Si Putri Malu

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Februari 2016
Si Putri Malu

JANTUNG Melati berpacu lebih cepat ketika mereka berhenti di depan pintu sebuah kelas. Seperti kelas-kelas yang lain, kelas ini pun bercat kapur putih, kecuali pintunya yang bercat biru laut dan bingkainya yang berawarna biru tua. Melihat sebuah papan bertuliskan ?II A3.2? di atas pintunya, yakinlah Melati, mereka memang sudah sampai di kelas barunya.

Melati menarik napas panjang. Mencoba menenangkan dirinya yang mulai merasa kebat-kebit, grogi. Dari dalam kelas terdengar suara gaduh yang luar biasa. Maklum, kelas yang tidak ada gurunya, ibarat tikus-tikus yang lepas dari pengamatan kucing! Apalagi ini kelas Sosial. Biasanya memang terdiri dari manusia-manusia yang sulit diatur dibanding jurusan Fisika dan Biologi. Menurut Pak Basuki, guru yang sekarang mengantar sekaligus walikelasnya, di antara dua kelas Sosial lainnya, kelas II A.3.2 memang yang paling sulit diurus.

Melati bertambah grogi mendengar penjelasan tersebut. Dia tidak bisa membayangkan, bagaimana nanti dia digiring memasuki kelas. Ah, kalau saja boleh memilih, Melati lebih suka tetap tinggal di Samarinda, sekolahnya yang dulu. Bersama teman-teman yang sudah dianggapnya seperti saudara. Lagipula diapun sudah merasa menyatu dengan alunan Sungai Mahakamnya, dengan tetangga dan penduduk lainnya, terutama dengan? Galang.

Alangkah sedihnya Melati ketika diberitahu Papa, mereka sekeluarga harus pindah ke Banjarmasin, karena Papa ditunjuk jadi pimpinan anak perusahaan yang baru di sana. Andai saja bisa, Melati ingin tetap tinggal di Samarinda, numpang di rumah Tante Martha. Tapi tentu Papa Mama tak mengizinkannya.

Papa membujuknya mati-matian. Papa berjanji mencari tempat tinggal yang lingkungannya sama dengan lingkungan mereka tinggal di Samarinda. Yang letaknya strategis, mudah bila mau ke mana-mana, dan rasa kekeluargaannya masih kental dan terasa. Papa juga berjanji memasukkan Melati ke sekolah terbaik di kota ini. Pokoknya Papa berjanji semua akan berjalan seperti ketika mereka di Samarinda. Papa meyakinkannya, dia akan mendapat teman-teman yang sebaik teman-teman lamanya.

Masalah sebenarnya bukan itu. Mereka yang mengenal Melati pasti tahu permasalahan sebenarnya terletak pada Melati sendiri. Dia punya sifat pemalu yang kadang melebihi dosis. Terutama bila menghadapi suasana dan lingkungan baru. Melati agak susah beradaptasi. Dia pendiam bila berada di tengah-tengah lingkungan yang belum dikenalnya, sehingga susah akrab dengan orang.

Karena itulah Melati menjadi cemas bila dia harus memasuki lingkungan yang baru. Kalau di rumah, tidak masalah. Karena dia selalu didampingi papa dan mamanya. Mereka kenalan bersama-sama dengan tetangga di sekitar rumah. Tapi bila ke sekolah, mungkinkah juga dia ditemani papa dan mamanya? Jelas tak mungkin.

?Pokoknya usahakan kamu bersikap sewajarnya,? begitu nasihat Papa, Mama, maupun Mas Galang kepadanya. ?Jangan menghindari tatapan mereka dengan terus menunduk! Angkat mukamu, dan berikan senyum ramahmu! Jangan terlalu diambil hati guyonan mereka, anggap saja angin lalu! Kalau bisa, tanggapi dengan guyonan juga. Biasa kalau murid baru itu dikerjain terlebih dahulu. Yang penting, kamu kuat mental saja!?

Melati mengomel dalam hati. Iya, ngomong sih enak! Yang ngejalanin setengah mati.

?Lho, kok malah melamun?? Pak Basuki menegurnya sambil mengembangkan senyum bijaknya. ?Ayo, kita masuk!?

Melati merasa agak tenang melihat senyum itu. Kayaknya guru-guru di sini memang sama baiknya dengan guru-guru yang dulu. Benar kata Papa kalau begitu.

Pak Basuki mendorong pintu yang tertutup setengahnya. Derit pintu yang pelan itu sanggup menghentikan kegaduhan di dalam. Terdengar derap kaki bercampur gesekan kursi dengan lantai. Pasti anak-anak itu bergegas duduk manis menunggu guru yang masuk.

Melati mengikuti langkah Pak Basuki memasuki kelas. Dia tidak berani mengangkat wajahnya. Ah, persetan dengan segala nasihat mereka! Gerutunya dalam hati. Ketika sosoknya nongol di ambang pintu saja sudah mengundang bermacam komentar yang digumamkan dari berbagai sudut. Membuat kepalanya semakin berat untuk diangkat.

