Dengan Kepala Tegak

Dengan Kepala Tegak

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Februari 2016
Dengan Kepala Tegak

SEBENARNYA Andi bukan orang asing bagi kami. Kami mengenalnya sebagai? keponakan Pak Gani --- guru olahraga kami. Dia pernah? diajak Pak Gani ke sekolah. Karena usianya hampir sebaya, jadi dia mudah akrab dengan murid-murid pamannya.

Suatu hari Andi datang pas kebetulan kami sedang latihan voli. Tanpa basa-basi, dia ikut main. Ternyata seperti Pamannya, dia juga jago voli. Terutama dalam melepaskan spike, keras dan tajam. Terlebih posturnya yang tinggi juga sangat mendukung.

?Andi hebat, ya! Spike-nya sulit sekali dijangkau. Sudah keras dan tajam. Arahnya sulit ditebak lagi.? cetus Ilham saat itu. ?Coba dia satu sekolah dengan kita! Pasti Piala Bergilir Gubernur tetap akan jadi milik kita.?

Aku membenarkan pujiannya saat itu. Aku juga puas bila main dengan Andi. Maklum, posisiku sebagai tosser --- si pemberi umpan. Orang yang paling berkepentingan bila umpan yang diberikan bisa diselesaikan dengan baik. Dan Andi selalu melepaskan spike yang menggetarkan. Aku merasa umpanku tidak pernah sia-sia.

Namun kutahu pasti, Ilham seperti juga aku, sama sekali tak mengira bila perkataannya suatu ketika akan jadi kenyataan. Dia sendiri? yang menyampaikannya sepulang latihan. Waktu itu aku izin karena harus mengantar Mama yang maag-nya kambuh ke rumah sakit.

?Kayaknya, aku hanya bakal duduk manis di bangku cadangan selama Kejuaraan Volley Gubernur Cup mendatang,? ujarnya yang datang bersama Azwar --- anak kelas X yang juga anggota tim volley sekolah.

?Itu sih masih mending, saya mungkin akan tercoret dari tim inti.? Azwar menimpali.

Keningku berkerut mendengar keluhan mereka. Melihat kedatangan mereka dengan wajah keruh saja membuatku heran setengah mati. Ditambah lagi keluhan pesimis seperti itu. Ada apa sebenarnya? Bukankah setiap latihan mereka selalu tampak bersemangat karena sebentar lagi dipercaya membawa nama sekolah ke Kejuaraan Volley se-SLTA Gubernur Cup? Karena itulah keinginan utama mereka saat memutuskan volley sebagai ekstra kurikuler pilihan mereka. Bila tahun lalu masih ada kakak-kakak kelas yang memperkuat tim inti, sekarang adalah giliran mereka.

?Kenapa kalian bicara begitu?? tanyaku penasaran.

?Kayaknya, tempatku bakal digantikan Andi.?

?Andi?? Dahiku makin berlipat. ?Andi keponakan Pak Gani.?

Keduanya mengangguk.

?Bagaimana mungkin? Apa Andi akan pindah ke sekolah kita??

Ilham mengangkat bahu. ?Pindah sekolah kan tidak semudah itu. Paling, jadi pemain pinjaman.?

?Pemain pinjaman?? Aku setengah geli mendengarnya. ?Emangnya liga? Kira-kira pakai biaya transfer, nggak? Berapa lama kontraknya??

?Yah, hanya sampai berakhirnya Kejuaraan Gubernur Cup.?

?Maksudmu, jadi pemain bayaran secara tidak resmi??

?Begitulah. Kamu jangan pura-pura bego begitu! Bukankah hal semacam ini sudah lumrah? Tinggal memberi Andi Kartu Pelajar sementara. Beres!?

Aku ternganga. Tentu saja aku tidak bego. Dalam sebuah kejuaraan, entah di bidang apapun, hal seperti ini sering terjadi. Bahkan dalam tes atau ujian pun sering ditemukan praktek perjokian. Terlebih di bidang olahraga. Tujuannya tentu saja demi gelar juara. Demi gengsi dan prestise.

Tapi sungguh mati, aku tidak pernah membayangkan bila hal seperti ini akan terjadi di depan mataku. Sekolahku --- SMK Wasaka --- akan memakai pemain bayaran untuk mempertahankan gelar juara bertahan volley se-SLTA Gubernur Cup.

Aku menggeleng tak percaya. ?Kalian serius? Kalian pasti hanya menduga-duga. Mungkin kebetulan tadi Andi mengunjungi Pamannya di sekolah dan ikut main. Makanya kalian mengira ??

?Tidak! Pak Gani mengatakannya sendiri.?

?Benar. Pak Gani mengatakannya.?

?Apa katanya?? tanyaku masih tak percaya.

?Bahwa Andi akan memperkuat tim kita.?

