Cincin Belah Rotan Ibunda

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Februari 2016
Cincin Belah Rotan Ibunda

?MEL!?

Sebuah tangan menggamit lengannya, menggugah kesadarannya. Mel menatap Tante Nur.

?Ada apa, Tante?? tanya Mel.

Tante Nur melolos sebuah cincin dari jarinya dan meletakkan di telapak tangannya.

?Kamu ingat cincin ini kan, Mel??

Mel terbelalak. Cincin emas itu berbentuk belah rotan, umumnya digunakan sebagai cincin kawin. Bagian dalam terpatri namanya.

Tentu Mel ingat. Tiga tahun lalu, Bunda membelikan cincin itu. Untuknya dan untuk Teddy, adiknya, berpatri nama masing-masing. Semula mereka senang menerimanya. Tapi ketika sering diledek, karena mengenakan cincin kawin, keduanya mengembalikan cincin tersebut kepada Bunda. Alasannya, takut mematikan pasaran.

?Enam bulan lalu, ibumu menjualnya. Katanya, lagi perlu uang. Mau dijual ke pasar, takut harganya jatuh karena terpatri nama. Berarti emasnya harus dilebur, baru dijual kembali kepada pembeli? lain. Jadi, ibu minta Tante yang mengganti. Katanya, siapa tahu nanti kamu mau menebusnya kembali,? tutur Tante Nur.

Mel tertegun menatapi cincin di telapak tangannya.

?Kalau cincin Teddy, sudah lama dijual ke pasar.? Tante Nur melanjutkan.

Bagai balon yang terus diisi udara, dada Mel terasa sesak. Beban yang selama ini berusaha dipendam di dasar hatinya seakan membuncah.

?Mel??

Mel buru-buru menyahut. ?Baik, Tante. Nanti Mel tebus.?

Tante Nur berlalu.

Mel menggigit bibir, menahan kepedihan yang perlahan menyeruak dari balik kalbunya. Kepedihan? yang? berusaha diingkarinya.

MEL sedang berkutat dengan tuts sambil memelototi monitor ketika ponselnya berbunyi. Teddy, batinnya mengenali nomor yang tertera.

?Assalamualaikum!?

?Waalaikumsalam. Ada apa??

Tak terdengar jawaban.

?Ted, ??

?Bunda meninggal.?

Mel tertegun. Seolah tidak mendengar apa-apa.

?Apa??

Telepon di seberang ditutup. Begitu cepat. Begitu tergesa-gesa.

Mel terlongong-longong. Bingung. Dia mendengar, tapi bagai tak mendengar. Dia mengetahui, tapi tak mengerti. Tiba-tiba kepalanya blank. Padahal tadinya penuh dengan gagasan dan ide yang siap dicurahkan. Tapi sekarang bagai kosong melompong.

Mel berdiri sambil meraih tasnya. Dia menghampiri Mas Yadi, koordinator liputan yang juga asyik dengan editannya.

?Mas, aku mau pulang. Katanya, ibuku meninggal,? ujarnya datar. Nyaris tanpa nada.

Mas Yadi mengangkat wajah, menatapnya. Sementara beberapa rekan yang lain juga menoleh. Kaget bercampur heran. Kaget mendengar berita tersebut.? Heran karena disampaikan tanpa nada.

?Innalillah? kapan, Mel?? tanya Mas Yadi.

?Barusan adikku telepon,? jawab Mel sambil melangkah ke luar ruangan. Gamang, seperti orang yang terhipnotis.

?Memangnya beliau sakit?? Mas Yadi menjajarinya. Yang lain bertukar pandang dengan bingung.

?Entahlah,? sahut Mel tak pasti. ?Sakit yang biasa saja.?

Mel terus melangkah menuju tempat parkir.

?Mel, mau diantar?? tawar Mas yadi setengah berteriak.

Mel menggeleng. ?Tidak usah.?

Mel mengendarai motornya, meluncur menuju rumah. Kepalanya masih terasa kosong. Hatinya. Dia benar-benar tak merasakan apa-apa kecuali kegalauan. Dia merasa berada di dunia lain yang tak dikenalnya.

Sampai di depan rumah, lagi-lagi merasa asing.? Rumah sederhana mereka, biasanya sepi, karena hanya didiami 3 orang.? Bila dia dan Teddy pergi, tinggal Bunda dan Ayah yang sudah pensiun dari pekerjaannya. Benar-benar terasa lengang. Sampai pagi tadi dia meninggalkan rumah, masih seperti itu keadaannya.

Tapi sekarang tampak lain. Banyak orang keluar masuk. Sebagian besar dikenalnya sebagai keluarga dekat dan para tetangga. Mereka tampak sibuk mengatur itu-ini. Mengeluarkan kursi ke halaman. Memasang bendera hijau. Menulis di papan tulis pengumuman.

