Tomboy Takut Monyet

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Februari 2016
Tomboy Takut Monyet

??KEN, tolong teman-temanmu diabsen dulu!?

Pagi masih buta. Azan subuh baru saja usai. Tapi suasana di dermaga depan Kantor Gubernur Kalsel hiruk-pikuk. Kelas I Jurusan Usaha Jasa Pariwisata SMK Wasaka bersiap untuk berwisata sungai.

Ada dua kelotok yang disewa untuk transportasi. Kelotok adalah alat angkut bermotor dengan berbagai ukuran dan model yang biasa digunakan masyarakat sepanjang pinggiran sungai. Untuk sekitar 30 siswa didampingi 6 guru, kelotok yang mereka gunakan berukuran sedang, dan memiliki atap untuk melindungi penumpangnya dari panas dan hujan.

?Ken!?

?Ya, Bu!? Seorang cewek berambut cepak, Ketua Kelas I UJP, dengan cekatan melompat dari dermaga ke kelotok.

Sebenarnya, nama cewek itu semanis wajahnya, Niken Wulandari. Kedengaran feminim dan ayu. Tapi orangnya, beda banget dengan namanya. Tomboy abis. Makanya, dia lebih suka dipanggil Ken agar terdengar lebih macho.

Ken membantu teman-teman ceweknya naik satu per satu. Bahkan juga Bu Tria, walikelas dan Bu Ana, Ketua Jurusan. Dia gesit melebihi cowok.

Setelah teman-temannya naik dan kedua kelotok mulai menjauhi dermaga, membelah Sungai Martapura, baru dia beranjak dari haluan.

?Ken, jangan di atap!? jerit Bu Tria melihat Ken mengangkat kakinya, bermaksud memanjat atap kelotok.

Ken melongok. ?Saya mau suruh mereka semua turun, Bu!?

Sebelum Bu Tria kembali buka suara, Ken sudah menghilang, naik ke atap. Bu Tria hanya bisa melempar pandang dengan Pak Indra, guru Bahasa Inggris sambil mengangkat bahu. Pak Indra tersenyum. Begitulah, Ken. Kedua pengajar itu sudah hapal siswa didik mereka yang satu itu.

Hari pertama Masa Orientasi Siswa (MOS) saja, siswa baru bernama Niken alias Ken sudah terlihat beda dari sekian ratus siswa lainnya. Meski mengenakan rok, tapi gayanya cowok habis. Yang paling menonjol adalah nyali dan keberaniannya. Sebagai siswa baru, dia tergolong paling berani menentang pendapat kakak kelasnya yang pada saat itu bertindak sebagai panitia MOS. Untungnya, panitia tidak terlalu menanggapi. Pasalnya, lewat isian biodata mereka tahu prestasi Ken yang pemegang sabuk coklat karate. Daripada cari penyakit, lebih baik menghindari.

Keberanian Ken membuatnya disegani. Itulah sebabnya, Bu Tria mencalonkannya jadi Ketua Kelas dan akhirnya terpilih. Dengan bantuan Ken, pekerjaan Bu Tria sebagai walikelas jadi lebih ringan. Dia pintar mengatur teman-temannya sehingga tertib.

Contohnya sekarang, beberapa murid cowok yang tadinya duduk di atap kelotok, satu-satu masuk.

?Ken-nya mana, Li?? tanya Bu Tria pada Ali yang menyusun sila beberapa meter di sampingnya.

?Di atas, Bu. Katanya buat berjaga agar yang lain tidak naik.?

Bu Tria menghela nafas.

Begitulah, Ken. Keberaniannya bisa membantu mengatur anak-anak lain. Tapi keberaniannya juga membuat Ken sendiri susah diatur. Suka seenaknya sendiri. Terkadang cenderung memaksakan kehendak. Kadang caranya cenderung kasar. Dan tak ada yang berani membantah.

Pernah suatu ketika, ada teman sekelasnya berselisih dengan siswa jurusan lain. Ken bukannya menyabarkan atau mendamaikan, malah ikut-ikutan. Dengan dalih membela teman, dia ikut terlibat perkelahian. Akibatnya, hampir terjadi tawuran masal antar kelas.

Bila ingat peristiwa itu, Bu Tria hanya bisa mengurut dada. Saat itu, sebagai walikelas, dia sempat mendapat teguran keras kepala sekolah. Hanya saja, sampai sekarang Bu Tria sendiri masih belum menemukan cara untuk menyadarkan Ken dari adat jeleknya.

Pagi mulai merangkak naik. Setelah menyusuri sungai-sungai berukuran sedang, kelotok mulai keluar dari Sungai Kuin dan memasuki muara Sungai Barito, sungai paling lebar dan luas. Berbagai angkutan sungai, baik yang bermotor maupun yang didayung dengan berbagai ukuran semakin banyak mondar-mandir. Mereka terlihat mengangkut barang dagangan berupa buah-buahan, sayur-sayuran, dan makanan.

?Kita sudah sampai di Pasar Terapung Kuin,? ujar Bu Tria.

Anak-anak mulai sibuk melihat-lihat. Ada yang merekam aktifitas di pasar terapung dengan kamera Hp. Bu Tria juga sibuk menjepretkan kamera digitalnya untuk dokumentasi.

