Janji Kinanti

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 Maret 2016
Janji Kinanti

Hari-hari bersemangat Agustus 2003

Dear Diary,

Hati rasanya berbunga-bunga. Jiwa dipenuhi semangat membara. Maklum, hari-hari pertama masuk sekolah setelah sebulan libur panjang! Rasanya, sudah kangen dengan keadaan sekolah yang terkadang juga bisa bikin bete. Kangen pada pelajaran dan jejalan tugas. Kangen pada ocehan dan omelan guru. Kangen kepada canda teman-teman.

Bahkan, aku punya teman baru, Diary. Ketika itu Bu Is --- wali kelas kami, masuk diiringi seorang cewek. Dia cantik dan berjilbab. Dia diperkenalkan Bu Is sebagai warga baru di kelas kami. Dan dia pun disuruh memperkenalkan diri.

Namanya Kinanti Sayyida. Pindahan dari Garut, Jawa Barat. Suaranya lembut sekali, seperti wajahnya yang selalu tampak tenang. Meski digojlok teman-teman sekelas dengan pertanyaan-pertanyaan iseng, dia tetap tak terlihat kesal apalagi marah. Malah bibirnya selalu menyunggingkan senyum.

Surprise-nya lagi, dia diminta Bu Is duduk semeja denganku. Memang sih, di sampingku masih kosong. Teman-teman kapok duduk berdekatan denganku. Menurut mereka, aku suka usil bin jahil. Padahal sih, menurutku mereka sendiri juga suka usil. Aku hanya membalas kejahilan mereka dengan tindakan serupa ditambah bonus dan bunganya. He? he? he!

Tapi aku senang bisa semeja dengan Kinanti. Aku bisa mengenalnya lebih dekat. Dan dia tidak pernah curiga apalagi berprasangka buruk terhadapku. Tidak seperti teman-teman yang lain, belum apa-apa sudah negative thinking. Atau mungkin karena Kin --- begitu biasa dia kupanggil, belum mengenal watakku, ya?

Tapi tidak juga. Seperti kataku tadi, aku usil hanya untuk membalas kejahilan yang lebih dulu kuterima. Bila tidak, aku tidak akan sejahat itu. Pada Kin misalnya, aku tak pernah berkeinginan untuk berbuat iseng. Soalnya, Kin sendiri tidak pernah jahil padaku. Selalu berprasangka baik dan berpikiran positif. Makanya, aku senang berteman dengannya.

?

?

September Ceria 2003

Dear Diary,

Sekarang aku baru tahu mengapa Kin tampak jauh lebih dewasa dari usianya yang sebenarnya. Ternyata keadaanlah yang membuatnya demikian.

Ternyata, Kin bukan asli orang Sunda. Ayahnya memang asli Garut, namun Ibunya orang Banjar. Setelah menikah, mereka tinggal di Garut. Pernikahan mereka dianugerahi 2 putri dan 1 putra. Kin anak tertua.

Ayah Kin menghidupi keluarga sebagai supir truk. Sekitar tiga bulan lalu, terjadi kecelakaan yang merenggut nyawanya. Tiang rumah tangga seakan ikut roboh. Dengan uang asuransi kecelakaan yang diwariskan, Ibu Kin memutuskan untuk memboyong anak-anaknya, kembali ke kota asalnya guna memulai hidup baru.

Maka, di sinilah mereka sekarang. Ibunya menyewa sepetak kios kecil di Pasar Hanyar untuk berdagang barang kelontongan. Hasilnya, digunakan untuk biaya hidup sehari-hari. Atas ide Kin, jualan mereka berkembang bukan hanya barang keperluan sehari-hari, tapi juga majalah dan koran. Ini karena Kin memang suka sekali membaca. Karena menyadari dia takkan mampu membeli koran dan majalah untuk memenuhi hobbynya, dia berpikir mengapa tidak jadi pengecer saja sekalian? Jadi, selain bisa memuaskan hobbynya, Kin juga bisa menghasilkan uang untuk menambah pendapatan keluarganya.

Aku suka sekali menemani Kin menjaga kiosnya. Bukan apa-apa, dengan demikian aku bisa mengikuti perkembangan artis idolaku. Aku memang suka sekali mengoleksi souvenir artis.

?Pokoknya, Kin, bila poster Ken Zhu atau F4, Sheila On 7, atau Ashton Kutcher, atau Veri ?AFI?,? simpankan satu untukku, ya! Jangan sampai kehabisan!? kataku mewanti-wanti. Soalnya, hampir saja aku kehabisan sebuah tabloid yang memuat profil akademia favoritku beserta posternya karena Kin tidak memberitahukannya.

