Garuda Mania

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Februari 2016
Garuda Mania

?GO? Go ? Go? Garuda! Go ? go ? get goal! Go? Go? Go Garuda! Go? Go? Go? get win! ?

Teriakan itu terdengar bergemuruh dari tribun timur. Aku menoleh. Ratusan massa tampak kompak dalam gaya dan suara. Memakai berbagai atribut tim kami --- SSB Garuda.

?Suporter kita, Yan!? bisik Bang Ardi, pelatih kami. ?Nanti kau akan mengenal mereka.?

Aku tersenyum. Hebat! Baru sekolah sepakbola saja sudah ada kelompok suporternya. Pasti sebagian besar anggotanya adalah keluarga dan teman-teman pemain.

Tapi sesungguhnya, bukan itu yang paling menarik perhatianku. Di antara gemuruh teriakan itu, ada sebuah suara lengkingan khas. Tinggi dan nyaring. Aku mencoba mencari pemiliknya di antara kerumunan massa. Dan aku sama sekali tidak mengalami kesulitan untuk menemukannya. Dari sekian ratus supporter, hanya beberapa gelintir yang berjenis cewek. Salah satunya bertubuh mungil, terselip di antara para cowok. Dari gayanya yang atraktif dan penuh semangat, aku bisa memastikan, pasti dialah pemilik suara khas itu.

?Sssttt? Yan, jalan!? Ada suara dari arah belakangku bersamaan dengan dorongan pelan.

Gara-gara meleng, aku tak tahu barisan pemain sudah disuruh memasuki lapangan. Suara suporter dari semua penjuru tribun semakin riuh rendah menyambut. Aku berusaha melihat sekeliling. Agaknya, jumlah suporter lawan tak kalah banyak. Tapi entah kenapa, di telingaku lengkingan khas itu justru mendominasi.

Setelah melakukan ritual penghormatan, bersalaman dengan lawan, dan berpose bersama, serta menentukan menentukan sisi lapangan melalui lemparan koin, kami pun berkumpul membentuk lingkaran.

?Sekaranglah saatnya kita perlihatkan hasil latihan keras selama ini. Memang baru pertandingan pertama. Jadi kita tidak boleh kalah. Kita tidak boleh mengecewakan pelatih. Kita tidak boleh mengecewakan orang-orang tercinta yang mendukung kita. Namun yang lebih penting, kita tentu tak mau mengecewakan diri sendiri,? ujar Raihan --- kapten kami, dengan suara baritonnya yang penuh kharisma. ?Sebelumnya, mari kita berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing!?

Setelah menunduk beberapa saat, kami menyatukan tangan. Meneriakan yel-yel dan menyebar menuju posisi masing-masing.

Masih ada waktu beberapa menit sebelum wasit meniup peluit panjang tanda pertandingan dimulai. Kulihat Raihan khusuk menadahkan tangannya, membisikkan sebait doa. Begitu pula teman-teman lain. Termasuk Krisna di bawah tiang gawang serta Lukas yang berdiri di dekatnya, berdoa menurut caranya sendiri.

Bagai tersentak untuk diingatkan. Mengapa aku tidak? Aku kan bukan komunis, walaupun tidak bisa juga mengaku diri alim. Kutundukkan kepala sejenak, menggumamkan beberapa doa yang terlintas di kepalaku.

Doa kuakhiri sesaat sebelum suara peluit wasit melengking nyaring. Sekali lagi kutoleh tribun penonton, mencari pemilik suara yang terus saja menggema. Bagai memperoleh semangat berlipatganda, aku berlari menuju arah bola. Kukumpulkan segenap konsentrasi untuk pertandingan kali ini.

***

KUTARIK nafas lega, ketika peluit panjang tanda pertandingan berakhir terdengar. Segera kusalami lawan yang berdiri paling dekat. Sementara ratusan penonton ikut menyerbu masuk lapangan. Mereka berebut menyalami.

Aku mencari-cari. Tapi tak kutemukan sosok itu. Ke mana dia? Apakah dia tidak ingin memberikan selamat kepada tim yang didukungnya? Ada rasa kecewa menyelinap di hatiku. Padahal aku sangat ingin mengenalnya lebih dekat.

Setelah suasana di lapangan mereda, kami masuk ke kamar ganti. Kami harus berkemas, karena tim lain yang juga dijadwalkan bertanding hari ini akan memakainya.

Tiba-tiba aku melihat sosok itu. Dia kelihatan lebih mungil bila dilihat dari dekat. Wajahnya imut. Manis. Rasanya sulit dipercaya, dari bibirnya yang tipis itu bisa mengeluarkan teriakan melengking pemacu semangat kami saat berada di lapangan.

Tapi cewek itu tidak sendiri. Dia bersama Raihan. Tampak akrab. Raihan merangkul bahunya sambil sesekali menarik rambutnya yang diekor kuda.

?Kris, cewek itu kan??

Krisna yang asyik membereskan isi tasnya mengangkat wajah, menoleh ke arah telunjukku.

?Oh, itu Aina, adik Raihan.?

?Adik Raihan??

