Gaji Yang Tertunda

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Februari 2016
Gaji Yang Tertunda

SUASANA sekolah pukul sepuluh pagi terasa lengang. Koridor yang tadinya hiruk pikuk oleh suara ratusan siswa-siswi yang bergurau, diskusi dan ngerumpi lenyap. Hanya terlihat beberapa siswa yang mondar-mandir untuk mengambil kapur atau keperluan belajar lainnya. Terkadang tampak juga satu dua orang guru dengan setumpuk buku di tangannya.

Dari jendela ruang kantor kepala sekolah, sepasang mata berbingkai gading mengamati suasana dengan bibir mengulum senyum. Wajahnya yang dipenuhi guratan pengalaman hidup yang lumayan panjang membiaskan kebahagiaan. Sungguh, dia merindukan suasana di sekolah. Padahal, baru beberapa bulan dia resmi pensiun, dan menghabiskan hari-harinya di rumah hanya dengan membaca dan mengurus kebun.

Bulan-bulan pertama masih terasa menyenangkan, lepas dari segala beban tugas dan tanggungjawab yang puluhan tahun dipikul di pundaknya. Namun lepas bulan ketiga mulai terasa kehampaan dalam sisa hidupnya. Dia merindukan suasana sekolah. Dia rindu melihat tingkah polah siswa-siswi yang telah beranjak remaja menuju gerbang kedewasaan. Dia rindu menasihati mereka, menanamkan nilai-nilai moral dalam kehidupan. Dia rindu memarahi mereka, berusaha menyadarkan setiap kesalahan selalu diikuti konsekuensi bahkan terkadang tak memberi kesempatan untuk kembali.

Namun untunglah, saat kerinduan itu mengental dan hampir membeku, tawaran menarik disampaikan kepadanya. Seorang kawan lama yang menjadi pengurus sebuah yayasan pendidikan menawarkan jabatan kepala sekolah di sebuah SMK yang didanainya. Benar-benar pucuk dicinta, ulam pun tiba. Tanpa memerlukan waktu panjang untuk memikirkannya, Rusdi langsung menerima. Walaupun itu berarti, dia harus hijrah dari ibukota ke kota kabupaten karena di sanalah letak sekolah yang akan dipimpinnya.

Tekadnya semakin bulat ketika sang istri tercinta mendukung keinginannya karena sama-sama ingin melewatkan masa tua yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk kota besar. Apalagi ketiga putra-putri mereka sudah membangun keluarga masing-masing dan tidak lagi tergantung pada mereka.

Dan di sinilah dia sekarang. Setelah rumah di ibukota terjual, mereka membeli rumah yang secara kualitas dan kuantitas lebih baik di kota kabupaten. Diantar putra-putrinya, Rusdi dan istri resmi bermigrasi, dan memulai kehidupan mereka yang baru. Hobbynya berkebun diteruskan istrinya? di rumah, sementara dia kembali mengabdikan diri sebagai pendidik generasi calon penerus bangsa.

Rusdi menghela nafas. Entah mengapa, masih pagi begini perutnya terasa kosong sehingga sesekali terdengar nada keroncong. Padahal, pagi-pagi setelah olahraga ringan dia selalu sarapan. Mungkin porsinya kurang karena beberapa hari ini dia mengeluarkan energi ekstra untuk menata kehidupannya yang baru di kota ini.

Rusdi melirik sudut meja kerjanya. Sudah terhidang segelas teh manis berikut dua potong roti goreng isi kacang hijau dan pisang. Tapi rasanya masih belum cukup untuk mengganjal ruang kosong di perutnya.

Rusdi berjalan keluar. Ketika membuka pintu, ruang dewan guru hanya menyisakan beberapa guru yang asyik ngerumpi sambil mengoreksi tumpukan buku tugas murid di hadapan masing-masing. Melihat kehadirannya, serentak mereka berdiri dan memberi salam.

?Ada yang bisa dibantu, Pak?? Seorang guru pria berusia pertengahan empat puluh menghampirinya.

Rusdi tersenyum tipis. Baru tiga hari dia resmi menjadi kepala sekolah, dan ternyata otak tuanya sudah cukup payah untuk mengingat satu persatu guru yang mengajar di sekolahnya. Maklum, jumlah mereka limapuluhan, dan sebagian besar adalah guru honor yang hanya datang pada jam-jam mengajar. Sementara yang berstatus guru tetap hanya sedikit. Mereka pun tidak terus-menerus berada di sekolah karena juga merangkap mengajar di sekolah lain disebabkan penghasilan yang tidak mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Tapi bagi Rusdi, Pak Usman adalah pengecualian. Guru yang berpenampilan selalu modis dengan kumis tipis ini adalah salah satu dari sedikit guru yang berhasil direkam dalam benaknya. Pasalnya, selain berstatus guru tetap, Pak Usman juga adalah wakilnya di bidang Kurikulum dan Pengajaran. Selain itu, Pak Usman bertipe penjilat yang selalu berusaha mendekati atasan dengan kata-kata manis yang terkadang terlalu berlebihan.

