Tembaklah Daku, Takkan Kutolak

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Februari 2016
Tembaklah Daku, Takkan Kutolak

SMU Bunga Bangsa geger. Baru saja terjadi satu peristiwa di sekolah swasta yang dikelola sebuah yayasan itu. Bukan peristiwa biasa sehingga cukup menghebohkan 600-an murid berikut 40-an dewan guru. Sebuah peristiwa yang bisa saja membawa nama sekolah terkenal, bukan saja seantero kota kabupaten atau provinsi, bahkan ke seluruh pelosok tanah air.

Sekolah ini baru saja didatangi kru redaksi sebuah acara reliaty show yang biasa diputar di televisi swasta yang memberi kesempatan pemuda atau pemudi untuk mengungkapkan perasaan kepada orang yang dikasihinya. Nama acaranya ?Tembaklah Daku!?. Ada kesan lucu, seram, dan pasrah. Khas anak muda.

Bagus, dialah siswa yang mengundang kru tersebut. Niatnya sama dengan remaja sebelumnya, ingin mengutarakan perasaannya pada cewek yang ditaksir dengan cara yang unik. Siapa Bagus, mungkin seluruh warga SMU Bunga Bangsa sudah sangat mengenalnya.

Sebagaimana namanya, Bagus memiliki penampilan yang nyaris sempurna. Tubuhnya tinggi tegap. Kulitnya putih bersih. Wajahnya pun tampan menawan. Sosok yang mampu membuat cewek-cewek susah tidur sebelum mengkhayalkannya.

Sayang, kebagusan lahiriah tidak dibarengi kebagusan pribadi. Mungkin karena Bagus terbiasa mendapatkan apapun yang diinginkannya dengan mudah, sehingga membuatnya cenderung sombong, manja dan egois. Maklum, dia putra tunggal kepala cabang sebuah BUMN di kota ini. Ayahnya, menjadi donatur tetap yayasan, sehingga membuat guru menyimpan segan untuk menindak tegas sikap Bagus yang terkadang menyebalkan.

Tidak mengherankan, bila mengundang kru redaksi ?Tembaklah Daku?, bukan masalah besar baginya. Ibarat semudah membalikkan telapak tangan. Jadi, bukan alasan mengapa peristiwa ini menjadi sebuah berita yang menghebohkan.

Masalahnya, cewek yang ?ditembak? Bagus adalah Maharani. Ibarat bumi dan langit, itulah perbedaan keduanya. Maharani adalah siswi yang bersahaja dan rendah hati. Penampilannya sederhana dengan jilbab yang selalu menutup rapat posturnya yang semampai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sikapnya pun selalu sopan dan santun. Maklum, aktifis rohis dan penggerak mushala sekolah.

Soal naksirnya Bagus kepada Rani sudah menjadi rahasia umum. Mengapa Bagus bisa jatuh hati pada Rani, itu yang tetap menjadi rahasia kehidupan. Bagus sendiri ketika ditanya tidak tahu jawabannya dengan pasti. Mungkin, berawal dari iseng. Namun karena sikap Rani selalu menjaga jarak, lama-lama Bagus penasaran, dan akhirnya kesemsem beneran.

Bukan rahasia, bila Bagus melakukan berbagai cara untuk menaklukan hati Maharani. Dan sepertinya, berpartisipasi di acara ?Tembaklah Daku? adalah usaha pamungkasnya.

Namanya juga manusia. Meski disiapkan diam-diam, tak urung menjelang peristiwa ?penembakan?, bocoran yang didapat dari hembusan kabar burung sudah menyebar ke mana-mana. Bak kentut tanpa suara, tidak jelas asalnya, tiba-tiba baunya tercium semerbak. Kabar angin ini membuka peluang ?perjudian? terselubung.

Beberapa gelintir spekulan mencoba peruntungan dengan memanfaatkan peristiwa ?penembakan?. Dapat dipastikan, pasaran taruhan tidak berimbang. Hampir tiga kali lipat yang memasang ?Tembaklah Daku, Kau Kutolak?.? Jadi pasarannya 3:1 dengan kemungkinan suksesnya penembakan Bagus. Artinya, hanya bandar yang berani mengambil resiko bertaruh Rani mau menerima pernyataan cinta Bagus.

Di sinilah kehebohan berpangkal. Pasalnya, angin tak dapat membaca. Dalam laut dapat diduga, dalam hati siapa tahu. Sikap acuh dan dingin yang diperlihatkan Maharani di luar ternyata tidak bisa diinterpretasikan sebagai ungkapan perasaannya sebenarnya. Pasalnya, ketika Bagus melakukan ?penembakan?, tebakan ?tembaklah daku kau kutolak? ternyata berbalik menjadi ?tembaklah daku, ku takkan menolak?.? Artinya, Rani menerima pernyataan cinta Bagus. Sungguh di luar dugaan!

Tidak mengherankan bila seantero SMU Bunga Bangsa heboh. Tidak mengherankan bila perjudian terselubung gunjang-ganjing. Yang untung tentunya para bandar yang berani berspekulasi gila-gilaan, mendapat keuntungan yang berlipat-lipat. Sementara penjudi hanya bisa gigit jari sambil mengutuki Rani. Kemungkinan besar dari merekalah asal muasal berembus kabar angin tak sedap yang menyudutkan Maharani.

Kabar burung berubah menjadi hembusan fitnah yang mulai memanaskan suasana. Bak menyimpan api dalam sekam, begitulah kondisi SMU Bunga Bangsa pasca ?penembakan?.

?Ternyata, luarnya saja tampak alim. Dalamnya? gatal juga, tuh!?

?Iya. Cewek mana sih yang mampu menolak Bagus? Udah cakep, beken, kaya lagi!?

?Benar. Bahkan mungkin tu cewek bisa jadi selebritis karena bisa masuk TV!?

?Sekarang, baru kelihatan belangnya!?

?Emang, munafik!?

Semakin lama, hembusan fitnah makin memanas.

***

KEESOKAN harinya, sepulang sekolah Maharani langsung disidang. Seluruh anggota Rohis, aktifis mushala dan guru pembimbing seakan ramai-ramai menuntut pertanggungjawaban Rani.

?Maaf, aku khilaf!? ujar Rani dengan wajah pucat.

?Maaf? Enak saja kamu minta maaf!?

?Benar! Kamu sadar, tindakan kamu bukan saja berdampak pada dirimu, melainkan pada kita semua??

?Iya, kita dibilang kelompok munafik.?

?Mereka sekarang meremehkan dan melecehkan kita.?

?Tapi, aku benar-benar khilaf. Aku benar-benar tidak mengira akhirnya akan seperti ini. Sebenarnya, niatku baik??

?Baik? Baik apanya??

Bapak Lukman, guru Agama sekaligus pembimbing Rohis mengangkat tangan, coba meredakan tudingan yang diajukan pada Rani.

?Tolong, beri kesempatan Rani menjelaskan! Jangan dipotong dulu kalimatnya!?

Serangan berhenti. Mereka menatap Rani tajam. Rani tergagap. Keringat dingin membasahi jilbabnya.

Jawabannya ada di sini ...

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/7357/betis-indah-ken-diah

  • view 95