?Pagi, anak-anak!? sapa Pak Basuki sambil meletakan tumpukan buku di pelukannya di atas meja. Melati berdiri di sampingnya.

?Pagi juga, Pakkk?!? Seperti koor yang tidak ditata rapi, murid-murid menjawabnya. Ada yang sengaja dipanjangkan. Ada yang setengah menjerit. Ada yang memakai suara bas, persis suara monster.

?Hari ini kalian mendapat teman baru,? lanjut Pak Basuki.

?Assyiiik! Yang ini, Pak? Bolehlah!? celetuk seorang yang bersuara cempreng.

?Kenalin dong, Pak!? sambut yang lain.

?Iya, Pak! Suruh dia cerita yang puannnjang ? tentang dirinya.?

?Benar, Pak. Data-data selengkapnya.?

?Iya, Pak.?

?Benar, Pak.?

Matilah aku! Keluh Melati panik. Inilah saat yang paling dia takuti. Tuhan, kuatkan aku! Menyesal rasanya pernah ikutan menggoda Ambar ketika menjadi murid baru di kelasnya dulu. Mereka memberondong Ambar dengan pertanyaan yang kadang tak masuk akal. Tapi Ambar cukup luwes menghadapinya. Dia menjawab semua pertanyaan dengan jawaban yang tak kalah konyolnya.

Tapi aku bukan Ambar, keluh Melati lagi. Kali ini pasrah bercampur putus asa. Dan aku tidak bisa seperti Ambar.

?Teman-teman memintamu memperkenalkan diri,? kata Pak Basuki menggugahnya.

Melati mengangkat muka, menatap wajah guru itu memohon perlindungan. Matanya mengerjap, antara bingung dan panik. Tapi Pak Basuki malah mengangguk, membuatnya tak berkutik. Hanya tatap mata arif lelaki setengah baya itu memberi sedikit kekuatan untuknya. Dia yakin Pak Basuki tidak akan membiarkan dia dipecundangi teman-teman barunya ini.

?Nam .. ma saya Melati,? ucap Melati dengan bisikan yang tergagap.

?Hahhh? Apa??

?Kamu dengar, Di??

?Tauk! Belati ?kali!?

?Masak? Bukannya Bambang??

Celetukan-celetukan lain terus keluar di sela-sela tawa yang bergema memenuhi seisi kelas.

?Aduh, Pak! Nggak kedengaran,? protes seorang cewek.

?Iya. Abis dia menghadap Bapak aja, sih. Nggak mau liat kita.?

?Iya, ya. Padahal kita kan lebih manis-manis daripada Pak Basuki.?

Pak Basuki mengulum senyum mendengar celoteh muridnya. Dia memandang Melati dan dengan isyarat menyuruh Melatibicara menghadap teman-temannya.

Ingin rasanya Melati pingsan saja saat itu. Supaya terbebas dari keadaan yang sangat menyiksa ini. Tapi apalah dayanya? Akhirnya dia hadapkan juga wajahnya ke arah teman-temannya. Menguatkan diri untuk memandangi mereka. Kebanyakan mereka cengar-cengir menggoda. Beberapa anak cewek berusaha menyembunyikan tawa. Ada juga yang diam dengan tatapan yang lebih mengandung simpati.

?Nama saya Melati Sri Rezeki,? Melati mengeraskan suaranya.?Ohhhhh? Melati, tho?? Kembali jawaban mereka seperti koor.

?Saya dari Samarinda,? lanjutnya.

?Ah, masak? Bukannya dari Jayagiri?? celetuk cowok yang duduk di pojok kanan paling belakang. Dari suaranya yang cempreng, Melati tahu dialah yang paling sering nyeletuk tadi. Dari wajahnya kelihatan dia memang agak bandel.

Suara tawa bergemuruh lagi menyambut celetukannya. Wajah Melati menghangat.

Dari pojok kiri terdengar teriakan bernada girang, ?Ih, pipinya memerah, nek!?

?Ih, iya!? sahut yang di depannya. ?Dia tersipu.?

?Tapi malah tambah manis, ya?? Kembali si cempreng bersuara.

Wajah Melati semakin terasa panas. Telinganya seperti terbakar. Dia bisa membayangkan bagaimana warna wajahnya sekarang. Ya, Tuhan! Jangan biarkan mereka terus menggodaku, doanya dalam hati.

?Wah, pantasnya sih, namanya bukan Melati, tapi Putri Malu.?

Untung Tuhan mendengar doa Melati. Pak Basuki mengangkat tangannya, menenangkan kelas yang semakin gaduh.

?Cukup, anak-anak!? katanya lantang, sarat wibawa. ?Kita mulai belajar.?

Desahan kecewa terlontar dari beberapa mulut yang tidak puas dengan keputusan Pak Basuki. Sedang Melati memandang guru itu penuh terimakasih.

?Kau boleh duduk, Melati!? suruhnya kepada Melati. ?Nana, ajak Melati duduk di sampingmu!?

