Sejarah Berdarah

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 Maret 2016
Sejarah Berdarah

Banjarmasin hari ini

TARI sudah menduga, siswa yang dikatakan Bu Nur memperoleh nilai terburuk ulangan lalu adalah dirinya. Bagaimana lagi? Dia paling tidak suka pelajaran sejarah. Dia benci menghapal tanggal, peristiwa berikut pelaku dan tempatnya. Untuk apa mengingat masa lalu? Bukankah buang-buang waktu saja?

Sejarah semakin menjadi momok karena dia juga tidak menyukai gurunya. Bu Nur di mata Tari tak ubahnya ?Pithicantropus Erectus? mengerikan. Sudah tidak cantik, setengah tua dan belum menikah, selalu berpenampilan old fashion, galaknya minta ampun lagi. Ngga bisa lihat siswa meleng saat dia menerangkan, kapur pasti melayang ke jidat. Kalau kehabisan kapur, penghapus jadi korban. Bila masih bandel, berdiri di depan kelas sampai pelajaran usai. Bila masih ngga mempan juga, dijemur di bawah terik matahari sampai kering.

Bagi siswa yang takut, mau ngga mau belajar? sebagaimana keinginan Bu Nur. Tapi Tari lain. Dia lebih suka dihukum daripada dipaksa menghapal sejarah. Sederet hukuman pernah dijalaninya, tapi tak pernah kapok juga. Sampai Bu Nur nyaris kehabisan akal.

Sekarang entah apalagi hukuman yang akan diberikan demi mengganjar ?telur busuk? yang bertengger di kertas ulangannya. Apapun itu, Tari sudah siap.

?Kamu harus mencari dan membaca buku sejarah tentang Perang Banjar. Hasilnya harus kamu ceritakan di depan kelas,? ujar Bu Nur.

?Bagaimana kalau saya tidak mengerjakannya?? Tari menantang.

Mata Bu Nur menyipit, memendam kegeraman tertahan.

?Kalau kamu sengaja tidak mau mengerjakan, terpaksa ibu minta walikelas memanggil orangtuamu. Ibu ingin mereka tahu, betapa anaknya membenci sejarah, seolah masa sekarang bisa ada tanpa melewati masa lalu,? tandas Bu Nur.

Tari tertegun.

***

Sungai Malang, 15 September 1860

PERLAHAN Tari membuka mata. Dia terperanjat mendapati wajah-wajah asing sedang mengelilingi. Ada sekitar lima cewek remaja. Mereka sebaya dengannya, tapi berpenampilan jauh berbeda.

Tari bergegas bangun. ?Di mana saya? Apa yang terjadi??

Cewek-cewek itu bertukar pandang. Salah seorang mendekat.

?Syukurlah kamu sudah sadar! Kami menemukanmu hanyut di sungai. Kami kira kamu sudah meninggal,? ujarnya.

Tari tertegun. Dia mengerti maksudnya. Namun entah kenapa, logat bicaranya terdengar asing. Tidak seperti bahasa sehari-hari yang biasa dia dengar.

Tari semakin bingung saat menatap sekeliling. Ternyata dia berada di sebuah batang yang tertambat di tepi sungai. Cewek-cewek ini tampaknya sedang mandi dan mencuci. Mereka mengenakan kain sedada yang sebagian besar sudah basah. Rambut mereka pun basah.

?Jah? Dijah?.!? Tiba-tiba sebuah teriakan bergema.

Sesosok cewek lain berlari sepinggiran sungai, menghampiri mereka. Lagi-lagi Tari terlongo bingung melihat pakaiannya --- mengenakan tapih dengan atasan baju kurung basisit. Setahunya, tak ada lagi cewek remaja yang mengenakan pakaian seperti itu, bahkan di pelosok desa sekalipun.

?Ada apa, Sah?? Cewek yang mengajak Tari bicara bertanya heran kepada temannya yang baru datang.

?Pasukan Belanda mengepung kampung kita,? ujar cewek yang baru datang dengan nafas tersengal.

Dijah terbelalak. ?Jadi benar yang dilihat penjaga semalam adalah tentara Belanda yang mengendap-endap masuk kampung kita??

?Benar. Pasti mereka bermaksud menangkap Haji Abdullah. Mereka memanfaatkan sakitnya Pak Haji. Tapi darimana mereka tahu? Pasti ada pengkhianat!? gumam yang lain.

?Kalau begitu, kita harus segera kembali ke kampung!? tandas Dijah tegas.

Tanpa membantah, cewek-cewek itu segera membereskan cucian dan peralatan mandi. Sebelumnya, mereka bergegas mengenakan baju kurung basisit yang modelnya sama dengan milik cewek yang baru datang tapi berbeda warna. Kemudian mereka berlari-lari kecil meninggalkan batang. Tari yang kebingungan mengikuti mereka.

?Ada apa sebenarnya? Ini di mana? Siapa kalian?? tanyanya kepada seorang cewek yang berlari paling buntut.

Cewek itu menatapnya. ?Oya, kamu kan bukan orang sini? Kamu hanyut dari mana? Cara berpakaianmu aneh. Sekarang, kamu berada di Kampung Sungai Malang, dekat Candi Agung, Amuntai. Kami warga kampung itu. Sementara mereka itu adalah Hadijah, Aisyah, Kalimah dan Bulan, pengikut Haji Abdullah.?

?Kampung Sungai Malang Amuntai?? Tari terbelalak, semakin kaget. ?Lalu siapa Haji Abdullah??

?Haji Abdullah adalah salah seorang pemimpin perjuangan Rakyat Banjar melawan penjajah Belanda. Beliau sering melakukan penyergapan terhadap patroli-patroli Belanda di Daerah Sungai Banar dan Jarang Kuantan. Pada penyergapan terakhir, beliau tertembak di paha sehingga dibawa pulang ke kampung,? tuturnya.

Tari semakin terlongo mendengar penjelasan itu. Perjuangan rakyat melawan penjajah Belanda? Bukannya peristiwa itu ratusan tahun lalu? Bukankah Indonesia sudah enampuluhtahunan mengecap kemerdekaan?

Apa yang terjadi pada Tari sebenarnya? Jawabannya ada di sini...

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/7341/kabut-di-lontontour

  • view 91