Kin hanya tersenyum.

?Kenapa sih kamu suka sekali mereka?? tanyanya ingin tahu.

?Yah, macam-macam. Ken Zhu dan Ashton Kutcher, jelas karena cakepnya bukan main. Semua benda yang memuat cerita atau foto mereka, pasti kukoleksi. Kalau Veri karena lugunya. Kalau Sheila On 7 karena lagunya keren-keren, padahal personilnya polos-polos banget kayaknya.?

Kin tersenyum lagi. Dia merapikan tumpukan koran, majalah, dan tabloid yang akan dikembalikan pada agen.

?Memang kamu tidak suka dengar lagu Sheila On 7?? tanyaku setengah heran.

?Suka juga,? Kin mengangguk. ?Tapi tidak se-maniak kamu. Menurutku, lagu-lagu lain juga banyak yang bagus.?

?Iya juga, sih! Tapi masak iya sih kamu tidak punya idola sama sekali??

?Ada, Nabi Muhammad!?

?Huh? basi! Kamu kayak orang tua saja, Kin!? olokku.

?Memangnya, remaja tidak boleh mengidolakan Rasul-nya sendiri? Lagipula rugi, mengidolakan manusia biasa yang tidak sempurna dan punya sisi lemah dan rapuh seperti kita-kita. Mending mengidolakan nabi, manusia yang jelas-jelas dijaga kemuliaannya oleh Allah SWT.?

Aku cuma mencibir mendengar ucapan Kin. Bagiku, kalimat-kalimatnya terlalu berat untuk dicerna. Aku tidak terbiasa.

Maklum, hidupku memang dikelilingi kemudahan. Aku terlahir dari keluarga kelas menengah meski tidak bisa dikatakan berada. Namun aku anak tunggal, sehingga perhatian keluarga seluruhnya tertumpu padaku. Makanya, banyak juga orang yang menilaiku sebagai anak manja.

Tapi aku tidak peduli. Bagiku, hidup ini harus dinikmati. Bila diberi kemudahan, buat apa berpikir susah-susah.

?

??????????? Rinai Desember 2003

?Kin, kamu kok betah sekali mengenakan jilbab??

Kin yang sedang menata jilbabnya di depan kaca UKS menatapku sambil mengeryitkan kening.

?Kenapa bertanya seperti itu?? Dia balik bertanya.

?Abis, aku capek ngeliat kamu. Berangkat ke sekolah kehujanan, jilbab dan kaos kakimu basah. Sekarang, bela-belain ganti di UKS karena sengaja membawa cadangan di tas. Mengapa kamu tidak lepas saja sementara seperti yang lain??

Sekarang memang musim hujan. Aku ikut merasakan betapa repotnya Kin bila kehujanan. Padahal di sekolah banyak teman-temanku yang berjilbab, saat basah dengan enteng membukanya di kelas dan menjemurnya di jendela. Tidak ribet bawa jilbab cadangan segala. Sementara Kin, kaos kaki saja meski diganti, karena dia tak mau sampai mata kakinya kelihatan walau sedikit.

?Kamu tahu, aku tidak pernah setengah-setengah dalam mengerjakan sesuatu. Demikian juga dalam berislam, aku ingin secara kaffah--- secara keseluruhan. Saat memutuskan berjilbab, aku juga tidak mau tanggung-tanggung,? tandasnya.

?Tapi Kin, kamu kan masih muda. Mengapa harus seserius itu? Kenapa tidak kamu nikmati saja kebebasan selama masa muda kamu sekarang ini? Sepuluh atau dua belas tahun lagi, bolehlah kamu berpikir seperti itu.?

Kin menatapku. ?Memangnya kamu bisa memastikan umur??

Aku terdiam. Skak mat.

?Kamu sendiri, pernah punya niat untuk berjilbab?? Pertanyaan Kin membuatku tersentak.

Aku diam sesaat. Aku memang Islam, namun tak pernah berpikir seserius Kin tentang agamaku ini.

?Insya Allah nanti. Mungkin saat umurku dualima,? ujarku asal-asalan.

Kin tersenyum tipis. ?Yakin kamu bisa mencapai umur dualima??

Aku tertegun bingung.

Bagaimana selanjutnya? Cerita bersambung ke sini...

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/7880/sepanjang-sungai-barito

  • view 106