Senyum Sahabatku

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Februari 2016
Senyum Sahabatku

September? kelabu 2002

Sore bersaput mendung. Kansha--- sahabat terbaikku menelpon. Suaranya terdengar lain di telingaku. Ada getar, seolah menyimpan beban. Ada parau, seakan menyembunyikan kedukaan. Ada serak, sepertinya menyimpan isak.???

"Mel, Aldy menikah," ucapnya tersendat.

Aku bagai tersengat listrik mendengarnya. Amat kaget. "Apa?"??? "Yah, dia sudah menikah, Mel. Minggu ini pestanya."

Aku terlongo-longo bingung. Becandakah Kansha? Tidak mungkin. Meski sobatku yang satu itu terkadang emang suka usil bin jahil, tapi dari nada suaranya sekarang, rasanya sangat tidak mungkin.???

Tapi kabar itu juga sama mustahilnya. Aldy menikah. Bagaimana mungkin? Bukankah selama ini dia pacaran dengan Kansha? Lalu dengan siapa dia nikah? Tentunya bukan dengan Kansha. Pasti dengan cewek lain. Bila tidak, suara Kansha tidak mungkin seterluka itu. Dari suaranya saja, aku tahu, ada luka menganga yang sekarang ditahan sahabat baikku itu. Kepedihan, terdengar nyata dalam geletar nada suaranya.

?Dari mana kabar itu, Sha? Kamu jangan langsung percaya! Harus cek dulu! Barangkali hanya gossip. Barangkali kamu salah. Barangkali?? sahutku gugup.

?Tidak, Mel. Ini kenyataan. Meski teramat pahit dan menyakitkan, namun inilah kenyataan. Ada undangannya. Dan namanya terpampang jelas.?

Duh, suara itu. Hatiku bagai ikut tersayat mendengarnya. Suara yang sarat dengan kepedihan. Aku bisa merasakan, betapa dalam sayatan yang menggores hati sahabatku itu.

?Kamu di mana, Sha? Di rumah? Aku ke sana, ya?? tawarku cemas.??? ?Yah, datanglah, Mel! Aku memerlukanmu,? ucapnya setengah merintih.

Tanpa menunggu lama, aku langsung cabut ke rumah Kansha. Aku tidak peduli, meski malam sudah menjelang. Aku mencemaskannya. Sungguh, aku mengkhawatirkan keadaan sahabat karibku itu!

Suasana rumah Kansha tampak biasa saja. Seperti biasa, Mamanya menyuruhku langsung masuk kamar. Agaknya, orangtua maupun saudaranya tidak mengetahui kesedihan Kansha. Kawanku itu memang biasa memendam masalahnya sendiri. Hanya kepadaku, terkadang dia mau berbagi. Karena aku, juga selalu berbagi dengannya.

Ketika aku masuk, Kansha sedang shalat. Sujudnya lama sekali. Kulihat bahunya berguncang hebat. Agaknya, tangisnya tumpah di atas sajadah. Aku hanya bisa memperhatikannya.

Ketika shalatnya usai, baru aku mendekatinya. Aku merengkuh bahunya. Tangis Kansha kembali tumpah di lenganku. Bajuku sampai basah.

?Aku tak bisa percaya ini terjadi, Mel. Sungguh tidak bisa percaya! Mengapa dia bisa setega itu? Mengapa dia tega menghancurkan kepercayaanku? Padahal aku begitu mempercayainya. Aku sangat mempercayainya. Mengapa dia tega mengkhianati cintaku? Padahal aku begitu menyayanginya. Aku sangat mengasihinya. Mengapa dia tega menyakiti hatiku? Padahal aku selalu berusaha menjaga perasaannya. Aku sangat memujanya.? Kansha tergugu di dalam pelukanku.???

Aku menggigit bibir, menahan sedih bercampur geram. Sedih melihat kehancuran hati sahabatku yang berkeping dan tinggal puing. Geram menahan amarah kepada Aldy, cowok penyebab kehancuran itu.

Bagaimana tangisnya tidak akan mengiris hatiku juga, Kansha adalah sahabat karibku. Kedekatan kami sudah melebihi saudara kandung. Kami bagaikan satu jiwa di dalam dua raga. Kebahagiaanku adalah kebahagiaannya juga. Kesulitanku dia juga merasakannya. Demikian juga sebaliknya, senyum Kansha adalah kegembiraanku. Lukanya adalah kesedihanku pula.???

Aku berteman dengan Kansha sejak kami masuk SMP. Kami menjadi sangat dekat, meskipun kami berbeda. Kamitidak peduli, meski banyak orang yang tampaknya tidak rela dengan kedekatan kami, hanya karena kami berbeda.

