Seuntai Maaf, Segumpal Sesal

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Februari 2016
Seuntai Maaf, Segumpal Sesal

Denting piano saat jemari menari

Nada merambat pelan di kesunyian malam

Saat datang rintik hujan bersama sebuah bayang

Yang pernah terlupakan

JARUM-JARUM air menghujam bumi. Mulanya jarang-jarang, lama-lama semakin berkembang. Dari ratusan menjadi ribuan, puluhan ribu, bahkan jutaan, dan akhirnya tak terhingga. Angin dingin pun mulai berhembus. Menusuk pori. Menembus tulang.

Kurapatkan restleiting jaketku dan menjauh dari jendela. Namun pandanganku tak beranjak, tetap menekuri senja yang perlahan turun bersama guyuran hujan. Sementara gendang telingaku sayup-sayup menangkap alunan piano mengiringi nyanyian air.

Sempurna, desahku lirih. Hujan dan suara piano membuat hati yang penuh luka kian nelangsa. Hawa dingin yang menusuk membuat luka semakin perih. Suara piano yang mendayu membuatku semakin sendu.

Tak tahan, kututup jendela rapat-rapat dan beranjak menuju dipan. Namun dari balik dinding kamar, suara Iwan Fals bersenandung melantunkan penyesalan. Pasti Ryan, tetangga kosku yang memutarnya. Tapi aku turut larut di dalamnya.

Tiba-tiba selintas nama terbersit. Sekelebat bayangan muncul begitu saja. Perlahan benakku menyusun sesosok dari serpihan kenangan. Semula samar. Lama-lama semakin jelas. Membuatku sempat tertegun bingung. Mengapa sosok itu? Bukankah ratusan hari lalu telah terhapus dari benakku? Kenapa bisa mendadak menyeruak ingatanku?

Sosok itu terlukis nyata. Rambut lurus melewati bahu, agak kecoklatan. Wajah oval dengan bibir tipis dan lesung pipit yang selalu mengiringi saat bibir itu melengkungkan senyum. Aku bahkan nyaris lupa betapa manisnya senyum itu.

Aku mendesah. Mungkinkah perasaanku yang mendayu-dayu akibat luka yang mengharu-biru menyeret kembali sosok ini dari memori yang mulai terkubur waktu? Yah, mungkin saja. Karena bukan dia yang menyebabkan luka. Sebaliknya, ratusan hari yang lalu, luka yang sama pernah kugoreskan di kelembutan hatinya. Luka yang disebabkan sebuah pengkhianatan dan kebohongan.

Apakah ini yang dinamakan karma? Bumerang yang pernah kulemparkan kini berbalik melukaiku. Sungguh balasan yang setimpal! Seperih ini jugakah luka yang dirasakannya dulu? Segetir inikah rasa sakit itu?

Penyesalan tiba-tiba berdentaman di dadaku. Mengapa baru sekarang? Padahal setelah melukainya, ringan saja kuberpikir waktu akan segera menyembuhkannya. Tak ada penyesalan apalagi maaf yang terucap seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Bahkan ketika lingkungan mulai memojokkanku, dengan enteng aku melangkah pergi, melarikan diri.

Ah, seandainya ratusan hari yang lalu aku tak pernah menggoreskan luka dengan belati kebohongan dan pengkhianatan, mungkinkah sekarang aku tak merasakan perihnya luka itu? Mungkin begitu. Karena bukankah berarti sampai sekarang aku akan tetap bersamanya?

Aku meremas rambutku gusar. Berusaha mengusir berbagai pikiran yang berkecamuk di kepalaku. Tapi rasanya tetap melekat. Bayangan itu semakin nyata. Bahkan bagai proyektor yang memutar ulang kenangan ratusan hari yang lalu. Aku seperti menonton sinetron di mana aku berperan sebagai tokoh antagonisnya.

?

?

?

Hati kecil berbisik untuk kembali padanya

Sribu kata menggoda, sribu sesal di depan mata

Seperti menjelma waktu aku tertawa

Kala memberimu dosa

Oh?? maafkanlah?????

?

