Saksi

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Februari 2016
Saksi

?OYA, itu ada surat dari Kejaksaan,? ujar Robby ketika Rina mendapati sepucuk amplop coklat di atas CPU-nya.

?Kejaksaan Tinggi?? Rina setengah menggumam, membaca setempel yang tertera di amplop. Setengah tergesa, dibukanya ujung amplop yang dibiarkan terbuka itu. Penasaran dan tidak sabar.

?Surat panggilan saksi pertama untuk keperluan persidangan sehubungan dengan perkara atas nama terdakwa Sukri Abdillah bin Haji Abu Hasan.?

Kening Rina berkerut, pertanda dia sedang memutar otaknya sekaligus mengulang memori yang diam-diam sebenarnya berusaha dikuburnya. Bola matanya menyusuri deretan data identitasnya. Di kolom pekerjaan tercantum ?wartawati?. Spontan senyum hambar tergores di bibirnya.

Wartawati, desahnya tawar. Seharusnya ditambahkan kata ?mantan? atau ?eks?. Pasalnya, profesi itu sudah lebih setahun ditinggalkannya. Bukan hanya itu, Rina bahkan berusaha melupakan kenyataan dia pernah menjadi wartawati. Andai masa lalu berupa tulisan yang bisa ditip-ex, pasti sudah dihapusnya bagian selama hampir lima tahun dia pontang-panting menjadi pemburu berita.

Rina menghela nafas.

Bagaimana bisa melepaskan diri dari masa lalu bila kenangan--- sepahit dan sekelam apapun --- tetap merupakan bagian dari kenyataan. Hampir lima tahun, berbagai kekecewaan terpaksa harus ditelannya, sampai akhirnya dia memutuskan untuk mundur dari gelanggang, memilih lapangan lain yang baginya lebih menenangkan. Banyak yang menyayangkan. Ada juga yang menganggapnya bak pengecut yang melarikan diri dari medan perang. Namun, tekatnya sudah bulat. Mundur lebih baik daripada tetap bertahan sementara dia tahu dia semakin rapuh. Dia tak mau, kerapuhannya membuatnya terjerumus makin dalam dan tak mungkin berkesempatan untuk keluar lagi.

Tanpa bisa dicegah, rentetan memori itu kembali tergelar di layar benaknya. Rina menggeleng keras-keras, seakan ingin mengibas kenangan yang mulai menghinggapinya. Tidak. Sungguh, dia tak menyukainya. Dan dia tak ingin mengingatnya.

?

?

?

?

?MAAF, Bu! Terpaksa hari ini saya minta izin.? Rina meletakkan amplop surat di atas meja. ?Saya dapat panggilan dari Kejaksaan Tinggi, diminta jadi saksi kasus pencemaran nama baik.?

Bu Ros, Kepsek tempatnya mengajar, membuka surat yang disodorkan Rina. Membacanya dan tercenung sejenak. ?Baiklah, kalau memang harus begitu. Tapi, Bu Rina, tinggalkan tugas buat anak-anak, ya!?

Rina mengangguk. ?Ya. Terimakasih, Bu.?

Rina meninggalkan ruang Kepala Sekolah dengan lega. Ternyata tidak sesulit yang dibayangkannya. Atau karena dia yang justru mengharapkan demikian? Karena sebenarnya dia enggan memenuhi panggilan tersebut.

Rina menghela nafas. Tadinya memang sempat terlintas keinginan untuk mengabaikan panggilan itu. Untuk apa? Dia sama sekali tak punya kepentingan. Dua politikus saling serang lewat media, dan sebagai wartawati dia hanya diperalat demi kepentingan mereka. Namun sekarang, dia bukan wartawati lagi. Dia seorang guru. Tak ada sangkut pautnya lagi dengan masalah tersebut.

Namun setelah dipikir lebih lanjut, akhirnya Rina memutuskan pergi. Kalaupun dia bisa menghindar pada panggilan pertama, belum tentu panggilan selanjutnya dia masih bisa menolak. Bila akhirnya dia tetap harus bersaksi, apalah bedanya sekarang atau nanti? Bukankah semakin cepat urusan selesai lebih baik?

Lagipula, ada rasa penasaran mengganggu pikirannya. Kasus mana sebenarnya yang menyeretnya kembali berurusan dengan jajaran pengadilan? Seingatnya, selama jadi wartawati, dia pernah menandatangani 2 BAP dengan kasus sama tapi dengan terdakwa berbeda.

Kasus pertama sudah diputus vonis melalu kesaksiannya bersama beberapa teman wartawan lainnya. Pengalaman pertama Rina bersaksi di pengadilan di bawah sumpah. Bukan pengalaman yang menyenangkan untuk dikenang, apalagi untuk diulang kembali.

Kasus kedua, tidak sempat ke pengadilan. Kabar terakhir yang didengarnya, kasus tersebut diselesaikan secara damai. Penyelesaian yang sangat disyukurinya. Karena dia tak sanggup membayangkan bila harus bersaksi lagi di pengadilan.

Sekarang Rina dipanggil lagi jadi saksi, untuk kasus yang mana? Apa masih kasus yang dulu? Bukankah semua sudah selesai? Lagipula sudah lebih setahun berlalu. Rina saja sudah lebih setahun mengundurkan diri sebagai wartawati. Atau malah ada kasus yang baru lagi? Tapi apa? Yang mana?

Karena pertimbangan-pertimbangan itulah, Rina akhirnya memutuskan untuk menghadiri panggilan tersebut. Siapa tahu, dia bisa menarik kembali kesaksiannya.

?

Maaf, bersambung ...!

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/8022/suatu-siang-di-warung-pojok-terminal

  • view 93