Tidak mengherankan, bila aku juga tahu banyak tentang hubungan Kansha dengan Aldy. Ingin rasanya kulumat cowok yang menyakiti Kansha itu. Ingin balas kuhancurkan. Dia tidak berhak menyakiti sahabatku seperti ini.

Kenapa? Karena aku tahu benar, betapa Kansha menyayanginya. Karena aku tahu benar, begitu banyak pengorbanan yang diberikan Kansha demi menjaga hubungan kasih mereka.

Padahal kalau dilihat, apalah Aldy itu. Bila Kansha mau, dia bisa mendapatkan cowok lain yang melebihi segalanya dari Aldy. Tapi Kansha memilih Aldy, saat cowok itu datang dalam kehidupannya, bahkan mati-matian mencintainya.

Sekarang Aldy bukan hanya mengkhianatinya, juga menyakiti dan menghancurkannya. Rasanya sungguh tidak rela! Rasanya sungguh tidak adil! Rasanya ingin marah! Ingin berontak! Ingin protes! Tapi kepada siapa?

Aku hanya bisa menghibur Kansha semampuku. Aku hanya berusaha selalu menemaninya sebisaku. Beberapa hari, aku menginap di rumahnya. Terkadang, kuajak dia bergantian menginap di rumahku. Aku sungguh takut dan khawatir meninggalkannya sendiri. Aku tahu, kondisinya sedang rawan. Aku tahu, keadaannya sedang labil.

Aku cemas, kejadian yang menimpa Cik Vero--- kakak perempuanku, dan Tante Sisca--- adik bungsu Papahku, juga terjadi padanya. Mereka sama-sama patah hati. Cik Vero memilih mengakhiri hidupnya dengan meminum obat tidur over dosis. Sementara Tante Sisca mengiris nadinya sendiri sampai meninggal dunia kehabisan darah. Benar-benar akhir yang tragis.

Aku tidak ingin Kansha mengalami hal yang sama. Meski kulihat, sahabatku itu cukup tegar menghadapi badai yang menerpanya. Namun dia berubah. Tak ada lagi Kansha yang lincah, gesit, periang, usil, jahil, dan murah senyum. Tak ada lagi sosok cewek manis yang menebar senyum dan tawa pada lingkungan sekitarnya. Yang ada hanya sosok Kansha yang lebih banyak diam, lebih sering melamun dan merenung, dan jarang mengulas senyum kecuali senyum yang dipaksakan tanpa ketulusan.

Duh, Kansha! Bagaimana aku tidak akan prihatin melihat kondisi sahabatku yang seperti ini? Untungnya, dia masih punya iman dan keyakinan yang kuat. Mungkin inilah yang membuatnya mampu bertahan. Karena kulihat, Kansha semakin religius.

Sebenarnya sih, sejak aku mengenalnya, Kansha sudah tergolong alim. Paling tidak lebih alim dibanding teman-teman lain se-SMP. Dia bisa membaca Al-Quran dengan lancar. Dia sudah rajin shalat.

Saat masuk SMU, dia memutuskan memakai jilbab. Walaupun dia masih suka memakai kemeja gedobrang atau kaos lengan panjang yang dipadu dengan celana jeans longgar. Shalatnya juga tidak pernah bolong, walau tidak selalu tepat waktu.

Sekarang lebih-lebih lagi. Shalatnya tidak lagi lima kali, bahkan lebih. Pagi-pagi, sebelum masuk ruang kuliah, pasti dia pamit kepadaku ingin ke mushola. Katanya, shalat sunat Dhuha. Menjelang shalat Zhuhur,? dia bawaannya gelisah, mau buru-buru ke mushola, begitu juga waktu sholat lain. Kemudian tengah malam, bila kebetulan dia nginap di rumah, atau bila aku nginap di rumahnya, dia selalu sholat. Berdoanya juga lama. Tampak sangat khusuk dan syahdu.

Selain itu, berbagai bacaan tentang agama di kamarnya juga bertambah. Segala macam majalah Islam, dari Ummi, Annida, Hidayah, Saksi, Elfata, terkumpul di kamarnya. Dia juga menambah koleksi novel dan cerpennya, namun dipilih novel dan cerpen yang Islami. Belum lagi buku tentang ibadah, shalat, dan buku ceramahnya Aa Gym dan ustadz lainnya. Koleksi VCD dan kasetnya juga tidak jauh dari nasyid dan shalawat.

Selain sikapnya yang berubah, penampilan Kansha juga sedikit banyak berubah. Tidak ada lagi celana jeans dan kemeja kebesarannya. Semua diganti dengan rok atau kulot lebar yang lebih terkesan feminim. Bahkan kaos kakipun tidak pernah lepas lagi.

?Aku baru tahu, banyak sekali cara hidupku yang perlu diluruskan, Mel. Mungkin, inilah cara Allah menegurku,? ujarnya ketika aku bertanya.

