Dia Tak Butuh Aku Lagi

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Februari 2016
Dia Tak Butuh Aku Lagi

SIANG ini panas sekali. Sang bagaskara seakan murka sehingga menghukum penghuni bumi dengan menyorotkan sinar teriknya. Bumi yang sudah gersang ini terasa semakin garing.

Aku segera mengeluarkan buku catatanku ketika Bu Warti meninggalkan catatan untuk kami. Bukan untuk menaati instruksi itu, tapi untuk kipas-kipas karena gerah. Panas-panas begini, guru yang dapat gaji saja malas ngajar, apalagi murid yang sudah membayar, disuruh belajar pula.

Ketika anak-anak lain mulai mencatat walau dengan ogah-ogahan, aku malah asyik jelalatan. Tempat dudukku memang paling strategis untuk intip-mengintip. Dekat jendela soalnya. Dari sana aku bisa melihat kantin, lapangan basket, dan tiga kelas yang kebetulan penghuni cowoknya paten-paten punya. Lumayan buat ngilangin kantuk.

Dua kelas lain tampak sepi, tapi kelas III Fisik tidak. Sebagian besar penghuninya bertebaran ke mana-mana. Ada yang nongkrong di kantin, menikmati segelas es jeruk yang menggiurkan, sambil ngerumpi. Beberapa anak cowoknya nekat main basket. Mereka memang lain dengan cewek yang memikirkan efek sinar ultra violet pada kulit. Sebagian lagi duduk-duduk saja di depan kelas.

Jelas aku lebih suka memperhatikan polah mereka daripada capek mencatat. Apalagi di sana ada Dani, cowok Sang Ketua Osis yang diam-diam kutaksir. Abis, orangnya manis, sih! Terutama senyumnya. Ditambah alis tebal yang melengkapi sepasang mata setajam mata elang itu. Udah gitu, orangnya pintar dan baik lagi. Gimana kita nggak kepincut?

Eh, ah! Wajahku seperti terbakar ketika asyik memperhatikan, Dani yang sedang mendrible bola tiba-tiba menoleh ke kelasku. Senyum semanis madu itupun spontan terukir di bibirnya.

Sekejap memang, tapi cukup membuatku serasa terbang di awing-awang.

?Duh? duh!? celetuk Mira yang duduk di belakangku. ?Panas-panas begini masih sempat main mata!?

Aku mencibir. Dasar sirik! Gerutuku dalam hati.

Aku mengembalikan pandangan ke papan tulis. Di sana sudah penuh tulisan Nevi, sekretaris kelas yang kerajinannya sudah tidak diragukan lagi. Makin malas aku melihatnya.

?Nanti aku pinjam catatanmu ya, Dit!? kataku pada Dita yang duduk di sebelahku.

Dita menoleh segan. ?Aku juga sedang malas nyatat, Shin.?

?Apa?? Aku mengerutkan kening.

Sejak kapan sobatku ini kenal kata malas? Sejak aku mengenalnya kira-kira lima tahun lalu, setahuku Dita mengharamkan kata malas ada dalam kamus hidupnya. Sebaliknya aku selalu dijangkiti penyakit itu. Mungkin justru itu yang membuat kami klop selama ini.

Aku menlongok buku Dita, penasaran. Ternyata benar, kosong melompong. Jadi, ngapain Dita yang sejak tadi kulihat terus memelototi buku sambil menggenggam pulpen? Bengong?

Bodo, ah! Aku malas mikir. Dasar pemalas!

Akhirnya aku kembali menikmati kesenanganku, memandang ke luar jendela.

***

AKU mengatur napasku yang ngos-ngosan. Maklum, dari bangun pagi tadi aku terus diburu-buru waktu. Lari sana lari sini. Pembantu dan orang rumah ikut repot dibuatnya, karena aku berteriak-teriak senewen, memberi perintah ini itu.

Sebenarnya bangunku tidak telat-telat amat. Sering aku bangun lebih lambat, tapi masih bisa mengerjakan segala sesuatunya dengan santai. Masalahnya, hari ini aku belum ngerjain PR Geografi yang akan diperiksa pada jam pertama nanti. Jadi, mau nggak mau aku harus datang lebih awal, nyari Dita lalu ngopi PR-nya.

