Catatan Harian Seorang Teman

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Februari 2016
Catatan Harian Seorang Teman

15 September 2005

?SELAMAT ULANG TAHUN?

?

HANYA satu kalimat itu yang menjadi judul sampul depan. Ditambah sebuah keterangan dalam kurung ?Catatan Harian Seorang Teman?, kemudian tandatangan penulisnya.

Ini adalah hadiah ulangtahun terunik yang pernah kuterima sepanjang usiaku yang sudah melewati kepala tiga. Dari bentuk bungkusnya yang sederhana, bisa ditebak isinya pasti berupa buku. Saat melihat sampulnya berwarna biru laut penuh hiasan, bisa dipastikan adalah diary.

Namun sama sekali di luar dugaanku, diarynya sudah terisi. Kukira semula, diarynya baru dan masih kosong. Ternyata, lembar-lembar halamannya sudah penuh terisi.

Sungguh bukan sembarang diary, karena sengaja dibuat seindah mungkin. Sampulnya dibingkai renda dan dihiasi bunga-bunga kecil cantik. Sementara setiap lembar halaman, selain ditulis dengan huruf indah dan rapi, juga dilukis. Setiap halaman ada kalimat dalam bingkai berisi kata-kata mutiara olahan para filsuf ternama.

Aku tersenyum, terbayang wajah pemberinya. Temanku yang satu itu memang paling bisa membuat yang biasa menjadi istimewa. Membuatku tak sabar ingin membaca isinya.

?

?

20 Maret 2002

Surprise, Di?!

HARI ini aku ketemu teman lama. Teman SMP. Sebenarnya sih saat itu kami tidak dekat-dekat amat. Soalnya kami punya genk masing-masing. Tapi tetap saja ada perasaan tidak asing.

Ternyata dia juga merasa begitu. Akhirnya kami saling mengklarifikasi, dan ketahuan ternyata pernah satu SMP. Pernah satu kelas, walau hanya di kelas satu. Seterusnya selalu beda kelas. Makanya, jadi lupa-lupa ingat.

Namanya Ratih, aku masih ingat. Hanya saja, dia sekarang jangkung. Padahal, waktu SMP dulu, tergolong kecil bila dibanding yang lain.

Ratih guru di SMK swasta. Sama seperti aku, dia juga masih single fighter alias jomblo. Iseng-iseng kusampaikan keinginanku untuk mengajar. Kebetulan aku punya kemampuan Bahasa Inggris yang lama dianggurin. Aku takut bakal hilang tanpa bekas.

Dia menyambut keinginan itu. Kebetulan sekolahnya berencana membuka jurusan baru. Jadi, memang memerlukan tambahan tenaga pengajar.

Aku makin bersemangat. Wah, bakal kesampaian juga nih cita-cita jadi guru, meskipun sebenarnya aku bukan dari keguruan. Tapi bukankah setiap ilmu yang bermanfaat wajib disebarluaskan, Di?

?

?

10 September 2003

RATIH curhat lagi, Di. Biasalah ? soal apa lagi kalau bukan soal cinta --- tentang cowok yang dekat dengannya.

Aku tidak terlalu serius menanggapinya, Di. Jahat, ya? Masalahnya, aku sendiri lupa sudah ada berapa cowok yang pernah diceritakannya padaku. Pernah sekali dia menunjuk rumah di sebuah kawasan, ketika kami melewatinya saat menemani murid-murid study tour. Katanya, rumah ?calon?nya. Seorang polisi yang dikenalkan Bu De-nya. Saat itu, dia lagi bertugas di Aceh.

Lalu dia cerita tentang ganjalan di hubungan mereka. Menurutnya, sang cowok minder karena hanya lulusan SMA. Sementara Ratih sarjana. Ganjalan yang menurutku hanya batu kerikil bila yang terlibat menganggapnya kecil. Tapi bila dibesar-besarkan, pastilah bisa menjadi tembok penghalang yang sulit untuk dirobohkan.

Setelah itu, aku tak pernah mendengar cerita tentang cowok itu lagi. Ratri curhat tentang cowok lain. Sesama guru yang dia temui saat pelatihan. Hanya katanya, berstatus duda dengan satu anak. Masalah ini pula yang menjadi pikirannya.

Aku tak bisa memberi nasihat apa-apa. Aku hanya memberikan pendapatku tentang hidup kepadanya. Bahwa hidup adalah pilihan --- yang di setiap pilihan ada konsekuensi yang harus diterima dengan penuh tanggungjawab. Jadi, segalanya kembali pada yang menjalani ingin memilih alternatif mana. Namun sebelumnya, dia juga harus siap dengan segala konsekuensinya.

Kemudian aku tak mendengar lagi kelanjutannya. Malah kisah baru lagi, tentang cinta yang dipendamnya kepada sahabatnya yang berada di Banyuwangi. Katanya, ketika sang sahabat itu mengaku sudah punya ?calon? dia merasa cemburu dan sakit hati.

Kisah itu kutanggapi sebagaimana biasa. Kukatakan hal itu masih sangat wajar dan manusiawi, karena bukan hanya dia yang mengalami. Sebenarnya dalam hati, aku capek juga. Mengapa suasana hati Ratih cepat sekali berubah? Jangan-jangan yang dirasakannya sebenarnya bukan cinta, melainkan hanya simpati, suka, atau rasa kagum biasa saja. Hanya saja, Ratri menanggapinya terlalu berlebihan.

Entahlah, Di. Kenapa pula aku harus membingungkan perasaan orang lain, sementara perasaanku sendiri saja terkadang masih tak kumengerti.

Catatan selanjutnya di sini ...

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/8106/usai-ijab-kabul

  • view 199