Aku terhenyak. Benarkah Pak Gani mengatakan itu? Sama sekali tidak pernah terbayang olehku, Pak Gani --- Guru Olahraga sekaligus pelatih tim voli yang kusegani dan hormati itu sanggup mengatakan kalimat yang tidak sepantasnya diucapkan oleh orang yang sekian lama berkecimpung di bidang olahraga. Kenapa? Begitu pentingkah arti Piala Gubernur baginya?

Namun, bila kuingat lagi, Pak Gani memang pernah menegaskan pentingnya kejuaraan yang akan kami ikuti beberapa bulan mendatang. Penting karena sekolah kami juara bertahannya. Penting karena di kejuaraan inilah kami bisa mengungguli SMK Demi Pertiwi, sekolah saingan kami. Dalam kejuaraan atau perlombaan lain, sekolah kami selalu kalah.

Lalu, apakah karena itu? SMK Demi Pertiwi bisa dibilang saingan berat SMK Wasaka di kota ini. Pasalnya, kedua SMK ini memiliki jurusan yang sama. Selain itu statusnya sama-sama swasta, berdiri di kecamatan yang sama, sehingga setiap tahun selalu bersaing untuk menarik minat murid. Demi menarik minat murid juga, keduanya kemudian bersaing prestasi di segala bidang. Baik di bidang akademis, maupun ekstra kurikuler.

Persaingan perlu untuk memacu prestasi. Tapi persaingan sehat. Yang jujur. Bukan dengan cara illegal dan curang.

?Akan kutanyakan lagi nanti pada Pak Gani,? putusku akhirnya.

?Bila dia membenarkan??

?Aku akan protes.?

Ilham dan Azwar saling berpandangan.

***

?MAAF Pak, saya ingin tanya! Apakah benar Bapak ingin memakai pemain bayaran untuk memperkuat tim sekolah kita di Gubernur Cup nanti?? tanyaku tanpa basa-basi kepada Pak Gani.

?Pemain bayaran? Apa maksudmu??

Pak Gani membelalak kaget. Tampak tak menyangka akan ditodong pertanyaan seperti itu. Dia kemudian memandang Ilham yang menemaniku menghadap. Ilham menunduk. Saat itu baru dia maklum.

?Maksudmu Andi? Dia bukan pemain bayaran. Kalian kan tahu, dia keponakan Bapak. Kita memerlukan tenaga dan kemampuannya untuk memenangkan kejuaraan mendatang.?

?Tapi dia bukan siswa SMK Wasaka.?

?Itu bukan masalah. Kita bisa membuatkan kartu pelajar SMK Wasaka untuk keperluan administrasi pendaftaran.?

?Tapi dia tetap bukan siswa SMK Wasaka, kecuali dia pindah ke sekolah ini.?

?Dia tidak mungkin pindah. Orang toh takkan tahu dia bukan benar-benar siswa SMK Wasaka.?

?Tetap tidak akan mengubah kenyataan, Andi bukan siswa SMK Wasaka. Itulah faktanya. Itu kebenarannya.??

Pak Gani terdiam. Wajahnya memerah. Matanya tajam menatap. Rahangnya mengeras. Tampak jelas dia marah.

?Apa maumu sebenarnya Hanif? Kau ingin kita kalah dalam pertandingan nanti?? geramnya.

?Siapa bilang kita kalah? Kita kan belum bertanding. Kita masih punya banyak pemain voli yang bagus. Ada Ilham dan Azwar. Juga masih ada Toni dan Rusli. Mereka juga spiker yang handal. Siapa yang berani menjamin kita akan kalah??

?Lalu siapa yang berani menjamin kita akan menang? Kemampuan Ilham, Azwar, Toni, dan Rusli jauh di bawah Andi. Dan kita juga sudah pernah melihat kemampuan spiker SMK Demi Pertiwi. Apa kau pikir Ilham dan yang lain-lainnya mampu menandingi mereka??

Pak Gani melirik Ilham sengit. Membuat sahabatku itu menunduk makin dalam. Mungkin dipikirnya Ilham yang mempengaruhiku agar memprotes kebijakannya.

Harus kuakui, dalam hal ini Pak Gani benar. Tahun lalu, kami sudah pernah bertanding melawan SMK Demi Pertiwi di final. Mereka sangat hebat. Padahal, para pemainnya rata-rata masih kelas sepuluh. Tapi sanggup membuat tim kami yang sebagian besar diperkuat kakak-kakak kelas duabelas yang berpengalaman keteteran. Hanya karena mental dan pengalaman yang membuat tim sekolah kami akhirnya unggul. Itupun dengan pertarungan ketat dan angka hanya terpaut tipis.

?

Keseruannya, mohon maaf, berlanjut ke sini, ya...!

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/7980/melodi-merdekawati

  • view 132