Jukung Cinta di Ombak Sungai

Lis Maulina
Karya Lis Maulina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Februari 2016
Jukung Cinta di Ombak Sungai

??OOOIII?. Isnaaa?!?

Suara itu begitu nyaring dan melengking. Semua orang yang berada di sekitar pelabuhan menoleh ke arah suara itu. Demikian juga Isna. Dia hapal benar siapa yang memiliki suara seunik itu.

Seorang gadis sedang terayun-ayun di atas jukung atau perahu kecilnya. Tangannya melambai ke arah Isna penuh semangat.

?Paaattt?!? Tanpa sadar Isna balas berteriak.

Isna nyengir ketika menyadari pandangan orang beralih kepadanya. Untuk mengurangi malu, dia pura-pura cuek.

Ipat dengan gesit mengayuh jukungnya, meliuk-liuk dengan lincah. Menyusup di antara jukung dan kelotok atau perahu motor lain yang rata-rata lebih besar. Sebentar saja jukung Ipat sudah berhasil merapat ke dermaga di mana Isna berdiri menunggu.

Sebelum Isna melompat ke jukung, Ipat sudah lebih dulu melompat ke dermaga.

?Apa kabar, Is?? sapanya dengan Bahasa Indonesia yang formal dan baku seraya menjabat tangan Isna.

Isna terlongo sesaat. Tapi dia segera sadar kekonyolan sahabatnya itu sengaja untuk menggodanya.

?Ikam ni!? gerutunya dalam Bahasa Banjar yang berarti : kamu ini! Sambil menjitak kepala Ipat, gemas. ?Baik-baik saja. Apa kabar kamu dan teman-teman di sini??

Ipat cengengesan. ?Kukira kamu sudah lupa Bahasa banjar. Tadinya aku malah mau menyapamu pakai Bahasa Jawa.?

?Memang kamu bisa Bahasa Jawa??

?Bisa,? jawab Ipat bangga. ?Lakone nopo Pak Mantep??

Isna tergelak.

?Ayo kita pulang!?

?Tunggu dulu!? cegah Ipat sebelum Isna sempat bergerak. Dia memegang lengan Isna. Matanya menatap Isna dari ujung kaki sampai kepala, lalu dari ujung kepala sampai ke kaki. Begitu berulang-ulang. Setelah puas memandang, dia menghembuskan nafasnya kuat-kuat.

?Kenapa?? tanya Isna heran.

?Aku kecewa. Setelah setahun di Yogya, kamu sama sekali tidak berubah, kecuali tambah tua.?

?Sialan!? umpat Isna keki. ?Memangnya aku KBH RX, bisa berubah-ubah RX Robo, RX Turbo!?

?Wah, ternyata di Yogya ada Ksatria Baja Hitam juga, ya??

Sebelum Isna kembali menjitaknya, Ipat merebut tas pakaian dan kardus di tangan isna, kemudian melompat ke dalam jukung. Diletakkannya barang-barang itu di tengah-tengah jukung, lalu dia mengambil dayung seolah siap untuk mengayuh jukungnya.

?Eh, memang aku mau ditinggal?? protes Isna.

Ipat nyengir. ?Lupa! Yang penting kan oleh-olehnya. Kalau orangnya sih, terserah, mau ikut atau tidak.?

Isna memaki. Cepat dia melompat ke dalam jukung. Dia merebut dayung di tangan Ipat.

?Sini, biar aku yang mengayuh!?

?Apa kamu masih bisa??

Isna cemberut. Kesal sekali dia digoda terus oleh sahabatnya itu.

?Aku takkan kehilangan kebisaan kalau hanya karena tinggal di Yogya selama setahun. Bila kita berlomba, aku yakin bisa mengalahkanmu.?

Ipat tersenyum. Senang bisa menggoda temannya itu habis-habisan. Dia membiarkan Isna mengayuh jukung, menjauhi dermaga. Perhatiannya beralih pada keadaan Pelabuhan Trisakti yang penuh manusia setelah kedatangan KM Lawit. Kapal ini yang membawa Isna dan ratusan penumpang lainnya. Sebentar lagi kapal itu berangkat lagi menuju Pelabuhan Tanjung Mas, Semarang. Makanya calon penumpang yang mau naik bercampur baur dengan penumpang yang turun. Semrawut minta ampun. Ditambah lagi para pengantar dan penjemput yang ikut berdesakan. Semoga saja dermaga pelabuhan tidak ambruk karenanya, doa Ipat dalam hati.

Jukung mereka semakin jauh dari pelabuhan. Perhatiannya kembali pada Isna, sahabatnya yang baru datang dari yogya. Dilihatnya Isna mengayuh jukung penuh semangat. Sambil menikmati pemandangan sepanjang sungai.

?Kamu tahu, Pat,? kata temannya itu. ?Aku rindu sekali suasana seperti ini. Suara gemercik air yang mengalun. Ayunan gelombang yang membuai. Angin yang membawa uap air sungai. Dan perkampungan terapung yang damai. Aku rindu segala yang ada di sini, yang tak pernah kutemukan di Pulau Jawa.?

?Kalau kamu rindu, aku malah bosan,? balas Ipat.

Sebenarnya Ipat iri pada Isna. Temannya itu berkesempatan merantau ke Pulau Jawa, menuntut ilmu di Yogya. Tentu telah banyak yang dia ketahui dan alami. Tidak seperti dia yang seumur hidupnya dihabiskan di sini. Yang dilihatnya melulu sungai dan sungai. Sungguh membosankan!