MEL di mataku cukup menarik dan unik. Itulah sebabnya aku memutuskan mendekatinya. Namanya Melati Sri Rezeki. Nama yang anggun sebenarnya. Tapi pemiliknya justru cenderung tomboy. Jeans dan kemeja gedobrang jadi pakaian kebesarannya. Sepatu kets dan topi adalah favoritnya. Padahal wajahnya sebenarnya lumayan manis.

Bila belum mengenal Mel, mungkin dikira dia sombong. Gayanya berjalan cuek. Ogah lirik kiri-kanan, apalagi tolah-toleh. Pandangan lurus ke depan. Atau malah menunduk menekuri jalan. Setelah lebih dekat, baru ketahuan Mel itu agak pemalu. Sikap acuhnya justru untuk menutupi sifat pemalunya. Kalau digoda, dia takkan bisa menyembunyikan pipinya yang bersemu merah dan sikapnya menjadi salah tingkah.

Tapi bila lebih dekat lagi, semua kesan itu akan berubah. Mel itu ternyata lincah dan cerewet. Bila digoda, dia bisa membalas. Skak mat! Dia periang. Suka bergurau dan iseng. Selain itu, dia juga bisa menjadi pendengar yang baik.

Namun yang membuatku paling terkesan, Mel ternyata cukup religius. Tomboy begitu, shalatnya tidak pernah bolong. Di dalam tasnya, selalu sedia mukena yang siap digunakan kapan saja. Ngajinya juga lancar. Kalau lagi serius, ngomongnya penuh nasihat bertujuan mengingatkan.

Maklum, aku kan termasuk umat beragama yang abangan. Shalat, masih mending bila bolong-bolong, ini nyaris blong. Hampir tidak pernah sejak tiga tahun lalu. Mungkin bacaan shalat pun aku sudah lupa.

Mengingat besarnya perbedaan kami, semua bilang aku beruntung bisa mendapatkan Mel. Namun modalku bukan keberuntungan semata. Usahaku mendekati dia cukup maksimal dan lama. Aku bahkan rela pindah kos agar berdekatan dengan kosnya hingga bisa hampir setiap sore main ke sana.

Walau begitu, perjuanganku toh tidak sia-sia. Mel menerimaku untuk berbagi, sebagai pendamping menjalani hari-hari. Dan kami bahagia. Perbedaan justru membuat kebersamaan kami penuh warna. Mel tetap dengan kecuekannya yang religius. Aku tetap dengan kebebasanku yang slebor.

Mel jadi semakin sering menasihatiku untuk menjalankan agama yang kuanut dengan sungguh-sungguh. Mengingatkan untuk shalat, bahkan menghadiahkan baju koko, kopiah, sarung, sajadah, dan tasbih saat aku ulang tahun. Aku menanggapinya dengan tawa dan janji tak pasti. Enteng dan ringan. Dan Mel tak pernah mengeluh karenanya.

Sampai aku mengenal Riska. Kami memiliki banyak persamaan yang membuat jurang perbedaanku dengan Mel kian melebar. Aku jadi lebih banyak bersamanya ketimbang dengan Mel. Mel sempat curiga, dan mendesakku bicara. Tapi aku mengelak. Kupikir, saatnya belum tiba.

Kuputuskan pindah kos saat merasa teman-temanku pun mulai mencurigaiku. Rupanya kepindahanku semakin memancing kecurigaan mereka. Suatu ketika, tiba-tiba Ardi datang ke kos baruku. Kebetulan saat itu aku bersama Riska.

?Bisa bicara berdua saja?? pintanya padaku dengan wajah dingin.

?Aku datang bersama Mel dan Rifki. Dan terimakasih atas suguhan kebenaran yang selama ini kau sembunyikan. Seandainya bukan teman, rasanya ingin sekali kuvermak wajahmu yang munafik itu!? ucapnya geram saat kami sudah menjauh dari Riska.

Ardi pergi dengan kemarahan tertahan. Aku sadar, segalanya sudah terbuka. Mel sudah mengetahui semuanya. Demikian juga Ardi dan Rifki, teman-teman kosku yang dulu. Tak heran bila mereka marah. Pasalnya, mereka berdua adalah orang yang paling sering kuajak menemaniku berkunjung ke kos Mel. Bahkan Rifki masih tergolong family jauh Mel.

Lanjutannya di sini, ya...!

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/8197/cowok-rumah-sebelah

  • view 117