Melihat kedatangan Mel, mereka terdiam. Mereka menatapnya dengan pandangan asing. Seperti iba bercampur haru. Mel bergegas masuk. Ruang tamu telah kosong. Semua mebel sudah dikeluarkan . Para tamu duduk beralas karpet. Mereka membaca Yasin. Ada yang merangkai daun pandan menjadi bunga rampai.

Dia langsung ke ruang keluarga. Ada sesosok tubuh terbujur tertutup kain dikelilingi beberapa orang di antaranya Ayah, Nenek, dan sepupu-sepupunya. Mereka menyingkir, memberinya jalan. Ayah? bergegas keluar seakan menghindar. Berusaha menyembunyikan wajahnya yang basah.

?Mel, Bundamu?? Nenek menggamit lengannya dengan suara serak.

Seseorang menyibak kain penutup. Tampaklah seraut wajah yang teramat dikenalnya. Masih terlihat cantik, meskipun pucat. Bahkan warna merah lipstik belum hilang dari bibirnya. Hanya rambut kelabunya--- percampuran warna hitam dan putih, yang biasa rapi terlihat agak berantakan.

Seandainya saja tak ada gumpalan kapas yang menutup hidungnya, Mel pasti mengira Bunda hanya tidur. Jadi, benarkah Bunda sudah tiada? Bagaimana mungkin Bunda sudah meninggal? Padahal tadi pagi, dia masih melihatnya berjalan tertatih ke luar kamar menuju toilet. Mengapa sekarang sudah terbujur kaku dan takkan bangun lagi?

Mel masih berharap Bunda membuka matanya, memandangnya dan tersenyum. Mel masih berharap Bunda akan bangun dan memanggil namanya. Kemudian mereka ngobrol dan bercengkerama. Ah?. Mel nyaris lupa, sudah berapa lama mereka tak melakukannya. Entah sudah berapa lama mereka kehilangan waktu untuk bersama-sama. Bahkan saat Bunda tak merasa sehat, dia tetap sibuk dengan pekerjaannya.

Kesedihan serasa membuncah. Mel merasa dadanya mau meledak. Air mata serasa berebut ingin keluar, menyemburkan berbagai rasa yang bergolak; sedih, sesal, haru, dan tak rela.

Mel menghambur, bermaksud memeluk sosok itu. Tapi beberapa tangan menahannya. Kuat. Dia berontak. Tangisnya menyuarakan penyesalan dan ketakrelaan.

?Mel, sabar! Sabar, Mel! Bundamu sudah pergi. Kau tangisi sekeras apapun takkan ada gunanya lagi. Airmatamu hanya akan membebani perjalanannya menuju hadirat Ilahi. Relakan saja, Mel! Ikhlaskan saja!? hibur orang-orang sahut menyahut.

Mel berhenti memberontak. Tiba-tiba dia mematung.

Benar. Dia menangis darahpun takkan mengembalikan Bunda. Suka atau tidak. Rela atau tidak. Ikhlas atau tidak. Tetap takkan mengubah kenyataan. Bunda sudah pergi, meninggalkan dunia dan segala isinya.

Bukan kepergian Bunda yang dia sesali. Bukan. Dia hanya merasa diri sebagai putri yang tak berbakti. Jangankan membahagiakan Bunda, dia bahkan tidak berada di sisinya di saat-saat terakhir hidupnya. Dia tahu Bunda tidak sehat, tapi sama sekali tak tersebersit niat untuk menemaninya.

?

?

?

?

?

RISKA memandangnya cemas. ?Mel, kamu tidak apa-apa, kan??

Mel mengangkat wajah, kemudian menggeleng. ?Aku baik-baik saja.?

?Tidak, Mel. Kamu tidak baik-baik saja. Mel, kalau kamu sedih, kamu boleh menangis. Adalah normal bila kita menangis sedih karena kehilangan orang yang kita sayangi. Jangan ditahan, Mel! Itu justru membuat kami cemas,? ujar Riska.

Mel memandang Riska, hampa.

Riska menghela nafas. Ketika mendengar Bunda Mel meninggal, Riska langsung datang. Dia ingin menghibur temannya itu. Tapinya dia mengira akan mendapati Mel sedang berurai airmata sehingga dia bersiap menampung kesedihan temannya dalam rangkulannya. Tapi justru mendapati Mel duduk di pojok ruangan, memandang jasad Bundanya dengan tatapan kosong. Tanpa airmata. Apalagi isak dan sedu sedan. Jadi Riska hanya menemani duduk di sampingnya.

Ketika teman-teman kantor datang, dia menyambut mereka. Juga tanpa airmata. Sesekali malah tersenyum. Bahkan menanggapi candaan, seolah tidak sedang berkabung. Terkadang dia juga ikut sibuk, menyiapkan peralatan perawatan jenazah, bahkan ikut memandikan.

Tak habisnya Riska menatap tak percaya. Setegar itukah Mel? Setabah itukah dia? Atau dia justru menyimpan air bah dalam dadanya? Hal itu justru sangat mengkhawatirkan.

Kesedihan Mel bersambung ke sini...

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/8022/suatu-siang-di-warung-pojok-terminal

  • view 154