Krisna mengangguk. Lega rasanya melihat anggukan itu. Setelah kuperhatikan, memang ada kemiripan wajah keduanya. Terutama pada mata yang sama-sama berwarna hitam kelam, namun tampak berkilauan. Membiaskan semangat dan harapan.

?Nah, ini dia kordinator suporter kita!? sambut Bang Ardi kepadanya. ?Bagaimana komentarmu tentang pertandingan tadi, Ai??

?Secara keseluruhan, kalian bermain bagus,? ucap cewek bernama Aina itu bak komentator profesional yang sering tampil di TV saat siaran langsung liga sepakbola. ?Buktinya, kalian menang 3-1. Tapi mestinya bisa lebih bagus lagi. Terutama Bang Raihan, nih. Mentang-mentang unggul 2-0, mulai mengendor. Akibatnya, motivasi pemain lain juga turun. Sebagai kapten, seharusnya dia menjaga motivasi pemain tetap stabil dari awal sampai akhir.?

Kulihat Raihan mendelik. ?Komentator satu ini sungguh tidak netral. Kritik paling pedas pasti ditujukannya pada kakaknya. Duh, malangnya aku!?

?Seharusnya kamu merasa beruntung, Han. Punya suporter sekaligus kritikus seperti Aina.? Krisna menepuk bahu Raihan. ?Kalau penampilanku bagaimana, Ai??

?Cukup bagus. Kamu tampak tenang saat gawangmu terancam. Tidak panik. Hanya terkadang masih ragu-ragu. Bola yang datang mau ditangkap sempurna atau cukup ditepis saja. Akibatnya, satu kali gawangmu bobol. Maunya ditangkap, tapi ternyata bola yang datang terlalu kencang sehingga terlepas. Akhirnya dimanfaatkan lawan dengan baik.?

Krisna mengangguk-angguk. ?Kau benar. Aku harus mempelajari lagi, bagaimana pola bola yang mampu kutangkap, mana yang hanya sanggup kutepis agar tidak terus ragu-ragu.?

?Ahya Ai, kami punya striker baru. Kamu belum kenal, kan?? Bang Ardi menarik tanganku.

Mata Aina yang bulat bercahaya memandangku.

?Alfian Arrahman. Umur tujuhbelas tahun. Siswa SMU Teladan Kelas XI IPS. Tinggi 172 cm, berat 67 kg. Pindahan dari SSB Tangkas, Kotabaru. Sudah cukup sering tampil di pertandingan resmi. Kabarnya, hampir selalu mencetak gol,? katanya sebelum aku sempat mengulurkan tangan.

Suara decak dan tepuk tangan bergema. Aku terlongo-longo heran. Dari mana dia mendapatkan informasi tersebut tentang aku?

?Itu baru namanya Garuda Mania --- suporter SSB Garuda sejati. Belum kenal langsung, datanya sudah di tangan. Pasti ada informannya,? celetuk Lukas.

Raihan menggaruk kepala. ?Bagaimana lagi? Dia selalu menanyakan perkembangan tim kepadaku. Hampir setiap hari.?

?Tapi aslinya lebih cakep dari yang digambarkan Bang Raihan, lho,? celetuk Aina.

Siulan menggoda bergema. Membuatku agak jengah. Sementara Aina tampak cuek seakan sudah terbiasa.

?Wah, ini bahaya. Hati-hati, Yan! Kau bukan cowok pertama yang dapat pujian seperti itu. Setiap anggota tim baru, pasti mendapat gombalan yang sama,? ujar Lukas.

?Kan ada yang ngajarin!? Aina mengerling lucu.

Keruan saja Raihan protes. ?Aku nggak ngajarin.?

Tawa bergemuruh menyambutnya.

?Bagaimana penampilan pertama Alfian, Ai?? Bang Ardi bertanya, menenangkan suasana yang riuh rendah.

?Lumayan. Hanya terkadang terburu-buru dalam penyelesaian akhir. Seharusnya bisa mencetak lebih banyak gol.?

?Tuh kan, Yan? karena kamu sudah bergabung dengan Tim Garuda, kamu harus menerima kritik dari kordinator suporter kami,? kata Bang Ardi.

Aku tersenyum. ?Aku sama sekali tak keberatan...?

?Nanti dulu, Yan.? Riswan memotong kalimatku. ?Ada yang lainnya, Ai??

?Kayaknya gaya selebrasinya ada yang kurang.?

?Apa?? Aku terbengong bingung. Baru kali ini ada suporter mengkritik gaya selebrasi pemain.

?Seharusnya pakai sujud syukur, kan? Ah ? basi itu!?

Aina melotot. ?Sujud syukur kok basi, sih? Yang namanya bersyukur takkan pernah basi--- dari jaman nabi sampai kiamat nanti. Bila bersyukur, insyaallah nikmat ditambah. Siapa tahu ??

?Bila melakukan sujud syukur, gol yang dicetak bertambah juga. Bukan begitu?? Lagi-lagi Riswan memotong.

Aina mencak-mencak. Yang lain kembali terbahak.

?Begitulah, Yan ? bila punya suporter anak ustadz. Selalu menyelipkan dakwah dalam komentarnya,? kata Bang Ardi sambil menepuk bahuku.

Kisahnya berlanjut ke sini, ya...!

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/7980/melodi-merdekawati

  • view 107