Permintaan Terakhir

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Februari 2016
Permintaan Terakhir

Banjarmasin, 10 September 1905

ADZAN Ashar berkumandang. Gemanya seakan memantul di permukaan Sungai Martapura yang berkilauan diterpa mentari sore.

Hasnah turun ke batang, bermaksud mengambil air wudhu. Namun niatnya diurungkan saat melihat siluet jukung yang teramat dikenalnya di kejauhan. Dia menunggu sesaat sampai jukung tersebut mendekat.

Ternyata benar jukung Bang Rasyid, suaminya. Hasnah sangat mengenal sosok kekar mengenakan tanggui yang sedang mengayuh itu. Kening Hasnah mengernyit keheranan. Tidak biasanya Bang Rasyid pulang saat Ashar. Biasanya, setelah berjualan di Pasar Terapung Kuin, Bang Rasyid berkeliling menjajakan dagangannya dari sungai ke sungai. Menjelang Magrib, baru kembali ke lanting.

?Abang sudah pulang?? Hasnah bertanya sambil menyambut tali jukung yang dilempar suaminya dan mengikatnya di tiang lanting agar tidak hanyut terbawa arus sungai.

?Iya. Abang sengaja pulang lebih awal,? sahut Rasyid. Dia sibuk membereskan bungkalang berisi buah-buahan hasil tembok yang belum habis terjual. ?Kita shalat Ashar dulu. Nanti Abang cerita.?

Mendengar penjelasan itu, terpaksa Hasnah memendam kembali rasa penasarannya. Apalagi dilihatnya wajah lelaki yang hampir limabelas tahun mendampinginya itu tampak suram, seolah menyimpan gundah dan kepritihatinan. Dia tidak ingin terlalu mendesak.

***

MAGRIB memanggil. Anak-anak mereka --- Arsyad duabelas tahun dan Jalifah delapan tahun, sudah pulang dari mengaji di surau. Mereka mandi, kemudian bergabung dengan orangtua mereka untuk Shalat Magrib berjamaah. Dilanjutkan dengan wirid dan dzikir, serta tilawah sampai waktu Isya. Setelah itu barulah Rasyid berbalik, menghadapi anggota keluarga yang menjadi jamaahnya.

?Panglima Batur tertangkap,? ujarnya terdengar serak seolah? menyimpan kegetiran yang pekat.

Hasnah terperanjat. ?Jadi, berita itu benar??

Sebelumnya mereka memang sudah mendengar kabar tentang tertangkapnya panglima setia Sultan Muhammad Seman --- raja terakhir Kerajaan Banjar dalam pelarian, sekaligus pimpinan perlawanan rakyat Banjar terhadap penjajahan Belanda itu. Namun mereka tidak percaya. Pasalnya, Belanda sering menyebarkan kabar bohong tentang tewasnya atau tertangkapnya pemimpin perjuangan rakyat untuk melemahkan semangat perjuangan mereka.

Rasyid mengangguk lemah. ?Kabar itu benar. Tadi siang beliau diarak keliling Banjar sebagai pemberontak yang akan segera menjalani hukuman gantung.?

?Jadi, kita akan kehilangan seorang mujahid lagi?? Suara Hasnah ikut-ikutan serak. Dia tak kuasa menahan isak yang mengharu-biru dadanya.

Sekarang dia mengerti, mengapa suaminya murung. Konon, orangtua Bang Rasyid adalah pengikut setia Sultan Hidayatullah. Ketika Sultan terperangkap tipu daya Belanda dan dibuang, mereka memutuskan mengikuti Demang Lehman yang meneruskan perjuangan. Haji Majid --- Abah Bang Rasyid gugur saat berusaha menggagalkan penangkapan Demang Lehman yang juga menggunakan cara licik, Hajjah Halimah --- Umanya berhasil meloloskan diri. Itu dilakukan karena saat itu beliau sedang mengandung Bang Rasyid.

?Panglima Batur itu siapa, Ma?? cetus Jalifah tiba-tiba.

Arsyad menyikut adiknya. ?Panglima Batur itu pahlawan. Ya, kan, Ma? Sama dengan Pangeran Antasari??