Seorang cewek manis berponi yang duduk sendiri di bangku barisan ketiga mengangguk. Dia tersenyum kepada Melati, dan menggeser duduknya ke dekat jendela.

?Yah, Pak! Perkenalannya kan belum selesai.? Lagi-lagi si Cempreng mengajukan protes ketika Melati duduk di samping Nana.

?Sudah cukup! Yang lain-lain bisa kalian tanyakan di luar jam pelajaran.?

Tak ada yang berani protes lagi. Pak Basuki membuka bukunya, melihat pelajaran terakhir. Kemudian memulai tanya jawab sebelum melanjutkan pelajaran.

Baru Melati bisa bernapas lega. Walau kecemasan itu belum hilang, karena penggojlokan mungkin belum lagi berakhir sampai di sini.

Benar dugaan Melati, ketika lonceng istirahat berdentang, seluruh penghuni kelas menghambur ke arahnya. Berebut mengulurkan tangan dan menyebut nama masing-masing ditambah embel-embel konyol. Melati bingung menyambutnya. Apalagi secara sengaja, yang sudah salaman pun mengulurkan tangan lagi, lagi dan lagi. Hingga seakan penghuni kelas ini tak ada habisnya.

Kali ini Nana yang menyelamatkannya. Teman sebangkunya itu kasihan melihat Melati kebingungan. Tangan Melati digandengnya, dan diseretnya dengan paksa menjauhi tempat itu.

Tentu tindakan Nana mendapat protes keras. Tapi Nana cuek. ?Melati mau kuantar ke Koperasi, beli emblem, lokasi, dasi, dan seragam olahraga,? jawabnya berkilah.

Nana mengajak Melati berkeliling lingkungan sekolah. Semula memang ke ruang Koperasi, membeli barang-barang yang diperlukan Melati, kemudian Nana memperlihatkan ruang-ruang lainnya; perpustakaan, lab Biologi, lab Fisika, lab Bahasa, ruang Osis, ruang PKK, bahkan ke kantin segala.

Di kantin itulah Melati bertemu Etha, teman SMP-nya. Hampir saja dia lupa. Temannya itu tambah manis dan tinggi. Untung Etha membantu dengan tawanya. Tawa khas itu yang mengingatkan Melati. Mereka kemudian asyik bercerita, mengenang nostalgia selama SMP. Setelah lulus SMP, Etha melanjutkan ke SMA ini, kembali ikut orangtuanya. Waktu di Samarinda Etha ikut neneknya.

Melati senang sekali. Sekarang dia benar-benar merasa lega. Dia telah mendapat dua teman baik. Nana, teman sebangkunya dan Etha, teman lamanya yang ternyata satu SMA, walau lain kelas. Etha di Biologi. Tapi Melati merasa optimis, karena dua temannya ini pasti akan mau membantunya beradaptasi dengan lingkungan sekolah ini.

?

?

?

MELATI dan Nana sedang meneguk es jeruknya yang terasa segar setelah berolahraga, ketika Etha menghampiri mereka dengan seorang cowok cakep. Melati agak tersipu menyadari siapa cowok itu. Dia yang memperhatikannya diam-diam dari ruang Osis, ketika kelas mereka main basket di lapangan.

?Ini Han, Mel, Ketua Osis,? ujar Etha memperkenalkan. ?Dan ini Melati yang kuceritakan itu, Han.?

Melati memandang Etha tak mengerti. Kenapa Etha harus menceritakan dirinya kepada Han? Sedang Nana cuma mendengarkan sambil menikmati bakso yang mereka pesan.

Etha tertawa melihat mimik Melati. ?Aku memang cerita tentang kamu pada Han. Soalnya, dia sedang bingung mencari pemain basket yang dapat diandalkan. Aku ingat, waktu SMP kamu kan jago main basket.?

?Benar, Mel. Sebab beberapa bulan lagi akan ada kompetisi-kopetisi basket yang lumayan penting; Walikota Cup, Sumpah Pemuda competition, dan lain-lain. Tahun lalu, regu basket sekolah kita, terutama putrinya, adalah regu yang diperhitungkan. Beberapa gelar juara kita rebut. Tapi akhir-akhir ini prestasi tim putr1 menurun, karena sebagian pemain andalan lulus tahun lalu. Sedang pemain baru belum mampu menggantikan mereka. Kualitas permainan masih jauh di bawah standar,? jelas Han panjang lebar.

?Lalu kuusulkan pada Han untuk mengajakmu bergabung. Kukatakan, kamu jagoannya three points ketika SMP dulu,? sambung Etha.

Melati tersipu. ?Ih, Etha bisa saja! Dia terlalu melebih-lebihkan.?

?Ah, tidak! Etha benar. Saya sudah melihat sendiri kemampuanmu tadi. Permainanmu cukup memukau. Padahal saya tahu kamu belum mengeluarkan seluruh kemampuanmu.?

Melati makin tersipu mendengar pujian cowok itu.

Malunya berlanjut ke sini ...

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/7674/satofumi-san

  • view 101