Setelah napasku mulai teratur, aku melangkah masuk. Hampir saja aku meneriakkan nama Dita, tapi kuurungkan karena menyadari tidak ada seorang makhluk pun di dalam kelas. Mungkinkah Dita belum datang? Kulihat tasnya pun belum ada. Aneh juga, biasanya dia adalah orang pertama yang ngendon dalam kelas.

Aku menunggu. Satu-satu teman-teman sekelasku bermunculan. Mereka kemudian asyik mendiskusikan PR Geografi, saling membandingkan pekerjaan masing-masing. Rame dan seru.

Ada keinginan untuk bergabung dengan mereka. Tapi aku ragu. Aku sadar, tidak begitu disukai mereka. Menurut mereka, aku sombong dan angkuh. Suka memamerkan kekayaan orangtua. Padahal menurutku wajar. Aku cuma memakai yang aku punya, menceritakan hal yang sebenarnya. Aku bukan membual atau sekedar mengada-ada. Kenapa mereka mesti ribut? Dasar mereka aja yang sirik!

Mending aku menungggu Dita. Cima dia yang paling mengerti aku. Dia juga selalu membantuku bila aku perlu. Tapi sampai bel tanda masuk berbunyi, Dia belum nongol juga. Ingin bolos, sudah terlambat. Sosok Pak Arman sudah tampak di ujung koridor. Aku pasrah menunggu nasib.

Seperti biasa Pak Arman memeriksa PR kami sebelum melanjutkan pelajaran. Wajah beliau berubah sangar ketika mendapat1 bukuku hanya berisi soal tanpa jawaban. Tanpa banyak kata, telunjuknya terancung ke pojok kelas. Dengan menahan malu, aku berdiri di depan kelas, persis anak SD yang kena setrap.

Tiba-tiba Dita muncul di depan pintu kelas.

?Maaf, permisi, Pak!? salamnya.

?Oya, silakan masuk, Dit!? jawab Pak Arman tanpa nada marah.

Semua yang mendengar berpandangan heran. Biasanya Pak Arman tidak memberi ampun murid yang terlambat.

?Kotaknya saya taruh di atas meja Bapak, di kantor.?

?Ya, terimakasih!? Pak Arman tersenyum. ?PRmu kumpulkan, Dit!?

Dita mengambil buku dari tasnya, kemudian memberikannya kepada Pak Arman. Pak Arman memeriksanya sebentar sambil mengangguk-angguk puas.

Dadaku sesak oleh rasa mangkel. Hatiku sibuk memaki Dita. Sialan! Tak ada rasa bersalah di wajahnya. Bahkan menolehpun tidak. Dia berbuat seolah aku tidak pernah ada. Mestinya dia tahu, aku memerlukannya tadi pagi. Mestinya dia ke kelas dulu sebelum membantu Pak Arman.

Aku melirik Dita. Anak itu tetap tenang-tenang saja. Aku menggeram marah.

***

AKU benci Dita. Benci!

Kukira sikapnya kepadaku selama ini kebetulan semata. Tidak mau minjamin catatan, karena dia sendiri emang lagi malas nyata. Wajar bila orang yang paling rajin pun, sesekali merasa malas. Tidak meminjamkan PR kepadaku karena dia dapat tugas dari Pak Arman sehingga datangnya telat.

Waktu itu aku masih bisa memaafkan, walau sempat memendam jengkel beberapa lama. Hubungan kami sedikit merenggang dari biasanya. Namun, aku sama sekali tidak menduga kalau ternyata semua ini disengaja. Aku baru menyadarinya sekarang.

Kemarin ada ulangan Bahasa Inggris. Malamnya aku tidak belajar karena keasyikan nonton TV. Jadi aku mengharapkan Dita seperti biasanya.

Lagi-lagi Dita tidak mau menolongku. Waktu ulangan dia tidak mempedulikanku. Sampai berbuih mulutku membisikkan namanya. Tiba-tiba dia menjadi tuli. Dia tidak mau melihatku. Bahkan dia selalu menutupi pekerjaannya dari pandanganku. Padahal biasanya Dita sendiri yang lebih dulu menawarkan bantuan padaku.

Rahasia di balik sikap Dita sebenarnya ada di sini ...

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/7570/don-robinson

  • view 122