Namun yang paling membuatku sebel, Kansha tidak pernah mau lagi membuka jilbabnya di depanku. ?Maaf, Mel! Meski kamu sahabat karibku, aku tetap tidak boleh memperlihatkan auratku kepadamu, karena kita beda keyakinan.????

Sebenarnya, aku sempat ingin protes. Selama ini, kami tidak pernah mempersoalkan perbedaan keyakinan kami. Meski dia Islam taat, dan aku Katholik abangan, kami tetap bisa dekat seperti saudara. Tidak ada yang menghalangi keakraban kami.

Namun, rasa jengkelku tidak bertahan lama. Karena di luar itu, Kansha tetap baik. Dia tidak pernah berusaha menjauhiku. Kami tetap dekat, meski Kansha lebih menjaga jarak.???

Diam-diam, justru aku mulai mengagumi cara Kansha bertahan dalam badai. Aku mengagumi caranya melarikan diri dari kepedihan. Aku mengagumi caranya menghibur diri dari kesedihan. Aku mengagumi ketabahannya. Aku mengagumi ketegarannya. Aku mengagumi keteguhannya.

?Agamaku memberi petunjuk dalam menghadapi musibah, Mel, yakni: jadikan shalat dan sabar sebagai penolongmu. Itulah yang sekarang coba lakukan, berusaha lebih bersabar dan lebih rajin sholat agar memperoleh lebih banyak kekuatan,? katanya.

?

November Rain 2002

Mendung semakin sering menghiasi langit di bulan November. Kansha semakin tenggelam dalam dunianya. Diam-diam, aku pun semakin rajin mengamatinya. Sahabatku itu tampak semakin tenang dan dewasa.

Aku semakin tertarik mengikuti kegiatannya. Sembunyi-sembunyi, aku suka juga ikut membaca? koleksi buku-bukunya. Sedikit demi sedikit, aku bisa memahami perubahannya dan mengerti dunianya yang baru.

Sekitar 3 hari menjelang awal Ramadhan 1423 Hijriah, aku tak mampu menahan keharuan yang menyeruak dari lubuk hatiku. Ketika itu, Kansha baru saja menyerahkan dua dus pakaian pantas pakainya kepada sebuah panti asuhan, berikut sejumlah uang.

Setahuku, dua bulan belakangan, Kansha memang suka sekali bersedekah. Dia tidak bisa melihat ada orang yang memerlukan, langsung saja memberi sumbangan. Kalau dia sendiri berlebihan, tidak masalah, namun aku tahu benar, penghasilannya juga pas-pasan.

Bayangkan saja, Kansha sampai harus menguras tabungannya hanya untuk memberi sedekah. Padahal, tabungan itu hasil dia mengumpulkan honor memberikan les privat selama berbulan-bulan. Seharusnya, tabungan itu digunakan untuk membayar kuliahnya semester depan. Tapi ketika kuperingatkan, Kansha tidak terlalu menganggapnya serius.

?Semoga semester depan, Allah memberikan rezeki lebih untuk kuliahku, Mel!?jawabnya enteng.

Sepulang dari Panti Nurul Jannah, aku tak mampu lagi membendung keinginantahuku.

?Kenapa akhir?akhir ini kamu nafsu sekali bersedekah? Padahal, kamu sendiri sebenarnya masih memerlukannya?? tanyaku penasaran.??? Kansha terdiam cukup lama. Dia hanya memandangku, kemudian menarik nafas panjang.

?Kamu pasti mengerti kondisiku, Mel, karena kamulah yang paling tahu masalahku. Kamu pasti juga tahu, betapa perih luka yang harus kutanggung ini. Begitu pedihnya, sampai aku harus kehilangan keceriaanku. Begitu sakitnya, sampai aku harus kehilangan sebagian besar senyumku. Aku hampir tak mampu lagi mengukir sebuah senyum, senyum yang benar-benar tulus, senyum yang tidak bercampur sayatan luka,? tuturnya.

Aku mengangguk membenarkan. Namun, aku masih tidak mengerti, ke mana arah jawaban Kansha. Karena aku tidak melihat relevansinya dengan pertanyaanku.

?Kata Kahlil Gibran, sungguh mulia orang yang berduka namun masih bisa menembangkan lagu gembira bersama mereka yang bersuka cita! Aku sebenarnya ingin menjadi semulia itu, tetap tersenyum meski hatiku menyimpan luka. Tapi ternyata aku tidak bisa. Aku tidak mampu. Aku tidak sekuat itu. Aku terbiasa apa adanya. Aku tidak biasa bersandiwara. Aku tidak bisa berpura-pura.????

Aku menghela nafas. Memang begitulah Kansha yang kukenal.

Senyumnya berlanjut ke sini ...

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/8197/cowok-rumah-sebelah

  • view 306