Indah Hidayah

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 Maret 2016
Indah Hidayah

NAMANYA Indah Hidayah. Kami rekan sekerja. Mulanya aku menganggapnya rekan kerja biasa, seperti yang lainnya. Tapi lama-lama aku menganggapnya istimewa. Bagiku, dia bukan sekedar wanita biasa.

Namanya Indah Hidayah. Kami rekan sekerja. Tapi aku mengenalnya justru lewat cerita rekan lainnya. Mereka sering membicarakan saat masih berstatus karyawan baru.

?Jangan-jangan dia bisu!?

?Atau tuli juga.?

?Huss?! Dia mendengar, kok. Buktinya masih bisa tersenyum menanggapi. Dia hanya jarang bicara.?

?Jarang katamu?? Menurutku dia malah tak pernah bicara.?

Begitulah kira-kira komentar tentang dia. Komentar yang mula-mula menarikku untuk lebih memperhatikannya. Maka saat ada keperluan ke ruangannya, diam-diam aku mengamatinya.

Selintas sosoknya biasa. Apalagi dia memang nyaris tak ada suara. Duduk di meja yang terletak di pojok ruangan. Lebih suka mengerjakan tugasnya dalam diam. Atau kalau ada waktu senggang dia lebih suka membaca. Sangat berbeda dengan rekan wanita lainnya. Mereka suka sekali bicara. Bahkan saat bekerja saja sambil? bicara. Apalagi pas istirahat atau waktu luang.

Namanya Indah Hidayah. Kami rekan sekerja. Selintas dia biasa. Tapi lama-lama aku menganggapnya istimewa, karena berbeda dengan rekan wanita lainnya.

Indah berjilbab. Sama dengan rekan wanitaku yang lainnnya. Tapi mereka mengenakan jilbab lilit dengan baju kerja model trendy. Sementara jilbab Indah ujungnya dibiarkan berjuntai menutupi dada melengkapi baju kerja longgar model konvensional. Sangat bersahaja.

Namanya Indah Hidayah. Kami rekan sekerja. Bagiku dia bukan wanita biasa. Karena dia selalu bergegas ke musholla bila mendengar azan bergema. Tak peduli tugas di mejanya masih menumpuk. Tidak menunda-nunda seperti teman lainnya. Dia juga menghabiskan waktunya lebih lama di sana. Bahkan pada saat-saat yang tidak biasa. Katanya sih, Shalat Dhuha.

Namanya Indah Hidayah. Kami rekan sekerja. Bagiku, dia bukan wanita biasa. Karena dia sering sekali kedapatan puasa, biasanya setiap Senin dan Kamis. Sama sekali tidak terganggu meski teman-teman di sekitarnya asyik pesta rujak. Tidak merasa tergiur atau tergoda.

Namanya Indah Hidayah. Kami rekan sekerja. Dan sepertinya, aku jatuh cinta padanya. Sungguh, aku tidak bisa menahannya. Padahal seharusnya di antara rekan wanitaku, dia adalah orang yang paling akhir yang boleh aku cintai. Seharusnya aku mencintai wanita biasa. Sementara bagiku, dia wanita istimewa, bukan wanita biasa. Karena aku Mathius Handoko.

***

??????????? Bila cinta memanggilmu

??????????? Bagaimana cara menepisnya?

NAMANYA Indah Hidayah. Aku jatuh cinta padanya. Dan aku yakin, dia juga mencintaiku. Tapi dia berkeras menolakku. Bukankah itu munafik namanya?

Beberapa waktu belakangan, kami banyak bekerjama sama dalam suatu proyek. Kesempatan ini membuat kami semakin mengenal dan akrab. Kebersamaan yang memupuk perasaanku semakin tumbuh subur.

Namanya Indah Hidayah. Ternyata dia tidak sedingin kelihatannya. Hal itu baru kuketahui setelah mengenalnya lebih dekat. Dia juga bisa melucu dan bergurau. Dia tak hanya tersenyum, kadang juga melepas tawa. Dia bisa bicara banyak tentang berbagai hal, dengan hangat dan terbuka. Bahkan, dia juga cerdas lagi bijak.

Namanya Indah Hidayah. Aku semakin mengaguminya. Dan aku kian tak bisa mengendalikan perasaanku. Terlebih setelah aku menemukan pendar-pendar yang sama di matanya, meski dia berusaha menyembunyikannya.

Maka akupun mengutarakan perasaanku padanya.

?Maafkan aku, Han!? ujarnya dengan wajah yang sulit untuk digambarkan. Kadang memerah, kadang pias, kadang memucat.

?Apa maksudmu?? tanyaku penasaran.

?Aku tidak bisa ?? Dia terbata. ?Aku tak bisa??

?Kenapa?? Aku semakin tak mengerti. Mengapa dia bicara seperti itu? Apakah aku salah mengartikan sikapnya? Apakah dia tidak memiliki perasaan yang sama? Lalu kenapa dia menolakku?

Dia menggeleng galau.

?Apakah karena kita berbeda? Apakah karena aku Mathius dan engkau Hidayah? desakku.

?Kau sudah menyadarinya.?

?Ya. Aku tahu kita berbeda. Tapi mengapa tidak bisa? Bukankah banyak orang yang berada dalam posisi sama dengan kita, namun tetap bisa saling mencinta? Kenapa kita tidak?? Suaraku mulai serak oleh luka.

?Kita masih bisa saling mencinta, dalam bingkai persahabatan.?

?Kamu tahu bukan itu yang kuinginkan.?

Kembali dia menggeleng galau. ?Tidak bisa lebih, Han. Maaf!?

Aku gusar. Aku terluka oleh penolakannya. Luka yang semakin pedih karena ketakmengertian alasannya. Aku makin murka karena menemukan kepedihan yang sama dalam suaranya.

Kucekal pergelangan tangannya.

?Jangan munafik, In! Kau juga mencintaiku, kan??

Dia menggeleng.

?Bohong! Lihat mataku!? Aku mencengkeram bahunya, memaksanya menatapku. ?Katakan sekali lagi, kau tidak mencintaiku.?

Dia mengangkat wajah. Berusaha memandang mataku dengan gagah. Matanya berkaca. Bibirnya bergetar hebat. Wajahnya pias.

?Mungkin benar, aku mencintaimu.? Dia mengangguk, pelan. Suaranya pelan, nyaris berbisik. ?Tapi aku lebih cinta Rabb-ku, Allah Azza wa Jalla. Aku lebih cinta Rasulullah Muhammad Salallhualaihiwassalam. Aku lebih cinta agamaku, Islam rahmatan lil alamin.?

Tubuhku mengejang. Namun cengkeraman tanganku melemah.

?Tapi aku tidak memintamu meninggalkan agamamu, apalagi Tuhanmu,? ujarku setengah putus asa. Harapanku sudah tercabik-cabik. Pedih dan perih.

Dia tersenyum getir.

?Dan jangan kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik, meski dia menarik hatimu. Dan jangan kamu nikahkan laki-laki musyrik dengan perempuan beriman, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, agar mereka mengambil pelajaran. Al-Baqarah ayat 221.? Dia bertutur panjang lebar.

Aku pun luruh.

?Jadi kau lebih memilih melupakanku? Bisa kamu melupakanku?? Aku setengah mengerang.

?Kenapa tidak? Bukankah Allah yang membolak-balik hati manusia??

Aku terdiam. Tak mampu lagi berkata-kata. Tenggelam dalam kehancuran.

Keindahannya berlanjut ke sini ...

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/7357/betis-indah-ken-diah

  • view 132