?Kalau rindu, kenapa kayaknya kamu enggan untuk pulang??

Isna terdiam. Dia tak bisa menjawab pertanyaan Ipat karena dia punya alasan pribadi. Semula dia memang berencana tidak pulang liburan panjang kali ini. Tapi beruntung, semua teman kosnys pulang. Tempat kos jadi teramat sepi. Terpaksa rencana itu dia ubah. Bahkan perubahan rencana ini tidak sempat dia kabarkan pada orang rumah. Cuma Ipat yang dia minta menjemputnya di pelabuhan. Bisa dia bayangkan, betapa terkejutnya mereka bila tiba-tiba dia muncul.

?Is, kita hampir sampai, lho!?

?Aku tahu.?

?Yah, barangkali saja kamu sudah lupa dengan rumah sendiri.?

Isna tidak menanggapi godaan Ipat. Dia sibuk menata perasaannya yang tiba-tiba saja meluap-luap, bahagia, rindu, dan haru berbaur jadi satu.

?

?

?

?ISNA, mau ke mana kamu??

Abah tertatih menghampiri Isna yang sedang melepas tali jukungnya dari tiang pengikat.

Isna menoleh. ?Abah, kenapa ke luar? Bukankah Abah masih sakit? Istirahat saja dulu di dalam.?

?Abah mau ambil wudhu,? Abah memperbaiki gulungan sarungnya di pinggang. ?Kamu belum menjawab pertanyaan Abah. Kamu mau ke mana??

?Ke tembok,? jawab Isna dalam Bahasa Banjar yang artinya ke kebun.

?Jadi, kamu benar-benar mau jualan lagi??

?Iya, daripada saya hanya menganggur saja di rumah. Lagipula Abah bilang, terakhir kali Abah ke kebun, pohon buah kita sudah berkembang. Pasti sekarang buahnya sudah ada yang masak. Sayang, kalau dibiarkan membusuk. Lebih baik saya petik agar bisa saya jual ke pasar.?

?Baiklah kalau begitu maumu,? jawab Abah akhirnya.

Isna tersenyum lega. Dia segera melompat ke dalam jukung dan mulai mengayuh menjauhi rumah. Abah masih tetap memperhatikannya sampai hilang ke kelokan sungai.

Isna sedang asyik menikmati laju jukungnya ketika tiba-tiba ada sebuah jukung lain menjejerinya.

?Is, mau ke mana??

Ternyata Ipat yang duduk di haluan jukung itu. Dia menoleh ke buritan jukung, ada Nahdi yang sedang mengayuh di sana. Isna merasa tidak enak dengan kahdiran cowok itu, namun dia paksakan juga sepotong senyum untuk mereka.

?Mau ke tembok, Pat,? jawab Isna agak enggan.

?Ke tembok? Ngapain??

?Nonton film,? jawab Isna ngawur.

Ipat tergelak. Sedang Nahdi mengulum senyum.

?Kata Abah, pohon kami sudah banyak yang berbuah.?

?Oh, benar itu, Is. Aku dan Nahdi suka nengokin tembok kalian juga, kok, kalau kami kebetulan pergi ke tembokku.?

Isna mengangguk. Tembok Abahnya dan Abah Ipat memang bersebelahan. Waktu membelinya sama-sama. Semula yang punya satu orang, tapi berhubung tembok itu terlalu luas, Abah-abah mereka yang kebetulan bertetangga dan bersahabat baik sepakat membelinya secara urunan, kemudian dibagi dua.

?Bahkan ketika Abahmu sakit dan jarang pergi ke tembok untuk mengurusinya, Nahdi sempat beberapa kali membersihkan rumput di sana.?

?Oya?? Isna melirik ke arah cowok yang sedari tadi cuma mendengarkan saja. ?Terima kasih kalau begitu.?

?Ah, tidak perlu kamu pikirkan. Bukankah kita sudah biasa saling membantu? Sekarang pun kalau boleh, kami ingin ikut kamu ke tembok, siapa tahu kamu butuh bantuan kami.? Ipat menawarkan.

Isna berpikir. Mestikah dia terima tawaran itu? Kalau hanya Ipat saja sih tidak ada masalah. Tapi Nahdi? Sedari tadi cowok itu cuma diam saja. Tidak enak juga rasanya. Padahal sebelum keberangkatannya ke Yogya kira-kira setahun yang lalu, hubungan mereka sangat akrab.

Dia, Ipat dan Nahdi sudah lama sekali berteman sejak masih sangat kecil. Mereka sebaya dan bertetangga. Dan secara kebetulan dari SD sampai SMA mereka selalu bersama. Jadi, tidak heran bila hubungan mereka jadi sangat erat seperti saudara.

Isna samasekali tidak menyangka, di antara mereka terjalin hubungan yang amat rumit, seperti yang terjadi dalam cerita-cerita fiksi, cinta segitiga. Hal inilah yang kemudian mengganggu keharmonisan hubungan mereka. Cuma Ipat yang sikapnya tak pernah berubah, walau Isna yakin dia pasti juga menyadari perubahan ini. Tapi pada dasarnya Ipat gadis periang dan lincah, sehingga bisa berbuat seolah tak ada apa-apa di antara mereka bertiga.

Kelanjutan cinta segitiga ini ada di sini ...

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/7880/sepanjang-sungai-barito

  • view 114