak yang lebih cakep, dan aku juga tidak mencintai satupun dari mereka.

Bagiku, mereka hanya sekedar pelengkap hidup. Supaya aku punya pendamping ke mana-mana. Agar aku punya teman untuk pergi ke cafe atau ke diskotek. Biar aku punya pasangan bila pergi ke pesta. Itu saja. Sebagai hiburan bila aku lagi bete atau kesepian.

Jadi, bukan kehilangan Rayhan yang membuatku gusar. Toh, seribu cowok yang melebihi Rayhan bisa kudapatkan. Aku cantik. Semua cowok mengakuinya. Selain itu, aku juga kaya, dan orangtuaku terpandang. Ayah dokter spesialis jiwa yang baru ada beberapa gelintir di kota ini. Mama seorang pengusaha yang sukses. Apalagi?

Tanpa kucaripun, cowok-cowok berdatangan mengejarku. Namun, aku tipe pemilih. Aku tidak ingin dipilih, namun aku yang memilih. Aku hanya akan memilih cowok-cowok yang menurutku memang patut dipilih. Bila kemudian aku merasa bosan, aku akan memilih yang lain. ??????????

Sekarang, kenyataan ini membuatku bagaikan ditampar. Posisiku sekarang bukan lagi sebagai pemilih, melainkan orang yang dipilih. Sialnya lagi, aku bukan orang yang terpilih, karena Ray memutuskan memilih Isti. Aku kalah telak. Benar-benar telak.

Itulah sebabnya, aku harus menemui cewek yang bernama Isti itu. Aku ingin tahu, secantik apa dia sehingga mampu mengalahkanku. Aku ingin tahu, segaya dan semenarik? apa penampilannya dia sehingga mampu merebut hati Rayhan. Ingin kubuktikan, sekaya dan seterpandang apa keluarganya.

Kulirik jam di dinding. Sudah hampir jam delapan. Aku benar-benar tak sabar, ingin melihat seperti apa sebenarnya cewek bernama Isti.

Sekali lagi, kupatut diri di depan cermin. Aku harus tampil prima di hadapannya. Aku tidak ingin kalah. Aku harus benar-benar tampil sempurna. Akan kuperlihatkan semua kelebihanku kepadanya.

Aku mengibaskan rambutku. Bagus. Rambutku yang hitam dan panjang, jatuhnya lembut melebihi bahu, karena aku baru saja ke salon untuk creambath.

Kuteliti rias di wajahku. Sama sekali tidak ada yang kurang. Alis asliku yang teratur rapi, tak perlu lagi didandani. Mataku yang bulat, dikelilingi bulu yang lentik. Hanya perlu kupakaikan softlens, agar warna coklatnya terlihat semakin bercahaya.

Aku tersenyum. Bibir sudah kuberi warna menyala, agar terlihat semakin seksi, sempurna menghias seraut wajah oval bersih dilengkapi hidung bangir. Duh, siapa yang bisa menyangkal kecantikan Novia?

Aku berputar di depan cermin, melihat penampilan samping kiri dan kananku. Jeans ketat yang membungkus tubuh, membuat kakiku yang langsing dan pinggulku yang padat tergambar sempurna. Dilengkapi kaos buntung dan gantung sehingga memperlihatkan puser yang dihiasi anting berlian tampak sesekali berkilat.

Kuambil jaket kulit mini yang sama gantungnya. Kupakai melengkapi busanaku. Kuraih tak kecil berisi Hp dan sejumlah uang, lengkap dengan beberapa lembar kartu kredit. Kusambar kunci Honda Accord di atas bufet. Sambil berlenggang karena menggunakan sepatu kulit berbentuk boot yang tingginya tiga senti, aku menuju Kafe Biru.

Aku akan membuat Isti merasa kecil bila berhadapan denganku. Aku ingin buktikan, dia tidak apa-apanya dibanding pesona dan daya tarik yang kumiliki. Akan kubikin dia terkagum-kagum pada penampilanku.

?

?

?

?

AKU melirik arloji. Pukul delapan kurang sedikit. Cewek bernama Isti belum juga muncul. Mungkinkah dia takut untuk menemuiku?

Aku mengaduk juice alpokatku. Aku segera mengangkat wajah ketika mendengar suara pintu kafe terbuka. Kulihat dua sosok wanita berpakaian muslimah masuk. Mereka celingak-celinguk sebentar. Saat mata kami bertemu, mereka menuju ke arahku.

?Assalamualaikum. Saya Isti. Apakah anda yang meminta saya ke sini?? ujar seorang di antara mereka.

Aku mengernyit, menatapnya dari kepala sampai kaki. Kemudian dari kaki sampai kepala. Dia memakai sepatu sandal yang tidak tinggi. Jari-jarinya tertutup kaos kaki berwarna coklat. Dia mengenakan kulot lebar berwarna coklat tua. Atasannya, baju kurung panjang berwarna krem dengan motif bunga-bunga. Dia memakai jilbab berwarna senada. Menutup kepala hingga dada. Ujungnya disampirkan di bahu.

Rivalitas berlanjut di sini ...

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/8106/usai-ijab-kabul

  • view 109