Kelotok mendekati sebuah rombong terapung yang menjual berbagai makanan dan minuman. Bermacam-macam kue tradisional, antara lain; pais, cucur, cincin, untuk-untuk, roti pisang, tersaji di atas piring. Ada juga nasi bungkus dengan berbagai lauk. Juga ada berbungkus kerupuk dan kacang-kacangan.

?Yang belum sarapan, boleh pesan!? ujar Bu Tria. ?Tapi bayar sendiri-sendiri!?

Suasana pun hiruk-pikuk layaknya mereka sedang berada di kantin sekolah. Mereka sibuk meneriakan pesanan masing-masing. Yang paling sibuk lagi-lagi Ken. Bak waiter, dia mengambilkan pesanan dari rombong sambil bergelantungan di tiang kelotok. Bu Tria sampai berkali-kali mengingatkan agar dia berhati-hati.

?Tenang, Bu, saya sudah biasa,? jawabnya ringan. ?Lagipula kalo jatuh, saya jago renang.?

?Husss! Jangan sampai jatuh!? Bu Tria melotot.

Ken nyengir. Dia kembali sibuk membantu penjual mengambilkan pesanan teman-temannya. Setelah semua mendapatkan yang diinginkan, Ken kembali membantu membayar. Sampai mereka puas berbelanja dan melanjutkan perjalanan. Ken nongkrong lagi di atap kelotok.

?Kita ke Pulau Kembang ya, Bu?? tanya Dewi.

Pulau Kembang adalah sebuah pulau kecil yang berada di tengah Sungai Barito. Pulau ini menjadi obyek wisata karena dihuni salah satu species monyet. Para wisatawan yang berwisata air biasanya selalu menyempatkan diri singgah di pulau ini.

?Iya. Hati-hati dengan bawaan kalian, ya! Terutama makanan. Monyetnya nakal-nakal.?

Beberapa puluh menit kemudian, kelotok mereka sudah mendekati Pulau Kembang. Dari jauh, sudah tampak beberapa monyet menunggu kedatangan mereka di dermaga. Ada juga beberapa warga memegang tongkat dari ranting serta barang jualan berupa kacang dan makanan ringan lainnya. Mereka ini yang mengusir monyet-monyet agar menjauh dengan tongkat.

Siswa-siswi naik ke dermaga dengan aman. Namun hanya beberapa saat. Tiba-tiba saja suasana berubah gaduh. Beberapa monyet menyerbu, naik ke kelotok. Sisa-sisa makanan yang ada mereka acak-acak. Siswi cewek menjerit histeris melihatnya.

Bu Tria dan Bu Ana membeli tiket masuk. Kegaduhan berlanjut ketika monyet-monyet yang belum kebagian makanan mengincar makanan yang tersimpan di tas.

?Ibuuu?!? Suara teriakan bergema. Nyaring. Terdengar aneh, meski tidak asing.

Bu Tria dipeluk dari belakang, berusaha minta perlindungan. Bu Tria terperanjat saat menyadari siapa yang bergelayut di lengannya.

?Ken, kamu?.!?

?Hei, Ken takut monyet?!? Seseorang berteriak.

Seketika suara tawa bergema. Semua mata tertuju pada sosok Ken yang bersembunyi di belakang Bu Tria, berusaha menghindari dari beberapa monyet yang mendekatinya. Wajah Ken pucat pasi. Beberapa butir keringat mengalir di pelipisnya. Dia tampak ketakutan setengah mati.

?Lihat muka Ken! Lucu, ya??

?Iya, lucu!?

?Belum pernah kulihat Ken seperti itu.?

?Iya, aku juga.?

Siswi cewek yang tadinya jejeritan malah terbahak melihat Ken. Mereka melupakan ketakutan mereka sendiri. Sementara wajah pucat Ken berubah merah, malu. Tapi baru dia bergerak beberapa senti dari tubuh Bu Tria, beberapa monyet maju mendekat. Ken kembali menyembunyikan dirinya. Membuat tawa teman-temannya semakin keras.

?Ibu?? Ken merajuk.

Bu Tria dan Bu Ana tak bisa lagi menahan tawa. Demikian pula guru lainnya. Tampang Ken yang biasanya galak dan sangar, sekarang mengkeret ketakutan, memang terlihat lucu.

?Tuh, kan?. Ibu ikut-ikutan.?

Bu Tria mengulum senyum. ?Ya, sudah. Ayo, kita masuk!?

?Saya nggak ikut aja ya, Bu?? pinta Ken.

?Boleh.? Bu Tria menatapnya. ?Bila kamu berani sendiri di sini.?

Ken bergidik ngeri. Buru-buru menggeleng.

?Nggak, saya ikut aja. Tapi Ibu jangan jauh-jauh!?

Mereka pun masuk dan mejelajah Pulau Kembang. Tapi beda dengan sebelumnya, kali ini Ken tak lagi sebagai pelopor, sebaliknya jadi pengekor yang mengganduli para ibu guru. Ulahnya seringkali mengundang tawa dan ledekan teman-temannya. Bahkan sampai mereka pulang dan kembali ke sekolah, julukan Ken sebagai Tomboy yang takut monyet tersebar bak virus flu burung.

Ketakutannya bersambung di sini, ya...!?

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/7880/sepanjang-sungai-barito

  • view 127