?Terimakasih Pak Usman, saya cuma mencari Mang Jasmin.?

?Tadi saya lihat Mang Jasmin di belakang laboratorium bahasa, Pak. Sedang merapikan bonsai di sana,? sahut seorang ibu muda, tampaknya guru honor yang baru saja menyelesaikan kuliah FKIP-nya.

?Perlu saya panggilkan, Pak?? Lagi-lagi Pak Usman menawarkan.

?Tidak, Pak Usman,? Rusdi buru-buru menolak. ?Biar saya yang ke sana. Sekalian melihat-lihat suasana.?

Rusdi keluar ruang guru dilepas pasangan mata. Dalam hati dia maklum, pasti para guru itu sedang mereka-reka bagaimana sosok orang yang baru memimpin mereka. Pasti mereka juga membanding-bandingkan dirinya dengan sosok kepala sekolah terdahulu.

?
? ?

?

?

?

MANG Jasmin adalah orang pertama yang dikenalnya di kota ini selain Khaidir --- sahabat yang mengajaknya hijrah. Mang Jasmin adalah penjaga sekolah yang akan dipimpinnya, berusia sekitar lima puluhan. Fisiknya masih terlihat gagah karena pekerjaan menjadi latihan bagi otot-ototnya. Sementara kerut-merut di wajahnya justru menggoreskan ketuaan yang lebih banyak daripada usianya yang sebenarnya.

Sejak hari pertama kepindahannya, Mang Jasminlah yang paling banyak membantunya. Khaidir yang memberi tugas itu padanya. Bahkan istri dan anak-anak mereka, putra berumur tigabelas dan putri berumur sepuluh tahun ikut membantu membersihkan rumah yang sekarang ditempati.

Sosok Mang Jasmin ditemukannya di bawah pohon beringin, sedang menggenggam sapu lidi. Ada suara lain yang sedang mengajaknya bercakap-cakap sehingga Rusdi urung menyapa. Dia kemudian menyembunyikan tubuhnya di balik batang pohon akasia ketika mendengar pembicaraan mereka menyebut namanya.

?Minta saja pada Pak Rusdi, Pak! Dia tampaknya orang baik. Tidak seperti Kepala Sekolah yang dulu,? terdengar suara seorang wanita.

?Justru karena dia orang baik, kita tidak boleh membebaninya dengan masalah yang dia sama sekali tidak terlibat di dalamnya. Tampaknya, dia sama sekali tidak tahu-menahu bagaimana kondisi sekolah ini sebenarnya.?

?Lalu kita harus bagaimana? Sudah hampir tiga bulan gaji Bapak tidak dibayar. Utang kita di warung sudah menumpuk. Tunggakan SPP anak-anak juga mendesak harus dibayar. Belum lagi utang kita kepada beberapa guru di sini. Saya malu bila ketemu mereka, Pak. Apalagi, honor mereka bulan ini katanya juga belum dibayar.?

?Yah, harus bagaimana lagi?.? Mang Jasmin menghela nafas berat. ?Bukan kita tidak ingin membayar, tapi karena memang uangnya belum ada. Bagi mereka yang menganggap mengajar di sini hanya sekedar kerjaan sampingan, mungkin tidak masalah, karena mereka berasal dari keluarga yang berkecukupan. Tapi saya tahu, Bu, banyak juga guru yang menggantungkan hidupnya pada honor hasil mereka mengajar di sini.?

Rusdi terpaku di tempatnya. Baru beberapa hari, dia sudah dihadapkan persoalan sepelik ini. Entah mengapa, Khaidir tidak menceritakan padanya sebelumnya.

?

?

?

HANDPHONE Khaidir sulit dihubungi. Ditelepon ke rumah, dikatakan sedang pergi ke luar daerah. Namun Rusdi sudah mendapat sedikit gambaran dari Bu Darni --- bendahara sekolah, Pak Usman dan Pak Gafar, kedua wakilnya tentang persoalan yang membelit sekolah ini.

?Kepala Sekolah yang lalu lari membawa sebagian besar aset sekolah --- termasuk puluhan juta uang tunai yang sedianya digunakan untuk membayar guru dan staf sekolah lainnya,? ujar Pak Usman membuka kisah.

Maka kisah itu meluncurlah. Intinya, yayasan sedang kesulitan keuangan akibat tragedi ini. Khaidir dan beberapa pengurus sedang berkeliling mendatangi para donatur agar bisa menambah sumbangan mereka.

?Jadi, sudah berapa lama honor guru dan gaji staf lain tertunda dibayar?? tanya Rusdi pada Bu Darni.

?Sudah hampir setengah bulan, Pak.?

Rusdi tertegun. Sudah selama itu, berarti bukan hanya keringat mereka yang mengering, mungkin airmata pun sudah ikut kerontang. Bukankah Rasulullah berpesan agar membayar upah pekerja sebelum keringatnya kering?

Gajinya tertunda hingga ke sini ...

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/8106/usai-ijab-kabul

  • view 140