Hasnah tersenyum. ?Benar. Pangeran Antasari, Sultan Hidayatullah, Demang Leman, Sultan Muhammad Seman, Panglima Batur --- semuanya adalah pahlawan perjuangan rakyat Banjar melawan penjajah Belanda. Bahkan masih banyak tetuha Banjar lainnya yang juga berjuang fii sabilillah, menentang penjajahan, penindasan, dan kesewenang-wenangan tentara kafir Belanda. Begitu kan, Bah??

Rasyid mengangguk. Dia membelai kepala Jalifah dan merangkul bahu Arsyad. Dia kemudian mulai bertutur, menceritakan kisah perjuangan rakyat Banjar melawan penjajahan kolonial Belanda.

Panglima Batur adalah salah seorang pembantu setia Sultan Muhammad Seman --- putra Pangeran Antasari yang tetap meneruskan perjuangan Ayahandanya yang meninggal karena sakit tiga tahun sebelumnya.

Ketika Perang Banjar berkobar, bukan hanya suku Banjar yang angkat senjata, tapi saudaranya dari Suku Dayak yang mendiami Kalimantan bagian Selatan dan Tengah. Baik yang masih menganut Kepercayaan Kaharingan maupun yang sudah masuk Islam ikut bergabung dalam perjuangan. Gelar panglima menunjukkan pangkat khusus untuk Suku Dayak yang bertugas sebagai pengatur keamanan dan pemimpin pasukan. Seorang panglima biasanya adalah orang yang paling pemberani, cerdik, dan berpengaruh di kelompok sukunya, serta biasanya juga kebal.

Panglima Batur adalah salah satunya. Dia berasal dari Suku Dayak di daerah Buntok Kecil, 40 kilometer di udik Muara Teweh dan sudah memeluk Agama Islam.

Setelah Pangeran Antasari meninggal dan Sultan Hidayatullah ditangkap, perlawanan rakyat Banjar melemah akibat kehilangan pucuk pimpinan, kekurangan bahan makanan dan persenjata juga tipu daya licik pihak Belanda. Meski demikian, masih ada beberapa pemimpin rakyat yang meneruskan perjuangan walau dengan kekuatan seadanya dengan minimnya persenjataan serta kurangnya bahan makanan. Salah satunya adalah Sultan Muhammad Seman--- putra Pangeran Antasari berikut pengikut setianya --- Panglima Batur. Benteng mereka yang terakhir terletak di Sungai Manawing dipertahankan dengan sekuat tenaga.

Suatu ketika Panglima Batur berangkat ke Kerajaan Pasir, Kalimantan Timur untuk memperoleh tambahan persediaan senjata. Saat itu dimanfaatkan pihak Belanda pimpinan Letnan Christofel untuk menyerang Benteng Manawing. Dalam pertempuran yang tidak seimbang Sultan Muhammad Seman tertembak.

Panglima Batur yang baru kembali sangat terpukul mendapati Benteng Manawing runtuh. Dia semakin sedih mendengar junjungannya, Sultan Muhammad Seman tertembak dan gugur. Untunglah, jenazahnya bisa diselamatkan dari kedzaliman Belanda yang biasanya memenggal kepala para pemimpin perjuangan rakyat dan mengoleksi tengkoraknya untuk dipajang di museum. Bersama rekan seperjuangannya, Panglima Umbung, Panglima Batur kembali ke kampung halaman di Buntok-Kecil setelah memakamkan Sultan Muhammad Seman di gunung Puruk Cahu.

Suatu hari, Panglima Batur merayakan upacara pernikahan di Kampung Lemo. Di sana seluruh keluarganya berkumpul. Lagi-lagi Belanda memanfaatkan kesempatan itu untuk melakukan penangkapan. Panglima Batur berhasil lolos, dan kembali ke persembunyinya di Muara Teweh. Tapi Belanda menangkap seluruh anggota keluarganya yang tertinggal--- termasuk kedua mempelai--- dan menyiksa mereka tanpa perikemanusiaan.

Belanda kemudian mengirim salah seorang sepupunya --- Haji Kuit kepada Panglima Batur. Dikatakan, Belanda akan membebaskan seluruh keluarganya apabila Panglima Batur keluar dari persembunyiannya dan bersedia berunding. Sebaliknya, bila Panglima Batur keras kepala, mereka semua akan ditembak tanpa kecuali.

Keseruannya berlanjut ke sini, ya...!

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/7341/kabut-di-lontontour

  • view 194