Lulus

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 Maret 2016
Lulus

Senin, 1 November 2004 Pukul 03.30 Wita

?SAN? Sanah, bangun! Sudah jam setengah empat!?

Suara itu mulanya sayup, lama-lama makin jelas. Bahkan akhirnya mampu menariknya dari alam mimpi ke dunia nyata. Sanah mendapati dirinya tergeletak di dipan. Sampingnya sudah kosong. Berarti benar, yang didengarnya tadi suara Jannah, kakaknya.

Sanah membuka mata lebar-lebar, meski kelopaknya masih berat digelayuti kantuk. Dia mendapati sosok kakaknya di pojok kamar, masih terbungkus mukena, duduk di atas selembar sajadah. Mungkin karena baru saja shalat malam. Namun di sekitarnya juga terdapat serakan kertas fotocopy-an, beberapa ijazah, dan kertas folio bergaris.

?Bangun, San! Tolong, siapkan sahur. Sudah setengah empat. Nasinya sudah masak. Tinggal menghangatkan lauk dan sayurnya,? ujar Jannah melihat adiknya belum beranjak. ?Aku masih sibuk menyiapkan berkas.?

?Kak Jannah jadi ikut test PNS lagi?? tanya.

?Jelas jadi. Mumpung masih ada kesempatan.?

?Ikut di mana, Kak??

?Setelah ditimbang-timbang, aku akan daftar di sini dan di Batola, supaya tidak terlalu jauh.?

?Kok, daftarnya dua? Katanya, waktu testnya bareng??

?Memang. Biar daftarnya dua dulu. Mana test yang diikuti, istikharah saja lagi.? Jannah tersenyum. ?Sudah, buruan ke dapur. Nanti keburu imsak. Jangan lupa bangunkan Fakih biar bisa bantu menata meja.?

Sanah mengangguk. Dia bergegas bangkit, keluar kamar, langsung ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi. Namun, pikirannya masih di kamar, bersama Jannah.

Mudahan kali ini Kak Jannah lulus, batinnya. Pasalnya, bukan kali ini saja satu-satunya kakaknya yang masih tertinggal itu mengikuti test penerimaan CPNS. Mungkin sejak lima tahun belakangan, setiap ada penerimaan CPNS --- khususnya guru, Jannah selalu ikut. Namun entah kenapa, selalu saja ?lolos? alias tidak lulus.

?Belum rezeki,? ucap Jannah selalu.

Bila Jannah terlihat lebih ikhlas, sebaliknya Sanah justru heran dan penasaran. Karena sebagai adik, dia tahu benar kualitas kakaknya. Dibanding dirinya, Jannah jauh lebih cerdas. Sejak SD kakaknya itu selalu masuk sepuluh besar sehingga tanpa kesulitan masuk di sekolah negeri favorit. Demikian juga saat memutuskan kuliah di FKIP, mengambil jurusan Matematika, hanya selama kurang lebih empat tahun, gelar sarjana pendidikan berhasil diraihnya.

Terkadang Sanah iri pada kakaknya itu. Orang memang sering memujinya, karena secara fisik, dia punya penampilan yang lebih menarik dari Jannah. Wajahnya lebih cantik, tubuhnya lebih semampai dan proporsional. Namun bila dari segi prestasi, dia jauh tertinggal. Sejak SD sampai SMU, dia hanya bisa masuk ke sekolah swasta tak favorit dan harus puas dengan ranking seadanya. Itulah sebabnya, selepas SMU dia berhenti mengejar ilmu di lembaga pendidikan formal. Dia tahu diri.

Untunglah, sejak kuliah, Jannah sudah bekerja paro waktu sebagai pengajar honorer di sebuah sekolah menengah kejuruan swasta. Saat Bapak dan Bang Farid --- kakak tertua mereka yang bekerja sebagai supir truk dan keneknya, mengalami kecelakaan yang membuat keluarga mereka kehilangan dua tiang keluarga sekaligus. Jannah tampil ke depan. Bermodal pesangon ditambah sedikit tabungan, mereka buka kios kecil-kecilan untuk menambah honor mengajar Jannah. Sanah yang bertugas mengelolanya karena kebetulan sudah menyelesaikan SMU-nya.

Seandainya Jannah lulus PNS, mungkin kehidupan keluarga mereka bisa lebih lapang. Paling tidak, Jannah tidak perlu pontang-panting mengajar sana mengajar sini, demi mengumpulkan honor untuk menutupi kebutuhan keluarga, sekaligus biaya pendidikan dua adik mereka yang tersisa, Fakih yang masih di SMP kelas 2, dan Noor Rahmah yang masih kelas 5 SD. Sayangnya, setiap kesempatan itu ada, selalu saja rezeki itu terlepas dari tangan mereka.

Padahal setiap menjelang test Jannah selalu mempersiapkan diri. Sanah tahu, karena mereka sekamar. Bukan hanya persiapan material dengan menghadapi tumpukan bahan, tapi juga persiapan mental, dengan tak pernah meninggalkan shalat malam dan puasa sunat.

Jangankan diangkat menjadi PNS yang memang harus melalui tahapan seleksi ketat, diangkat menjadi guru tetap yayasan tempatnya mengabdi juga tidak. Padahal, hampir 7 tahun, Jannah mengajar sebagai tenaga honorer di sana. Sejak masih kuliah. Namun, ketika ada kesempatan menjadi guru tetap yayasan, malah mengambil orang luar yang belum pernah mengajar --- namun punya hubungan pribadi dengan pengurus yayasan. Benar-benar tidak adil!

?Kak, ikannya gosong, tuh!?

?Astaghfirullah?!? Sanah buru-buru mematikan kompor dan mengangkat ikan dari minyak.

Untung Fakih mengingatkan.

?Kih, panggil Ibu. Kedengarannya, tadi beliau masih mengaji. Sekalian bangunkan Rahmah. Biar Kak Jannah, kakak yang beritahu!?

Fakih mengangguk.

Sanah menghela nafas. Dia melirik jam dinding. Sudah hampir pukul empat. Waktu yang paling tepat memulai sahur.

Sanah ke kamar. Dilihatnya Jannah masih bergelut dengan berkas.

Lulus tidak akhirnya Jannah? Pengumumannya di sini ...

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/8022/suatu-siang-di-warung-pojok-terminal

  • view 98