Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 29 Februari 2016   09:03 WIB
Suatu Malam dalam Pekat

Guntur

?GUN, nanti malam operasi pekat. Kamu liput, ya!? ujar Bang Arman, Redaktur Desk Hukum-Kriminal.

Aku mengangguk. Tak mungkin aku menolak, karena aku masih trainning. Mengatakan tidak, berarti memberi alasan personalia untuk tidak mengangkatku menjadi karyawan tetap.

?Nanti kamu berangkat sama Hanif. Dia bikin tulisan, kamu tinggal cari gambar bagus supaya bisa dijadikan master. Kalau perlu, gambarnya berlatarbelakang kaligrafi Al-Quran. Pasti heboh! Dengan judul besar---- ?Ramadhan, Pelacur Nggak libur?!? lanjutnya dengan mata berbinar.

Aku menghela nafas. Begitulah, bila punya redaktur gila kerja. Dia menuntut anak buahnya berlaku sama. Padahal, tak semua orang menganggap kerja segalanya. Masih banyak wartawan berpikiran waras, ingin membagi sedikit saja waktunya untuk keluarga dan urusan pribadi.

Terkadang, aku merasa sangat benci pekerjaan ini. Padahal sebelumnya, aku sangat bersemangat jadi wartawan. Bisa memperluas wawasan, menambah pengetahuan, memasuki pergaulan semua kalangan, dari hukum dan kepolisian, ekonomi dan bisnis, seni dan budaya, ilmu dan teknologi. Seorang wartawan adalah sosok pintar yang tak berhenti belajar, begitu anggapanku mulanya. Mendorongku ikut melamar lowongan menjadi wartawan di surat kabar lokal.

Setelah melalui berbagai test, aku diterima. Karena pengalamanku menjadi fotografer amatir beberapa tahun, aku ditugaskan sebagai wartawan foto. Untuk menulis, bahasaku masih amburadul dan perlu perbaikan di sana-sini. Aku masih harus melatihnya dengan menulis teks-teks foto guna mendukung pemandangan yang kurekam melalui kamera.

Beberapa bulan menjalani masa tranning, aku mulai merasa pekerjaan ini juga punya sisi kelam. Setelah mengalaminya sendiri, baru kusadari, betapa dekatnya dunia jurnalistik dengan sudut gelap kehidupan. Hanya berbekal kamera atau tinta, wartawan bisa menjadikannya senjata untuk memeras orang. Hanya dengan berbekal kartu press, seorang wartawan bisa masuk ke mana saja, termasuk diskotik dan hiburan malam lainnya yang kental dengan suasana maksiat.

Bukannya aku bermaksud sok alim. Justru karena merasa imanku masih sangat tipis, aku berusaha menghindar dari dunia glamor seperti itu. Aku takut terpengaruh dan terbawa arus. Soalnya, aku juga menyaksikan, beberapa temanku sudah mulai kecanduan gaya hidup glamor. Aku pun tersadar, betapa lingkunganku penuh godaan. Aku khawatir, aku masih terlalu rapuh untuk lolos dari sebagai ujian kesenangan sesaat yang ditawarkan.

?Melamun Gun! Teks foto mana?? Mas Robby yang bertugas me-lay-out halaman menepuk bahuku.

?Ohya, maaf, Mas! Segera saya buatkan!? ujarku sambil bergegas membuka file di komputerku.

Savitri

SEKETIKA wajahku memerah melihat sosokku di cermin. Duh, siapa itu? Seorang gadis, berkulit coklat muda cenderung krem hanya dibungkus secuil tank top ungu ketat dengan bahu dan puser terbuka, dipadu celana jeans murahan super ketat hingga mencetak tiap lekuk badan dengan sempurna.

Tidak seperti Savitri, lebih mirip seorang pelacur.

Aku buru-buru menggigit bibir. Bukankah sekarang aku memang sedang berperan sebagai pelacur? Bibirku terasa perih, asin di lidah. Tapi lebih perih lagi luka di hatiku.

Aku sedang berjalan menuju jurang kehancuran. Tapi apakah aku punya pilihan lain? Justru di Bulan Ramadhan--- saat umat Islam lain berbahagia menyambut bulan suci dengan berpuasa, aku justru dipecat tanpa pesangon.

Bagaimana mau diberi pesangon, aku dipecat karena dipergoki Nyonya tempatku bekerja sebagai pembantu sedang berduaan dengan Tuan --- suaminya di dalam kamar dengan kondisi yang memang mencurigakan.

Tapi apakah salahku bila aku memenuhi permintaan Tuan yang katanya tidak enak badan untuk dipijat dan dikerok? Aku baru seminggu bekerja. Bila permintaan itu ditolak, apa aku tidak akan dianggap tidak loyal? Padahal, lima adik-adikku di kampung menggantungkan harapannya di pundakku supaya bisa merayakan lebaran dengan baju baru dan makanan enak.

Begitulah! Tuan memang berusaha coba-coba. Tapi sebelum percobaannya berkelanjutan, Nyonya tiba-tiba muncul. Habislah semua! Tak ada gunanya aku membela diri. Bagaimanapun terdesaknya, seorang pembantu tetap salah. Konsekuensinya, aku dipecat tanpa pesangon.

Aku bingung beberapa hari. Tak tahu berbuat apa. Tak bisa membayangkan, bagaimana paras adik-adikku di kampung bila lebaran kali ini pun mereka tak bisa memakai baju baru. Tak sanggup membayangkan wajah ibu bila aku pulang dengan tangan hampa. Padahal, keberangkatanku ke kota sudah menguras sisa tabungannya.

Saat itulah muncul usul Martinah, tetangga yang membawaku mengadu nasib di kota. Katanya, hanya ada satu cara mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat, menjual diri. Alasannya, karena saingan sedikit, sementara permintaan tidak berkurang. Maklum, menurut peraturan, Bulan Ramadhan mereka dilarang beroperasi. Maka, sebagian besar perempuan yang berkarir di bidang ini, memilih pulang kampung.

Diterima tidaknya usul ini ada di sini ...

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/7359/sayap-sayap-terluka

Karya : Lis Maulina